
Selepas kepergian Ayesha, kediaman Herlambang tamak sangat sepi. Anisha tak keluar kamarnya seharian. Ia sibuk menangisi keputusan ayahnya yang menurutnya berlebihan itu.
Sebagai seorang kakak tentu saja ia sangat kecewa dengan keputusan Ayahnya itu. Jika sekedar kata-kata kasar yang selalu di ucapkan ayahnya mungkin Anisha masih bisa maklum. Tapi, untuk yang satu ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa seorang ayah kandung mengusir anaknya sendiri apa lagi anak gadisnya.
Disaat orang tua di luar sana berlomba-lomba memberikan kasih sayang yang begitu besar untuk putrinya, ayahnya justru sebaliknya. Entah apa yang ada di dalam pikiran ayahnya itu yang jelas Anisha sangat kecewa.
Padahal tadinya ia berharap bisa menyambut keberhasilan adiknya dengan meriah tapi ternyata luka kembali di torehkan ayahnya. Orang yang harusnya selalu ada dan melindungi mereka, orang pertama yang akan terluka melihat anaknya sakit, dan orang yang selalu membela anaknya tapi ternyata ia adalah orang yang paling dalam menorehkan luka.
Tak jauh berbeda dengan Anisha di sudut kamarnya, ayah Ardi pun tengah termenung, bukan hal yang mudah untuk mengambil keputusan besar ini. Sebagai seorang ayah ia pun terluka tapi, tak ingin anak-anaknya tau.
Ayah Ardi menangis dalam diam tangisan pilu seorang ayah untuk anaknya. Di balik semua sikap kasarnya ada sebuah alasan besar yang melandasinya melakukan itu, tak ada yang tau hanya dia dan sang ibu yang tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan ayah nak, ayah harus melakukan ini, Ayah harap di luar sana kau menemukan kebahagian. Putri satu satunya kami yang kuat, Ayah tau kamu tak akan menjadi lemah hanya karena keluar dari sini karena kau sudah di bekali mental yang kuat. Maafkan ayah, tak bisa melindungi mu tapi akan lebih baik jika kau jauh dari kami."
"Maafkan ayah nak, karena Ini sudah semakin dekat ayah harus menjauhkan mu dari kami".
......................
Di sepanjang jalan Ayesha terus berjalan, air matanya mengalir sejak tadi. Walupun tak ada ekspresi yang di tunjukkan tapi air mata ini mengalir begitu saja meski ia tak ingin mengeluarkannya.
Sakit, lagi-lagi ia terluka. Luka yang amat dalam kini di torehkan ayahnya. Meskipun ingin sekali ia benci pada ayahnya itu tapi entah kenapa hati kecilnya selalu berkata jika ayahnya tak sejahat itu. Itulah sebabnya sekejam apapun ayahnya memperlakukan Ayesha, gadis itu sama sekali tak pernah menaruh dendam. Ia selalu percaya suatu hari nanti semuanya akan membaik bahkan akan terasa lebih indah dari apa yang ia bayangkan.
"Semangat!!!!" Teriaknya di pinggir jalan.
Ayesha tak menyadari jika sedari tadi sebuah mobil mengikutinya. Hanya sekedar melihat tapi tak melakukan apapun.
"Huh terus harus kemana sekarang gue? cari kosan dulu kali ya?" ia bergumam sendiri.
"untung gue punya sedikit tabungan di rekening, kejam banget sih yah, tega banget nelantarin anak gadisnya kaya gini, huh untung sayang kalo ngga sudah gue bikin hancur tuh rumah"
"ngeselin banget sumpah, kali ini salah gue apa lagi. Niatnya cuma pengen buat ayah bangga tapi malah gue di usir tau gini gue ogah nolongin Nita, ppffttt "
Dughhhh
Ayesha menendang sebuah botol kaleng yang di buang sembarangan padahal tempat sampah ada di pinggir jalan itu, sepanduk besar bertuliskan "Buanglah sampah pada tempatnya" pun jelas sekali tapi masih saja banyak orang yang abai. Giliran musim hujan datang orang-orang sibuk menyalahkan yang lain jika terjadi banjir, padahal sudah sering sekali pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan apa lagi di aliran-aliran sungai tapi masih saja banyak yang melanggar. Seperti Ayesha contohnya sudah tau itu salah satu sampah, tempat sampahnya pun ada di sampingnya tapi malah ia tendang dan...
