
Lia yang mendapatkan godaan yang gencar di lakukan oleh Rasyid perlahan mulai luluh.
di tambah pria itu terus mengiming-imingi wanita muda itu dengan uang dan barang.
seperti saat ini, di rumahnya sedang di adakan selamatan atas ulang tahun pernikahan dirinya dan Della yang keenam tahun
Rasyid malah beralasan sibuk ada pekerjaan yang tak bisa di tinggal, jadi berjanji akan pulang sore nanti.
tapi nyatanya pria itu sedang bersama Lia, dan dia berhasil membawa gadis itu ke sebuah hotel yang bisa di sewa perjam.
Lia bingung kenapa dia di bawa ke tempat itu, terlebih Rasyid yang tampak tersenyum padanya, "sebenarnya Kita mau apa di sini mas bos, bukankah di rumah anda sedang ada acara," tanya Lia.
"sudah lupakan yang di rumah, aku kesini ingin mengajak mu menikmati waktu berdua saja, aku ingin curhat dengan mu,"
"curhat apa, memang hidup sempurna seperti mas Rasyid ini ada tak enaknya?" kata Lia tertawa lirih.
"tentu saja tak enak karena aku merasa jika istriku tak mencintai ku, bahkan dia lebih suka di warung dari pada di rumah," kata Rasyid yang ingin mendapatkan kepercayaan dari wanita muda itu.
"sepertinya itu tidak mungkin deh, pasalnya mbak Della selama ini langsung pulang setelah semua pekerjaan di warung selesai, bukankah mas Rasyid yang terus melukainya, aku dengar dari anak-anak jika mas Rasyid itu pernah berselingkuh dan menghajar mbak Della hingga di rawat di rumah sakit," kata Lia yang mundur karena Rasyid terus mendekat
"sebenarnya itu tejadi tidak begitu saja, itu karena dia mengejek ku dan bilang jika dku tak bisa memuaskannya," kata Rasyid yang pura-pura sedih
Lia yang melihat itu pun menepuk punggung Rasyid agar tenang, tanpa terduga Rasyid malah mencium dan mulai melakukan aksinya.
Della sudah tau di mana suaminya itu, karena dia bisa melacak keberadaan Rasyid dari ponsel pria itu.
"kamu tak berubah ya, tapi tak masalah kura sudah satu sama, tapi kasihan yang jadi selingkuhan mu," gumamnya yang kembali menyiapkan semua keperluan untuk acara malam nanti.
Bu Hartini ini sedang kesal, pasalnya sudah enam tahun tapi Della belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
__ADS_1
padahal dia ingin memamerkan cucu dari putra tercintanya itu,bahkan Rina saja sudah memiliki anak.
Della keluar dan bertemu dengan Syam yang sedang menimang bayinya.
pria itu langsung menyingkir saat berpapasan dengan adik iparnya itu, "dasar aneh," kata Della
sedang di benak Syam, dia tak boleh melakukan kesalahan lagi,jika tak ingin kepalanya melayang.
"loh mbak itu tumben suamimu di rumah," goda Della pada Rina.
"aia maksud mu dek, aku mah malah senang jika dia di rumah, dari pada ngeluyur tak jelas, terpenting usaha lancar begitupun dengan uangnya," kata Rina yang memang sfldlu bersyukur karena setelah kejadian kecelakaan itu suaminya sudah tak pernah selingkuh lagi.
Della memilih duduk santai, ya hari ini menang acara doa di khususkan untuk meminta di lancarkan rezeki dan momongan untuk keluarga Rasyid dan Della.
sebenarnya itu juga bukan keinginan Della, karena semua ini perintah ibu mertuanya yang tak ingin menantu dan anaknya itu sampai tua tak punya anak.
"anda keterlaluan," kata Lia yang sedih.
"tak usah berlebihan, karena aku tak mau mendengar itu darimu, dan lagi kamu juga menikmatinya bukan, aku itu mencintai mu bukan Della yang tak bersyukur memiliki suami seperti diriku," kata Rasyid.
Lia hanya mengangguk dan tak percaya dengan apa yang terjadi, dia mengakui jika Rasyid itu baik dan sangat hebat di ranjang menurut gadis muda itu.
pukul empat sore, pak Hartono meminta Rasyid pulang karena pria itu sudah berbohong seharian.
bahkan Della sudah mengirimkan kemana pria itu hilang dari pagi ddn tentunya Rasyid tetap tak bisa berubah.
saat pria itu pulang, langsung di sambut kemoceng oleh pak Hartono di depan keluarganya.
dan dengan santai melihat suaminya di hajar oleh ayah mertuanya, Della bahkan tak bergeming dari kursi duduknya.
__ADS_1
bahkan itu membuat Rina, Rike dan Riya merasa aneh, apa wanita itu hati dan perasaannya sudah benar-benar mati.
"ayah hentikan, dia kan bekerja kenapa malah di hajar!!" protes Bu hartini.
"bekerja, apa kamu buta dengan putra mu, dia di hotel seharian ini bersama dengan seorang wanita, apa jamu kira aku tak tau, ada seorang anak buah ku yang kebetulan melihat mereka masuk kedalam hotel, kamu Kira pekerjaan apa yang skh berikan pada putra mu itu hingga dia harus mengerjakannya di hotel," marah pak Hartono.
sekarang mereka tau jika itu yang terjadi, itulah kenapa Della dari tadi cuma diam melihat apa yang terjadi.
"kamu tak bosan-bosan ya mas terus membuat ku marah seperti ini, aku itu lelah dengan semua sikap mu, bisa-bisanya kamu lebih menyukai jajan dari pada istri mu sendiri, padahal kamu tak pernah memberikan apa yang aku minta,"
"tapi kamu itu selalu membuat ku kesal, kenapa kamu begitu menjengkelkan seperti ini, kamu itu tak pernah merasa puas itulah kenapa aku mencari hal itu di luar," kata Rasyid jujur.
"bagaimana bisa puas, jika kamu saja memikirkan dirimu tanpa memikirkan istrimu, dan ibu mau tau kenapa aku belum hamil, karena putra mu ini lemah, bahkan dia terus berselingkuh hanya untuk membuktikan jika dia itu kuat, padahal itu tak benar sekalipun," marah Della yang mengumbar semuanya.
Sueb tertawa mendengar jawaban dari Della, "sekarang aku mengerti kenapa istri mu sulit hamil, tapi harusnya kamu itu vetibaf, bukan malah jajan sembarangan nanti kalau tertular penyakit kasihan istrimu,"
"jangan ikut campur, dia saja yang tak mengerti bagaimana melayani suaminya,"
"bagaimana bisa aku layani, saat baru di sentuh dan di mainin udah game over duluan,"
Riya bangun dan menampar Della, mendapatkan tamparan itu membuat wanita itu marah
"tak seharusnya Kamu mengumbar aib suamimu,"
"apa mbak bodoh, dia yang selingkuh sekarang aku yang salah, berarti jika suami mu yang tak berguna itu juga salah mbak yang tak becus memilih suami," kata Della yang mulai menunjukkan sifat keras kepalanya.
"tutup mulut mu!!" bentak Riya.
"jaga sikap mu!! dan jangan berani mencampuri urusan ku,aku sedang meminta keadilan pada ayah mertua ku, meski ibu mertua ku buta karena kasih sayangnya, tapi setidaknya ayah mertua bisa mendidik Putranya," jawab Della yang membuat Riya mundur dan diam.
__ADS_1