
Hari berlalu begitu cepat tak terasa kini satu bulan berlalu sejak Ayesha tinggal di apartemen milik Darren.
"Hei ambilkan gue minuman dingin" Seru Darren begitu mereka tiba di apartemen nya sepulang sekolah.
"Hah!!! gue aja belum duduk udah dia suruh-suruh awas aja kalo perjanjian sial*n ini berakhir gue bikin bonyok tuh muka, giginya bakalan gue bikinkan jendela biar kalo ngomong sejuk dikit, huh kesel banget gue!!" gerutu Ayesha sambil berlalu membuat pesanan tuannya.
"Hei gue denger!!!" bentak Darren tak terima.
"Syukur deh kalo denger berarti kuping lo masih waras, ngga kaya otak lo!!"seru Ayesha.
"Boleh juga tuh mulut, sadis" ujar Darren tak percaya gadis yang ia suka kini hatinya bagai batu tak berperasaan. Gadis yang ia pikir ceria dulu kini berubah cuek jutek dan menyebalkan. Tapi, aneh walaupun menyebalkan entah kenapa Darren suka sekali melihat wajah datar Ayesha. Dia yakin jika suatu hari nanti ia akan mendapatkan hati wanita itu.
Gadis ini memang tidak pernah takut apapun, kehidupan di luar rumah penuh kepalsuannya yang keras menjadikan mentalnya kuat. Bahkan ketika ia di usir oleh ayahnya gadis itu hanya menangis di pagi itu. Setelahnya, semuanya terlihat baik-baik saja. Lihatlah sekarang Ayesha yang begitu kuat menjalani takdirnya.
Tak ada kesedihan tak ada air mata tak ada kelemahan yang ia tunjukan setidaknya seperti itu yang orang lihat. Padahal jauh di lubuk hatinya ia begitu terluka. Hatinya yang lembut hancur tak tersisa diasingkan sendiri oleh keluarganya membuat hatinya seakan mati.
Tekad yang tadinya menggebu untuk menggapai cintanya kini musnah hilang tak berbekas. Gadis yang tadinya ceria kini mulai menghilang seiring berjalannya waktu.
Lambat laun sikapnya makin dingin setelah kakinya melangkah keluar gerbang rumah yang penuh duka itu. Beruntung ia hanya menunjukan perubahan sikapnya kini pada orang asing.
Menjadi penari yang hebat dan membawa nama negaranya di kancah internasional hingga membuat ayahnya bangga adalah cita-cita terbesarnya. Tapi, sejak hari itu Ayesha membenci sesuatu yang berhubungan dengan Tari, musik, Drama, teater dan sebagainya. Ia melepas cita-citanya.
Tak mau munafik walau sedingin apapun dan sedatar apapun kini Ayesha, dia tetaplah seorang anak yang masih berharap ayahnya akan mencari keberadaannya. Datang menjemput dia dengan senyum tulus penuh kekhawatiran. Entah kapan tapi ia masih berharap walaupun kini ia tak menunjukannya.
"Setelah ini lo siap-siap gue mau ketemu sama anak-anak" ujar Darren begitu ia selesai menikmati makan siang nya yang di masak sendiri oleh Ayesha tentunya.
Sejak hari pertama Ayesha menempati apartemen nya, Darren menyukai makanan yang di buat oleh Ayesha. Semua rasanya terasa pas di lidahnya. Sudah satu bulan ini ia juga tak pernah menyentuh makanan di rumah mewahnya. Tentu saja perubahan sikap Darren menjadi tanda tanya untuk kakaknya.
"lo pergi sendiri aja sih, manja benget minta di temenin mulu!" gerutu Ayesha. Setiap hari kerjaan Ayesha hanya ngedumel setiap kali Darren menyuruhnya ini itu.
Ayesha tak bisa berbuat apa-apa walaupun ia menggerutu tetap saja apa yang di inginkan Darren ia selalu melakukannya.
Seperti membuatkan makanan, minuman cemilan, membawakan tas sekolahnya, menghadapi fans-fans fanatik pemuda itu pun ia kerjakan. Mau bagaimana lagi ia harus bertanggung jawab.
"Ayo!!! malah ngelamun" seru Ayesha ketika ia telah bersiap hendak mengikuti ajakan Darren tadi, tapi yang mengajaknya malah hanya diam memandanginya. Darren terkesiap mendengar bentakan gadis itu.
"Lo mau ke sarang buaya pake baju kaya gitu?" ujar Darren begitu melihat tampilan Ayesha. Gadis itu menggunakan celana jeans pendek, kaos putih cukup tipis ia juga menguncir ekor kuda rambut panjangnya menampilkan lehernya yang putih mulus. Tentu saja Darren tak terima ia menarik tangan Ayesha kembali ke dalam kamarnya dan memilihkan pakaian yang di pikirnya lebih layak.
