Aku Juga Bisa, Balas Dendam

Aku Juga Bisa, Balas Dendam
apa ini mimpi?


__ADS_3

akhirnya jenazah Bu Hartini yang sudah membu**k pun di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


polisi juga mengatakan jika di dalam buku diary wanita itu, dia menuliskan jika akan mengajak kekasihnya itu mati.


Rike yang dapat kabar tentang itu tak percaya, jika ibunya itu yang membuat suaminya meninggal dunia.


"aku tak peduli, dia mau mati atau apapun itu, jangan mencariku lagi," bentak Rike yang langsung menutup telpon.


dia masih meratapi kepergian suaminya yang bisa di bilang biadab tapi Rike sudah terlanjur cinta gila.


Rina menghubungi Della, ya untungnya Della dan pak Hartono masih sibuk menata semua gaji untuk pegawai mereka.


"iya mbak Rina, ada apa menelpon ku jam segini? apa ada yang terjadi?" tanya Della yang mengaktifkan loud speaker agar pak Hartono juga bisa mendengar.


"ada berita ketiwasan ma, ibu di temukan tewas di rumah kontrakannya dengan kondisi membusuk, kata dokter forensik kemungkinan sudah meninggal sekitar lima harian," kata Rina yang membuat Della dan pak Hartono terkejut


"urus jenazah ibu mu Rina, bagaimana pun dia itu tetap ibu mu,dan kapan kira-kira akan di makamkan?" tanya pak Hartono.


"sepertinya besok ayah, ayah bisa datang kan," mohon Rina


"iya nduk,besok ayah usahakan, tapi mama mu sepertinya tidak bisa hadir karena besok dia harus ke notaris,"


"iya yah tak apa-apa,asal ada ayah semua pasti akan beres," kata Rina yang menutup telponnya.


"memang itu urusan notaris gak bisa di tunda ya mas?" tanya Della yang tak ingin absen karena tau jika warga desa ini sedikit menyebalkan


"tidak bisa sayang, karena dia sangat sibuk, di tambah ini adalah notaris yang aku percaya untuk mengurus semua masalah yang selama ini aku miliki,"


"baiklah, kalau begitu, tapi besok ajaklah cak Abdi, setidaknya aku lebih tenang dan kamu tak akan melakukan hal gila," terang Della yang membuat suaminya itu tersenyum.


ya pria itu merasa senang mendapat perhatian lebih dari Della seperti ini, di sisi lain Rina mengurus semua adminitrasi untuk pemulangan jenazah Bu Hartini besok pagi.


Riya dan Rina juga bingung mau di taruh mana ini jenazah ibu mereka, tapi akhirnya Rina punya inisiatif untuk meminta suaminya pulang.


dan menghubungi penjaga makan untuk di buatkan lubang pemakaman dan besok pagi saat Jenazah pulang langsung di makamkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

__ADS_1


"baiklah sayang,mas pulang dulu, kdki di sini jangan berantem ya," kata Syam pada istrinya itu.


ya dia tau bagaimana perangai kakak ipar pertamanya itu, yang sering mencari masalah.


"iya mas tenang saja, oh ya apa mas besok bisa membeli kue yang harganya sepuluh ribu beserta dus-nya,aku lupa belum pesan dan untuk tujuh harian dari Sueb," kata Rina yang ingat


"beli dua ratus kan? tenang sudah aku pesankan sama temen ku,"


"baiklah, mas hati-hati ya, karna aku tak mau mas kenapa-kenapa dan ingat jangan nakal atau aku akan membuat mu menyesal, ingat ibu sambung ku sekarang, mantul...."


"iya aku reu itu sayang, sudah aku pamit," kata Syam yang bersiap pulang.


Riya tak menyangka jika adik iparnya dan Rina ini tetap tampak kompak dan mesra.


bahkan dia sering mendengar keduanya tertawa dan terlihat saling menunjukkan cinta.


sedang dirinya sekarang hanya bisa iri karena hal itu, karena suaminya sudah mengalami impoten karena rokok.


tapi tentu dia tak menunjukkan bahwa dia terluka melainkan dia baik-baik saja.


dan yang makin membuat aneh adalah jenazah juga langsung di kebumikan secepatnya.


warga tentu saja bingung mau melayat, jadi para pria langsung menunggu di pemakaman.


begitu pula dengan pak Hartono yang sudah datang bersama Abdi, keduanya bahkan di sambut oleh semua warga


"pak yang tabah ya," kata pak RW.


"tanah kenapa, orang istriku di rumah bersama putra ku, dia sudah jadi masa lalu,lagi pula kamu tidak berhubungan baik setelah berpisah, tentu kalian semua tau maksudku," kata pak Hartono.


"iya pak maafkan kami, saya lupa dan kira-kira kapan jenazahnya datang mas Syam, kok dari tadi lama sekali?" tanya pria itu mengalihkan pembicaraan karena merasa malu.


terdengar suara sirine mobil jenazah yang sudah memasuki desa, "lah itu pak," kata Syam.


para pengali kubur pun siap dengan tali tambang untuk menurunkan peti mati.

__ADS_1


karena kondisi dari Bu Hartini yang tak bisa di makamkan seperti orang pada umumnya.


pemakaman itu berjalan sangat lambat, karena terus terjadi hal yang mengejutkan.


bagaimana tidak, dari mulai lebar dan panjang lubang ternyata kurang,ada juga beberapa masalah lain.


pak Hartono pun sampai tak habis pikir, memang apa yang di lakukan wanita itu hingga sampai seperti ini.


di lain tempat, Della sudah sampai di Mojokerto dan dia mengandeng putranya masuk ke dalam kantor notaris itu


ternyata pengacara Hans sudah ada di sana, "selamat datang nyonya," sapa pria itu dengan sopan.


karena Della sekarang adalah istri dari klien besarnya,ya meskipun pak Hartono tinggal di kampung tapi kekayaan pria itu tak tertandingi.


"iya pengacara Hans, Hardi Salim sama om dulu," kata Della yang di ikuti putranya.


"karena nyonya sudah di sini, saya akan mengantar anda ke atas dan di sana notaris akan menjelaskan Semuanya,"


"kamu kira aku tak tau jika suamiku membuat ku jadi pemilik dari semua usaha miliknya demi putra dan anak kami nanti," kata Della yang bisa menebak isi hati cari pak Hartono.


"kalian ini memang pasangan yang sangat tak bisa di tipu, satu sama lain saling menjaga, ya setidaknya pak Hartono tak ingin putra kandungnya bermasalah nantinya, terutama dengan Riya dan Rike yang ternyata hanya anak yang tak di ketahui ayah kandungnya," kata pengacara Hans.


"apa?"


Della pun di persilahkan masuk dan di meja sudah berjajar berbagai macam dokumen


dia mulai membaca satu persatu semua kertas-kertas itu, dan Hardi duduk anteng sambil menonton film kartun bahasa inggris


Della pun langsung menandatangi semua sebagai ibu kandung putranya bahkan anak yang belum lahir


setelah semua, dia pun mengajak Jalu menuju ke outlet resmi dari salah satu kue brownies terkenal di Jawa Timur.


dia membeli setidaknya tiga puluh box brownies untuk nanti di bagikan saat pembagian gaji.


setelah itu dia pulang karena pak Hartono yang sedang melayat pun mengatakan jika dia sudah selesai.

__ADS_1


dan perjalan dari kota itu hanya butuh satu setengah jam, dan saat sampai dia juga langsung menuju ke gudang.


__ADS_2