
Disebuah ruangan dengan nuansa coklat dan putih Ardi tengah duduk menyender di sofa ruang kerjanya sesekali terlihat ia memegang pangkal hidungnya, kemudian menenggak minuman dingin. Mencoba menghilangkan sedikit sakit kepalanya, Ia teringat kejadian semalam yang sukses membuat Ardi tak bisa fokus pada tumpukan kertas di meja kerjanya. Ardi termenung menatap lantai yang di pijak kakinya sekilas ingatan di masa lalu kembali terbayang.
Flashback Ardi Herlambang on
10 tahun yang lalu*
Sepasang suami istri tengah duduk menikmati udara di bawah pohon yang rindang beralaskan sehelai kain yang di atasnya penuh dengan makanan dan minuman. Tatapan mata keduanya yang penuh cinta membuat siapa saja yang melihatnya pasti tau betapa besar cinta diantara mereka.
Sepasang suami istri itu sesekali tertawa melihat tingkah putri kembar di depan nya yang tengah bermain bola. ya, mereka adalah keluarga Herlambang, saat itu Anisha dan Ayesha masih berusia 6 tahun.
Keluarga Herlambang tengah menikmati piknik cantik di taman kota. Kebahagiaan mereka jelas terlihat hanya dengan melihat tatapan matanya.
Di antara kebahagiaan mereka ada dua pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang entah dari sebrang jalan, menantikan waktu yang tepat untuk melaksanakan tugas dari bos mereka.
keluarga itu kini tengah asik bermain bola saling melempar dan menangkap nya. Tiba giliran Mamah Dinda yang melemparkan bola ke arah Ayesaha, namun terlalu tinggi hingga bola jauh terlempar ke tengah jalan beraspal. Reflek Ayesha berlari mengejar bola itu.
Teriakan dari orang tuanya tak di indah kan bocah itu, Ayesha tetap berlari hingga tanpa di sadari nya sebuah sepeda motor yang memang sedang menunggu momen itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Ayesha, Ayah Ardi yang melihatnya langsung lari hendak menolong anak gadisnya, tanpa di sangka justru Ayesha dan Ayah Ardi di dorong seseorang dari belakang dan..
Bruukkk.
orang itu terpelanting cukup jauh karena tabrakan keras yang baru saja terjadi.
"Tidak!! Dinda..." Teriak Ayah Ardi begitu terkejut karena yang mendorongnya tadi adalah istri tercintanya.
Ayah Ardi berlari kencang ke arah istri nya. Dia melihatku begitu banyak darah yang keluar dari kepalanya.
Orang orang yang ada di taman berlarian menghampiri dan menolong keluarga itu. beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di ruang UGD rumah sakit terdekat.
Tampak Ardi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia sangat gelisah menunggu dokter selesai melakukan pertolongan pada istrinya. Bahkan ia kini seolah lupa dengan anak anak nya yang tengah menangis saling berpelukan menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Ceklek
pintu ruangan itu terbuka dan dokter keluar dengan beberapa perawat di belakang nya. Ardi yang melihat itu langsung menanyakan keadaan istrinya.
"Istri anda, mengalami pendarahan cukup serius di bagian kepala dan harus segera dilakukan operasi". Terang dokter itu.
"Lakukan yang terbaik dok" ucap Ardi cepat.
"Baik tuan, tapi anda harus mengurus administrasinya dulu" ucap dokter itu lagi.
Ardi kemudian bergegas menuju Admistrasi sesuai apa yang di katakan dokter. Namun, begitu ia hendak membayar ternyata saldo di rekeningnya hanya tinggal Rp. 50.000.00 saja. sontak Ardi pun membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa jelas jelas saldonya lebih dari lima ratus juta, sedangkan untuk kartu yang lain semuanya di blokir.
Ardi kebingungan bukan main terlebih ketika dia menerima telefon dari sekretarisnya bahwa ada yang membobol keuangan perusahaan juga data perusahaan nya yang bocor, membuat para pemegang saham memutuskan kerja sama dan meminta ganti rugi.