"Ketua buayanya ada disini, buaya darat!!"
Dengan malas ia pun mengikuti apa yang di inginkan tuannya itu. Semenjak ia di usir dari rumahnya Ayesha selalu membawa belati yang ia letakan di betis atau pahanya yang tertutup celana. Untuk sekedar berjaga-jaga. Hadiah dari Rezky waktu terakhir mereka bertemu sekitar tiga minggu yang lalu.
Setelah siap kedua insan itu melajukan kendaraannya menuju sebuah gudang yang terbengkalai.
__ADS_1
Kehadiran keduanya di sambut antusias pemuda yang tengah berkumpul di sana. Ada yang tengah berlatih bela diri mereka, ada yang bermain Drat game ada yang bermain game di ponsel ada juga yang sedang sibuk mengotak atik motornya dan masih banyak lagi kesibukan-kesibukan yang mereka lakukan.
Darren masuk ke ruangannya di ikuti Baron yang siap memberikan laporan. Ayesha seperti biasa jika ia ikut ketempat itu dia lebih suka ke arena latihan. Sejak hatinya sakit ia terbiasa melampiaskan kekecewaannya pada sebuah samsak. Ia akan terus menghajar benda itu hingga tenaganya terkuras habis.
Sering bolak balik berama Darren ke tempat itu Ayesha sudah di kenal baik oleh anggota-anggota di sana tak jarang banyak yang mengajak gadis itu untuk berduel di atas ring tapi sayangnya tenaga gadis itu semakin hari semakin kuat hingga tak ada yang bisa mengalahkan Ayesha.
Di dalam ruangan Darren mengatukkan jari-jarinya pada meja kayu usai memndengar laporan dari Baron. Pemuda berbadan kekar itu mengatakan lagi-lagi mereka mendapatkan surat tantangan dari musuh bebuyutan mereka.
Sudah berkali-kali mereka melayani tantangan dari musuh mereka tapi entah kenapa pihak musuh seolah penasaran dengan mereka. Ada saja tantangan yang mereka kirimkan.
"Hah mereka sungguh keras kepala, seharusnya aku bubarkan saja club abal-abal mereka. Bagaimana menurut mu Ron?" Tanya Darren setelah sekian lama terdiam.
"Ya bos! saya juga sempat berfikiran seperti itu. Membuang-buang waktu jika harus selalu melayani mereka!" ujar Baron semangat. Ia juga sudah jengah dengan kelakuan musuh mereka itu.
"Baiklah malam minggu nanti kita eksekusi mereka" ujar Darren kemudian keluar dari ruangan itu.
Hal pertama yang dia cari yaitu menemui sang Asisten dadakannya itu. Pemandangan yang tidak aneh lagi di depannya. Beberapa anak buahnya babak belur sedang meringis menahan sakit ketika teman mereka mencoba mngobati luka-lukanya sedangkan sang pelaku yang membuat luka itu justru terlihat santai tengah menikmati segela es teh di tangannya.
"Lagi-lagi lo ngelukaiin anggota gue? ck ck ck" Darren geleng-geleng kepala melihat tingkah asistennya.
"Mereka yang mulai" sahutnya datar.
"Sudahlah ayo kita pergi" ujar Darren jengah.
"Siap bos!!" Seru Ayesha semangat sambil meletakan ujung jari tangan kanan di pelipisnya seolah tengah hormat pada seorang komandan.
Darren yang melihat gadis di sampingnya tampak diam tak seberisik biasanya pun heran. Ia menanyakan keadaanya tapi hanya di jawab gelengan kepala.
Semakin lama ia menjadi semakin gelisah entahlah ia merasa seperti sesuatu yang buruk tengah menimpanya, tapi apa? ia bahkan sekarang tengah duduk dengan nyaman dan aman di dalam mobil. Jika di perhtikan sekelilingnya juga tak ada yang mencurigakan. Tapi persaannya mengatakan ia tengah dalam bahaya.
Ketika Ayesha menelisik sekitar mobil Darren tak sengaja mata tajamnya melihat segerombolan laki-laki berpakaian serba hitam tengah menghadang jalan seorang permpuan yang di lihatnya seumuran dengan dirinya bahkan bukan lagi hanya seumuran melainkan mirip sekali dengannya. Tunggu mirip? buru buru Ayesha menyuruh Darren menghentika. mobilnya ia turun dengan tergesa-gesa mengambil sebuah batu bata yang ada di dekat kakinya kemudian melemparkan pada salah satu orang berpakaian hitam dan mengenai kepala bagian belakang mereka.
