
Kring kring kring...
Seorang gadis berseragam putih abu-abu mengayuh sepedanya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah kerumunan orang-orang yang tengah berbelanja kebutuhan pagi hari di pinggir jalan.
"permisi ibu-ibu, maaf saya buru-buru" teriak gadis itu
"Eh bocah... hati-hati dong nggak liat apa manusia Segede ini?" teriak seorang ibu yang hampir terserempet sepeda nya.
"Maaf" balasnya seraya berlalu.
"dasar bocah zaman sekarang kebut-kebutan aja kerjanya" cibir ibu lainnya.
Dia adalah Ayesha Saqeena Herlambang seorang gadis SMA berusia 16 tahun. Hari ini dia kesiangan padahal ini adalah hari Senin, karena itu ia mengayunkan sepedanya dengan sekuat tenaga karena takut terlambat dan di jemur di depan tiang bendera. baginya, itu adalah hal paling memalukan di hidupnya. Ayesha adalah gadis yang cantik dengan wajah khas orang Asia, mata bulat dengan bola mata coklat, hidung mancung minimalis, bibir tipis kemerahan, rambut coklat bergelombang dan kulit yang putih dengan tinggi badan tidak terlalu tinggi hanya 145 cm membuat banyak pasang mata menatap kagum padanya.
karena Yesha mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, dia tidak menyadari ada lubang kecil di depan nya.
"Aaakhhhh"
Gubbrrraakk... Akhirnya, karena tidak hati-hati Yesha terjatuh dari sepeda dan si al nya kening, tangan, dan kakinya luka. tidak ada waktu untuk mengaduh dia bangkit dan melanjutkan perjalanannya. 'untung jalan di sini sepi, paling ngga gue ngga malu hihihi ' pikirnya.
Setelah perjalanan yang melelahkan Akhirnya, Yesha tiba di Sekolah bertepatan dengan bel tanda upacara berbunyi. semua siswa dan siswi pun berbaris berdasarkan kelas nya masing-masing begitu juga dengannya. karena, Yesha datang terakhir di lapangan dia mendapatkan bagian baris di belakang. tak lama kemudian upacara bendera pun di mulai.
"pstt...psttt...pstt, Sha kening Lo kenapa?" terdengar suara dari arah depan Yesha. ternyata itu adalah Dito teman sekelas sekaligus sahabat Yesha.
"Berisik Lo, liat kedepan ngga usah liatin gue"
"ish Lo mah gue kan watir"
"sttt... jangan berisik Dit" timpal teman sebelah Dito, Rudi.
"Apaan sih Lo rud?"
__ADS_1
"Berisik"
Semua siswa dengan khidmat melaksanakan upacara. tidak ada yang spesial sama dengan upacara-upacara pada umum nya. setelah pidato panjang dari kepala sekolah akhirnya selesai juga upacara hari ini. semua siswa berhamburan masuk ke kelas masing-masing begitu juga dengan Ayesha dia pun kembali ke kelas nya bersama dengan Dito dan Reyna sahabat Yesha.
"Sha sebenarnya kenapa itu ko Lo pada lecet?" tanya Rayna setelah mereka duduk di kursinya.
"Iya gue nanya tadi belom di jawab" Dito ikut menimpali
"Hufttt... gue nyium jalan tadi" jelas Yesha.
"terus retak ngga tuh jalan Sha?" celetuk Dito yang berhasil dapat lirikan tajam dari Rayna dan Yesha hanya bisa membuang nafasnya kasar.
Diantara Rayna dan Yesha Dito memang teman yang ceplas ceplos dan apa adanya, itu yang membuat siapa saja nyaman dekat dengannya. selain dari wajah nya yang di atas rata-rata bola mata yang hitam, alis tebal, rahang yang tegas, hidung mancung, kulit yang putih serta rambut hitam yang ia biarkan acak-acakan menambah kesan cool di tambah postur tubuh yang tinggi atletis 178 cm menambah kadar ketampanan nya. sayang sampai saat ini Dito menutup rapat hati nya.
"Kita ke UKS yuk Sha di obatin dulu itu lukanya biar ngga infeksi" seru Rayna khawatir.
