
Dengan senyum jahatnya dia pun menutup map tersebut kemudian setelah menetralkan lagi mimik mukanya ia kembali kan surat tersebut kepada Darren tak lupa dia juga telah memotretnya untuk berjaga-jaga.
...*****...
Tidak terasa cukup lama mereka berada di luar hingga mereka melupakan dua orang yang tengah kebingungan di dalam bioskop.
Rayna menanyai satu persatu pengunjung untuk mencari tau keberadaan Ayesha namun mereka semua tak ada yang tau. Dito juga tak kalah khawatir, dia berkali kali mencoba menghubungi ponsel Ayesha tapi gadis itu tak sekalipun mengangkat panggilannya.
Cukup lama mereka mencari di dalam dan di luar ruangan akhinya mereka menemukan Ayesha tengah duduk sendirian di salah satu kursi yang tersedia tak jauh dari tempat mereka sekarang berdiri.
Tentu saja Ayesha langsung di ceramahi oleh Reyna karena telah membuat mereka khawatir.
Saat Rayna sedang asyik memarahi Ayesha, suara deheman seseorang berhasil membuat mulutnya berenti.
Rayna sangat terpesona dengan sosok seorang Darren hingga ceramah yang biasanya panjang bak ustadzah-ustadzah di tv seketika diam membisu bahkan, ia sampai tak berkedip di buatnya. Sampai tepukan tangan Dito pada pundaknya menyadarkan dirinya dari alam bawah sadar nya.
Dito sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Sebenarnya dia juga sedikit merasa iri, pasalnya reaksi Rayna padanya biasa saja tak seheboh ketika melihat Darren.
Setelah drama tadi, kini mereka berempat telah sampai di parkiran. Darren tengah membujuk Dito agar bisa memberikan nya tumpangan, dia beralasn jika mobilnya sudah di bawa pulang karena supirnya mendapat panggilan mendadak dari sang kakak.
Dengan setengah hati akhirnya Dito pun mengijinkan nya ikut, karena katanya tujuannya satu arah dengan Ayesha.
Darren duduk di depan di samping Dito yang tengah menyetir, dia pun tak mengerti mengapa begitu suka mengikuti kemana ayesha pergi. dua gadis itu duduk cantik di belakang, sesekali terdengar tawa renyah dari Ayesha, Rayna, dan Dito hanya Darren kini yang seperti enggan menimpali. entahlah melihat keakraban gadis yang menurutnya rese ini dengan laki-laki lain hatinya sedikit sakit, hanya sedikit ya tidak lebih.
Sedang asik mengobrol sesekali juga terdengar ejekan dari tiga sahabat ini, tiba-tiba dari arah belakang ada segerombolan sepeda motor yang bunyi knalpot nya sangat bising mengganggu pendengaran menghadang mobil mereka.
Mereka yang berpenampilan sangar tapi cenderung acak-acakan seperti tak pernah mandi seminggu itu mulai meneriaki rombongan Ayesha untuk turun. Di lihat dari penampilannya bisa di pastikan mereka ini preman. Preman yang katanya penguasa jalanan.
Lagi-lagi keadaan yang sama, semoga saja kehadiran Ayesha tidak melukai teman-temannya karena jujur panggilan "pembawa sial" dari ayahnya itu sangat mengguncang mentalnya, walaupun sekuat tenaga ayesha mencoba bersikap seolah baik baik saja tapi ketakutan itu selalu ada.
Ketakutan akan melukai orang-orang di dekatnya, ketakutan akan kehadirannya membawa dampak negatif untuk orang-orang yang disayanginya.
Dito yang sejatinya memang takut dengan orang-orang seperti mereka, terpaksa harus turun karena desakan orang-orang itu.
Darren menatap tajam berandalan-berandalan yang menganggu kenyamanan dia dan juga teman-teman barunya tanpa takut sedikit pun.
"Hei..hei..hei kau?" ujar salah satu preman menunjuk Darren dengan tatapan tak kalah tajam dari Darren.
"Bukankah kau, Ketua Black Dragon? wah keberuntungan sedang berpihak padaku sepertinya. kau sendirian tanpa anak buah mu apa yang akan kau lakukan?" lanjut preman itu jumawa.
__ADS_1
"Apa aku mengenalmu?" tanya Darren santai.
"hah.. kau lupa atau pura pura beg*!!? kau ingat seorang pemuda yang kau bantai? dia adik ku, karena ulah mu adik kesayangan ku kini berbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menyebalkan itu" seru preman itu menggebu-gebu seolah dadanya benar-benar sesak karena marah.
Namun karena terlalu banyak korban yang dia bantai, Darren sama sekali tak bisa mengingatnya. Hal itu membuat para preman itu marah.
"B*****se* kau Ba******" umpat preman yang berbadan paling besar.
Tanpa menunggu lama para preman itu menyerang Darren secara brutal. Karena merasa sebagai laki-laki walaupun Dito tak bisa bela diri setidaknya dia mencoba menyelamatkan harga dirinya di hadapan para wanita untuk membantu Darren.
Bugh...Bugh...Bugh..
Pertarungan sengit tak dapat di hindari Tapi yah, seperti yang di duga baru beberapa pukulan mendarat sempurna di wajah dan perutnya Dito sudah tersungkur.
"ck. hei..!!! lo itu laki-laki bukan sih? yang benar saja baru sekali serang dah KO, payah lo!!" gerutu Darren di sela-sela perkelahiannya dia masih menyempatkan untuk mencibir Dito yang menurutnya sangat payah itu.