Pletakkkk
"Aduh!!! siapa yang melempari kepala saya?" Tanya seorang nenek-nenek yang tengah duduk menunggu angkutan umum. Tidak sengaja kaleng yang di tendang Ayesha mengenai kepala nenek itu.
"Waduh, gawat bisa kena jewer ini mah, ampun deh ngga tendangan ngga lemparan kenapa selalu salah sasaran sih. Nih lagi kaki asal nendang aja" Gerutu Ayesha.
"oh kamu yah pelakunya?" tanya sang nenek yang melihat Ayesha mematung di tempat.
"Ah maaf nek saya tidak sengaja, beneran deh sumpah" ucap Ayesha.
__ADS_1
"Alasan kamu, kamu pikir kepala saya apa? tak sopan kamu sama orang tua" ujar nenek sambil menarik telinga Ayesha.
"Aduh!!! ampun nek saya beneran ngga sengaja, aduh jangan di tarik dong nek, sakit.. nanti kalau lepas gimana?" ucap Ayesha melas.
"Saya tak peduli. kalau lepas nanti tinggal saya jahit kuping kamu pakai benang wol"
"Aduh, ampun nek"
Di dalam mobil yang sedari tadi memperhatikan gadis itu, seorang pemuda tak bisa menahan tawanya melihat pemandangan di depan matanya. Gadis itu selalu saja ceroboh. Biasanya dia yang akan selalu kena omel atau malah kena pukul tapi sekarang justru Ayesha tengah memelas pada seorang nenek-nenek. Ini kejadian langka.
Tapi, semakin di perhatikan ternyata pemuda itu tak tega juga, ia pun turun dari mobilnya menghampiri gadis itu.
"Maaf ada apa ini yah nek?" Tanya pemuda itu sopan.
Dua wanita beda generasi itu pun menoleh bersama. Melihat pesona dari pemuda itu tanpa sadar sang nenek melepaskan capitan mautnya di telinga Ayesha.
"Ah dia melempari kepala saya pakai kaleng, itu sungguh perbuatan tidak sopan" ucap sang nenek sambil menatap sinis ke arah Ayesha.
"Oh maafkan teman saya nek, dia sedang banyak masalah mungkin agak stres, jadi mohon di maklum yah nek" ucap pemuda itu tersenyum ramah.
Senyum yang membuat semua kaum hawa meleleh tapi tidak bagi Ayesha. Gadis itu kesal sekali bagaiman bisa dia di bilang stres.
"Oh benarkah? ya sudah nenek pergi saja" ujar nenek itu.
Setelah kepergian nenek itu, Ayesha yang saat ini mood nya sedang tak stabil bersiap mengambil ancang-ancang untuk menghajar pemuda di sampingnya itu.
Tas yang sedari tadi di pegang nya ia layangkan ke arah lengan pemuda itu, pengennya sih ke kepalanya tapi karena Ayesha tidak tinggi jadi hanya mampu menjangkau lengannya saja.
"Aduh, berhenti!!! heh cewe resek!!! berhenti gue bilang"
"Makan nih stres!!! makan nih!!" ujar Ayesha garang.
"Heh, gue tuh dah nolongin lo, bukannya terimakasih tapi malah di hajar kaya gini, Berhenti!!! Ay!!!" teriak pemuda itu yang tak lain adalah Darren.
Mendengar panggilannya itu seketika membuat Ayesha mematung. Entah kenapa setiap mendengar sebutan itu telinganya seperti di gelitik oleh bulu ayam, geli.
Yah, pemuda yang sedari tadi memperhatikan Ayesha adalah Darren. Sudah beberapa hari ini memang dia selalu memantau keadaan di rumah kediaman Herlambang. Entah kenapa tapi ia ingin sekali tiap hari selalu melihat Ayesha dan apa yang tadi terjadi tak luput dari pengawasannya. Itu sebabnya ia mengikuti gadis itu. Darren Khawatir jika Ayesha akan sedih berlarut akhirnya melakukan hal yang bo*oh. Tapi, begitu melihat kenyataan yang ada dia tidak menyangka Ayesha ternyata gadis yang kuat, buktinya walau sempat menangis tapi ia kembali bisa ke mode galak seperti sekarang.
