
Abdi memberikan laporan untuk gaji besok, karena Della yang akan mengurus keuangan.
"Bu bos juragan,maaf ya karena saya tadi pagi sempat gila sebentar jadi sekarang ini jadi repot," kata Samsul merasa sedikit malu.
"baiklah tak masalah, oh ya ini masih kurang yang di bawa cak Eko dan cak Jalu, boleh minta tolong di bantu untuk menghubunginya," tanya Della.
"baiklah Bu bos," jawab pria itu.
akhirnya Della pun melihat setiap laporan yang di buat oleh Abdi, dan ternyata ada dua yang wanita itu lingkari dan di buat tanda tanya.
melihat itu membuat Abdi bingung, dan ternyata dia lupa tidak memberikan uang lembur.
padahal dari jadwal yang di miliki oleh pak Hartono, mereka semua sudah lembur jadi Della tak ingin ada kesalahan.
"maaf ya Bu bos, ternyata awak salah hitung," kata Abdi mengatur tengkuknya.
Wulan pun mengeleng pelan, dia tak mengira jika Abdi begitu sulit konsentrasi.
untung Della itu sangat teliti, jadi wanita itu tau mana orang yang perlu di perhatikan untuk pembayaran.
tak lama datanglah dua motor dan yang membuat kaget,mereka ini juga datang membawa kekasihnya masing-masing.
"ini kenapa datang kok malah bawa calon istri,kalau mau nikah jangan keroyokan bro,bingung aku," kata Della yang membuat ketiganya tertawa.
"ya maklum, calon suami kami sudah pada tua," kata ketiga wanita yang menjadi kekasih dari ketiga orang kepercayaan pak Hartono.
"enak saja!!" protes ketiga pria itu.
Della dan pak Hartono pun tertawa, kenapa mereka bisa sekompak itu, padahal tak ada yang mengatur.
"ya mau bagaimana lagi, kan bos juragan ini punya banyak uang nih, ya bantu sedikit kan gak papa, maklum kan kamu anak buah kesayangan," kata Abdi yang membuat pak Hartono yang kaget mendengar ucapan dari anak buahnya.
"tenang saja, nanti jami sumbang lima belas juta setiap orang, jadi jika kalian tak membuat pesta, itu bisa buat beli motor batu," saut Della yang sedang fokus melihat setiap laporan.
tak berhenti di sana, bahkan Hardi yang duduk di pangkuan mamanya itu terlihat begitu semangat.
entahlah bocah itu sepertinya suka melihat angka-angka atau nominal uang yang ada di buku laporan itu.
"Hardi kalau satu juta nol-nya ada berapa?" tanya Abdi yang gemas melihat bocah itu.
"enyam..." jawab Hardi menujuk tulisan satu juta.
__ADS_1
"benar, anak siapa kok masih kecil mata duitan," kata Jalu yang langsung dapat tatapan tajam dari pak Hartono dan Della.
"peace bos, bercanda," kata Jalu yang langsung merinding.
bagaimana tidak,mata Della seperti burung elang yang tengah melotot menakuti mangsanya.
"Hardi kalau nol-nya ada sembilan itu namanya?" tanya Abdi yang memberi pertanyaan sulit.
karena dia tau jika bocah sekecil itu tak mungkin bisa tau, toh Hardi baru akan tiga tahun beberapa bulan lagi.
"atu ilyal," jawab bocah itu mengejutkan semua orang.
"lah dia tau, memang Hardi pernah melihat uang satu milyar," tanya Abdi bingung.
tanpa terduga, bocah itu lari ke arah rumah, dan kemudian membawa sebuah kereta mainannya yang berisikan gepokan uang.
itu membuat orang-orang yang melihatnya melotot, "Aldi unya atu ilyal om,"
"aduh Hardi, itu uang ayah kok malah di buat mainan, pasti mana ku diam saat tau tadi uangnya tadi kurang satu bendel," kata pak Hartono melihat putranya itu
"Ainan yah...",
"bukan sayang, itu uang asli, belum Hardi gunting kan?" tanya pak Hartono yang ngeri saat ingat bagaimana putranya itu melakukan hal yang mengerikan itu.
