
"mas!!" teriak Rike yang tak menyangka akan melihat suaminya itu menghembuskan nafas terakhirnya seperti ini.
bahkan Rike memeluk tubuh dari Sueb, padahal semua orang tak berani mendekat karena takut terkena darah dari pria itu.
pasalnya Sueb mengakui jika dia terkena Aids, jadi mereka memanggil rumah sakit untuk mengurus jenazah.
pak Hartono baru datang, dan dia langsung mendekati istrinya dan tak lupa memberikan ciuman di kening Della.
"bagaimana pengaturannya sayang,"
"sudah di urus cak Abdi, dan sepertinya akan sangat repot, jadi Syam dan cak Eko berangkat ke rumah sakit untuk mengurus semuanya," jawab Della.
wanita itu mencari seseorang yang tidak kelihatan datang bersama suaminya, "aku menitipkan putra kita di rumah abdi karena di rumah mbok Sarni ada acara lamaran jadi tak enak jika di titipkan di sana,"
"baiklah mas," jawab Della.
dari dalam rumah, terlihat Rike yang begitu terpukul atas kematian Dati suaminya.
tapi pak Hartono mengurungkan niatnya untuk mendekati wanita itu, dan memilih bergabung dengan para pria yang sedang sibuk mempersiapkan acara pemakaman.
di sisi lain, di rumah sakit Syam dan Eko baru tau jika Sueb mati karena kehabisan darah.
karena ada luka tusuk di perut pria itu, Syam sempat memfotonya dan nanti akan memberitahu ayah mertuanya.
dokter juga melakukan otopsi untuk mengetahui sebab pria itu meninggal dunia.
setelah selesai, keduanya pun mengurus administrasi untuk di bawa pulang.
keduanya pun memilih naik motor daripada harus ikut berada dalam satu mobil dengan mayat Sueb.
Rike langsung bangkit dan berlari ke arah mobil jenazah yang datang dengan membunyikan sirine.
setelah itu,kata pria pun menurunkan peti mati yang di gunakan, karena proses pemakaman harus mengunakan prosedur.
terlihat Rike terus menangis sedih bahkan dia tak memperdulikan kesehatannya sendiri.
pemakaman pun segera di lakukan seperti perintah pak Hartono, dan para wanita menunggu di rumah
Della tak bisa berada di dalam rumah itu terlalu lama, jadi dia memutuskan untuk duduk bersama para wanita di luar rumah.
"mbak Della tak apa-apa?" tanya salah satu ibu-ibu yang masih di sana.
"tidak apa-apa Bu,mungkin saya hanya lelah karena mungkin bawaan hamil muda," kata Della
ucapan itu membuat semua orang terkejut, pasalnya wanita yang di gosipkan oleh mertuanya jika mandul.
__ADS_1
malah sekarang hamil setelah menikah dengan mantan ayah mertuanya.
"aduh selamat ya, ibu sampai kaget mendengar itu, karena ibu tak sangka jika kamu bisa hamil," kata wanita itu yang merasa tak enak karena dulu dia juga ikut mengomentari tentang Della yang tak bisa hamil.
"iya Bu, tak masalah itu sudah berlalu," jawab Della yang memang berusaha berdamai dengan semua masa lalunya.
dalam proses pemakaman, semua berjalan baik, dan tak ada masalah berarti.
setelah pemakaman selesai, mereka semua bubar dan pak Hartono serta anak buahnya kembali ke rumah Rike untuk menjemput istrinya itu.
dia pun langsung lari saat melihat Della di kelilingi ibu-ibu, "kamu kenapa sayang?"
"mas sudah pulang, tidak apa-apa sepertinya aku kelelahan karena kegiatan yang begitu padat," jawab Della yang memang sedikit pucat.
"ya sudah sekarang ayo pamit pulang, toh di sini semua sudah selesai," kata pak Hartono.
"baiklah, tapi setidaknya tolong pamitan dulu pada mbak Rike, bagaimana pun dia itu putri mu dan dia sedang mengalami musibah," kata Della
pak Hartono mengangguk dan memeluk Della, serta berjalan bersama ke dalam rumah.
ternyata Rike sudah tidur dan di sana hanya ada Riya dan Rina, "ayah pamit pulang dulu, karena istriku sedang tak enak badan, dan sampaikan pada Rike ayah minta maaf," kata pak Hartono yang tampak datar.
Rina tau jika pak Hartono ini belum bisa menerima jika dua putrinya itu bukan anaknya.
"terima kasih Rina," jawab pak Hartono.
dia pun mengajak istrinya itu pulang, tapi dia memutuskan untuk berbelok ke bidan karena kondisi Della yang makin lemas.
dan saat sampai, untung tak ada pasien jadi mereka bisa langsung masuk dan Della segera di periksa dengan segera.
bidan desa sedang memeriksa tekanan darah dari Della dan ternyata tekanan darah itu cuma seratus per delapan puluh.
