
Setelah keluar dari ruang BK Ayesha segera melaksanakan tambahan hukuman dari kesalahan yang tidak ia perbuat agar ia bisa segera mengikuti pelajaran selanjutnya. Ya kali dia datang ke sekolah hanya untuk mendapat hukuman kan tidak lucu.
Ayesha berlari di tengah sorak sorai siswa yang menertawakan penderitaannya. Ini sih definisi malu yang sesungguhnya. Di saat yang lain bersantai ria di kantin, taman, atau di depan teras kelas masing-masing ia justru harus mengukur luas lapangan yang biasa di pakai upacara di hari senin belum lagi tampilannya yang sudah tak karuan. Rambut yang sudah lepek, seragam putih abu-abunya yang sudah basah karena bermandikan keringat. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.
Dalam waktu yang singkat dia sudah menjadi tontonan siswa. Semua menertawakannya tak terkecuali sosok laki-laki tampan yang baru kemarin mencuri banyak perhatian dari siswa siswi di sekolah itu. Di antara semua siswa yang memperhatikan Ayesha, Darren adalah murid yang paling bahagia melihat tontonan di depannya.
Tanpa berbuat sesuatu ternyata Ayesha sudah menjadi bahan olok olokan murid satu sekolah. hari ini Tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat wajah kesal dan merah Ayesha.
Tidak terasa ia sudah menyelesaikan semua hukumannya. Kini ia tengah duduk tanpa tenaga di bangkunya Rayna setia mengipasi Ayesha dengan buku catatan miliknya Dito jangan di tanya sedari tadi pemuda itu terus saja menertawai Ayesha.
"Whahahaha sudah 4 tahun gue kenal lo, baru hari ini lo keliatan cantik banget, sumpah" ejeknya.
"Berisik Dit, lo ngga capek apa ketawa mulu, mendingan beliin gue minum gih, haus banget nih dari tadi belum sempet minum"
"Ogah emang gue babu lo apa"
"oh ngga mau ya, oke ngga apa apa."
Ayesha mendekati Dito perlahan, mata yang serius menatap lekat iris mata hitam milik sahabatnya itu. Di tatap seperti itu tentu Dito merasa gugup dia kesulitan menghirup oksigen tiba-tiba suasana menjadi mencekam.
"Sha, udah lah Dito jangan lo ambil hati dia kan emang kaya gitu" ujar Rayna mencoba mencairkan keadaan di depannya. Tapi, Ayesha tak peduli dia terus mendekati Dito hingga jarak keduanya semakin dekat, bahkan saking dekatnya wajah pucat Dito terlihat jelas di mata Ayesha.
"Ye..Yesha mu..mundur dong jangan kaya gini gue takut" ujar Dito gugup.
Ayesha tersenyum, senyuman yang sangat manis tapi bagi Dito itu adalah senyuman menakutkan. Ia ingat betul bagaiman sahabatnya itu berkelahi kemarin, itu sebabnya sekarang Dito sedikit takut dengan Ayesha. Dia takut menyinggung perasaan gadis itu yang berakhir tanda biru di sudut bibirnya.
Grepppp
Tanpa di sangka-sangka Ayesha mengambil paksa tas milik Dito. Aksi tiba-tiba itu mengejutkan Dito dan Rayna, karena sempat berfikir bahwa Ayesha akan menggunakan kekuatannya untuk menuruti kemauan gadis itu, tapi yang terjadi sekarang Ayesha justru tengah mengobrak Abrik isi tas Dito. Dia mencari sebotol minuman yang biasa di bawa Dito. Beruntung sahabatnya itu belum sempat membuka minuman kemasan berlogo pegunungan.
Glek.. glek..glek..
"Ah... segarnya, terimakasih Dito" ucap Ayesha setelah menenggak setengah minuman itu.
Dito tersadar dari lamunannya dan melihat jika lagi-lagi isi minumannya telah berpindah.
"AYESHA!!!" pekik Dito melihat aksi sahabatnya itu.
Ayesha dan Rayna menutup kedua telinganya mendengar teriakan dari sahabat mereka. Suaranya yang nyaring menarik perhatian orang orang di kelasnya.
__ADS_1
Saking asiknya bercanda dengan dua sahabatnya, Ayesha tak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya tatapannya tak biasa bisa di katakan tak bersahabat.
Dia Darren, tadinya Darren ingin memberikan Ayesha minum tapi begitu sampai di kelas Ayesha, Darren justru melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya. Tak tau kenapa tapi melihat Ayesha interaksi dengan begitu dekat pada teman laki-lakinya sudut hati Darren terasa seperti di cubit. Ini Aneh tak tau kenapa tadi dia begitu bahagia melihat Ayesha berlari di lapangan tapi begitu dia melihat wajah pucat gadis itu dia merasa tak tega, yang lebih aneh lagi hatinya seperti di sayat silet ketika melihat gadis itu begitu dekat dengan laki-laki.
Tidak ingin dadanya semakin sesak Darren segera berlalu dari tempat itu. Kekesalannya tidak sampai di situ, lagi-lagi ia di serbu gadis gadis pemuja good looking seperti dirinya.
Banyak sekali siswi yang mencoba menarik perhatiannya tapi entah kenapa tak ada satu pun yang menurutnya menarik justru Darren merasa risih. Dia suka gadis yang cuek dan tak manja bukan seperti gadis gadis di depannya yang menurutnya sangat lebay.
Tipe gadis seperi itu akan memberikan apa saja yang di minta Darren tapi jika gadis yang cuek dan mandiri tentu ia tak akan mudah di intimidasi mengingat fans nya yang sangat banyak itu.
"hiih ternyata gadis gadis di sini lebih menyeramkan dari pada adu nyali di kuburan tua" gumam Darren dalam hati.