Tentu saja Dito tidak terima dengan ucapan Darren, ya meskipun itu benar tapi kan tak seharusnya Darren memperjelas nya di hadapan para gadis, mau di taruh mana mukanya.
"Heh..!! gue tuh belum siap, mereka menyerang tiba-tiba ya gue ngga siap lah" Dito mencoba mengelak padahal sudah jelas jika dia sudah kalah tapi tak mau mengaku, ck.
Disaat kedua laki-laki tampan itu tengah sibuk melayani preman preman pengacau, dua gadis cantik tengah ketakutan berdiri di samping pintu mobil. Lebih tepatnya sih hanya Rayna yang ketakutan sedangkan Ayesha yang pada dasarnya pandai berkelahi itu tampak tenang dan hanya menonton.
Sebenarnya Ayesha bisa saja langsung menolong Darren tapi dia memang tidak pernah menunjukan apa yang dia bisa ia hanya akan beraksi ketika keadaan terdesak saja. Oleh sebab itu banyak yang belum mengenal Ayesha bahkan kedua sahabatnya sekalipun.
Bugh..Bugh..Tak..tak..Srang..
Perkelahian antara Darren dan para preman yang berjumlah tujuh orang itu tampak semakin sengit. Apalagi Darren yang memang sendirian terus terdesak, kesempatan itu tidak di sia siakan musuhnya. Para preman itu tampak semakin beringas menghajar Darren di beberapa bagian hingga salah satu dari preman itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket rompi campingnya kemudian mengarahkan senjata tersebut pada Darren dari belakang.
Namun sayangnya ketika pisau itu hendak mengenai target sebuah sepatu menghantam tangannya hingga pisau yang di genggam nya pun ikut melayang jauh.
Ternya lemparan tersebut di lakukan oleh Ayesha hingga kedua sahabatnya yang melihat hal itu tampak terdiam mematung sedikit terkejut agaknya, salah bukan sedikit tapi sangat terkejut dengan aksi gadis mungil itu tak terkecuali Darren dan para preman mereka seketika berhenti.
Sepertinya lemparan Ayesha memang selalu tepat sasaran seperti pada mobil Darren contohnya.
Preman yang mendapatkan serangan tak terduga itu tentu saja sangat marah apalagi yang berani menantangnya adalah gadis mungil yang terlihat lemah. Preman itu pun mengeram dan mulai menyerang Ayesha.
Sahabat Ayesha yang terkejut reflek berteriak meneriaki Ayesha, tapi gadis itu seolah tak kenal takut, satu serangan dia balas dengan berkali kali lipat hingga tak butuh waktu lama preman yang menyerangnya sudah tersungkur tak berdaya di tanah.
Darren sedari tadi menyaksikannya pun ikut terheran heran, dia pikir Ayesha seperti gadis pada umumnya yang akan ketakutan jika di hadapkan dengan situasi seperti ini. tapi ternyata dia salah besar nyatanya Ayesha bukan gadis yang manja dia mandiri dan tangguh tak heran jika bercandaannya selalu memakai kekerasan.
__ADS_1
"Apa yang lo lihat!!? matamu minta di colok hah!!? cepat habisi mereka!!" seru Ayesha ketus menyadarkan Darren yang sedari tadi hanya diam memperhatikannya.
Karena saking terkejutnya dia tak menyadari jika gadis mungil itu telah berada di sampingnya.
"cih.. galak sekali kau nona". Sahut Darren.
Dia kembali fokus pada pertarungannya, Darren kembali mendapatkan semangatnya setelah sebelumnya tadi hampir putus asa. Darren tak ingin kalah tangguh dari Ayesha.
Sedangkan Dito dan Rayna benar-benar merasa terkejut. Mereka tak menyangka kalau Ayesha pandai bela diri, bahkan jika di lihat Ayesha lebih hebat dari Darren. Jelas Darren kini tengah terluka dan tenaganya sudah terkuras sedangkan Ayesha masih segar bugar.
Ayesha memang pandai menyembunyikan kebolehannya yang satu ini. Menurutnya masalah tak selalu harus selesai dengan kekerasan jika bisa di musyawarahkan Ayesha lebih memilih jalan damai.
Sejauh ini yang mengetahui jika Ayesha pandai bela diri hanya Anisha dan Rezky mungkin juga Ayahnya dia tak tau pasti.
Ayesha memang sangat terbuka dengan kakaknya tak heran jika Anisa mengetahuinya. sedangkan Rezky dulu ketika Ayesha masih pemula mereka sering berlatih bersama tak jarang juga Rezky menjadi samsak hidupnya.
Setelah cukup lama mereka berduel akhirnya Ayesha dan Darren berhasil melumpuhkan lawannya, beberapa orang yang masih tersadar segera menyeret temannya yang sudah hampir hilang kesadaran itu mereka melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tempat mereka bertarung memang sangat sepi, entah apa yang membawa Dito melewati tempat itu, tapi di sini lah mereka berada dengan keadaan yang cukup mengenaskan terutama Darren yang sudah terduduk lemah.
"Hais gara-gara kecoak itu gue beneran telat" gumam Ayesha pelan ketika dia melihat jam di ponselnya.
"Lo mau kemana Sha panik banget?"
.
.
.
Bersambung...
...*****...
Hai Reader jangan lupa Like dan kasih komentar kalian ya jangan lupa juga kasih favorit karya aku di rak buku kalian...
Terimakasih...
Heppy reading..
__ADS_1