"Jangan panggil gue Ay, gue geli" ujar Ayesha.
"kenapa itu kan nama lo"
"Ya, tapi panggil gue Yesha kan bisa, itu lebih enak di dengar"
"Suka suka gue, BTW lo mau kemana bawa-bawa koper? lo minggat ya?"
__ADS_1
"Bukan urusan lo!!"
"ikut gue!!"
Meskipun awalnya menolak tapi, akhirnya Ayesha mengikuti apa yang Darren inginkan. Mobil hitam itu melaju membelah jalanan yang ramai, hari ini masih hari minggu jadi wajar saja jika jalanan cukup padat karena orang-orang ingin menghabiskan waktu libur mereka bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat wisata.
Yah, itu untuk keluarga yang bahagia, keluarga yang saling menyayangi satu sama lain tidak seperti dirinya terasingkan di keluarganya sendiri. Menyedihkan.
Mengingat itu membuat Ayesha kembali sedih, di saat seperti ini Ayesha merindukan kakaknya. Biasanya jika Ayesha sedang bersedih Anisha akan datang menghapus lukanya. Anisha sudah seperti obat bagi Ayesha, kehadirannya sangat berarti tapi sekarang gadis itu harus menyembuhkan sendiri lukanya. Ia membuang nafasnya kasar kemudian mencoba memejamkan matanya berharap ketika ia bangun nanti kebahagian akan datang.
Semua gerak gerik Ayesha tak luput dari perhatian Darren, ia tau Ayesha tengah menanggung beban yang berat. Sebenarnya ia ingin meringankan beban yang kini di tanggung Ayesha ia ingin menghapus luka yang tertoreh di hati gadis di sampingnya itu, ia ingin menghapus setiap air mata yang keluar menggantinya dengan kebahagian. Tapi, apa daya ia bukan siapa-siapa.
Mobil yang di kendarai Darren telah memasuki area basemen sebuah gedung Apartemen. Tapi, Ayesha masih tampak asik dengan mimpinya hingga tak terganggu dengan suara berisik yang di lakukan Darren.
Menyadari Ayesha yang tertidur pulas membuat Darren tidak tega untuk membangunkannya. Ia malah memandangi wajah polos yang tengah tertidur itu.
Darren memperhatikan setiap pahatan indah sang pencipta alis yang terukir indah, mata bulat yang selalu ceria kini nampak sedikit sembab, hidungnya yang mancung, bibir tipis kemerahan pipi yang terlihat halus dan lembut. membuat Darren ingin menyentuhnya. Tanpa sadar tangan kekarnya terulur mengelus rambut kecoklatan milik Ayesha, badannya ikut terdorong mendekat. Semakin mendekat.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Darren berdetak begitu kencang, badannya terasa panas dingin terlebih bagian wajahnya. Semakin ia mendekat semakin kencang pula detak jantungnya berbunyi saking cepat nya ia sendiri bisa mendengarnya.
Wajah Darren kini semakin mendekat, tangan yang semula mengelus rambut Ayesha kini turun menyentuh pipi gadis itu, pandangan Darren pun tak lepas dari bibir Ayesha yang tampak menggoda. Semakin dekat, hingga hembusan nafas teratur dari Ayesha amat terasa di wajahnya ketika bibirnya hendak menyentuh bibir Ayesha tiba-tiba mata bulat itu terbuka dan..
Bugh...
"Ah!!!!"
Karena terkejut Ayesha mendaratkan bogeman nya di perut Darren. Darren yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu tentu saja sangat terkejut.
"Hah!! apa yang mau lo lakuin, dasar mesum!!"
"ck. sial kenapa gue ngga bisa nahan godaan buat nyicipin itu bibir, bodoh untung belum kena" gumam Darren dalam hati.
"pede banget lo? gue cuma mau bangunin lo doang, lo tidur dah kaya pingsan gue panggil dari tadi ngga nyaut, kita udah sampe cepetan turun" elak Darren kemudian ia segera keluar untuk menghirup udara segar. Berada di dekat Ayesha membuat dada nya sesak.
"Hah? iya kah? perasaan gue ngga denger apa-apa?" gumam Ayesha pelan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....