
Abdi merasa jika ucapan dari kekasihnya itu sangat melukainya, ya dulu dia pernah mengajak Wulan datang ke rumah dan memperkenalkan wanita itu pada ibunya.
tapi yang tak terduga adalah reaksi dari ibu Abdi yang langsung menolaknya mentah-mentah.
padahal Wulan itu bukan di tinggalkan atau di ceraikan, melainkan suaminya harus meninggal dunia karena kecelakaan di jalan tol.
dan wanita itu harus kehilangan bayi yang saat itu juga meninggal dunia saat di lahirkan karena kondisi Wulan yang syok berat.
"mbak Wulan,itu kekasihnya pergi kok gak di kejar," tanya salah seorang supir yang sedang makan di warung.
"tidak apa-apa mas, saya sudah mengakhiri semuanya, karena percuma menjalin hubungan yang tak punya masa depan," jawab Wulan tegas.
"wah pasti dia kecewa banget ya," kata supir truk itu
Wulan hanya tersenyum sekilas, Abdi pun tak bisa menahan air matanya.
bagaimana tidak, wanita yang dia ajak berjuang bersama dari satu tahun ini, harus berakhir seperti ini.
"sudah mas, jika jodoh juga tak usah di kejar pasti akan datang," kata seorang pria tua yang menjadi pemilik warung itu.
"Mbah Sarip, maaf ya ... saya malah menunjukkan sosok buruk ini," kata Abdi.
"sebenarnya mas, dengan restu ibu mu, aku yakin kalian bisa menikah, Wulan bukan tak mencintai mu, tapi menikah tak mendapatkan restu telah membuatnya trauma, karena dia telah kehilangan suami dan anaknya dalam waktu yang hampir bersamaan,jadi tolong mengertilah mas," kata pria itu yang kemudian pergi.
Abdi pun memilih pulang, dan dia akan bertanya lagi pada ibunya kenapa sangat membenci Wulan.
dia sampai di rumah dan langsung masuk kedalam rumah, "tumben kok sudah datang,bukankah kamu ingin cari istri," kata ibu Abdi yang heran melihat putranya itu
"ibu mau melihat ku mati," kata Abdi dingin tanpa melihat ibunya itu.
"apa yang kamu katakan le, kamu jangan membuat ibu marah, kamu tau jika ini hanya memiliki mu,"
"benarkah, seharusnya jika ibu merasakan hal itu, ibu tak menghalangiku dengan Wulan, kenapa ibu tak menyukainya, padahal aku sangat mencintainya," kata Abdi dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"kamu itu masih bisa menikah dengan gadis muda, kenapa harus janda, kamu tau keluarga kita hancur karena wanita seperti itu,"
"tidak semua orang dan tidak semua janda seperti itu Bu, bukan statusnya yang salah tapi orangnya yang busuk, dan jangan menyamakan semua wanita berstatus janda seperti itu, padahal ibu sendiri juga seorang janda," kata Abdi.
plak ..
__ADS_1
"tutup mulutmu abdi, bagaimana bisa jamu mengatakan hal seperti itu pada ibu mu," kata ibu Abdi tak menyangka akan mendengar ucapan dari mulut putranya yang begitu menyakitkan.
abdi memilih masuk kedalam kamarnya dan membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya.
dia tak menyangka jika cintanya harus mendapatkan halangan terbesar.
"aku lebih baik menjadi perjaka tua dan mati sendirian, dari pada aku harus menikah dengan wanita lain, karena aku hanya mencintai mu Wulan, AAA!!!!" teriak Abdi yang benar-benar frustasi.
sedang ibu abdi terduduk lemas di ruang tamu, dia tak menyangka akan mendengar putranya yang begitu ceria kini begitu frustasi.
bagaimana tidak, pria itu sangat terlihat sengsara dengan apa yang dia alami, tapi dia juga tak bisa melakukan apapun.
dia hanya malu, karena dulu dia memilih ayah Abdi saat keluarganya sudah menjodohkan dengan pakde dari Wulan.
padahal hari pernikahan mereka tinggal hitungan hari, dan dia memilih lari saat itu.
dan sekarang dia malah harus menyaksikan putranya yang tergila-gila pada wanita dari keluarga itu lagi.