Beruntung bel masuk berbunyi, menyelamatkannya dari gangguan gadis-gadis itu.
Di sekolah lainnya tepatnya di sekolah Anisha pelajaran terakhir sedang berlangsung. Pelajaran terakhir di isi oleh bu Ayu guru geografi di sekolah itu. Sudah tiga puluh menit berlalu tapi entah kenapa Anisha sama sekali tak bisa konsentrasi ia terus saja gelisah entah kenapa tapi perasaannya tidak enak.
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi Anisha dan semua siswa di sekolah itu berebut untuk keluar kelas lebih dulu.
Rezky sedikit berlari menghampiri kelas adiknya, seperti biasa Anisha masih berada di kelas menunggu jemputan nya. Memang setelah Rezky satu sekolah dengannya mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Na, kamu udah siap?" Tanya Rezky begitu ia sampai di hadapan gadis beriris mata biru itu.
"Udah kak, yuk pulang"
"Loh kenapa emangnya kak?
"Hari ini kakak mau buat tugas kelompok, mau belanja bahannya dulu jadi harus nyari sekarang"
"Ya udah ngga apa apa kak, aku bisa telfon supir nanti"
"beneran nggak apa apa?"
"iya"
"Maaf in kakak ya, kakak harus berangkat sekarang udah di tunggu temen soalnya"
Setelah berkata seperti itu Rezky kemudian pergi meninggalkan Anisha sendirian. Sebenarnya tidak tega meninggalkan adiknya itu tapi yah mau bagaimana lagi tugas sekolahnya juga penting.
Kini Anisha duduk di halte tempat biasa siswa menunggu angkutan kota. Sudah lebih dari satu jam Anisha duduk menunggu angkutan yang menuju dekat rumah nya tapi tak ada satupun yang lewat. Berkali-kali juga dia sudah menghubungi supir ayahnya tapi tak di jawab malah sekarang baterai ponselnya habis.
__ADS_1
Tak berselang lama sebuah mobil berhenti di depannya. Dia bilang jika dia adalah supir taksi online yang sebelumnya sudah di pesan Rezky. Karena ponselnya mati ia pun tak mengkonfirmasikan dulu pada Kakaknya itu. Anisha langsung saja masuk ke dalam mobil yang mengaku taksi itu tanpa dia sadari bahaya sedang menantinya.
Mobil mulai melaju, tak ada yang aneh pada awalnya hingga dia sadar jika jalanan yang di lewatinya berbeda dari jalan yang biasa dia lewati.
Anisha mulai panik, dia berkali-kali meminta untuk di turunkan oleh supir yang mengendarai mobil itu tapi tak di gubrisnya. Hal itu semakin meyakinkannya jika ada yang tidak beres.
Anisha berteriak meminta tolong, jalanan mulai sepi karena memasuki sebuah hutan kecil di tengah kota semakin panik lah dia. Dalam keadaan terdesak Anisha memberanikan diri untuk memukul kepala pria yang mengendarai mobil itu dengan tasnya.
Bugh..Bugh..
Ckitttt reflek pria yang di pukulnya pun menginjak rem kemudian menatap garang Anisha yang sudah gemetar ketakutan. Dia berteriak meminta tolong berharap ada seseorang yang mendengar tapi sayang tempat itu sepi tak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sana.
Karena merasa terganggu akhirnya pria yang membawanya mengikat tangan dan kaki Anisha dengan tali yang selalu tersedia di laci mobilnya tak lupa mulut yang sedari tadi berisik itu pun di tutupnya dengan lakban.
Pria itu membawa Anisha ke sebuah bangunan tua di tengah hutan. Rumahnya terlihat sangat kotor banyak semak belukar tumbuh mengelilingi rumah itu.
Di dalam rumah tua sudah ada beberapa pemuda lainnya menunggu kedatangan mangsanya. Salah satu dari mereka adalah Alvaro. Yah, dia sudah merencanakan hal ini sejak lama tapi selalu saja gagal karena Rezky tak membiarkan mangsanya sendiri. Tapi hari ini sepertinya keberuntungan sedang memihak padanya.
Tak menunggu waktu lama gadis yang di ditunggu-tunggu pun tiba. Anisha sangat ketakutan wajahnya pucat tubuhnya gemetar dan pipinya sudah basah karena air mata.
Dia tidak menyangka kalau hari ini dia akan berada di situasi menakutkan seperti sekarang. Berada di tengah-tengah 8 orang laki-laki menatapnya dengan penuh na*** membuat tangisnya semakin pecah ia tak bisa berteriak karena mulutnya di tutup lakban.
"Hai cantik, gimana kabar kamu?" ucap Alvaro sambil berjalan kearahnya.
"Kau gadis yang sok jual mahal, kau tau karena penolakan mu waktu itu aku sangat membenci mu, aku benci wajah cantikmu ini aku benci tubuh mu" lanjutnya sudah berada di depan Anisha.
Gadis itu gemetar bukan main ketika tangan Alvaro berusaha menyentuh wajahnya.
"Hem seperti apa rasanya jika kau bergoyang di atas ku, hem pasti sangat mengasikan" ujar Alvaro tangannya sudah mencengkram kuat rahang gadis yang sudah sangat ketakutan itu. Alvaro berusaha menggapai pipi mulus Anisha. Tertawaan teman-teman Alvaro membuat Anisha semakin menggigil ketakutan.
Brakkkk
Tiba-tiba seseorang menendang pintu rumah tua itu hingga rusak membuat mereka yang hendak bersenang-senang pun terkejut sekaligus kesal.
"Hei kalian penjahat kelam** lepaskan gadis itu" ujar seorang pemuda yang menendang pintu itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...