
Ketika laki-laki berpakaian serba hitam pergi, tinggal lah Darren dan Ayesha yang sama-sama terbengong, mereka belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Anisha tak peduli yang terpenting mereka semua sekarang aman. Anisha begitu merindukan adiknya yang sebulan ini susah sekali di hubungi karena itu ketika ia melihat orang yang di rindukannya dia langsung berlari dan memeluk Ayesha dengan erat. Tangis nya pecah ketika ia bisa merasakan lagi hangat pelukan adiknya.
Berbeda dengan Anisha yang sentimentil Ayesha justru masih tertegun. Ia pun rindu tapi pertemuannya begitu cepat, padahal ia berniat akan bertemu kakaknya nanti setelah urusannya selesai.
"Ah Yesha!!! gue kangen banget, tega lo sama gue ngga pernah bales chat gue, ngga pernah angkat telpon gue, lo juga ngga pernah nengok gue. Jahat banget lo Sha..Huhuhu" ujar Anisha di tengah isak tangisnya.
"Berhentilah menangis seperti anak kecil kak!! gue ngga apa-apa dan ngga akan kenapa-kenapa. Lo menghawatirkan gue seolah olah gue ini lemah? itu cukup membuat gue kecewa. Satu hal yang harus lo inget gue kuat, keluar dari rumah bukan berarti gue akan mati, inget gue kuat bahkan lebih kuat dari karang di laut sana. Jadi berhentilah menangis" ujar Ayesha mencoba menenangkan kakaknya.
Sungguh Anisha yang terkenal cuek dan jutek jika di hadapan adiknya itu semua tak berlaku. Sebagai seorang kakak Anisha bisa di katakan cengeng ia cenderung menggunakan perasaannya berbeda dengan Ayesha yang begitu tegar karena sedari kecil di didik dengan keras.
Darren tak ingin mengganggu momen pertemuan dua bersaudara di depannya karena itu ia hanya diam saja bahkan lukanya pun ia biarkan. Tapi ternyata kehadirannya di sadari oleh Anisha. Gadis itu mengusap kasar air matanya kemudian menghampiri Darren dan melihat lukanya yang ternyata cukup dalam tapi tak memerlukan jahitan. Dengan sigap Anisha mengambil kotak P3K di mobilnya dan mulai memberikan pertolongan pertama pada pemuda itu.
Darren sempat menolak ketika tanpa permisi Anisha sudah mengusapkan antiseptik pada lukanya tapi Anisha tak bergeming ia tak peduli dengan penolakan pemuda itu. Hatinya juga sakit melihat laki-laki yang ia kagumi terluka.
"Lo kenapa ada di sini Na?" tanya Ayesha di tengah-tengah kesibukan kakaknya yang sedang mengobati Darren.
"Gue dari rumah kak Rezky, akhir-akhir ini setelah lo keluar setiap pulang sekolah gue selalu main ke sana. Gue kesepian ngga ada lo"
"Oh.."
"lo sekali-kali tengok lah gue Sha, kalau seandainya lo ngga mau ngasih tau lo tinggal di mana setidaknya lo yang temuin gue. lo jahat kalo diemin gue kaya gini"
Setelah selesai mengobati luka Darren dan sedikit mengobrol dengan Ayesha, Anisha pun pamit karena hari sudah semakin sore ia bisa di marahi ayahnya nanti jika pulang terlalu malam.
Tentu Ayesha tak mengizinkan Anisha pulang sendirian ia meminta Darren mengantarkan Anisha pulang.
"Heh gue tuh majikan lo. Sebagai asisten lo tuh ngak ada hormat-hormatnya ya sama gue, sembarangan main nyuruh nyuruh aja" gerutu Darren.
__ADS_1
"Bawel banget sih, lo kan di sini cowok sendirian tega benget ngebiarin anak gadis pulang sendirian apalagi tadi sempat terjadi hal yang tak di duga. Tinggal nganterin bentar apa susahnya sih kaya banci tau ngga-" Belum selesai Ayesha mengumpatnya Darren buru-buru memotong ucapan gadis itu. Satu bulan bersama sedikit banyaknya Darren tau jika keinginan Ayesha tak di turuti gadis itu akan bicara panjang lebar di selipi kata kata pedas andalannya. Jadi mau tidak mau Darren akhirnya menyetujui keinginan Ayesha.
"Stop bicara yang bukan-bukan, oke gue anterin. Awas aja nanti gue ngga akan biarin lo tenang!!" ucap Darren akhirnya membuat senyum penuh kemenangan terbit di bibir Ayesha.
Terdengar seperti pemaksaan Anisha pun menolak dengan dalih merepotkan tapi baik Darren atau adiknya sama sekali tak menghiraukan penolakannya.
