
Della dan seluruh pegawai di warungnya pun bergegas untuk menyelesaikan pesanan yang memang sangat banyak.
entah sudah terbiasa atau memang sudah memiliki kecepatan tangan yang begitu hebat.
wanita itu menyelesaikan lima ratusan porsi dengan hanya waktu satu setengah jam untuk membungkus.
"kloter pertama berangkat," kata Della yang mencoret pemesan pertama dan kedua
setelah itu lanjut kloter selanjutnya, yang ini juga terlihat begitu cepat, bahkan semuanya seakan tak percayalah dengan yang mereka lihat.
tak berhenti di sana, mereka juga membersihkan semua peralatan dapur juga.
akhirnya pesanan selesai pukul dua belas siang, karena tadi ada pesanan tambahan mendadak, untunglah masih ada syok jadi di terima.
"semuanya terima kasih,ini upah bekerja hari ini, dan sedikit bonus, besok kita libur satu hari,karena capek ya, semuanya tolong di pastikan lagi ya Andi, sampai jumpa lusa," kata Della yang membubarkan semua anak buahnya.
Della masih duduk di atas motornya dan menghubungi suaminya itu, untungnya segera di angkat, "iya ada apa?" tanya Rasyid yang sedang bersama pak Hartono.
"mas di mana, spa perlu aku bawakan makan siang," tanta Della.
"mending catering mu masih ada?" tanya Rasyid heran.
"udah habis, ya nanti aku belikan di warung yu mu'ah," kata Della tertawa.
"boleh deh, ada lima belas orang, oh ya jangan lupa gorengan dan rokoknya sekalian ya," kata Rasyid yang membuat pak hartono terkejut.
"baiklah," jawab Della.
"kenapa kamu menyuruh istrimu, kan uangnya ada di kamu," Keta pak Hartono yang langsung mengambil uang makan siang kembali.
"ya ayah,kan sama saja,"
"tidak boleh,sudah sana urus bagian mu dan ayah harus menyelesaikan pekerjaan ini," kata pak Hartono yang masuk kedalam ruangannya.
Rasyid pun dengan malas mengikuti perintah ayahnya dan mengawasi para orang yang masih sibuk muat.
Della datang setelah satu jam karena warung itu cukup ramai, kesana warungnya yang tutup.
"maaf telat makan siangnya," kata Della yang tersenyum ramah.
__ADS_1
pasalnya saat di warung menunggu antrian dia mendapatkan notifikasi sebuah transfer masuk untuk membeli makan dan untuknya jajan.
membaca itu membuatnya tersenyum lebar, tentu itu dari ayah mertua yang sekarang jadi kesayangannya.
bagian transferan itu cukup membuat terbelalak, karena nominalnya tidak sedikit.
tak hanya itu, Della sempat bertanya apa tidak masalah, tapi pak Hartono meyakinkan menantunya itu jika uang itu aman karena rekening yang di gunakan Bu Hartini tak tau.
dia juga memberikannya pada Rasyid, "siapin dong sayang?"
"kamu gila ya, di depan semua orang, ke ruangan ayah saja," kata Della yang malu.
benar saja setelah di bagikan semua beristirahat dan tak percaya dengan yang di belikan, ternyata semua dapat nadi lodeh porsi besar dengan lauk ayah Bali dan telur dadar.
"ini nih kalau punya Bu bos baik, nadi makan siang pun mewah, bukan sambel klotok saja dan tahu tempe," celetuk salah satu pegawai.
"hus... kamu nanti kedengaran mas Rasyid batu tau," kata yang lain mengingatkan.
"selamat siang ayah, ini nasi makan siang untuk ayah dan mas Rasyid, sekarang kita makan bareng, karena ibu tadi pesan kalau tak boleh ganggu beliau, jadi aku yang memutuskan membelikan saja," terang Della.
"tak masalah nduk, oh ya tolong buatkan ayah kopi dong, itu ada dispenser dan kopinya juga ada di sana," kata pak Hartono.
"baiklah," jawab Della yang tampak begitu manis dan penurut saat di depan ayah mertuanya.