Bugh...
"Aahhh Sial**!!" seru orang yang baru saja terkena serangannya.
"Hey jangan beraninya menyakiti seorang gadis, dasar banci!!" sentak Ayesha tanpa rasa takut. Ia tak menghiraukan seberapa banyak orang-orang itu. seberapa besar tubuh mereka yang ada di pikirannya ia harus menyelamatkan gadis itu.
"Ayesha!!!" seru gadis itu tak percaya bahkan ia sampai menangis, akhirnya orang yang di rindukannya selama ini ada di depan matanya menyelamatkannya ia sungguh bahagia.
"Berhentilah menangis Qeena!! dan cepat lari ke tempat aman!!" seru Ayesha. Ya, gadis yang tengah ketakutan itu adalah Anisha saudari kembarnya pantas saja hatinya terasa tak tenang sedari tadi ia gelisah ternyata gadis ini penyebabnya.
Melihat Ayesha yang sudah mengibarkan bendera perang Darren ikut maju bersama gadis itu.
__ADS_1
"Cih bocah ingusan jangan ikut campur urusan kami!!" Bentak salah satu orang yang berpakaian serba hitam itu.
"Yang kau hendak ganggu itu saudari ku, breng***!!" Seru Ayesha tak kalah garang.
"Dasar bocah!! pih!!" pekik seorang lainnya sembari meludah ke samping kananya.
"Tunggu apa lagi ayo lawan dia!!!" seru orang lainnya
Tak lama kemudian perkelahian antara dua orang bocah SMA dengan orang-orang berpakaian hitam dan berbadan kekar itu tak dapat terelakkan. Di lihat dari mana saja tentu ini menjadi perkelahian yang tak seimbang dua orang anak muda melawan dua belas orang berbadan besar. Sungguh lawan yang jauh dari kata sepadan.
Tapi Ayesha kini bukan lah Ayesha yang dulu. Jika dulu dia akan menggunakan akalnya jika berkelahi sebisa mungkin menghindari yang namanya adu kekuatan kini, ia lebih suka menggunakan ototnya. Latihan keras yang selama ini ia jalani serta kekecewan yang ia rasakan menjadikannya gadis kecil yang menakutkan jika berada di arena pertarungan seperti sekarang contohnya.
Ayesha dan Darren telah melumpuhkan sedikitnya lima orang dan merampas senjata mereka. Ayesha tak segan-segam menarik platuk senjata tersebut dan mengarahkan timah panas itu ke jantung lawannya.
Pengalaman yang di dapatkan orang-orang berpakaian hitam tersebut tentu saja tak akan sekudah itu di robohkan oleh gadis kecil yang terlihat lemah namun mengerikan.
Senjata tajam saling berpatuk menggema di sana teriakan-teriakan kesakitan menjadi backsong perkelahian mereka.
Dua anak muda berhasih melumpuhkan delapan pria dewasa membuat Darren sedikit lengah karena terlalu percaya diri hingga akhirnya sebuah pisau berhasil menggores lengannya.
Srekkk
"Auhhhh" ucapnya reflek memegangi luka yang mulai mengeluarkan darah. Ia meringis merasakan perih.
"Ck. Payah sekali!!! bisa bisanya lo terluka?!!" bentak Ayesha yang menjeda perkelahiannya.
"Huh gue sedikit lengah!! berhenti memanggil gue payah!!!" bentak nya tak terima. Sebenarnya Darren juga kuat hanya saja satu kelemahannya ia merasa terlalu percaya diri ketika melihat lawannya mulai terdesak hingga di hasil akhir biasanya ia akan mendapatka. beberapa luka walupun pada akhirnya ia tetap menang.
"Terlalu sombong!! menyepelekan hal kecil ketika sedang si arena pertarungan hingga membahayakan diri sendiri ckckck. Kaya gini di sebut ketua? melindungi diri sendiri saja tak bisa apa lagi melindungi anggotanya" ujar Ayesha di tengah-tengah keseriusannya.
Ketika mereka tengah lengah sebuah pisau hendak di layangkan orang berpakaian hitam itu dari belakang mereka. Namun, belum sempat benda itu terlepas dari genggamannya suara menggelgar terdengar entah dari mana.
"Mundurrr!!!!"
Secara serentak orang-orang itu mundur membuat Darren dan Ayesha terheran-heran.
Di dalam mobil kakek tua menyunggingkan senyumnya sembari melihat ke arah dua remaja yang tampak seperti orang bod*h.
"Sepertinya kemampuan gadis itu semakin meningkat, menarik" ujarnya sambil tersenyum kemudian mobil yang membawanya pergi bersama beberapa mobil yang berisi kan orang-orang berpakaian serba hitam itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...