"sudah mas, Hardi sudah mengerti kok, sekarang bentuk mama simpan ya, besok Hardi harus kasih gaji buat karyawan ayah,jadi nanti Hardi besar, Hardi harus bantu ayah untuk memberikan hak para karyawannya," kata Della memberikan pengertian.
"Iyah,"
setelah mendapatkan semua lapisan dan tak ada revisi lagi, akhirnya merekapun pamit pulang.
pak Hartono heran tak mendengar suara putranya itu, dan dia kaget saat melihat putranya itu tidur di atas tumpukan uang yang ternyata di buat mainan.
"lihatlah putra mu sayang, baru kali ini, ada bocah yang bisa tidur di atas tumpukan uang, selain putra Hartono siapa lagi yang bisa begitu," kata pak Hartono yang mengejutkan Della.
"hadeh... nih bocah ya, mas tolong bawa putra mu ke dalam ya, aduh perutku makin besar jadi kurang nyaman kalau mau gendong putra mu ini," jata Della yang memang nampak sesak.
"siap sayang,aduh nih bocah ya benar-benar deh," kata pak Hartono yang tak mengira putranya akan secerdas ini.
bahkan bocah itu bisa di bilang sedikit menyeramkan,meski cara bicara belum lengkap tapi untuk masalah berhitung Hardi sudah bisa jika pertambahan dan pengurangan.
di sisi lain, para tetangga rumah dari Bu Hartini merasa aneh,karena sudah lima hari ini wanita itu tak keluar rumah.
__ADS_1
mereka tak tau di mana wanita itu, tapi beberapa hari ini mereka mencium aroma busuk yang menyengat dari rumah itu.
akhirnya karena tak tahan lagi, para tetangga wanita itu melaporkan pada pak RT setempat.
"maaf pak RT, saya ingin melaporkan jika saya mencium aroma busuk dari rumah Bu Hartini yang di tinggalkan kosong, kan pak RT tau jika pak Sueb sudah meninggal dunia,jadi mungkin ada bangkai kucing yang di pelihara sebelumnya," kata salah satu pria yang tak tahan lagi.
"baiklah kita dobrak saja, tapi sebelum itu minta izin dulu gih," kata pak RT yang takut di sebut maling.
"tak usahlah pak RT,toh para keluarganya juga tak mau ikut campur juga," kata salah satu warga yang lain.
akhirnya para warga pun mendatangi rumah itu, dan mendobrak pintu.
brak...
suara pintu itu terbuka,tapi aroma busuk itu makin tercium kuat, dan mereka semua orang terkejut.
karena melihat ada sosok tergeletak di lantai dengan keadaan membusuk.
bahkan bekas cipratan darah itu tercecer kemana-mana, semua orang pun muntah karena tak kuat dengan aroma yang tercium.
akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghubungi polisi,bahkan saat polisi dan tim forensik tiba.
mereka menemukan jejak kejanggalan,dan Riya yang di jemput oleh salah satu warga yang memberikan berita tentang kematian ibunya.
mendengar berita itu,membuat Riya terkejut bukan main,karena wanita itu sudah memutuskan semua hubungan antara mereka,tapi kenapa sekarang malah harus menerima kabar buruk ini.
Riya tak sanggup menghadapinya, akhirnya dia memanggil adiknya Rina.
kedua wanita itu datang ke rumah yang di maksud bersama suami mereka masing-masing.
dan betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok ibunya yang masih belum di pindahkan karena polisi masih melakukan identifikasi.
dan di temukan pisau dapur yang di yakini untuk menghabisi wanita itu.
"apa ini di bunuh Sueb,dan sebelum meninggal pria itu lari ke rumah Rike untuk meminta maaf," tanya Riya yang membuat polisi pun mengerti.
pasalnya mereka menemukan becak darah lain dan juga sidik jari lainnya, jadi mereka pun tak meragukan argumen dari Riya.
tapi mereka harus mengetahui motif wanita itu, dan seorang polisi memberikan sebuah buku yang di temukan di dalam kamar.
dan ternyata itu adalah buku milik Bu Hartini, dan polisi pun terkejut melihat isi buku itu.
__ADS_1
"apa!! wanita ini juga mengusap Aids!!" kata polisi itu kaget bukan main.