
Hari berganti begitu cepat, tidak terasa sudah lewat dua minggu dari peristiwa huru-hara yang terjadi di club.
Banyak perubahan yang terjadi terhadap kehidupan Jessi setelah kejadian dua minggu lalu, hidup yang tadinya tenang dan nyaman kini berubah seratus delapan puluh derajat, hubungannya dengan Yuga yang makin hari semakin memburuk, bahkan pertemanannya pun dengan Nita dan Racle terlihat renggang.
****
" Racle, pagi ini saya nebeng ikut mobil kamu, tidak apa kan? tanya Yuga, selama beberapa hari ke belakang dia mencoba mendekati Racle kembali
" Hmmm" respon Racle lebih dingin daripada sifat asli Yuga.
Yuga menghela nafas panjang, rasanya dia sudah sangat putus asa menghadapi adiknya yang kini menjelma menjadi ratu frozen jika bersama dengan nya,
" Mmm.. Racle, gue boleh ikut nebeng juga enggak? gue ada perlu ke deket kantor tapi males bawa mobil"
"Hmmm" ia memberikan jawaban yang sama terhadap dua makhluk hidup didepannya ini.
" Racle ayah..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Racle sudah membanting sendok yang sedang ia pegang " Apa? mau ikut nebeng juga? bisa nggak sih gak usah ganggu orang makan, mingkem dikit mulutnya, gak sopan ngajak ngomong orang yang lagi makan" Racle berdiri dengan kasar, hingga membuat suara decitan kursi cukup kencang.
Mereka sudah tidak kaget lagi melihat kelakuan Racle yang seperti itu, dia memang anak yang moody an.
"Lanjutkan sarapan kalian" ucap Tn.Morgan, ia berdiri berniat akan menyusul putri bungsunya.
" Racle " panggilnya, saat melihat Racle melewati dirinya tanpa mau menyapa seperti biasa.
Racle berhenti, lalu membalik badan, " Mau nebeng?" tanya nya dengan ekspresi datar.
" Tidak nak, ayah hanya ingin berbicara sebentar dengan kamu" bujuknya dengan lembut, berusaha supaya Racle tidak menghindarinya lagi.
" 5 menit ", sambil melihat jam tangan miliknya.
" Tapi nak"
" 5 menit, atau tidak sama sekali" ucapnya tegas,
Tn.Morgan terlihat menghela nafas dan mengepalkan tangan, mencoba mengatur emosi supaya tidak terpancing dengan kelakuan putrinya ini, " Baik, ikut ayah ke ruang kerja sekarang"
Racle mengikuti langkah kaki ayahnya, " Duduk nak, ada beberapa hal yang harus ayah tanyakan", Racle mendudukkan bokong sintal miliknya di sofa single, tepat dihadapan Tn.Morgan.
" Ayah perhatikan akhir-akhir ini kamu sering keluar malam, pergi kemana?"
__ADS_1
" Clubbing" jawabnya malas, sudah dipastikan pembahasan ini akan lebih dari 5 menit. Gue emang lagi males kerja hari ini, tapi gue lebih males lagi kalo harus diwawancara kek gini.
" Kamu sadar dengan apa yang sudah kamu ucapkan nak?"
" 100% sadar, tanpa pengaruh alkohol" ucapnya santai, kini ia menyilangkan kaki, mencoba mencari posisi duduk yang nyaman, karena ia yakin khutbah ini tidak akan berhenti dalam waktu singkat.
" Racle kamu sudah dewasa, ayah yakin kamu tahu bahwa itu kegiatan buruk, jadi ayah mohon berhenti keluar malam seperti itu, tidak baik, apalagi kamu perempuan "
" Karena Ayah sudah menganggap Racle dewasa, sebaiknya ayah berhenti ikut campur urusan pribadi Racle "
" Racle ayah hanya khawatir dengan kamu"
" Dengan ku atau dengan reputasi perusahaan?"
" Apa maksud kamu? kamu anak ayah, sudah pasti sebagai orang tua ayah tidak ingin hal buruk terjadi pada putri ayah sendiri" tekan Tn.Morgan,
" Harusnya ayah katakan hal itu tepat saat aku masih berusia 6 tahun, kenapa baru sekarang ayah mengucapkan kata-kata mutiara seperti itu? bukankah sudah sangat terlambat?"
Tn, Morgan terlihat beberapa kali menarik nafas, kata-kata Racle sungguh sangat menyakitkan baginya, memang dia sangat sadar selama ini telah membiarkan putrinya hidup tanpa sosok seorang ayah, dia terlalu egois. " Racle dengarkan ayah.."
" Sudah tidak perlu buang-buang waktu, ayah tidak perlu khawatir, toh selama ini juga Racle bisa menjaga diri tanpa ayah dan yang lainnya, jika ayah khawatir tentang perusahaan, dengar, selama ini Racle clubbing tidak pernah sampai menganggu kinerja Racle di perusahaan, jika ayah khawatir tidak bisa menjodohkan Racle dengan rekan bisnis ayah, karena kelakuan buruk Racle tenang saja, Racle akan mencari pria kaya, kalau perlu Racle akan mencari yang sepantar ayah atau bahkan lebih tua, tidak masalah, biar cepat mati dan Racle bisa dengan cepat mendapat warisan.