Rayna dan Dito adalah sahabat baik Yesha sejak SMP tak heran jika ketiganya sangat dekat. Rayna gadis cantik keturunan Indo China banyak siswa yang tertarik dengan nya tapi sama dengan Yesha dia pun enggan untuk berpacaran, terlalu memusingkan.
"gua ngga papa Ray cuma luka kecil doang ko, tinggal tempel hansapals juga cukup" tolak Yesha.
"keren Mbah mu yang ada gua di ketawain. tau ah ngga jelas lu mah"
"ya elah gitu doang ngambek"
"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu guru di depan kelas membubarkan kerumunan siswa siswi yang merumpi kembali ke bangku masing-masing, seketika ruang kelas yang tadi gaduh kembali senyap.
sementara itu di bagian sekolah lain nya...
Seorang gadis cantik bermata biru keabuan, rambut hitam lurus, tengah duduk di bangkunya sambil membaca sebuah novel, dan dari depan pintu terlihat seorang pria membawa setangkai mawar mendekat ke arah sang gadis.
"Ekhem...Nisha gue mau ngomong" seru pria itu yang ternyata adalah Alvaro anak dari ketua yayasan di sekolah itu dan gadis yang tengah membaca novel adalah Anisha Saqeena Herlambang kembaran dari Ayesha.
__ADS_1
Berbeda dengan Ayesha, Anisha adalah pribadi yang cuek cenderung menutup diri terutama terhadap laki-laki. tak mudah untuk menaklukan hati nya karena itu, banyak laki-laki di sekolahnya yang tertantang untuk mendapatkan hatinya namun tak ada satu pun yang berhasil termasuk Alvaro yang saat ini tengah berdiri di depan Anisha.
"Apa?" tanyanya datar
"Lo mau ngga nonton bareng gue ntar malem?" tanya varo cepat
"ngga" jawaban yang tidak pernah di harap kan oleh seorang Alvaro.
Alvaro adalah seorang pemuda tampan dan kaya namun dia terkenal playboy dan kasar oleh sebab itu Anisha dengan tegas menolak ajakan darinya. tapi, bukan Haidar Alvaro namanya jika menerima penolakan begitu saja. Varo sudah memperediksi penolakan dari Anisha oleh sebab itu dia mempunyai sebuah rencana.
"Tidak ada penolakan nanti malam aku jemput, dah Baby sampai ketemu nanti malam. jangan rindu" ujarnya
"oh iya ini untuk mu"Alvaro kembali sambil meletakkan serangkai mawar di atas meja Anisha kemudian dia berlalu begitu saja.
"Dasar buaya" gumam Anisha kemudian melemparkan mawar itu ke tempat sampah.
Begitulah Sorang Anisha menanggapi setiap pemuda yang mencoba mendekatinya. Tak ada celah sedikitpun untuk laki-laki dia hanya fokus belajar dan lulus dengan nilai terbaik, sehingga bisa membuat bangga sang Ayah.
Tanpa Anisha sadari penolakan nya tadi terhadap Alvaro membuat sang pemuda marah dia tengah menyusun rencana licik untuk menaklukan sang singa betina Anisha.
"Awas kau nanti..." gumam Alvaro dengan senyum licik nya.
Matahari saat ini tengah duduk manis di atas tanpa malu-malu, menampakkan teriknya di siang ini. pukul 2 siang Ayesha telah sampai di rumahnya. rumah dengan 2 lantai di dominasi warna kuning dan putih pada dinding-dindingnya. sepi itu lah kata yang ada di dalam benaknya ketika membuka pintu utama tidak ada kembaran nya karena Anisha belum pulang. iya, Anisha dan Ayesha memang beda sekolah. Anisha sekolah di salah satu sekolah elit di Jakarta sedangkan dirinya bersekolah di SMA swasta terdekat dari rumahnya. entahlah sang ayah memang dari dulu lebih sayang pada saudari kembarnya daripada dirinya. Ayesha tak ambil pusing baginya yang penting masih bisa merasakan bangku sekolah Sma itu sudah cukup.
Brugghh Ayesha merebahkan dirinya di kasur ketika sudah sampai di kamarnya. Baru saja mendapatkan posisi yang nyaman dari arah luar terdengar teriakan yang memanggil namanya.
"Yesha...Yesha...Ayesha..."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung