Aku Juga Bisa, Balas Dendam

Aku Juga Bisa, Balas Dendam
terima kasih mbak Della


__ADS_3

Della yang sedang menikmati waktu bersama suami dan putranya, tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu.


"ada apa dengan dirimu sayang, kenapa kamu dari tadi terus senyum-senyum sendiri?" tanya pak Hartono melihat istrinya itu.


"tidak mas, aku sedang membayangkan bagaimana sekarang cak abdi dan Wulan, mereka pasti terkejut karena ibu cak Abdi pasti sudah menerima cinta keduanya," kata Della dengan senang dan gemas.


"kok bisa, bukankah kemarin malam masih ngamuk," tanya pak Hartono heran.


"kamu tak percaya dengan istrimu ini sayang, jangan kira aku ini cuma istri biasa," kata Della yang membuat pria itu merasa senang.


karena Della mau membantu anak buahnya sampai seperti ini, karena mengingat bagaimana Abdi sendiri yang membantu mereka hingga bisa menikah.


"itu bagus,karena dia juga berjasa pada kita, dan istriku ini memang wanita paling bisa dan mengerti semua orang di sekitarnya," kata pak Hartono yang memeluk Della.


Hardi yang dari tadi sedang asik menggambar, langsung bergegas bangun dan duduk di antara kedua orang tuanya.


"mama..." teriak bocah itu yang memeluk Della.


"dasar bocah ini, padahal ayah mau pelukan sama mama saja, malah ikut," kata pak Hartono.


"biarkan saja ayah, kenapa kok malah kalian malah berantem sih," kesal Della


sedang di rumah Abdi, Wulan dan ibunya sedang adik ngobrol berdua untuk membahas sesuatu.


sedang dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang memang sangat menumpuk.


dia tak bisa mengabaikan pekerjaannya lagi, jika tidak pasti dia akan kebak marah oleh pak Hartono yang siap mengamuk besok.


bahkan ini tadi siang saja dia sudah gabis karena perkaranya tadi pagi, pria itu sampai harus kesulitan untuk mengambil uang.


karena besok adalah awal bulan dan waktunya semua orang harus menerima gaji.


"mas kamu kenapa begitu sibuk," tanya Wulan.


"ini dek, aku bisa gila, karena aku yang tadi pagi ngambek, sekarang aku tang harus menyelesaikan semua pekerjaan,karena pak bos sudah mengomel,"kata Abdi yang hanya bisa menghela nafas


"ya salah sendiri, kamu mah kemenyek, orang sudah tua gitu masih ngambek kayak bocah,kecuali kalau Hardi gak papa lucu, kalau kamu nah ih..." kata ibu Abdi.

__ADS_1


"apa Bu, ya bisa-bisanya ibu bicara begitu," kata Abdi yang memeluk Wulan erat.


"heh... belum Halah, ayo Wulan ibu mau tunjukkan sesuatu, karena lamaran kalian akan segera di lakukan," kata wanita itu yang menarik calon menantunya ke dalam kamar.


Abdi tak mengira ibunya begitu langsung suka dan menyayangi Wulan, dan itu yang dia impikan.


akhirnya dia pun pulang untuk mengantar Wulan pulang, tapi sebelum pergi ibunya itu masih sempat memeluk tubuh wanita yang dia cintai.


"oh ya le, nanti tolong mampir ke rumah mbak Della ya,dan tolong berikan ini padanya, karena ibu ingat dia senang makan lintingan pindang, dan bilang terima kasih sudah membuat ibu sadar,karena ibu hampir menolak istri yang sangat sempurna untuk putra ku,"


"iya Bu, ayo dek kita pulang," kata abdi yang mengerti kenapa ibunya bisa tiba-tiba langsung menerima kekasihnya.


ternyata semua itu adalah Della yang berhasil membujuk ibunya, padahal Abdi tau bagaimana sulitnya membujuk ibunya.


tapi Della bisa mengatasi hal itu, bahkan wanita itu sangat bisa di bilang hebat.