Wulan tampak sedih selama bekerja, dia juga tak menyangka akan memutuskan Abdi.
padahal dia juga sangat mencintai pria itu,dan keluarganya juga sudah setuju meski tau siapa orang tua Abdi.
"terima kasih ya Mbah, maaf saya pulang dulu dan Lusi titip bantu Mbah ya," kata Wulan yang pamit pulang.
dia pun mengendarai motornya menuju ke rumah, saat sampai pun dia tak menyapa siapapun dan langsung masuk kedalam kamarnya.
keesokan harinya, Abdi keluar dari kamarnya dan langsung pergi untuk bekerja, bahkan ibunya pun tak di sapa oleh abdi.
karena dia tak bisa melihat ibunya saat ini, karena takut emosinya meledak jadi dia memilih menjauh sementara.
dia sudah sampai di gudang pukul enam pagi, dan mulai menata truk yang akan mengantar beras ke luar kota.
dia pun mulai muat beras itu sendirian,dia ingin melupakan wanita itu.
senyumannya, tawanya, bahkan suaranya itu dari otak dan hidupnya, tapi semuanya seakan sulit, karena semua yang berhubungan dengan wulan sudah melekat di hidupnya dengan kuat.
pak Hartono yang mendapatkan telpon dari ibu Abdi, langsung datang membawakan sarapan yang tadi sempat di masak oleh istrinya.
"kamu mau kuat sendiri, setidaknya ada seratus karung, kamu kuat?" tanya pak Hartono pada anak buahnya itu.
__ADS_1
tapi Abdi tak menjawab, dia terus menaikan semua karung-karung itu setelah ditimbang.
sedang di rumah, Della pergi ke suatu tempat bersama putranya Hardi,"selamat pagi,apa ini benar rumah Wulandari, saya boleh bertemu dengan dia?" tanya Della dengan sopan
"iya Bu juragan,Monggo silahkan duduk," kata ibu dari Wulan
Della duduk dan memangku putranya dengan santai, seorang gadis keluar dengan mata bengkak.
"aduh-aduh mbak Wulan ya, kenapa sedikit beda dengan foto ya," kata Della kaget melihat mata wanita itu yang benar-benar bengkak besar.
"maaf, saya kebanyakan tidur jadi matanya seperti ini,kalau boleh tau ada apa ya Bu juragan?" tanya Wulan pada Della
"saya cuma mau meminta mbak ikut saya sebentar, bisa ya karena saya sedang khawatir karena suami saya tadi pergi dengan marah ke gudang, takutnya dia dan mas abdi bertengkar," kata Della yang mulai berakting.
"kenapa mencari saya, saya tak punya hubungan apapun dengan pria itu lagi," kata Wulan yang berbalik dan ingin masuk kedalam rumah.
tiba-tiba sebuah panggilan masuk kedalam ponsel Della, "iya halo cak Eko, ada apa? apa!!! kalian tidak bisa memudahkan pak bos dengan cak abdi, ya tuhan kalian itu bagaimana, suamiku bisa membunuh pria itu!!" teriak Della yang mulai panik.
di tambah Hardi yang ikut menangis membuat suasana kacau,Wulan yang mendengar itu pun tampak khawatir.
"kamu bilang mencintainya, tapi jangan sedih saat pria itu mati sekarang," Hata Della.
dia dan Hardi akan pergi saat Wulan berdiri di depan motor Della dan menghentikannya.
"aku ingin, tolong..." mohon wanita itu.
sedang di gudang, pak Hartono bingung karena di panggil Eko dan kenapa istrinya begitu kaget seperti orang ketakutan.
"apa dia sedang gila mendadak," gumamnya.
saat pak Hartono sedang bingung, tiba-tiba Andi terjatuh kelelahan karena dia belum makan apapun dari malam hari.
pak Hartono pun segera menghampiri anak buahnya itu, tapi tak lama sebuah motor datang.
"mas Abdi!!" teriak Wulan yang langsung lari dan mendorong pak Hartono.
dia langsung memeluk Abdi yang terkapar di tanah, "jangan begini mas, aku tak bisa kehilangan lagi..." tangis Wulan.
sedang pak Hartono yang masih bingung,makin bingung saat Hardi juga menangis memeluknya.
__ADS_1
tapi yang aneh adalah Della satu-satunya orang yang tertawa melihat adegan itu.