
Di sebuah rumah sakit, pak Hartono yang memang sudah berusia lima puluh tahun, sedang melakukan terapi untuk berjalan.
Karena sudah tiga bulan ini dia koma dan segara dia harus sembuh dan bisa berjalan lagi.
"Bagaimana kondisinya dokter?" tanya pengacara Hans pada dokter yang merawat pak Hartono
"Perkembangan pasien sangat bagus Hans, aku bahkan tak akan mengira jika usianya sudah Lina puluh tahun, untunglah beliau ini selama hidupnya sangat menjaga makanan dan pola hidup yang baik," kata dokter yang memang melihat pria itu masih tampak sepuluh tahun lebih muda.
Di tambah lagi rambut gondrong milik pak Hartono ini tak ada satu pun uban.
"Siapa pun akan muda saat memiliki wanita yang dia cintai, termasuk beliau yang berusaha sehat untuk bisa bersama wanita itu lebih lama," jawab pengacara Hans.
"Kamu benar, terlebih sekarang banyak wanita muda yang tergila-gila dengan pria matang, tapi aku sedikit aneh, kenapa semua anaknya tak ada yang menjengguk pak Hartono, padahal yang aku tahu beliau ini punya banyak anak," kata dokter yang memang sempat melihat riwayat hidup pria itu dari berkas Hans.
"Cerita itu panjang dokter, jadi sekarang fokus untuk kesembuhannya saja," jawab Hans yang langsung menghubungi semua orang suruhannya.
"Lakukan sekarang,buat mereka mengembalikan semuanya,"
"Baik bos," jawaban dari sebrang telpon.
Di warung yang sekarang di jaga oleh Riya selama Della masuk penjara.
Tiba-tiba di datangi preman dan mengusir semua pengunjung dan menghancurkan semua dagangan, "semua pergi ini bukan tempat milik mu, jadi jangan berani memakainya!!" teriak preman-preman itu.
"Kalian siapa, ini warung milik ayah ku," jawab Riya.
Tanpa ampun preman itu mendorong Riya hingga terjatuh, dan tak sengaja kakinya tersiram kuah panas.
"Ini peringatan pertama dan terakhir dari kami, siapapun yang berani menggunakan warung ini tanpa izin pemiliknya yaitu ibu Adelia Riyanti,maka kami akan menghajarnya, mengerti!!" bentak para preman itu yang membuat semua ketakutan.
Di tempat lain juga sama, ada tempat pengilingan, bengkel dan kolam ikan yang Semuanya di jaga oleh anak-anak pak Hartono di tutup paksa.
Karena semua tempat itu sudah menjadi milik Della tanpa sepengetahuan dari keluarga itu.
Ketiga putri pak Hartono pun pulang dan mengadu pada ibu Mereka,"ibu bagaimana bisa,semua harta yang di miliki ayah menjadi milik Della,Bu!" marah Rina.
"Apa,itu tak mungkin semua usaha itu atas nama Hartini," jawab wanita itu.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam datang,"selamat siang, saya Hans Prawiranegara,pengacara dari bapak Hartono, saya datang untuk memberikan penjelasan," kata pria itu masuk kedalam rumah dan kemudian duduk begitu saja.
"Apa-apaan ini,kenapa kamu begitu tidak sopan," marah Rike.
__ADS_1
"Kenapa, toh kalian juga bukan pemilik rumah ini,rumah ini milik tuan Hartono seutuhnya begitupun dengan keempat rumah di sampingnya,"
"Apa maksud mu, kami adalah anak ayah, bagaimana ayah bisa setega itu," marah Riya yang baru datang dengan kaki melepuh.
"Maaf mbak Riya, coba tanya pada ibu anda, apa yang dia lakukan hingga pak Hartono menarik semua warisannya, dan di tambah kalian semua tak ada yang menjaganya di rumah sakit,tapi malah menikmati uangnya, itu keterlaluan," kata pengacara Hans.
"Tutup mulutmu dan jangan bertele-tele," marah Rina.
"Anda semua adalah anak perempuan, jadi kalian mendapatkan warisan rumah yang kalian tempati itu, dan sebuah sawah di desa masing-masing bata dua ratus,"
"Apa, tapi harta ayah sebanyak itu, kenapa dia begitu pelit," kata Rike tak terima.
"Karena sebagian harta pak Hartono sudah di alihkan pada Adelia Riyanti, sesuai permintaan dari ibu Hartini, yang saat ketahuan selingkuh setuju melakukan perjanjian itu di depan saya, dan sayangnya selingkuhannya adalah salah satu menantunya," kata pengacara Hans yang membuat ketiga wanita itu tersentak kaget.
"Apa dia suamiku?" tanya Rina dengan nada suara lirih.