"mas bisa kita ketemu Bu juragan dulu, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena dia bisa membuat kita mendapatkan restu secepat ini,"


"tentu dek, kita akan ke sana, tapi kita beli sesuatu dulu," kata Abdi yang ingin membelikan terang bulan untuk Della dan keluarga.


mereka berdua benar-benar tertawa dengan bahagia, dan tak sengaja seorang wanita datang mengendarai sepeda motor Scoopy.


gadis itu tampak begitu sumringah saat melihat ada sosok Abdi, dan tanpa basa basi langsung menyapanya dengan ceria, "mas Abdi,"


yang merasa namanya di panggil otomatis dia langsung menoleh, begitupun dengan Wulan yang kaget melihat seorang gadis remaja menyapa kekasihnya.


"eh Febby, kami mau beli martabak manis juga," sapa Abdi yang berusaha tampak tenang.


"iya nih mas, tapi mas abdi itu siapa kok kayaknya kalian sangat dekat sih,padahal Febby sudah bilang untuk menunggu ku karena aku yang pantas jadi istrimu," kata gadis itu tanpa malu.


"benarkah itu sayang, Janu meminta gadis yang muda belia ini untuk menunggu mu, wah jahat banget sih, padahal sebulan lagi kita mau menikah," kata Wulan yang mengandeng tangan abdi sambil menyandarkan kepalanya.


"apa, benarkah itu, kamu begitu menyebalkan mas, kenapa kamu selama ini bilang jika tak punya kekasih, kan aku jadi berharap," kata Febby.


"tunggu dulu, aku tak pernah bilang jika aku tak punya kekasih, tapi aku hanya bilang jika aku belum mau menikah, dan Febby kamu itu masih jelas satu SMA,jadi nikmati dan cari kekasih yang bisa mencintai mu selamanya mengerti," kata Abdi yang memberikan uang pada penjual martabak itu dan mengajak Wulan pergi.


Febby baru merasakan apa itu di tolak cinta, dan rasanya sangat sakit, tapi dia juga tak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


toh selama ini dia memang mencintai secara sepihak dan itu berbeda dengan apa yang di rasakan oleh abdi.


sepeda motor itu pergi menuju ke rumah pak Hartono,dan Wulan selalu memeluk pinggangnya seakan tak mau lepas sedikitpun.


setelah sampai di perumahan, Wulan tak menyangka jika rumah sederhana yang di maksud oleh kekasihnya itu.


sebuah rumah yang menurutnya sangat minimalis tapi tetap terlihat mewah.


terlebih rumah itu punya pagar rumah yang super tinggi, dan setelah Abdi membuka gerbang dan bel otomatis berbunyi.


ternyata ruang tamu itu ada di samping teras dan terbuka. dan terlihat sangat mewah dengan karpet merah dan ada bantal-bantal yang tersusun di sana.


bahkan meja bundar yang di letakkan di tengah karpet itu juga menambah kesan mewah.


"wah ada tamu jauh nih sayang," kata pak Hartono yang keluar dari dalam rumah.


"silahkan duduk calon manten, bagaimana tadi lancar," sapa Della dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah Bu juragan,berkat anda ibu sekarang bisa menerima Wulan,dan Minggu depan saya minta tolong pada pak Hartono untuk menjadi juru bicara dari keluarga ku untuk melamar Wulan," kata Abdi yang cus pleng.


"walah kok langsungan begini,sudah gak tahan ya," ledek pak Hartono.


"menurut bos, jadi mau ya?" kata Abdi memohon pada bos-nya itu.


"baiklah aku akan usahakan, dan nanti Wulan tolong di pikirkan baik-baik mau tidak sana bocah kempluk ini,"


"iya pak juragan," jawab Wulan malu.


"hadeh ngomong sama juragan ini bikin haus, aku minum dulu deh," kata Abdi yang mengambil teh dari lemari pendingin yang sengaja di sediakan oleh Della di ruang tamunya.


"mas, malu..."


"gak papa Wulan, semua memang begitu, karena itu memang untuk tamu dan siapapun yang mau, dan ini di cicipi kuenya," kata Della yang keluar membawa dia toples cukup besar.


ternyata itu toples kaca yang berisikan semua jenis kacang, dan juga ada kurma juga yang di suguhkan.


sekarang gia mengerti kenapa kekasihnya itu senang sekali jika mengerjakan semua laporan di rumah bos-nya.

__ADS_1


__ADS_2