
Malam hari di kediaman Herlambang Ayesha tengah duduk dengan gelisah menunggu Ardi menyidangnya karena kejadian sore tadi. sungguh Yesha sangat takut kembali mendengar bentakan dari ayah mereka, ia sadar resiko yang ia hadapi jika berani membawa Anisa bersamanya.
Tak jauh berbeda dengan Ayesha, Anisha juga terlihat sangat gelisah, takut akan reaksi yang nanti akan ayahnya tujukan. Anisha takut kembarannya itu kembali mendapatkan masalah yang jelas bukan kesalahannya, malah karena Ayesha mereka selamat dan bisa kembali ke rumah dengan aman. Tapi tidak dengan pemikiran ayahnya sekali Ayesha terlihat membawa Anisa bersamanya jaminan keselamatan Anisha harus benar-benar diperhatikan karena Anisa adalah kesayangan ayahnya dan Yesha tau itu.
tap...tap...tap..
suara sepatu yang beradu dengan lantai memecahkan lamunan mereka dan terlihat orang yang ditunggu itu masuk ke ruang keluarga dengan mata yang merah dengan rahang yang mengeras sudah bisa di pastikan jika Yesha kembali mendapatkan hukuman.
tap..tap..tap langkah kaki itu semakin mendekat ke arah Yesha dan...
plaaaaaakkkk...
tangan ardi tak bisa di kendalikan dan mendarat sempurna di pipi mulus Yesha. Yesha yang mendapat serangan tiba tiba jelas sangat terkejut begitu juga Anisha, bahkan Anisha Sampai berdiri saking terkejutnya. Untuk pertama kalinya Ardi melayangkan tangannya pada Yesha, sedih? jelas Yesha sangat sedih bahkan ia tidak tau kesalahannya apa tapi ayahnya begitu murka Yesha hanya tau ia di minta Anisha untuk menunggu ayah mereka pulang hanya itu sungguh Yesha tidak menyangka akan mendapatkan hadiah tamparan dari Ardi.
"Ayah, apa yang ayah lakukan?" jerit Anisha begitu ayahnya mendaratkan tamparannya kepada Ayesha. sedangkan yang di teriaki hanya diam mematung sambil melihat tangannya, merasa tak menyangka jika dirinya telah melakukan kekerasan pada anak gadisnya.
"Ayah...." Ardi tak sanggup melanjutkan kata-katanya dirinya pun sama terkejutnya degan kedua putrinya.
"Ayah, ayah menampar ku? apa salah Yesha yah? bahkan Yesha tidak tau apa yang Yesa lakukan, sampai ayah begitu murka dengan Yesha?"
Pertanyaan Yesha bahkan tak bisa Ardi jawab. sebenarnya jauh di lubuk hati nya Ardi sangat menyesal ingin berbaikan dengan masa lalunya tapi setiap kali mendengar suara dari Yesha rasa bersalah dan bencinya begitu besar, hingga ia tak sanggup lama lama memandang wajah Yesha.
"ayah Yesa ngga salah yah jika ayah ingin menyalahkan maka Anisalah orangnya, Anisa yang sudah memaksa Yesha untuk ikut, Anisha juga yang tidak mau mendengarkan Yesha yah, lagi pun bukan salah Yesha jika itu semua terjadi, itu kecelakaan dan Anisa juga tidak apa apa justru Yesha yang terluka ayah" seru Anisa menyadarkan ardi.
"puas kamu hah, sudah berapa kali aku katakan jangan pernah dekat dengan Anisa jika di luar kau tau bahaya selalu mengintai mu dan kau malah membawa anak ku bersama mu kau ingin membahayakannya kau ingin mencelakainya hah, kau tau kau itu anak pembawa sial" hardik Ardi akhirnya kata kata yang selama ini Yesha takutkan.
tes ... setetes air mata Yesha lolos begitu saja padahal sudah mati Matian ia tahan, segera ia hapus kasar air matanya.
"Yah, Yesha juga anakmu." ujar Yesha dengan suara yang bergetar.
setelah mengucapkan itu Yesha berlari ke kamarnya ia menangis dalam diam di balkon kamarnya dengan melihat langit yang kelam.
__ADS_1
di ruang keluarga Anisa masih memandangi ayahnya dia masih tidak menyangka ayahnya akan mengatakan hal seperti itu hanya karena masalah yang kecil.
"Ayah keterlaluan, ayah sadar apa yang ayah lakukan telah menyakiti perasaan Yesha, dia berusahalah sekuat tenaganya melindungi Anisa harusnya ayah ngga berlebihan seperti ini, Anisha kecewa"
setelah mengatakan itu Anisa juga meninggalkan ayah nya sendiri di ruang keluarga kemudian ia berlari ke lantai dua untuk menemui Ayesha.
tok...tok..tok
"Sha Lo di dalam?" hening tidak ada jawaban
"sha, gue masuk ya" lagi masih tak ada jawaban .
karena khawatir akhirnya Anisa masuk ke kamar Yesha. Anisa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kembarannya yang ternyata sedang di balkon dia pun mendekati Yesha.
