
Della naik ke jok belakang motor mertuanya, pak Hartono pun mulai menyalakan motor dan menuju ke rumah.
Pak Hartono merasa sedikit kurang nyaman saat tangan menantunya itu melingkar di pinggangnya.
"Della, bisa tangannya..."
Ckit.... suara rem motor pria itu yang mendadak berhenti, karena melihat seekor kucing lewat.
"Ah maaf ya," kata pak Hartono yang mengerem mendadak dan membuat tubuh Della menabrak punggungnya.
"Tidak apa-apa pak,"
Mereka pun melanjutkan perjalanan, ternyata saat sampai di rumah ibu hartini sedang di luar begitu pun dengan Rasyid.
"Ayah sudah makan, jika belum bisa ke rumah Della untuk makan ya yah, karena ibu sepertinya belum pulang dari jalan-jalan," kata wanita itu dengan sopan.
"Baiklah, tapi bukankah suamimu juga di rumah," tanya pak Hartono
"Paling juga tidur, kalau tidak begitu ya nongkrong sama teman-temannya," jawab Della
"Della tunggu, jika kamu memang merasa tak nyaman lagi dengan Rasyid, kamu bisa bercerai, ayah tak akan menyalahkan mu karena aku sadar putra ku ini memang tak berguna," kata pak Hartono yang sebenarnya malu.
"Aku baik-baik saja ayah, meski mas Rasyid seperti itu, setidaknya dengan begini aku lepas dari aturan keluarga ku, nanti jika Della sudah tak tahan aku akan bilang," jawab Della.
pak Hartono mengangguk dan pulang ke rumah untuk mandi, begitupun dengan Della
tapi dia terkejut saat melihat lemarinya sudah di acak-acak, dia hanya bisa menghela nafas saja.
"kamu ini tak berguna ya, sudah tau aku tak pernah menyimpan uang di lemari masih tak menyerah," gumam Della.
dia pun merapikan semuanya, dan setelah itu mandi untuk bersantai sejenak, tapi dia kaget mendengar suara ketukan.
"iya sebentar," jawab Della.
ternyata itu adalah adik laki-lakinya yang datang bersama beberapa pria, "mau apa kesini, aku bukan keluarga mu lagi," ketus Della.
"kamu ini jahat banget sih Mbah, bagaimana pun, aku ini adik mu,dan sekarang kamu harus membantu ku, jika tidak aku bisa di bunuh oleh mereka," mohon pemuda itu.
"wah ini kakak mu,boleh juga nih untuk bayar hutang, cantik temani kami bermain sehari saja, maka ku anggap lunas hutang adik mu," kata pria botak yang tergiur melihat tubuh molek milik Della
"siapa kakak bocah ini, bunuh saja toh aku juga tak peduli, dan lagi dengarkan ini baik-baik, aku bukan lagi keluarga mu jadi minta saja pada kakak mu yang lain, dan pergi dari sini," usir Della.
"aku bisa di bunuh ayah," kata pemuda itu.
__ADS_1
tanpa bicara Della mengambil asbak di meja teras rumah dan memukulkan ke kepala adiknya itu.
"Kau mengusik ku,aku akdn membunuh mu, kamu dan Mutia selalu dapat yang kdlian inginkan, sedang aku seperti anak terbuang, berani kamu datang ke sini lagi, aku akan benar-benar membunuh mu," marah Della yang memukulkan asbak itu ke wajah adiknya lagi.
semua pria yang ikut datang bersama adik Della pun kaget, bagaimana seorang kakak perempuan bisa sekejam ini pada adiknya.
"padahal aku kesini hanya untuk minta tolong," gumam pemuda itu.
"aku tak peduli, pergi dari hadapan ku, atau aku yang membuatmu terbunuh," marah Della yang tanpa ampun.
mereka semua pun kocar-kacir karena melihat betapa mengerikannya sosok Della.
saat semua pemuda itu sudah pergi, Della hanya bisa masuk sambil tangannya gemetar, dia tak menyangka akan melukai adiknya.
tapi adiknya itu sudah terlalu manja dan sering membuat masalah, di tambah Mutia seperti tak peduli pada adik mereka.
jadi ini satu-satunya cara untuk membuat pria muda itu sadar dengan kekerasan,karena dia tak mau nasib adiknya akan berakhir seperti suaminya yang tak berguna.
tanpa terduga Rasyid batu pulang dengan motor matic milik Della, dan saat masukrunah pria itu berjalan santai seperti tanpa ada masalah.