" Racle ayah minta kamu tetap berhenti melakukan kegiatan itu" ucapnya lirih
" Pilihannya hanya ada 2, pertama, jangan ikut campur urusan pribadi Racle, yang kedua silahkan ikut campur sesuka hati, tapi jangan salahkan aku akan pergi kembali "
Racle berdiri, lalu berjalan menuju pintu, sebelum berhasil menarik handle pintu ia berbalik kemudian berkata " Dan ingat baik-baik, sebelum aku pergi dari sini, aku pastikan akan menghancurkan terlebih dahulu keluarga yang katanya harmonis ini, dan tentu juga ibu kesayanganmu itu" ancamnya dengan senyum seringai yang mengerikan.
Tn.Morgan mematung, sungguh anak perempuannya ini sangat mengerikan, ancaman yang Racle sampaikan barusan bukan sekedar isapan jempol belaka, selama hampir tiga bulan dia melihat bagaimana perangai anaknya ini, sudah jelas dipastikan dia anak yang nekat, Tn.Morgan tidak ingin ambil resiko, ia memilih diam terlebih dulu sekarang.
Setelah Racle berhasil membuka pintu, ia terkejut melihat kedua kakak kembarnya ini sedang berdiri dekat pintu ruang kerja ayahnya, namun ia bisa dengan mudah mengendalikan raut wajahnya kembali terlihat santai.
Kena loh, pasti habis pada nguping, " Kalian sedang apa?" tanya Racle pura-pura tidak tahu dengan kelakuan kedua kakaknya ini.
Ekhm, Yuga berdehem ia mencoba menetralkan keterkejutannya " Saya mau panggil kamu, ini sudah siang" ucapnya tanpa berani melihat ke arah mata Racle, cih elo gak pandai ngibulin orang.
Kemudian ia melirik kakak perempuannya , " Eh anu gu gue juga sama, mau manggil elo" ucap Yuna dengan jari yang saling meremas.
Yaelah aktor sama aktris amatiran lo pada, geli gue liatnya. " Oh yaudah" Racle pergi disusul kedua kakaknya.
__ADS_1
***
Diperjalanan semuanya membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing, tapi sepertinya pemikiran Yuga dan Yuna sedang satu frekuensi, terlihat dari cara mereka memandang Racle kemudian saling melirik satu sama lain, dan kembali melamun, *Racle hebat bisa bikin ayah mati kutu kaya tadi, gue denger tadi ayah enggak berani nyela ucapan Racle apalagi sampe marahin ini anak.
Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa anak perempuan seperti dia, bisa membuat ayah diam*. Begitulah kira-kira isi pemikiran mereka.
" Elo mau turun dimana?" melihat Yuna sekilas, " Didepan super market itu aja, soalnya gue mau ke sebrang" jelas Yuna.
Racle memberhentikan mobil ditempat yang Yuna maksud " Thanks cel, gue cabut duluan" Racle tak merespon, ia kembali melajukan mobilnya " Ish itu anak bener-bener, gue baikkin salah, di kasarin malah gue yang takut, ayah aja sampe nunduk apalagi gue yang bukan apa-apa buat dia" gumam Yuna yang tengah berjalan menuju tempat tujuan.
****
" Racle, nanti bisa temani saya ketemu klien"
" Males, ajak aja pacar elo, gue udah ada acara ". itulah Racle, sekarang dia hanya akan berbicara sopan terhadap kakaknya itu setelah memasuki jam kerja kantor.
selebihnya hanya gue, elo, sudah tidak ada lagi sebutan kakak terhadap dirinya,
" Tapi saya maunya kamu yang...."
" Lo bisa diem gak sih, gue bilang gak bisa ya gak bisa, gak usah maksa-maksa, lagian ketemu klien itu tugasnya cewek elo, bukan tugas gue" potong Racle panjang lebar.
Yuga tidak lagi membuka suara setelah mendapat omelan yang memekikkan telinganya itu, untung saja mereka masih di dalam mobil, kalau di khalayak umum, bisa malu setengah mati Yuga dibentak-bentak oleh adiknya seperti ini.
" Turun " perintah Racle, Yuga melihat sekitar dia melongo " Racle yang benar saja kamu menurunkan saya disini" protesnya.
" Gue ada janji, mau ketempat temen sebentar, elo turun,"
" Cel" Yuga memelas, berharap belas kasih sang adik, " Gue bilang turun, atau elo gak boleh nebeng lagi mobil gue"
Dengan amat sangat terpaksa Yuga akhirnya turun tepat didepan gerbang perusahaan keluarganya. " Cel kamu tidak akan masuk kerja? " tanyanya setelah berhasil turun dari mobil Racle, namun masih berdiri memegang pintu mobil.
" Gue masuk siang, udah sana, jangan lupa tutup pintu mobilnya yang bener"
Yuga yang kesal pun membanting pintu mobil, Racle terlonjak kaget dengan tindakan Yuga, spontan ia langsung keluar menghampiri Yuga dan meninju keras perut kakaknya " Brengsek loh, gue bilang tutup pintu mobil yang bener bukan di banting"
Yuga mengaduh setelah mendapat pukulan yang mematikan itu, ia berjongkok sambil memegang bagian perut yang menjadi korban kekerasan dari Racle, belum cukup disana bahkan kini Racle tengah memakinya, Satpam yang berjaga menjadi saksi bisu atas keganasan Racle terhadap presdirnya itu, untung sekarang sudah jam kerja, jadi sudah tidak ada karyawan yang melewati gerbang.
kapok itulah yang Yuga rasakan, dia tidak akan pernah lagi berani memancing emosi Racle
__ADS_1