
Malam itu ayah Ardi memutuskan menginap di kediaman sahabatnya. Sebelum malam yang di sepakati tiba apa pun yang terjadi nanti ia ingin memperbaiki apa yang sudah ia hancurkan. Mencoba menata hati yang luluh lantah karena pemikiran bodohnya.
Bertahun-tahun dia bersikap buruk berharap sang putri akan membencinya namun ketika semua itu terjadi hati kecilnya tidak bisa menerima. Melihat dan menyaksikan sendiri penolakan-penolakan yang terus di lakukan Ayesha membuat nya merasa sakit. Inikah hasil dari apa yang ia tanam?.
Pagi yang teramat canggung mereka lalui. Ayah Ardi mencoba memberikan sedikit perhatiannya dengan mengambilkan Ayesha sarapannya namun gadis itu tak bergeming, ia justru mengambil selembar roti dan mengabaikan nasi goreng di piringnya.
Tidak ada yang berani menegur Ayesha pun tak di izinkan oleh ayah Ardi untuk itu. Ayah Ardi seperti tengah menghukum dirinya sendiri dengan menerima semua perlakuan buruk anaknya.
Melihat putri kecil yang dulu di dekapnya dengan penuh kasih sayang namun kini karena ulahnya yang bodoh ia melihat sendiri kebencian dari putrinya itu. Hal yang paling menyakitkan yang di rasa, jauh lebih sakit ketika kehilangan Dinda dulu.
Menyesal? Tentu saja andai dulu ia tak menerima tawaran bodoh kakek tua itu mungkin ini tak akan terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa pun yang terjadi itu sudah takdir yang harus di jalaninnya. Ayah Ardi hanya berharap ia bisa memperbaiki semua keadaan ini.
Ayesha sendiri sudah ingin berlari memeluk ayahnya itu tapi karena egonya ia menginginkan agar Ayahnya itu benar-benar merasa kehilangan atas dirinya. Dia ingin melihat setulus apa seorang ayah menginginkan anaknya yang sudah lama ia asingkan.
Perhatian-perhatian kecil terus di tunjukan ayah Ardi walaupun tak ada satu pun yang di respon baik oleh Ayesha tapi dia tidak akan menyerah. Kini, ayah Ardi telah berada di kamar Ayesha, ingin meminta maaf secara empat mata pada sang anak.
"Nak, kamu pasti sangat membenci ayah atas apa yang sudah ayah lakukan selama ini. Ayah sangat memaklumi itu. Tapi ayah mohon kembali lah ke rumah, ini bukan tempatmu. Maafkan ayah" pintanya.
"Kenapa?"
"Kenapa, baru sekarang anda menginginkan aku?"
"Maafkan ayah nak, ayah menyesal sungguh...seandainya waktu ayah tersisa hanya sebentar ayah ingin sekali menghujani mu dengan kasih sayang yang selama ini tak pernah kau dapatkan. Ayah mohon kembali lah"
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa, sebaiknya anda keluar!!" Pada akhirnya ayah Ardi pun kembali mengalah ia tak ingin memaksakan keputusan anaknya. Dia sadar selama ini telah memupuk kebencian di hati anak gadisnya itu sehingga tidak akan mudah untuk meluluhkannya. Namun karena penolakan ini ayah Ardi telah memutuskan apa yang akan dia lakukan nanti malam setidaknya itu bisa menebus semua kesalahannya.
Jadi karena hal ini ayah Ardi harus mempersiapkan segalanya. Segala kemungkinan terburuk. Ayah Ardi pun pergi kembali ke kantornya dengan perasaan sedih dan kecewa.
Tak jauh berbeda dengan ayahnya, pagi ini pun Ayesha pergi ke sekolah dengan hati yang gundah. Keinginannya untuk mendapatkan perhatian ayahnya telah tercapai tapi ia justru menuruti egonya. Kini ada sesal yang di rasa karena itu dan dia berencana sepulang sekolah nanti jika sang ayah kembali memintanya untuk pulang dengan senang hati ia akan menurut. Ya seperti itu seharusnya, tak baik jika seorang anak bersikap tak sopan pada orang tuanya sendiri walaupun terkadang mereka salah.
Memasuki ruang kelasnya ia sedikit mengrenyit karena kelasnya kosong tak ada seorang pun siswa termasuk dua sahabatnya.
