Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Makan malam


__ADS_3

Terpaan angin sepoi sepoi di malam hari dan Deburan ombak di pantai bersahut sahutan menenangkan hati yang tiba-tiba di landa gundah.


Pohon pohon kelapa tampak melambai-lambai indah seolah menghibur seseorang yang tampak murung.


Malam yang cerah bertabur bintang di langit menambah keindahan malam yang sunyi mengelilingi bulan yang bersinar terang di antara kegelapan.


Seorang gadis tertunduk dengan wajah sendunya mengabaikan setiap keindahan yang Tuhan ciptakan, dia tengah memikirkan hati yang tiba-tiba resah. Kegelisahan sang gadis menarik perhatian pemuda yang senantiasa memandanginya dari samping.


Tadi sore selepas magrib, Darren mengajak Ayesha untuk jalan-jalan menikmati indahnya kota Jakarta di waktu malam namun, melihat Ayesha yang sejak dari rumah murung membuat Darren mengganti rencana sebelumnya dan di sini lah kini mereka berada di pantai tempat terakhir mereka kunjungi waktu itu.


Sudah setengah jam Darren memandangi gadisnya yang terlihat tidak baik-baik saja. Bukan dia tak peka hanya saja ia ingin memberikan Ayesha waktu untuk menenangkan hatinya. Setelah di rasa cukup Darren mulai memberanikan diri menyapa Ayesha.


Darren menggenggam lembut tangan Ayesha yang terasa dingin.


"Lo ngerasa lebih baik?" Ucap Darren ketika pandangan mereka bertemu.


Ayesha tak lantas menjawab ia kembali membuang pandangan nya. Memandang hamparan air laut yang hilang tertelan kegelapan malam tapi, ia tak menolak maupun melepaskan genggaman tangan Darren yang selalu mampu membuat hatinya menghangat.


Setelah mimpi buruk itu hatinya menjadi tak menentu. Seolah orang itu memiliki ikatan dengannya membuat hatinya tak bisa tenang. Entah kenapa setiap mengingat suara jerit kesaktiannya suara itu mengingatkannya pada sang ayah. Apa mungkin itu dia.


Sepertinya untuk memastikan dugaannya ia harus melihat sendiri keadaan ayah serta kembarannya. Jika hanya menunggu panggilan dari mereka Ayesha akan selalu merasa cemas.


"Ay?" Sapa Darren lembut, karena sedari tadi Ayesha tidak menjawab pertanyaannya.


Ayesha tersentak ketika merasakan sentuhan lembut di bahunya. Ia menoleh sekilas dan memaksa kan senyum.


"Gue ngga apa-apa" singkatnya.


"Lo ngga bisa bohongin gue Ay. Lo bisa berbagi beban lo sama gue atau jika lo butuh senderan bahu gue dengan senang hati akan mengizinkannya" ucap Darren tulus.


"Modus" ucap Ayesha lirih. Dia benar-benar tak ada selera untuk bercanda.


"Jika lo ada masalah gue siap dengerin Ay. Lo ngga usah sungkan. Jika beban di hati lo terlalu berat maka lo harus membaginya supaya hati lo ngga terlalu sesak... Dan gue siap untuk itu" tutur Darren dia benar-benar tidak tega melihat Ayesha yang dia tau selalu terlihat kuat kini menunjukan wajahnya yang memelas.


"Gue rasa gue kangen keluarga gue, Ren" ucap Ayesha singkat. Gadis itu tidak biasa membagi perasaanya pada siapa pun kecuali pada kembarannya jadi ia tak bisa mengatakan apa yang dia rasa lebih dari itu. Apalagi dia tidak ingin membuka jalan untuk hatinya merasa nyaman berada di samping Darren.


"Kalo lo mau, gimana kalo besok gue temenin lo buat nengok mereka?. Kan ngga ada salahnya sekali-kali lo main ke sana mau bagaimana pun juga itu juga rumah lo kan" ujar Darren.


"Gue rasa lo bener"

__ADS_1


"Gue seneng kalo lo mau terbuka sama gue Ay. Gue jad ngerasa berguna buat lo. Tapi gue tetap bahagia kok karena lo mau sedikit cerita masalah lo ke gue. Gue harap ini awal yang baik" gumam Darren dalam hati. Ia tak mengalihkan pandangannya dari wajah Ayesha yang tersapu angin membuat rambutnya tampak bergoyang indah satu tangan Ayesha menekan tengkuknya supaya rambutnya tida berterbangan.


Rupanya semakin malam angin di sana semakin kencang menyadari hal itu Darren mengajak Ayesha untuk kembali karena hari memang sudah malam.


Dalam perjalanan Darren bingung bagaimana membuat Ayesha kembali ceria dia sama sekali tidak punya pengalaman tentang ini.


Kruyuk...kruyuk...


Saat tengah berfikir keras tiba-tiba terdengar bunyi yang menganggu indra pendengarnya. Ternyata bunyi itu berasal dari perut Ayesha membuat gadis itu reflek menutup perutnya dengan tangan dan menunduk malu dengan muka yang sudah memerah. Darren tersenyum ia lupa mengajak Ayesha makan malam karena fokus dengan misinya. Misi membuat Ayesha merasa tenang kembali.


"Lo laper?" Tanya Darren polos.


"Ngga.. gue mules!!! Udah tau nih perut udah menabuh genderang protesnya, masih nanya!" Ayesha menjawab dengan ketus. Lapar ternyata membuatnya sensitif atau mungkin ia begitu karena menutupi rasa malunya. Apapun itu Darren tak peduli ia senang karena Ayesha sudah kembali ke mode galaknya itu lebih baik dari pada dia harus melihat Ayesha yang melow.


