AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Gugup


__ADS_3

Racle mendesah sebal setelah beberapa saat lalu dirinya selesai membaca pesan singkat dari seseorang, dia langsung menyimpan kembali dengan kasar ponselnya ke atas meja. Racle memijat pelipis yang terasa berdenyut pusing akibat dari terlalu memikirkan masalah pelik ini.


Setelah merasa pusing nya sedikit mereda, Racle menelungkupkan kepalanya diatas tangan yang bersedekap diatas meja. Bahu nya berguncang, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun Racle menangis, dia seakan sudah terlatih untuk menyembunyikan air matanya dalam diam.


Cukup lama bahu gadis itu berguncang, hingga akhirnya Racle memutuskan untuk mendongakkan kepalanya, menghirup udara sebanyak yang dia bisa, mencoba mengurangi rasa sesak yang kini sedang menghimpit rongga dada.


Masih dalam mode malas untuk beranjak dari kursi kerja nya, Racle lalu mengeluarkan tisu basah yang sengaja selalu disediakan Racle di laci meja kerja. Tanpa cermin, dia langsung mengelap keseluruhan bagian wajahnya, tidak peduli lagi bagaimana penampilannya nanti, yang penting sekarang rasa lengket akibat air matanya tadi bisa hilang.


Sedang sibuk mengelap, tiba-tiba ada yang mengetuk bagian atas meja. Tuk tuk " Permisi " Racle mendongak dan langsung menghentikan kegiatannya setelah melihat siapa yang berdiri tepat disebrang meja. Mata yang sedikit sembab itu langsung melotot, setelahnya langsung terbit senyum manis dari bibir yang sedikit agak merah merekah, karena efek dari sehabis menangis tadi, itu justru terlihat sangat menggoda bagi Brian.


" Iya, ada yang bisa dibantu? " tanya Racle sopan. Lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Racle, malahan sekarang dia sedang tersenyum nakal dengan mata yang terus saja fokus menatap wajah cantik alami milik Racle yang tidak dilapisi dempul, alias pure tanpa makeup.


Bukannya marah atau jengkel seperti biasanya, justru sekarang Racle malah dibuat salah tingkah, Racle langsung menundukkan wajah yang terasa panas akibat malu, pasti kini wajahnya itu sudah bersemu pink seperti warna boneka piglet kesukaannya.


Pantes si biksu kesengsem abis, aslinya memang cantik banget, apalagi tanpa makeup gini, kelihatan polos-polos menggoda. Bibir merahnya juga kelihatan manis banget, jadi pengen nyicip.


" Ekhem " Brian berdehem dan memalingkan wajah setelah dia tersadar akan pikiran gilanya barusan, tidak tahan jika harus terus menerus menatap wajah Racle yang cantik dan menggemaskan dia langsung mengatakan tujuan dirinya datang kesini.

__ADS_1


" Maaf nona Re mmm... " Brian tampak berfikir mengingat siapa nama gadis dihadapannya ini, " Racle, nama saya Miracle. " jelas Racle yang seakan tahu dengan apa yang sedang difikirkan Brian.


Brian menjentikkan jari " Ah iya, nona Racle, maaf lupa. " Racle mengangguk " Its okay no problem. " tak lupa senyum manis dia sematkan di bibirnya. Baru juga pagi tadi gue berkhayal semoga bisa ketemu lagi, eh sekarang jadi kenyataan. Makin greget deh gue saat tau kita satu frekuensi, apa jangan-jangan dia jodoh gue ? please God, kalau bener dekatkan lah.


Hati yang sedari tadi mendung bahkan sudah turun hujan seketika berubah menjadi cerah lengkap dengan pelangi indah warna-warni saat dia menatap wajah tampan dihadapannya.


" Saya mau bertemu dengan pak Yuga, bisa? " Racle masih sibuk dengan lamunannya hingga tidak mendengar apa yang baru saja Brian katakan, Brian mengangkat sebelah alisnya ketika pertanyaannya barusan tidak direspon.


Brian lalu melambai-lambaikan tangan di depan wajah Racle, benar dugaannya. Gadis ini sedang melamun, tapi fenomena macam apa ini? bisa-bisanya dalam keadaan melamun pun gadis ini masih terlihat sangat cantik dan menggoda.


Sungguh iman cetek Brian sudah mulai goyah, jakunnya terlihat naik turun, bahkan kini dia sudah tidak bisa diam. Sudahlah dekati saja dia, sepertinya juga dia tertarik padamu Brian. Bisikan sebelah kiri. Tidak Brian, jangan lakukan itu, ingat Alex itu sahabat mu, setidaknya hargai dia. Bisik sebelah kanan.


