
pak Hartono langsung menyapa anak dan istrinya, "bagaimana sayang, apa semua bisa di selesaikan,"
"tentu mas, aku hanya tak menyangka dengan apa yang baru aku ketahui," kata Della yang memang masih terkejut dengan kenyataan yang tadi utarakan oleh pengacara Hans dan notaris.
"sudah tak usah di pusingkan, oh ya aku ingin Hardi melihat bagaimana aku membagikan gaji pada orang-orang,"
"kamu tau mas, sekarang aku malah takut karena sikap mu seolah kamu akan pergi jauh, hingga harus mengajari putra mu yang baru berusia tiga tahun," kesal Della.
"tidak dek, dia harus tau bagaimana ayahnya yang bekerja, jadi dia nanti kalau sudah bisa melanjutkan, dia tak akan terkejut," kata pak Hartono.
pukul dua siang, akhirnya semua orang di kumpulkan untuk melakukan pembayaran di bantu Della.
semua orang pun baris berurutan, dan Della membagikan uang gaji yang sudah ada nama dan jumlah gaji yang diterima.
dan Hardi memberikan kir yang tadi di beli di temani pak Hartono, para karyawan tak menyangka jika gaji mereka naik.
dan yang membuat kaget adalah lemburan juga naik, jadi mereka tak akan malas-malasan lagi jika di minta lembur.
"sudah semua, sekarang kalian bisa pulang, karena hari ini kita cuma bekerja setengah hari, karena saya harus mengantar istri ke rumah sakit untuk periksa," kata pak Hartono pada semua orang.
"baiklah juragan, terima kasih atas semua yang di berikan,dan semoga putranya nanti menjadi orang yang sukses ya," kata para karyawan.
"amiin..."
setelah semua orang pergi, pak Hartono dan Della menuju ke rumah sakit, awalnya mereka tak ingin mengajak Hardi.
tapi jika di tinggal di rumah itu akan membuat bocah itu sedih,jadi mereka pun mengajaknya juga.
sesampainya di rumah sakit, Hardi mengandeng tangan Della sambil terus tersenyum seakan menunjukkan jika dia sangat bahagia.
"ada apa Hardi, tak mau beli jajan dulu, di depan ada Indoma***, kami bisa beli dulu dengan ayah, mama daftar dulu, mau?" tawar Della.
"Ndak," jawab Hardi.
"ikut ayah dulu,ayah mau beli rokok dan sesuatu," kata pak Hartono langsung mengendong putranya itu.
__ADS_1
Hardi berontak tapi tak bisa melakukan apapun karena ayahnya sudah membawanya pergi.
della masuk ke ruang administrasi untuk melakukan pendaftaran untuk cek kandungan.
ternyata dia dapat nomor urut tiga, dan itu juga tak akan menunggu lama
saat baru duduk, ternyata Putranya itu sudah datang dengan banyak barang di tas yang punya gambar khas itu
"kamu beli apa le?"
"putra mu mengambil coklat satu rak, dan juga permen coklat," kata pak Hartono yang tak habis pikir.
beberapa orang yang sedang antri pun merasa aneh saat melihat pasangan Della dan pak Hartono.
bagaimana tidak, saat Della masih terlihat muda dan segar, memiliki suami yang bahkan hampir seluruh rambutnya mulai memutih.
tapi pria itu masih tampak tetap tegap dan atletis, belum lagi baju yang dia kenakan oleh pria itu juga sangat fashionable.
Della bahkan tak malu bersandar pada suaminya itu, sedang Hardi bingung dengan coklat yang dia beli
"yakin di makan sendiri," kata pak Hartono yang melihat putranya itu sedang membagikan coklat pada semua ibu hamil yang sedang menunggu untuk pemeriksaan.
bahkan para suster yang lewat juga di kasih, setelah itu satu persatu pasien di panggil.
saat giliran Della di panggil, Hardi masuk dan memberikan coklat pada dokter wanita yang akan memeriksa Della.
"terima kasih ganteng, kamu ikut mau melihat adek ya?" tanya dokter wanita itu.
"ya..."
"baiklah, silahkan nyonya untuk berbaring di atas ranjang," kata dokter mempersilahkan.
Della berbaring dan suster mulai mengusapkan gel, baru kemudian dokter melihat bayi yang ada di dalam perut dengan USG.
"adek," panggil Hardi yang membuat janin itu bergerak.
__ADS_1
"Alhamdulillah semua sudah lengkap dan dalam kondisi baik, ukurannya juga sesuai dengan usia kehamilan dan berat bayi juga bagus, dan sekarang kita dengarkan detak jantung dari adek bayi ya," kata dokter yang membuat Hardi mengangguk senang.
pak Hartono yang memang tak pernah melihat semua ini merasa begitu senang, karena anaknya sedang berkembang di perut istrinya.
"itu laki-laki atau perempuan dokter?" tanya pak Hartono yang penasaran dengan jenis kelamin calon anaknya.
"kalau dari sini, dia malu pak karena mau di lihat, tidak bisa di pastikan,mungkin nanti kalau usg lagi, baru bisa di lihat ya," kata dokter yang sedikit membuat kecewa.
karena pak Hartono ingin menyambut anak keduanya, dia tak ingin apa yang di rasakan Hardi, harus di alami anaknya lagi.
"sudah mas, kita bisa mengunakan semua baju milik Hardi, toh baik perempuan atau laki-laki, kan sedikit boros jika harus membeli baju baru karena di gunakan untuk sebentar juga," kata Della yang bangkit dan turun dari ranjang.
"iya juga sih dek, aku ingat bagaimana baju Hardi yang masih banyak di rumah, dan tak kuat karena dia makin besar," kata pak Hartono yang membuat dokter tersenyum
"ya sudah, saya akan meresepkan vitamin saja, dan tolong istirahat yang banyak ya Bu,dan tolong jangan melakukan pekerjaan berat, dan semua hasil laboratorium juga baik," kata dokter yang melihat hasil ANC terpadu.
"iya dokter," jawab Della yang memutuskan pulang bersama putra dan suaminya.
Hardi terus bernyanyi di kursi belakang meski tak jelas, karena bocah itu sangat senang.
"Hardi mau makan apa? kan tadi belum makan nasi?" tawar Della pada putranya itu.
"mie yayam,"
"oke pangeran ayah, kita beli mie ayam di langganan ya," jawab pak Hartono yang memberhentikan mobilnya di warung bakso langganan.
ketiganya turun, dan memilih meja yang sedikit pojok, dan Della sedang memesan.
tanpa di duga ada Bu Yanik yang datang bersama putrinya dan suaminya yang di banggakan.
tapi pria itu langsung tampak malu saat melihat ada sosok pak Hartono.
sedang pak Hartono hanya santai saja, toh bukan urusannya juga mau melakukan apa.
dia tampak bermain dengan anaknya yang sibuk menonton film dengan bahasa inggris.
__ADS_1
karena itu permintaan Della,agar bisa membuat Hardi mengerti bahasa asing sejak dini.