
Anisha membawa Ayesha dan juga Darren ke ruang kerja ayahnya. Kemudian ia memberikan sebuah map yang dulu tak sengaja ia baca juga secarik kertas yang di tinggalkan ayahnya.
Melihat itu entah kenapa Ayesha menjadi was-was. Perasaanya mendadak merasa tak nyaman. Ayesha menatap bingung dua kertas yang baru saja di sodorkan kakaknya, Anisha yang mengerti tatapan Ayesha mengisyaratkan adiknya itu dengan lirikan matanya untuk membaca sendiri apa yang ada di sana.
Ayesha membuka secarik kertas terlebih dahulu. Perlahan dia membuka kertas tersebut dan membacanya dengan hati-hati.
...Dear Anak ku......
...Tiada kata yang bisa melukiskan betapa besar sayang ayah pada kalian. Percaya lah bagaimana pun sikap ayah, ayah tetap menyayangi kalian....
...Anisha.....
...Jika suatu hari nanti ayah tak lagi pulang ke rumah dan tak memberi kabar, jangan cari ayah......
...Karena.. saat ini ayah sedang menebus semua dosa yang sudah ayah berikan untuk anak-anak ayah......
...Jangan bersedih!!, ayah pun menyayangimu lebih dari yang kamu bayangkan. Tapi nak, ayah harus melakukan ini kau tau apa yang terjadi bukan? Tolong bersikap lah biasa saja di depan adik mu. Ayah tak ingin melukainya lebih dalam lagi biarlah ayah menggantikannya di sini. Menebus semua yang sudah ayah lakukan padanya, padamu, pada keluarga kita.....
...Ayah menyayangi kalian......
...Love you kids.....
Air mata Ayesha tumpah usai membaca isi surat tersebut. Surat dari ayahnya yang entah kenapa terkesan seperti perpisahan.
"Apa ini Na? Kenapa isinya seperti ini? Dimana ayah?" Tanya Ayesha bertubi-tubi.
"Lo baca juga isi map itu, lo akan tau jawabannya" ujar Anisha. Dia tak sanggup jika harus memberi tahukan adiknya secara langsung karena itu ia membawanya ke sana.
Perlahan Ayesha beralih membaca isi map itu. Air matanya mengalir lebih deras ketika telah selesai membacanya. Di remasnya kuat map itu ia mengerang tangis.
Ayahnya tak benar-benar membencinya. Ini hanya persoalan janji tapi kenapa harus berakhir seperti ini. Perasaan Ayesha memburuk ia teringat kembali mimpinya jangan-jangan laki-laki itu benar ayahnya. Jika itu benar sungguh membayangkannya saja Ayesha tidak sanggup.
"Ini belum terlambat" ucap Darren memberi Ayesha semangat. Ia tidak sanggup melihat Ayesha yang terpuruk seperti itu. Walaupun Darren belum pernah merasakan kehilangan tapi dia tidak mau menyerah dan pasrah pada keadaan. ia mencoba memberi semangat pada Ayesha dan Anisha.
__ADS_1
Darren mungkin pernah kehilangan orang tuanya tapi itu dulu ketika ia masih kecil saat dirinya belum mengerti apa pun. Tapi si kembar di depannya? Mereka menerima kenyataan pahit di saat mereka telah banyak melukiskan kenangan-kenangan bersama. Bahwa ayahnya sekarang bukan lagi milik mereka walaupun hanya terpaut jarak.
Ini mungkin yang terbaik untuk Ayesha tapi belum tentu ini baik untuk mereka. Harusnya Ayah Ardi tidak bertindak sendirian.
Kini ayah Ardi menggantikan Ayesha menjadi sanderaan para manusia-manusia kejam di dunia bawah. Tidak tau apa yang akan di lakukan mereka kerena ayah Ardi telah mengingkari janji yang telah di sepakati sebelumnya. Tidak tau ayah Ardi masih bernafas atau justru sudah pergi selama-lamanya karena kekejaman mereka yang Darren tau ia hanya ingin membuat si kembar kembali bersemangat setidaknya jika ayah Ardi sudah tidak lagi bernafas mereka harus melihat jasadnya untuk terakhir kali.
"Apa maksud lo?" Tanya Anisha saat dia sudah menenangkan perasaanya.
"Gue rasa ngga ada salahnya kan kalo kita nyari bokap kalian? Setidaknya kita bisa melihat sendiri bagaimana keadaanya. Apa kalian bakalan pasrah gitu aja? Kalian pikir dengan kalian diam saja seperti ini mereka akan berhenti? Percaya lah mereka adalah penjahat kejam. Mereka bahkan bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Kalau hanya menemukan Ayesha untuk mereka itu adalah hal yang mudah. Lalu kalian akan diam saja ketika bokap kalian sudah lebih dulu mengibarkan bendera perang?" Tutur Darren panjang lebar mencoba memberikan mereka semangat. Setidaknya mereka harus berjuang lebih dulu kan.