Rasyid tak suka itu jadi dia ingin mengadu pada ayahnya, "ayah tau menantu mu itu cuma manis kalau ada ayah dan ibu, beh kalau di rumah sudah kayak singa betina yang siap menerkam siapapun, aku bahkan sering di omeli,"
"ya itu karena kamu yang menyebalkan mungkin, toh lihat saja dia tampak baik-baik saja kok, makanya jadi suami itu jangan banyak tingkah, kamu kira ayah tak tau apa yang semalam jamu lakukan di tongkrongan mu," kesal pak Hartono
"ayolah ayah, namanya juga anak muda, jadi itu biasa dong nanti juga tobat sendiri,"
"iya kalau kamu sempat tobat, kalau gak mati dong, sudah jangan menghianati dia lagi, toh semua wanita itu akan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada suami jika suaminya baik dan menghargai dirinya, tapi kalau suaminya kayak **jing ya pantes di tendang," kata pak Hartono membungkam mulut putranya.
Rasyid tak percaya jika ayahnya malah membela istrinya bukan dirinya, padahal dia inginnya pak Hartono memarahi Della.
"ini kopinya kopi susu untuk mas Rasyid dan kopi hitam pahit untuk ayah mertua," kata Della yang duduk bersama dan mulai makan.
dia bahkan duduk di antara dua pria yang sedang membahas pekerjaan. yang satu suami sahnya, yang satu mertua dan selingkuhannya.
setelah selesai, Della membantu pak Hartono menyelesaikan pembukuan, sedang Rasyid yang memang tak mengerti.
__ADS_1
memilih untuk mengawasi bagian muat barang,karena masih ada dua truk lagi.
di dalam ruangan yang tak terlalu luas itu, pak Hartono sedang mendapatkan servis terbaik.
bahkan pria itu tak menyangka bisa melakukan hal seperti ini di tempat yang tak terduga.
"kamu benar-benar tak bisa membuat ku lupa, tapi ke apa Rasyid bilang kamu itu kaku seperti orang mati," tanya pak Hartono penasaran.
"karena dia memperlakukan ku seperti itu, dia selalu seenaknya, di tambah kekuatannya dalam bertahan hanya dalam hitungan detik," jelas Della yang membuat pak Hartono semakin merasa bangga.
"kamu butuh bantuan juga,"
wanita itu mengeleng pelan, "tidak sekarang ayah, nanti malam di tempat yang sudah kemarin kita gunakan, gunakan ini untuk membuat semuanya terlelap dalam tidurnya," kata Della memberikan obat tidur yang tak memiliki rasa maupun bau.
"baiklah, jam sepuluh kita bertemu di sana," jawab iak Hartono yang sudah masuk perangkap menantunya.
di sisi lain, Rike kaget tak menemukan suaminya, padahal tadi saat dia istirahat pria itu masih di ruang tengah menonton tv.
"mas Sueb!!"
"iya sayang, mas di sini sedang menimba air," jawab pria itu.
"loh mas mau ngapain jam tiga sore begini, kok nyiram sayur seperti itu, kenapa tidak gunakan selang saja," tanya Rike heran.
"sambil olahraga sayang, biar badan akan bagus dan kuat untuk menikmati malam dengan mu," bisik Sueb yang membuat Rike malu.
padahal itu hanya alasan,karena pria itu berkeringat sebab melakukan olahraga yang lain.
bahkan meninggalkan wanita yang sedang tak berdaya itu karena kelelahan.
ya itu adalah Bu Hartini yang selesai menikmati servis terbaik dari menantunya.
sedang Riya mencibir kelakuan Rike dan suaminya, karena memamerkan kemesraan di depan dirinya.
"kalian tak punya rumah ya!" teriak wanita itu.
"kenapa, mbak iri gak punya suami yang memiliki tubuh bagus begini," kata Rike menyahuti kakaknya itu.
"percuma badan bagus, tapi pengangguran saja, cih..."kesal Riya yang masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
"dasar wanita menyebalkan!!" teriak Rike yang kesal.