"sha Lo ngga apa apa?" tanya Anisa begitu berada di belakang Yesha.
Yesa hanya menggeleng.
dan lagi Yesha hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Anisha.
"Lo pasti benci gue ya, maafin gue yah Sha karena keegoisan gue Lo jadi kena marah sama ayah" ujar Anisha akhirnya, iya Anisha memang merasa sangat bersalah karena bagaimanapun ini terjadi karena keegoisannya.
"gua ngga marah na" jawab Yesha akhirnya meski dengan suara yang bergetar, karena Yesha sebenarnya sedang menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan kakak nya.
"gue ngga akan pernah bisa marah apalagi benci sama Lo, karena separuh jiwa gue ada di Lo begitu juga dengan lo separuh jiwa lo ada di gue. gue dan Lo kita satu gimana bisa gue benci sama Lo. tapi.."
"tapi apa Sha?" potong Anisa tidak sabar.
"tapi gue ngga mau munafik gue iri ke Lo Na. gue iri karena dari dulu Lo selalu di perhatikan sama ayah, gue..gue juga pengen ngerasain hangatnya pelukan ayah, gue juga pengen ngerasain belaian kasih sayang dari ayah. Lo tau berbagai macam cara gue coba buat bisa dapetin perhatian dari ayah walau cuma sedikit tapi selalu gagal. Lo ingat waktu kecil gue sering ikut lomba apa aja demi bisa dapetin perhatian ayah tapi selalu gue diacuhkannya sedangkan Lo walau Lo cuma juara kelas tapi ayah akan bangga banggain Lo ke saudara saudara kita yang lain bahkan di ruang tamu pun penuh dengan foto foto elo sedangkan gue foto gue di pajang di lantai 2 yang jelas orang ngga akan liat. Lo liat ayah beliin gue lemari kaca buat naro piala pila gue tapi dia letakan di kamar gue dan Lo? piala Lo berceceran di setiap sudut, gue sakit Na gue.. gue.. gue.. hiks..hiks..hiks.." Akhirnya Yesha mengatakan isi hatinya walaupun sekuat tenaga dia simpan pada akhirnya ia pun memuntah kan keluhannya kepada kakak satu-satunya itu.
mendengar keluhan dari Ayesha, Anisa pun menangis dan memeluk adiknya, dia tau sakitnya berada di posisi Yesha saat ini. walaupun Yesha selalu berusaha tegar di depan semua orang tapi perasaannya tak bisa di bohongi.
__ADS_1
"gue sayang Lo, Ade gue yang paling kuat, Lo ngga boleh menyerah Sha gue yakin suatu saat nanti ayah pasti bisa perhatian sama Lo"
"gue tau itu Lo tau gue adalah Ayesha Saqeena Herlambang gue anak Dinda Puspita Dewi yang kuat gue ngga akan menyerah walau gue harus selalu terjatuh gue akan berdiri lagi buat dapet pelukan hangat dari ayah Ardi Herlambang" ucap Yesha meyakinkan dirinya sekaligus menenangkan kakaknya.
"terimakasih kak Lo selalu support gue, gue janji gue ngga akan melemah, Love you kak" sambungnya.
dan mereka pun berpelukan hangat di balkon kamar Yesha. dan memutuskan malam ini Anisa akan menemani Ayesha tidur.
Di dalam kamarnya Ardi tengah berbaring dan melihat langit langit kamarnya pikirannya sedang bimbang dia merasa sangat bersalah terhadap Yesha tentang kejadian tadi karena salah satu anak perusahaannya tengah bermasalah yang di sebabkan orang orang di dalamnya melakukan kecurangan sehingga perusahaan di sana menjadi berantakan Ardi dengan ringannya melampiaskan kemarahannya pada Yesha.
"tidak seharusnya aku melampiaskan amarah ku pada Yesha, saat ini pasti dia sangat sedih" pikirnya.
tak ada yang bisa Ardi lakukan, karena untuk sekedar meminta maaf dia sangat gengsi akhirnya sarapan pagi ini terasa kurang mengenakan karena suasananya yang canggung. Yesha pun tak ambil pusing ia segera menyelesaikan sarapannya dan tidak lupa meminta bi Inah untuk menyiapkan bekal, karena hari ini hukumannya di mulai. setelah selesai Yesha menyalami ayahnya seperti biasa kemudian berangkat sekolah dengan sepeda seperti biasa.
.
.
.
Bersambung
...******...
Hay readers aku menyapa kembali...
aku hanya mau kasih tau kalau tulisan ini murni karya aku yang pertama jika ada kesamaan cerita aku mohon maaf juga karena mungkin bahasa dan kata yang berantakan aku minta maaf, mohon koreksinya.
aku juga mohon kasih dukungan aku ya..
Terimakasih...
__ADS_1