Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Hukuman lagi


__ADS_3

"Kamu harus secepatnya membuang gadis itu, kamu harus tegas pada Ayesha" lanjut neneknya.


Deg.


...****************...


Ayesha ingin mereka buang? Bagaimana bisa apa yang sebenarnya terjadi? kenapa keluarganya sendiri menginginkan gadis malang itu untuk menjauh?.


Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya ia tidak menyangka kehadiran nya sangat tidak di inginkan keluarganya sendiri. Tak terasa air matanya lolos begitu saja, luka yang belum mengering kini harus kembali menganga bahkan ini terasa lebih menyakitkan dari pada sekedar kata kata kasar yang selama ini Ayesha dengar.


Sudut hatinya terasa di koyak, sakit tapi ia tak bisa berbuat apa-apa berharap luka yang selama ini telah tertoreh di hatinya akan segera pulih justru kembali harus terluka.


"Ardi ngga bisa bu," terdengar jawaban dari Ayahnya.


"Jangan bodoh kamu di, kamu mau masa lalu kelam itu terulang kembali?"


"Tapi-"


"Sudahlah lebih baik kamu pikirkan lagi, ibu pulang saja"


Mendengar itu Ayesha bergegas lari masuk ke kamarnya. Bisa bisa ayah dan neneknya akan marah besar jika dia ketahuan sedang menguping pembicaraan mereka.


Tak ada yang lebih nyaman selain di kamarnya. Di ruangan itu dia bebas berekspresi, tak perlu pura-pura baik baik saja padahal hatinya terluka. Di ruangan itu juga ia tumpahkan segala sesak yang di rasa.


"Kenapa, kenapa Ayah begitu kejam mah?, Yesha pernah buat salah apa? Kenapa Ayah begitu menginginkan Yesha pergi dari sini? kenapa keluarga ini menjauh dari Yesha?, apa Yesha bukan anak kandung ayah?"


"Sakit, ini sakit sekali mah Ayesha tak bisa menahan nya. Ini terlalu menyakitkan..huhuhu..." Racaunya sembari memandangi foto sang mamah.


"Jika Yesha memang menjadi beban kenapa dulu ayah tidak biarkan Yesha saja yang di tabrak mobil, kenapa justru mamah yang harus menggantikannya. Kalau Yesha tau ayah akan membenci Yesha karena kejadian itu Yesha pasti tidak akan ceroboh seperti dulu, mungkin keluarga ini ngga akan retak seperti sekarang..huhuhuhu"


"Apa yang harus Yesha lakukan mah,? Yesha bingung Yesha sedih"


Tak terasa hari sudah semakin larut tapi, gadis malang itu sama sekali belum bisa terlelap banyak sekali hal yang mengganggu nya pikirannya. Hingga usai melaksanakan kewajibannya baru ia bisa terlelap.


Jika saja Anisha tak membangunkannya pasti saat ini dia sudah membolos. Walaupun hari sudah semakin siang tapi Ayesha tak patah semangat ia terus mengayuh kendaraan kesayangan satu-satunya.


Tiba di sekolah gerbang sudah di tutup rapat, dia terlambat 15 menit. Tak hilang akal dia memutar lewat gerbang belakang sekolah yang pagarnya tak terlalu tinggi. Untuk Ayesha meskipun dia mempunyai badan yang mungil tapi sekedar gerbang yang tingginya dua meter itu adalah hal yang mudah.


Ayesha berjalan mengendap-endap melewati beberapa ruangan berharap kehadirannya tak di sadari oleh guru-guru terutama guru BK. Tapi, sayangnya tidak semudah itu untuk bisa masuk ke kelasnya baru hendak menggapai kenop pintu sebuah tepukan pada pundaknya mengejutkan Ayesha. Ketika dia melihat siapa yang memergokinya seketika itu juga wajahnya memucat Ayesha menelan kasar salivanya.


Seorang guru yang rambut putihnya hampir berguguran semua juga perutnya yang maju menatap tajam dan meletakan tangan satunya di pinggang. Guru yang terkenal killer karena itu beliau menjadi guru BK.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, hem?" Tanya pak Yogi guru Killer.


"Ehehehe Bapak, apa kabar pak? wah lama ngga keliatan bapak keliatan lebih muda" Ucap Ayesha sembari cengengesan.


"Ngga usah muji muji gitu ngga mempan, kamu terlambat kan? wah udah lama kayak nya itu toilet kangen kamu bersihin. Hari ini bersihin ya semua toilet di sekolah ini tanpa terkecuali" ujar pak Yogi.


"Tapi pak"


"Kenapa masih kurang? kalo git-" belum selesai Pak Yogi berbicara Ayesha langsung memotongnya, dia tau pasti guru killer ini bakalan nambahin hukumannya lebih banyak jadi sebelum itu terjadi lebih baik dia langsung lari memulai hukumannya supaya cepat selesai.


"Eh ngga usah pak toilet aja cukup kok"


Karena gedung sekolahan ini tak terlalu luas jadi hanya ada beberapa toilet saja, tak terlalu banyak tapi cukup menguras tenaga. Hingga tak terasa waktu istirahat pun tiba. Untung saja hal yang pertama dia lakukan yaitu membersihkan toilet laki-laki, kalau tidak saat ini dia pasti sudah kena ledekan para siswa resek itu.


Beberapa siswi mulai berdatangan ketika ia hampir selesai dengan tugas nya. Tapi ternyata tak segampang dan selancar itu. Ketika ia sedang membersihkan lantai toilet siswi terakhir datang beberapa gerombolan siswi, itu adalah kakak kelasnya dari kelas 12 kak Celina dan dua temannya.