Racle terlonjak kaget saat mendengar suara decitan meja, lumayan kencang juga ternyata Brian kesandung, sehingga membuat meja sedikit bergeser ke depan. Untung tidak sampai menjatuhkan layar monitor komputer yang ada diatasnya. Racle langsung mendapatkan kesadarannya kembali, tapi apa yang dia dapat? mimpi kah? atau ini memang sebuah kenyataan yang indah. Saat mendapati wajah Brian yang tampan kini hanya berjarak beberapa centimeter saja dengan wajahnya.


Racle tidak berani mengedipkan mata, meskipun sekarang matanya sudah terasa sedikit perih, sepertinya dia enggan untuk menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sama hal nya dengan Racle, Brian pun tidak langsung beranjak dari posisinya sekarang. Bahkan kini mata bulat berwarna hitam pekat itu dengan sengaja telah memusatkan penglihatannya ke satu titik yang sedari tadi sudah menggoda nya.


" Cantik " gumam Brian pelan, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Racle. Seakan telah mendapat lotre, tidak ! rasanya lebih dari itu. Senyum Racle kembali merekah, kini hati nya pun sudah dibuat tidak karuan oleh lelaki yang ada didepannya, bahkan jantung nya sudah berdegup kencang, seperti seseorang yang baru pertama kali mendengar musik dj di club.

__ADS_1


Melihat Racle yang tidak keberatan dengan dekatnya jarak mereka sekarang, membuat Brian semakin berani, kini dia sudah memiringkan sedikit kepalanya, tapi masih tetap di jarak semula, Brian ingin melihat apa Racle sudah mulai risih atau tidak. Dan yang Brian dapat malah sekarang gadis didepannya sudah menutup mata.


Rejeki ini namanya, sorry Lex gue bukan mau nikung elo, tapi gue cuma penasaran sama rasa nya doang. gak apa-apakan? Brian mulai mengikis jarak diantara mereka, semakin dekat, bahkan sepertinya hanya dengan sekali anggukan saja, mereka sudah bisa berc*uman.


" Kalian sedang apa? " tanya nya dengan nada yang sedikit tinggi.


Brian langsung menegakan posisi tubuhnya seperti semula, sementara Racle masih tetap di posisi sekarang, tidak bergeming sedikit pun. " Hai bro, baru aja gue mau masuk kesana. " Tunjuk Brian pada pintu masuk, " Eh elo nya udah keluar duluan. " Ucap Brian sambil cengengesan, yang sebenarnya sedang menutupi rasa gugup dan juga was-was " Kalian sedang apa? " Tanya nya kembali, bahkan kini wajahnya sudah terlihat sangat menyeramkan.


Sayangnya Racle tidak melihat, karena masih betah memunggungi Yuga. Lain hal nya dengan Brian, lelaki itu kini sedang tidak karuan, sepertinya untuk menelan ludah pun Brian merasa kesusahan jika melihat ekspresi Yuga yang seperti ini..


Mampus gue! kenapa si batu harus nongol di waktu yang enggak tepat sih. Elo udah kek jailangkung aja kampret ! Apa jangan-jangan ini pertanda kalo gue enggak boleh nikung si biksu? ah sial, harusnya sekarang ini gue udah mencecap bahkan gigit itu bibir.


ish, kalo si bambang mau jadi orang ketiga diantara gue sama kak Brian, harusnya pas gue udah berhasil serahin ke virginan bibir gue ke kak Brian. ini malah datang kecepetan, timingnya enggak pas banget. Jadi gagalkan gue dapetin kenikmatan dunia. Racle memberengut kesal,


" Bro mending kita ngobrolnya di dalem aja. " Tanpa menunggu jawaban dari Yuga, Brian langsung saja menyeret tubuh sahabatnya itu untuk kembali masuk ke dalam ruangannya. Setelah mereka berhasil masuk Brian langsung mengunci pintu lalu nyelonong begitu saja melewati Yuga kemudian mendudukkan dirinya di sofa single, bahkan kini lelaki itu sudah meletakan kedua kaki miliknya d ke atas meja.


Yuga geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini, terlihat sangat santai sekali, seakan tidak terjadi apa-apa, padahal beberapa menit lalu didepan sana, dengan sangat jelas Yuga melihat bahwa sahabatnya ini sudah berani kurang ajar kepada Racle,

__ADS_1


" Apa yang sudah kau lakukan kepada adik saya? " tanya Yuga sedikit geram.


__ADS_2