"Loh kok sepi? Kemana semua orang? Hari libur kah? Perasaan bukan deh, buktinya kelas lain juga rame"
"Terus, orang-orang di sini pada kemana ya? Apa uda bel, terus mereka lagi praktek? Tapi, ini kan masih kurang 15 menit sebelum bel" Saat Ayesha sedang bergumam sendiri dari arah belakang tiba-tiba teman-temannya kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan kue yang di bawa oleh Rayna. Ah rupanya teman-teman nya membuat kejutan sederhana pantas saja sepi.
"Happy sweet seventeen Ayesha" ucap teman-temanya serentak.
"Terimakasih guys, ternyata kalian semua inget ultah gue?" Ucap Ayesha menatap satu persatu wajah teman-temanya dan berakhir pada sebuah kue black forest yang ada di tangan Rayna.
"Tiup lilinnya Sha, jangan lupa PU nya, hehehe" celetuk Dito (PU : Pajak Ultah)
"Oke, nanti gue kasih masing-masing satu bang-bang ya. Hehehe"
"Lah cuma bang-bang, baso kek" ujar salah satu teman yang lain.
"Ah gue lagi boke. Kalo ngga mau ya udah"
__ADS_1
"Ah Yesha..." Keluh teman-temannya.
Apa yang terjadi di kelas Ayesha ternyata tak luput dari pandangan Darren yang kebetulan lewat. Dia pun berhenti untuk memastikan jika dia tak salah dengar. Seulas senyum terbit di bibir Darren. Sudah lama sejak berakhirnya masa kontrak, mereka tak lagi berkomunikasi.
Darren ingin mendekat tapi ia terlalu malu hingga yang bisa di lakukan pemuda itu hanya memandang Ayesha dari jauh. Melihat gadis nya tertawa membuat hatinya ikut merasa bahagia.
Sejak mereka tak lagi bertukar kabar, Darren menyadari sesuatu telah terjadi pada hatinya. Dia pun menyadari jika di hatinya telah terukir indah nama gadis itu. Kenangan selama bersama beberapa bulan lalau selalu terngiang di benaknya bahkan tak jarang ia pun tinggal di apartemen yang dulu di tempati Ayesha sekedar menghirup aroma wangi tubuh gadis itu yang tertinggal di tempat tidurnya.
Mengetahui hari ini adalah ulang tahun dari mantan asistennya Darren pun berencana membuatkan kejutan kecil untuknya sore nanti dan niat baik ini ternyata di sambut baik oleh Ayesha. Satu pesan masuk di ponsel Darren yang menyatakan jika Ayesha bersedia datang ke tempat yang sudah di pilihkan nya membuat Darren bersorak gembira.
Di perusahaan nya ayah Ardi tengah sibuk dengan mengamankan sekiranya aset yang paling berharga untuk anak-anaknya bahkan dia sudah membalik nama beberapa asetnya seperti rumah, vila, perkebunan, kendaraan, dan pertambangannya atas nama putri-putrinya. Ayah Ardi yakin jika mungkin umurnya tak akan lama lagi. Karena dia memutuskan untuk melawan artinya dia harus siap dengan nyawanya sebagai taruhannya.
Program-program pengamanan data perusahaan pun sudah di tingkatkan supaya tak terjadi kebocoran data nantinya. Belajar dari pengalaman nya 10 tahun lalu dia tak ingin kecolongan. Setidaknya ketika dia pergi nanti Ayah Ardi tak meninggalkan anaknya begitu saja.
Ketika semuanya telah di persiapkan tapi ia lupa dengan satu hal yang penting. Sepertinya Ayah Ardi terlalu menganggap enteng lawannya. Dia tak menyadari kehancuran yang sesungguhnya akan dia rasakan sebentar lagi.
Di markas besar dunia bawah para anggotanya tengah rapat mempersiapkan serangan jika nanti sang target akan melakukan penghianatan. Kakek Jay tidak akan membiarkan lawannya itu lari dengan mudah bahkan dia sudah menutup semua akses untuk musuhnya kabur. Tinggal menunggu waktu untuk mengetahui siapa yang akan menang nantinya. Sang tikus kecil atau si singa yang walaupun kehilangan taringnya tapi masih mampu menunjukan kuasanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...