Sontak kabar yang mengejutkan itu membuat lututnya terasa lemas dan dia pun jatuh terduduk di lantai koridor rumah sakit. Dalam kesedihannya ia kemudian menghubungi Ayah nya meminta pertolongan. Namun, lagi harus ada harga mahal yang ia bayar.
Dalam keluarga besar Herlambang, kecerdasan keturunannya adalah hal paling penting karena di nilai bisa memajukan perusahaan. Ardi pun menyanggupi karena menurut nya itu bisa di atur jika nanti Dinda telah pulih. Namun, belum sempat ia menandatangani surat Administrasi kabar mengejutkan di sampaikan dokter bahwa Istrinya, Dinda tidak bisa menunggu. Dinda menghembuskan nafas terakhir nya tepat setelah bunyi pesan ayahnya yang mengirimkan bukti tanda transaksi berhasil.
hari itu menjadi hari mengerikan untuk Ardi, kehilangan separuh jiwanya, perusahaan yang harus gulung tikar dan juga mental kedua putrinya yang terguncang akibat kehilangan sosok malaikatnya hingga harus menjalani serangkaian terapi.
Bukan hal mudah untuk Ardi bisa berdiri dengan tegak lagi. Satu tahun dua tahun dan di tahun ketiga Ardi mampu mengembangkan perusahaan yang di berikan Ayahnya.
Tiga tahun setelah kehilangan jantung dalam keluarga kecilnya Ardi menjadi sosok yang dingin juga tegas. Dalam setahun setelah si kembar dinyatakan sembuh, berkali-kali Ayesha berada dalam bahaya juga membahayakan orang orang di sekitar nya termasuk kakaknya, Anisha.
Sejak saat itu Ardi setuju dengan julukan "si pembawa sial" untuk Ayesha. Ayesha juga memiliki paras yang persis seperti Dinda matanya, rambutnya, sikapnya, tingkah nya semuanya sama. karena itu juga sikap Ardi kepada Ayesha mulai berubah antara marah dan juga menyesal.
Flashback off
"Argggghhhh" teriak Ardi sambil mengacak-acak rambut nya.
__ADS_1
Hingga detik ini kejadian itu masih tergambar dengan jelas di ingatannya.
"maafkan aku Dinda" gumam Ardi pelan.
Sementara itu di rumah, Ayesha tengah berada di kamar kakaknya. Ayesha tengah merengek minta bantuan Anisha untuk membantunya mengerjakan soal matematika yang jelas tak pernah bisa masuk dalam kepalanya.
Anisha di buat kesal dengan kelakuan adiknya itu, bukan karena rengekan Ayesha karena Anisha tidak mau membantu tapi rengekan Ayesha yang akhirnya meminta jawaban pada kakaknya karena dia sudah bekali kali di jelaskan oleh Anisha tapi lagi lagi tidak pernah bisa di mengerti oleh otak nya.
"Kakak tolong lah, sekali ini aja ya, adikmu nyontek" rayu Ayesha dengan nada memelas dan muka yang ia buat seimut mungkin berharap kakaknya akan luluh.
Namun, karena sudah sering seperti ini Anisa tidak peduli ia berpura pura tidak mendengar. Ayesha yang sudah lelah berusaha memahami penjelasan kakaknya tentang soal yang dia tanyakan dan merayu kakanya itu, akhirnya kembali ke kamar nya dengan muka yang di tekuk dan juga langkah yang serasa tak bertenaga.
"Tutup lagi pintunya" seru Anisha ketika Ayesha sudah menggapai gagang pintu kamarnya. Ayesha menoleh sekilas kemudian melenggang pergi tanpa mengindahkan omongan kakaknya.
Anisha tersenyum kemudian melangkah hendak menutup pintu sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.
Didalam kamar yang bernuansa biru putih itu Ayesha tak hentinya menggerutu karena rencana gagal total, yah apa mau di kata memang otaknya yang tak pernah sampai membuat Anisha ikut kesal di buatnya.
"Aha..!" Ayesha menjentikkan jari nya ke udara.
"Rayna" ucapnya sambil tersenyum
.
.
.
Bersambung
__ADS_1