"nyonya sudah periksa ke dokter?"
"ah belum Bu bidan," jawab Della.
"karena tekanan darah rendah, itu yang membuat ltnas, saya akan memberikan vitamin dan obat penambah darah, dan lebih baik makan makanan yang sehat untuk perkembangan di kecil, karena saat ini ada golden age dari bayi di dalam kandungan," kata bidan itu tersenyum
setelah beberapa waktu, keduanya pun pulang dan tak lupa tadi sempat membeli buah untuk di berikan pada ibu abdi karena sudah mau di titipi Hardi mendadak.
"ayo Hardi, pamit dulu sama nenek," kata Della yang sudah memegang tangan Putranya itu.
"Aldi pamit ya Mbah,"
"ya le, kapan-kapan main kesini ya,aduh Mbah suka deh kalau kamu nain ke sini,habis kamu ini pintar dan penurut,"
__ADS_1
"ya minta buatin cucu sama abdi Mak,lumayan nanti rumahnya rame," kata pak Hartono.
"alah pak juragan, anak itu tak bisa di harapkan untuk apapun,jadi tak usah membicarakannya, pintar cari yang tapi tak pintar cari istri," kata wanita itu mengadu.
"sebentar lagi juga ketemu,banyak yang gadis dan di tambah janda sekarang itu juga masih muda dan kayak gadis loh," kata Della tertawa.
"tidak boleh mbak juragan, setidaknya dia harus dapat perawan karena dia ini belum pernah menikah sebelumnya,"
"nikah sih belum,kalau kawin mah pernah Bu, jadi tenang saja," kata abdi yang lewat.
otomatis sebuah sandal jepit melayang ke kepala pria itu, "dasar anak kurang ajar," marah wanita sepuh itu.
"ya sudah ibu,kami pamit pulang,sekali lagi terima kasih ya," kata pak Hartono.
Abdi pun sudah berganti baju dan siap pergi mengunakan motor CBR 150R miliknya.
"kamu mau kemana,kenapa kamu terus berkeliaran tak jelas sih," kata ibu pria itu.
"aku mau ke rumah temen ku Bu,sudah nanti juga aku akan menikah, tunggu ya," kata Abdi yang langsung pergi.
pria itu menuju ke sebuah warung yang terkenal dengan minuman keras yang di jual secara sembunyi-sembunyi.
dia memakirkan motornya dan langsung masuk kedalam warung itu dan tentu saja seorang wanita tersenyum ramah pada abdi.
"halo mas,kenapa kok lesu begitu sih?" tanya wanita itu yang terkenal sebagai janda bahenol yang paling cantik di desa.
"aku pusing di rumah dengerin ibu terus menggomeli ku untuk mencari istri,kamu sih tak mau di resmikan, padahal kita sudah bersama dari lama," kata Abdi.
"kamu ini bagaimana sih mas,kamu juga tau apa yang ibu mu katakan saat itu,beliau sangat membenciku, di tambah dulu ayah mu juga pergi meninggalkan kalian karena tergoda janda, jadi aku sudah tak punya kesempatan untuk membuat ibu mu menyukai ku, karena cap buruk yang aku terima," kata gadis itu dengan sedih.
"aku tau kamu, aku hanya menyukai mu, kamu juga tak sama dengan para janda di luaran sana, memang kenapa jika kamu bekerja di warung ini, kalau begitu bagaimana kalau kamu pindah tempat kerja," bujuk Abdi yang berencana untuk membukakan kios di pasar.
toh dia juga punya uang modal yang di berikan oleh pak Hartono karena dia berhasil mengurus pernikahan pria itu dengan baik.
"tidak mas, selama aku belum sah menjadi istrimu,aku tak ingin mengunakan uang mu,karena aku tak ingin di cap sebagai wanita matre," kata gadis itu.
"tunggu Wulan, tapi aku sangat mencintai mu, bahkan kamu seakan tak menghargai ku dalam menunggu mu selama ini,"
wanita itu hanya tersenyum dan memberikan sebuah kecupan pada Abdi.
"maaf mas, mulai sekarang tolong cari gadis lain karena aku tak pantas untuk mu," kata wanita itu yang memilih untuk kembali bekerja di warung itu.
meski wanita itu kerja di warung yang terkenal dengan esek-esek, tapi dia tetap menjaga kehormatannya dengan memakai baju yang longgar.
di tambah karena dia sangat sopan, para supir yang mampir jadi segan untuk menganggu Wulan yang sungguh-sungguh bekerja demi mencari nafkah.
__ADS_1