Dan apa yang di ucapkan Darren itu adalah benar. Para penjahat itu tidak akan tinggal diam bahkan kini perusahan ayah Ardi sedang dalam masalah besar. Walau sudah di antisipasi nyatanya pertahanan perusahaannya masih kurang apalagi tengah terjadi kekosongan pemimpin. Kini perusahan itu mengalami kerugian besar.
Beruntung om Raymond yang memang menjadi salah satu pemegang saham di sana mengambil alih kendali hingga perusahaan itu tak gulung tikar.
Tidak sampai di situ tanpa Ayesha dan Anisha sadari sang nenek lebih dulu menjadi tawanan mereka dan hal ini hanya diketahui oleh ayah Ardi.
"Gue bakal bantuin kalian, percaya lah kita belum kalah. Yang mereka inginkan itu Ayesha maka mereka tidak akan berhenti sebelum apa yang mereka inginkan tercapai.
"Kalo gitu ayo, gue bakal hajar mereka semua!!! Gue akan meratakan mereka beserta markasnya juga! Gue benci!! Kenapa keluarga gue harus kayak gini? Kenapa ayah harus berurusan dengan orang kaya mereka?. Kenapa ayah ngga biarin aja gue yang di sana? Huhuhuhu!!!" Teriak Ayesha sekuat tenaga.
Melihat itu Darren segera menarik Ayesha ke dalam pelukannya mencoba menenangkan Ayesha yang tengah emosi. Dia ikut merasakan kesedian dari si kembar.
"Tenangkan dirimu Ay, kita pasti akan cari jalan keluarnya tapi ngga saat keadaan kalian kaya gini. Masalah ini harus di atasi dengan kepala dingin. Kita ngga boleh gegabah" tutur Darren.
Ayesha terisak dalam dekapan Darren. Untuk saat ini dia hanya butuh ketenangan. Anisha yang melihat bagaiman adiknya itu tenang dalam dekapan orang lain merasa sesak untuk pertama kalinya Ayesha tak mencari dia di saat keterpurukannya.
Tapi, apakah pantas hal itu di pertanyakan saat ini? Tentu saja tidak Anisha tidak akan egois ia membiarkan mereka. Tapi bukankah tidak hanya Ayesha yang tengah hancur Anisha pun sama hancurnya.
"Kak" sapa Ayesha membuyarkan perang batinnya.
Ayesha mendekat dan memeluk Anisha dengan erat. Mereka merasakan kesedihan yang sama. Tapi sekali lagi ini belum berakhir.
Ketika mereka sudah tenang, ketiganya beriringan menuju kantor Rasya karena di saat seperti ini hanya Rasya yang bisa membantu mereka.
__ADS_1
Kedatangan ketiganya tentu menjadi pusat perhatian para karyawan di sana. Siapa yang tidak tahu dengan Darren putra kedua dari keluarga terpandang sekaligus adik dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Tapi, tidak biasanya Darren datang langsung. Pemuda itu akan menampakan batang hidungnya jika ada acara-acara besar perusahaan saja wajar bila para karyawan banyak yang kepo.
Ketiga nya sudah sampai di depan ruangan Rasya. Darren tentu saja tidak perlu meminta izin pada sekertaris kakaknya untuk dapat menemui Rasya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Darren masuk ke ruangan itu di ikuti si kembar di belakangnya. Rasya terkejut melihat kedatangan adiknya tiba-tiba apalagi membawa dua wanita sekaligus.
"Darren?"
"Kakak harus bantu kita, kak" ucap Darren to the poin
"Bantu apa?" Tanya Rasya bingung.
Darren pun menceritakan semua yang di alami si kembar juga tujuan untuk membebaskan ayah Ardi. Rasya tercengang mendengarkan cerita Darren tentang masalah si kembar tapi ia juga bersedia membantu.
Untuk langkah pertama mereka harus mengetahui terlebih dahulu siapa musuh yang akan mereka hadapi. Untuk masalah itu Rasya sudah mengirimkan orang kepercayaan nya menyelidiki hal ini.
Selanjutnya akan di butuhkan banyak bantuan untuk nantinya melumpuhkan musuh. Karena informasinya sangat minim apalagi musuh yang memang seorang penjahat kelas kakap tentu ini bukan lah hal yang mudah. Dengan terpaksa mereka harus menunggu instruksi selanjutnya dari Rasya.
Darren mengantar si kembar kembali ke kediaman Herlambang untuk beristirahat dan mempersiapkan diri mereka sementara Darren sendiri tengah mengumpulkan bala bantuan untuk misi penyelamatan ini.
.
.
.
Bersambung...
...****************...
Yuk, jangan lupa buat like n komen cerita receh aku ini...
Happy reading all..
__ADS_1