"dari lont* mana lagi kamu, bisa-bisa tak menjemput ku, kamu ini semakin hari semakin menyebalkan ya," kesal Della pada suaminya itu.
"apa sih, orang baru pulang sudah mengomel," kata Rasyid yang menikmati rokoknya.
"sialan,kamu menantang ku, kamu baru bisa bekerja segitu saja sudah merasa hebat hah, dasar wanita tak tau diri," jawab Rasyid.
"kamu tang tak punya otak, pikiran mu itu cuma ************ saja, mulai sekarang jangan pernah mengusikku, minta saja sama ibu mu jika burung mu gatal," marah Della yang langsung bergegas masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu.
"istri sialan!!! jika bukan keluarga ku yang mengangkat derajat mu, kamu itu cuma anak yang di bua g keluarga mu," teriak Rasyid.
di sisi lain, para ibu-ibu warga desa ini memang sedang mengadakan jalan-jalan ke beberapa tempat.
bahkan kakak-kakak dan ibu dari Rasyid ikut semua meninggalkan para suami.
pak Hartono pun ingat jika tadi menantunya itu menawari untuk makan malam.
"ah sepertinya aku ke sana saja lah, dari pada repot mau beli," gumam pak Hartono.
tok... tok...
"iya siapa?" suara Rasyid yang membuka pintu dengan wajah marah.
"kamu kenapa lagi, berantem dengan Della, kamu pasti membuatnya marah karena tak menjemputnya ya,"
__ADS_1
"ayah kenapa jadi ikut mengomeli ku, ayah kan tau jika ponsel ku rusak, dan aku tak bisa tanya kapan dia pulang, menurut ayah benar begitu seorang suami terus di marahi karena itu," kata Rasyid mencari pembenaran.
"ya benar, seharusnya kamu ikut membantu dia di warung, ya sudah ini uang lima juta beli ponsel dan tebus motor mu,agar istrimu bisa pulang pergi sendiri," kata pak Hartono.
"beberan ini pak, wah terima kasih, besok aku akan ikut ayah dan mencoba belajar, jika tak bisa aku akan membantu istriku saja di warung," kata Rasyid.
Della pun keluar kamar dan kaget saat Rasyid tiba-tiba memeluknya, "kamu ini kenapa, malu sama ayah," tegurnya yang masih belum bisa memaafkan suaminya.
"aku mau pergi dulu tebus di hitam,"
"tunggu, ini buat pegangan takutnya nanti kurang," kata Della memberikan uang tujuh ratus ribu pada suaminya itu.
tiba-tiba Rasyid memeluk Della lagi, dia pun merasa senang karena ternyata meski Della begitu cerewet, wanita itu punya sisi baik.
"aku permisi dulu mau jemput di hitam, ayah layani dengan baik ya dek," kata Rasyid.
"tentu mas," jawab Della.
dia pun menuju ke dapur di ikuti pak Hartono, "saya hangatkan lauknya dulu ya ayah, maaf tadi kami sempat berantem jadi belum saya panaskan lagi sayurnya," kata Della yang berdiri membelakangi mertuanya.
tapi pakaian santai yang di pakai Della sangat tipis dan pak Hartono bahkan bisa melihat jelas lekuk tubuh menantunya.
"tak masalah, dia memang masih membuat masalah, tenang nduk besok ayah akan mengajari suamimu agar bisa bekerja seperti ku," kata pak Hartono.
"iya ayah," jawab Della.
keduanya pun makan malam bersama, empat rumah itu sangat sepi karena tak ada orang hanya dua orang berlainan jenis itu.
pak Hartono selesai makan ingin pulang, saat tiba-tiba istrinya telpon dan dia berdiri di area belakang rumah yang memang terhubung satu sama lain.
dan di belakang lagi itu ada kebun pisang dan sayur mayur lain tanaman yang di rawat Rina dan Rike.
"iya Bu, ayah baru selesai makan di rumah Rasyid, ada apa kok tumben telpon segala," tanya pak Hartono.
"sepertinya ini ibu dan yang lain akan pulang besok pagi, karena perjalanan ke Madura cukup lama," kata Bu Hartini.
"tak masalah Bu, ayah akan tidur sendirian, atau nanti bantu ngeronda saja," jawab pak Hartono.
"ya sudah ya yah, ingat jangan nakal kalau ngeronda, nanti godain janda baru lagi," kata Bu Hartini.
"maaf aku tak minat, orang sudah peot begitu," kata pak Hartono tertawa.
tiba-tiba sebuah tangan memeluk pak Hartono dari belakang dan pria itu bisa merasakan benda empuk yang menempel erat di punggungnya.
__ADS_1