Aku Juga Bisa, Balas Dendam

Aku Juga Bisa, Balas Dendam
tetap bertahan


__ADS_3

Abdi dan Syam sampai di Surabaya, dan langsung menuju ke tempat rumah sakit yang di maksud oleh dokter.


terlihat Della masih duduk di depan ruang operasi, karena kondisi dari pak Hartono cukup gawat.


"jadi Bu juragan, bagaimana dengan kondisi bapak, bukankah perjalanan dari desa ke kota besar ini sangat jauh,"kata Abdi yang khawatir.


"tenang saja, sekarang kondisinya sudah cukup baik, dan tolong beritahu Alfi agar tak membuat anak-anak panik, karena ayahnya sudah mendapatkan perawatan yang intensif," kata Della dengan suara gemetar.


"baiklah Bu juragan," jawab Abdi.


dia pun langsung mencoba menghubungi Aldi tapi tak segera di angkat, "Ita mas, bagaimana di Surabaya, ini anak-anak sudah menangis ketakutan," kata Alfi yang terdengar suara Vina menangis dengan keras


semuanya baik, pak Hartono sudah mendapatkan perawatan medis dan tolong berdoa untuk juragan ya,semoga cepat bisa pulang dan berkumpul dengan kura semua," kata Abdi.


"iya... Vina akdn berdoa untuk ayah," jawab gadis kecil itu yang tak mau sesuatu yang buruk menimpa ayahnya.


setelah menelpon, Rina segera pergi ke beberapa tempat yayasan yatim piatu untuk meminta mereka mendoakan pak Hartono.


bahkan dia berharap ayahnya itu segera sembuh karena kedua adiknya sangat membutuhkannya, bahkan dia tak bisa bayangkan bagaimana jika pria itu meninggal dunia.


dia takut Della akan terjerumus kedalam jalan yang salah, terlebih wanita itu sangat sulit di kendalikan jika bukan pak Hartono.

__ADS_1


akhirnya acara ulang tahun tetap di lakukan meski tanpa orang tu, terlihat Hardi sangat tegar menghadapinya.


tidak ada kue hanya ada donat yang tadi di buat oleh Alfi. "maaf ya,hanya ada kue ini,karena tadi mbak nenangin adek,"


"ini sudah cukup mbak, dan jangan merasa tak enak begitu," jawab Hardi yang paham situasinya.


bukan dia merasa sedih karena tak bersalah ibunya, tapi dia ingin sangat melihat pak Hartono.


di Surabaya, pria itu sudah melewati masa kritis dan sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa.


ya karena ini seragam pertama jadi kondisi pak Hartono tak terlalu serius


tapi Della tak peduli, dia menanam setidaknya yang empat lokasi agar pak Hartono nantinya tak akan terganggu saat beraktifitas


dia duduk di samping suaminya yang perlahan membuka mata, dan tersenyum kearahnya


"sepertinya aku sudah mati, kenapa aku melihat bidadari cantik ini di depan mataku," kata pak Hartono yang sedang bercanda.


"hentikan, lelucon mu tak berguna, dan lagi aku ingin ingin bersama mu sampai kita tua nanti dan melihat anak-anak menikah, jadi jangan harap kamu bisa pergi dariku ya," kesal Della yang di angguki oleh pak Hartono


Abdi memfoto momen itu dan mengirimkannya pada Alfi di rumah, dan semua orang bersyukur atas kesembuhan pak Hartono.

__ADS_1


keesokan harinya Della sudah menyeka pak Hartono dan pria itu tampak sehat dan sudah bisa tersenyum.


tapi berbeda dengan Della yang kali ini malah tampak pucat dan sedikit lemas.


"dek kamu kenapa?" tanya pak Hartono melihat istrinya itu.


Della tampak berpikir, "mas tau, situasi ini persis saat saat aku sedang hamil Hardi, dan akhirnya ketahuan deh," jawab Della.


"apa? Syam antar mama mu ke dokter kandungan," perintah pak Hartono.


"siap ayah,"


"lah... lah... kan aku cuma bilang mirip, bukan aku hamil beneran, ayolah jangan melakukan ini," mohon Della yang tak bis berkutik.


dia dan Syam menunggu di ruangan dokter obgyn, dan ternyata memang benar Della memiliki embrio di dalam rahimnya.


Du tambah itu sudah berusia sebelas Minggu, berarti itu dibuahi sebelum pak Hartono melakukan tindakan wasektomi, dan sekarang Della akan jadi ibu lagi.


"aduh..."gumam Della yang tak menyangka akan memiliki anak dengan Suaminya.


padahal dia berniat untuk dua saja karena mau fokus membesarkannya. terhubung dewa ini mengasihani dirinya, itulah kenapa dia di kirimi lagi seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2