"Biasa aja kali ngga usah ngegas gitu juga. Gue tau lo malu jadi ngga usah di tutupin" Darren mulai menggoda Ayesha karena gadis itu sudah kembali ke mode bongkahan esnya.


"Siapa yang malu? Jangan sok tau" ucap Ayesha tak mau mengakuinya.


Darren terkekeh pelan ia melajukan mobilnya mencari restoran terdekat karena cacing di perut Ayesha ternyata sudah tidak sabar karena beberapa kali perutnya berbunyi membuat Ayesha semakin merasa malu dan mukanya jangan di tanya sudah sangat merah seperti tomat.


Akhirnya tak lama kemudian mereka menemukan Restoran Seafood membuat Ayesha berbinar karena ia sangat suka dengan olahan makanan tersebut. Dengan tidak sabar ia kemudian bergegas turun bahkan sebelum Darren memarkirkan mobilnya. Ia kemudian bergegas mencari meja yang masih kosong tak peduli lagi dengan rasa malunya.


Sesampainya di meja yang Ayesha pilih Darren tercengang mendengar beberapa menu yang di pesan Ayesha. Tak tanggung-tanggung gadis itu memesan aneka menu kerang, cumi, kepiting, udang, ikan bahkan lobster pun ia pesan. Darren di buat menganga tak percaya ternyata perempuan di depannya jika sedang galau seperti ini naf*u makannya akan meningkat tiga kali lipat? uwow!


"Lo yakin pesan itu semua?" Tanya Darren memastikan.


"Iya, kenapa lo ngga punya duit buat bayar ini semua?" Ujar Ayesha ketus.


"Bukan gitu. Gue heran aja apa muat di perut lo?"


"Kalo ngga muat, lo yang abisin" Tukas Ayesha santai membuat Darren kembali menganga tak percaya.


Tak ingin membuat Ayesha bertambah kesal Darren pun tidak banyak protes lagi takut gadis di depannya berubah menjadi Sumanti saking kelaparannya.


Akhirnya hidangan yang di tunggu-tunggu itu pun tersaji di meja mereka. Tanpa basa basi Ayesha mengambil piring berisi Lobster asam manis memakannya dengan kalap. Sungguh tidak terlihat cantik sama sekali.


Melihat cara makan Ayesha Darren menelan salivanya kasar. Tiba-tiba rasa laparnya menguap entah kemana. Sadar sedari tadi Darren menatapnya tak berkedip Ayesha mengangkat kepalanya melihat Darren.


"Kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya Ay, gue tau lo laper tapi ngga gitu juga. Belepotan kan?" Ujar Darren terkekeh dia mengelap sisa saus yang ada di sudut bibir Ayesha menggunakan tisu.


Di perlakukan seperti itu tentu saja membuat Ayesha salah tingkah dia menepis kasar tangan Darren menyembunyikan mukanya yang sudah memerah.


Tak terasa makanan di meja mereka sudah hampir habis berpindah ke dalam perut Ayesha. Dari arah belakang Darren seorang wanita cantik berjalan mantap mendekati mereka tepatnya mendekati Darren. Ketika wanita itu sudah bisa mendengar suara mereka dan yakin jika laki-laki yang memunggunginya itu Darren wanita itu menyapa dengan suara yang lembut sedikit terdengar manja.


"Darren!" sapanya senang.


Darren yang merasa di panggil pun menolehkan kepalanya ke belakang. Begitu pandangannya menangkap sosok wanita tinggi, langsing nan cantik itu kedua mata Darren terbelalak spontan dia langsung berdiri.


"Marsya?" ucap Darren kaget.


Wanita yang di panggilnya Marsya itu tersenyum lebar dan tanpa basa basi memeluk erat pemuda yang masih mematung itu.


Ayesha yang melihat interaksi keduanya tiba-tiba dadanya terasa memanas, makanan yang ia kunyah tiba-tiba terasa sulit di telan. Entah kenapa dia pun tak mengerti.


Sedangkan Darren yang sudah tersadar buru-buru melepaskan pelukan dari Marsya.


"Kok kamu di sini?" tanya Darren.


"iya aku baru kemarin balik dari LA. Aku kangen sama kamu. Ngga nyangka bisa ketemu kamu di sini" ujar Marsya berbinar.


Menyadari itu Darren tersentak kemudian menoleh ke arah Ayesha takut gadis nya akan salah faham. Benar saja saat ini Ayesha memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sayang, kok kamu diem aja sih. Kamu kangen juga kan?" ujar gadis itu manja.


Hah sayang? sepertinya ada yang tidak beres di sini. Menyadari kehadirannya yang seperti merusak momen dua sejoli saling merindu ini Ayesha kemudian beranjak dan membayar semua makanannya di kasir tak ingin terlalu lama matanya tercemar dia memilih pergi di saat Darren tengah sibuk dengan wanita yang bernama Marsya itu.


Sedangkan Marsya yang melihat Ayesha pergi ia pun tersenyum senang. Menyadari Marsya yang tersenyum seperti itu membuat Darren curiga dan benar saja ketika melihat ke kursi yang sebelumnya di duduki Ayesha ternyata gadis itu sudah pergi entah kenapa. Ia pun menatap sinis perempuan di depannya.


"Ini pasti rencana lo kan? lo sengaja kan bikin dia salah faham kayak gini?!!" Bentak Darren pada Marsya. Sedangkan perempuan itu tampak tidak peduli.


"Apa sih, gue kan emang kangen sama lo. Sayang!" Ujar Marsya menekankan kata terakhirnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2