"Tentu saja tidak berani,suami anda sudah ketakutan melihat adik iparnya yang bisa melakukan apapun, jadi silahkan pecahkan sendiri, dan untuk Bu Hartini di larang keras mengunakan semua uang pak Hartono dan semua barang yang di beli sebelumnya,dan anda juga sudah sah di gugat cerai jadi silahkan tinggalkan rumah ini,karena pak Hartono tak ingin melihat anda saat pulang dari rumah sakit nanti,"
"Apa... jadi siapa yang berselingkuh dengan mu Bu, jangan bilang kedua suami kami,ibu keterlaluan," kata Riya dan Rike.
Pengacara Hans memerintahkan seseorang mengemasi barang-barang Bu Hartini dan meminta wanita itu pergi.
"Bu jawab Bu!!" marah para putri wanita itu.
"Cukup itu hanya kebohongan ayah kalian, saat dia ketahuan selingkuh dengan Della," marah Bu Hartini.
"Itu tidak mungkin Bu, aku mengenal siapa Della dia bahkan rela membantu ku tapi ibu hanya terus saja buta dengan putra mu,atau jangan-jangan saat aku pernah melihat ibu keluar dari rumah mbak Rike dengan senyuman aku ingat jika mbak Rike sedang ke sekolah anaknya untuk ambil rapot," kata Rina.
"Rina!! tutup mulut mu," marah Bu Hartini.
"Apa, jangan omong sembarangan jika tanpa bukti," kata Rike tak terima suaminya di tuduh.
"Aku menyaksikan itu sendiri bersama Della, saat kami ingin ke pasar untuk belanja, apa ibu lupa itu!" teriak Rina yang membuat Bu Hartini tak bisa berkutik lagi.
Rike sekarang mengerti kenapa suaminya yang hanya menantu begitu di sayangi.
Ternyata ada udang di balik batu, dia tak menyangka ibu yang selalu dia bela bisa melakukan hal seperti ini.
"Sudah berapa lama Bu!!"
"maafkan ibu Rike...."
__ADS_1
"Aku lebih baik tidak punya ibu,duduk putra mu tercinta itu ke neraka, aku tak peduli, wanita menjijikan!!!" teriak Rike yang langsung bergegas pulang dengan kaki terpincang-pincang.
Di penjara, Della tersenyum mendengar kabar keluarga suaminya itu hancur.
"Lihatlah kebusukan ibu mertua akhirnya terungkap, jangan kira aku cuma omong kosong ibu mertua, putra mu berselingkuh dengan wanita lebih tua, aku bahkan juga bisa melakukannya, dan itu benar-benar melukai semua orang bukan," gumam Della tertawa jahat.
Dwi yang mendengarnya pun tak menyangka, jika semua ini adalah balas dendam yang di lakukan oleh Della.
Dia tak menyangka, wanita yang sedang terlentang di depannya itu, sebenarnya manusia atau iblis.
"Tunggu aku keluar ibu mertua ku sayang, biar aku selesaikan karena yak asik jika kamu meninggal begitu saja tanpa bertemu wanita yang di cintai suamimu,hingga membuatnya bertekuk lutut di kaki ku," lirih Della menutup mata.
Dia ingat benar bagaimana tingkah Rasyid yang semakin menjadi saat dia mulai sibuk bekerja di warung.
Rasyid ini benar-benar suami benalu, tidak mau kerja hanya bisa nongkrong tak jelas dan menghabiskan waktu begitu saja.
Siang itu Della tutup lebih awal karena semua masakan sudah habis, dan tadi juga sudah selesai membersihkan bahan untuk di jual besok.
Dia merasa jika tubuhnya begitu lelah, tapi saat sampai di rumah, ternyata rumahnya seperti kapal pecah.
Bagaimana tidak semuanya berserakan, dia hanya bisa menghela nafas.
"Mas Rasyid!" panggilnya dengan suara cukup keras.
Tapi pria itu tak menyahut, akhirnya dia membersihkan semuanya sendiri.
Hingga dia masuk ke dalam kamar dan melihat ada sebuah ****** ***** di lantai.
"Milik siapa ****** ***** men-ji-jik-kan ini," marah Della.
Dia pun keluar dan melihat Rina yang datang dia pun buru-buru menyembunyikan benda kotor itu di saku celananya.
"Mbak, ada apa?" tanya Della kaget.
"Aku mau mengajak mu belanja, ayo nanti mbak yang traktir belanja,"
"Wah banyak uang nih," kata Della
"Alhamdulillah dapat uang dari ayah karena bantu muat hasil panen," jawab Rina.
"Baiklah aku ambil tas dulu, dan kita kemudian berangkat ya," kata Della.
__ADS_1