Kini mobil Anisha melaju membelah jalanan ibu kota yang selalu padat kendaran begitu juga dengan Ayesha gadis itu mengendari mobil milik Darren menuju apartemennya lebih tepatnya apartemen sewaannya.
Di perjalanan Anisha terlihat bahagia ia tak henti hentinya tersenyum membuat Darren sedikit risih.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Tanya Darren mengagetkan Anisha yang ketahuan tengah membayangkan masa depan dengan laki-laki di sampingnya itu.
Mendapat pertanyaan dadakan seperti itu membuatnya sedikit gelagapan untung saja ia bisa mengelak dengan alasan yang masuk akal.
"Ah..em..ngga apa-apa kok aku lagi bahagia aja akhirnya bisa bertemu lagi dengan Ayesha. Kamu tau, anak itu sejak keluar dari rumah susah sekali di hubungi aku khawatir apa lagi ini pertama kalinya kami tinggal berjauhan" ucapnya dengan wajah sendu. Sebenarnya itu bukan kebohongan sih memang benar Anisha sekarang tengah bahagia karena bisa memeluk adiknya lagi tapi ia lebih bahagia karena bisa satu mobil bahkan ngobrol lagi dengan Darren walau terasa canggung.
"oh iya.. kok kamu bisa bareng Ayesha? dan lagi kok kamu bilang dia asisten?" Tanya Anisha lagi karena dia baru ingat dan baru sadar jika adiknya tadi turun dari mobil yang sama dan mereka juga terlihat dekat. Jujur itu membuatnya sedikit terganggu.
"Yah, tapi dia tidak merepotkan mu kan?"
"ngga sih, justru karena ada dia aku ngerasa hidupku lebih berwarna" ucap Darren dan perkataannya barusan berhasil membuat Anisha bungkam. Anisha sadar pemuda yang ia kagumi sepertinya tertarik dengan adiknya.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya mobil Anisha sudah terparkir rapi di garasinya dan Darren juga sudah pulang sedari tadi. Kini tinggal Anisha yang masih tertegun memandang jauh kepergian Darren yang sudah menghilang di balik tembok pagar rumahnya.
Anisha menarik nafasnya dalam jika adiknya bahagia dengan laki-laki itu tentu Anisha dengan senang hati akan melepaskannya ia tak mau lagi merenggut kebahagian adiknya sudah cukup selama ini Ayesha merasakan penderitaan.
Anisha masuk ke rumah dengan langkah yang gontai seolah ia tak memiliki tenaga untuk menopang berat badan nya. Huft ternyata seperti ini rasanya patah hati bahkan sebelum gue mengutarakannya. Gumam Anisha dalam hati.
Keesokan harinya sepulang sekolah Anisha memasuki ruang kerja ayahnya untuk mencari flashdisk yang kosong karena ada tugas sekolah yang harus ia kerjakan tapi flashdisk miliknya hilang entah kemana akhirnya ia mencari benda itu di ruang kerja ayahnya.
__ADS_1
Anisha mulai mengobrak abrik laci di meja, lemari, dan rak buku tapi ia tak menemukan benda itu hingga ia membuka laci terakhir di rak buku ayahnya ia menemukan sebuah map yang bertuliskan tanggal serta tahun meninggalnya ibu mereka. Karena penasaran Anisha membuka map tersebut dan betapa terkejutnya Anisha ketika mengetahui isi dari map tersebut.
"Surat perjanjian?" gumamnya.
"Ini?.."
"Gak mungkin, ini ngga mungkin, bagaimana bisa?" Anisha hampir menangis setelah membaca surat perjanjian itu tangan nya bergetar kerongkongannya serasa tercekat ia tak menyangka ayahnya tega melakukan ini pada adiknya.
Karena begitu tak percaya dengan tulisan itu Anisha sampai membacanya berkali-kali berharap ia salah tapi kenyataanya itu memang benar.
Anisha jatuh terduduk dengan tangis yang tak bisa lagi ia bendung, saking kalutnya ia tak menyadari ada orang lain di ruangan itu yang sedari tadi memperhatikannya.
puk.
Orang itu menepuk bahu Anisha hingga membuat Anisha terperanjat kaget.
"Apa yang kamu baca?" tanyanya.
"Nenek, katakan pada Anisha nek ini pasti salah kan ngga mungkin ayah tega ngelakuin ini?" tanya Anisha pada neneknya yang entaj sejak kapan sudah ada di sana. Iya orang yang menepuk bahu Anisha adalah neneknya.
"Sayangnya itu memang benar nak, ayahmu telah melakukan kesalahan yang besar demi menyelamatkan ibu kalian yang saat itu menderita jantung bocor dengan tega menukarkan donor jantung yang ia terima dari seseorang dengan anak kedua mereka Ayesha."
Deg.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...