Kak Celina adalah salah satu siswi populer di sekolah itu, karena ia cantik dan juga kaya dia juga mantan anggota OSIS tahun lalu. Meskipun cantik tapi dia dan geng nya bad attitude. Terkenal sering merundung anak-anak yang mereka anggap tak menarik, tak memiliki kekuasaan tentunya. Ayesha adalah salah satu siswi yang sering di bully beberapa bulan yang lalu. Kok bisa mantan anggota OSIS berkelakuan seperti itu? bisa, karena dia berduit karena dia juga pandai berakting jadi selalu saja bisa memutar balikan fakta.


Kali ini ia memandang Ayesha dengan api kebencian yang kian membara, bagaiman tidak Celina yang populer tapi justru anak baru sama sekali tak meliriknya justru dia lebih tertarik dengan seorang Ayesha yang menurutnya seperti upik abu itu. Padahal ia tak tau jika Ayesha juga terlahir dari orang tua yang berada hanya saja masih belum terlihat.


Kesempatan yang langka ketika Celina bisa melihat Ayesha yang biasa ia panggil Upik abu itu ada di toilet.


Brakkkk


"Ups.. ngga sengaja sorry ya" ucap Celina.


"Upik abu emang pantes kalo pegang alat kebersihan kaya gitu" ucap salah satu teman Celina.


"Hah upik abu lama deh kita ngga ketemu, kita kangen deh" ucap teman yang satunya lagi.


Belum cukup sampai di situ mereka bertiga sengaja menginjak-injak lantai yang sudah dibersihkannya tapi karena belum kering jadi sedikit terlihat kotor lagi


Ayesha tak melawan karena ini lingkungan sekolah, dan lagi ia tau betul seperti apa kakak kelasnya itu. Dia lebih memilih main aman karena ia tak punya orang tua yang akan mendukungnya.


Yah, dari dulu memang ia berusaha menghindar dari pada melawan. Pernah sekali ia melawan Celina ketika itu dari pagi hingga pulang sekolah kakak kelasnya itu tak pernah berhenti mengusik nya. Puncaknya ia sangat kesal karena roda sepedanya mereka lepas dan mereka simpan di tempat yang berbeda hingga Ayesha kesulitan mencari benda itu. Karena kesal Ayesha pun berani membentak dan sedikit menarik rambut Celina serta tamparan di wajah mulusnya. Tapi keesokan harinya ia di panggil ke ruang BK entah apa yang mereka adukan hingga Ayesha menerima hukuman untuk membersihkan perpustakaan sekolah selama satu minggu.


Di lain kesempatan kembali Celina and the geng nya menjahili Ayesha, tak tinggal diam Ayesha pun kembali melawan dengan sedikit meninggalkan cap lima jarinya pada kedua pipi mulus mereka. Tapi lagi-lagi Ayesha yang mendapat hukuman. Ayah Ardi sangat marah ketika tau Ayesha berbuat ulah dan ayah Ardi mendapat beberapa kali teguran dari pihak sekolah. Karena itu Ayesha berusaha untuk tak melawan.


"Kalian mau apa lagi sih?" ucap Ayesha kesal karena pekerjaan yang seharusnya sudah selesai justru mereka tambah.


"mau apa ya? yah seperti biasa,apalagi?" ucap Celina kemudian menarik rambut gadis malang itu dan membawanya ke salah satu kamar mandi berniat untuk membenamkan kepala Ayesha tapi, belum sempat sampai di ember yang penuh dengan air Celina justru lebih dulu jatuh karena terpleset genangan air. Alhasil karena dia sedang memegang rambut Ayesha ketika jatuh Ayesha justru ikut jatuh dan menimpa celina.

__ADS_1


Teman-teman Celina tak tinggal diam ia juga membantu merundung Ayesha tapi belum sempat menjangkau Ayesha dia justru sudah lebih dulu terjatuh karena tidak sengaja menginjak pembersih lantai yang tumpah.


"Aduuuuhhh" Teriaknya.


Akhirnya niat hati ingin mengerjai Ayesha justru mereka yang kena batunya. Karena malu dan pakaian mereka juga sudah acak-acakan mereka pun pergi meninggalkan Ayesha sendiri di sana. Tapi bukan berarti itu sudah berakhir karena beberapa waktu setelah mereka keluar dia di beritahukan salah satu siswi jika dia di panggil oleh pak Yogi.


"Huft... kena lagi ini mah, kan mereka jatuh sendiri kenapa pake ngadu segala sih, dasar nenek lampir!!"


"Pasti kena hukuman lagi ini mah"


"Dasar serigala serigala berbulu embe"


Sepanjang jalan ia terus menggerutu, mengumpat ketiga Kakak kelas sok kecantikan itu.


Tok..tok..tok..


Ayesha kini sudah sampai di ruangan pak Yogi, dia dalam ternyata ada tiga nenek lampir itu, sudah Ayesha tebak pasti mereka mengadu yang bukan bukan.


"Ada apa ya pa?" Tanya Ayesha basa basi ketika ia sudah di persilahkan duduk.


"Ada apa? kamu ngga liat ada siapa di sini?" ujar pak Yogi.


"Ah tau pak tapi kan bukan saya yang salah mereka jatuh sendiri" Belanya.


"Bohong pak sudah jelas-jelas dia sengaja, dia juga narik-narik rambut saya," ucap Celina.


Ayesha malas sekali berdebat masalah ini karena sekalipun dia berkata jujur pasti dia tetap akan di hukum jadi dari pada buang-buang tenaga lebih baik menyimpannya untuk nanti.


"Ayesha, kamu kan lagi jalanin hukuman tapi kenapa kamu buat ulah?apa masih kurang?"


"Maaf pak"


"Setelah semua toilet bersih, kamu lanjut lari keliling lapangan 30 kali"


"Huft kena lagi" gumam Ayesha dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2