
Hari telah berganti seperti perkiraan Rasya hari ini dia telah mendapatkan informasi akurat tentang musuh. Rasya memanggil Darren dan juga si kembar ke kediamannya guna membahas perihal ini.
Dari infomasi yang di dapatkannya ini orang yang sudah menyandra ayah si kembar itu bernama Jaelani tapi mulai dari sini kita panggil dia Tuan Jay saja supaya lebih mudah.
Tuan Jay merupakan penjahat kelas kakap yang ternyata juga menjadi incaran kepolisian dunia. Sedikit riwayat tentang tuan Jay ini sudah di tulis di bab awal jadi kita bahas sisanya saja ya...
Tuan Jay ternyata sudah banyak menyusahkan masyarakat bukan hanya di negara ini saja melainkan juga di luar negri. Dia melakukan peradangan manusia, dia juga penjual senjata-senjata ilegal, menjual obat-obatan terlarang tak jarang juga dia memperdagangkan organ dalam manusia secara ilegal itu sebabnya ia dengan mudah bisa menemukan donor jantung untuk Ayah Ardi yang justru menjadi malapetaka untuk keluarganya. Profesi rentenir yang ia geluti itu semua hanya kedok untuk menutupi kekejamannya.
Tuan Jay juga bergabung di suatu organisasi Mafia namun akhirnya bisa menduduki posisi ketua. Bukan organisasi yang besar memang tapi cukup merepotkan. Masih banyak lagi kekejaman yang ia lakukan itu hanya sebagian kecilnya saja.
Ketiganya tercengang mendengar penjelasan dari Rasya. Mereka tidak menyangka ternyata musuhnya itu cukup kuat, mereka pikir orang itu adalah salah satu pesaing bisnis ayahnya.
"Karena itu kita harus mempersiapkan hal ini secara matang. Kita tidak boleh gegabah menyangkut ada dua nyawa yang harus kita selamatkan" Tutur Rasya mengakhiri penjelasannya.
Ayesha, Darren dan Anisha mengernyit yang mereka tau mereka hanya akan menyelamatkan Ayah Ardi saja lantas mengapa korbannya menjadi dua?
"Dua nyawa?" Tanya ketiganya bersama.
"Iya, kalian tidak tau?" Mendengar pertanyaan Rasya mereka semakin di buat bingung.
"Nenek kalian pun mereka sandra bahkan jauh sebelum Tuan Herlambang menyerahkan diri" Tukas Rasya membuat si kembar terkejut bukan main.
"APA!!!!"
Memang betul neneknya itu sudah lebih dari satu minggu ini sulit di hubungi tapi mereka tidak menyangka ternyata nenek yang mereka sayangi juga menjadi korban.
Keduanya panik, sibuk menyalahkan orang-orang di rumah sang nenek yang sudah menutupi kenyataan sebesar ini. Beruntung mereka dapat kembali tenang setelah mendengar janji Rasya yang akan menyelamatkan mereka.
"Tenang lah!!! semua sudah terjadi percuma jika kalian menyalahkan mereka kenyataanya baik Nenek maupun Ayah kalian tidak akan kembali jika kalian hanya berdiam diri di sini sibuk dengan melampiaskan amarah pada orang-orang yang mungkin juga tidak tau apa-apa" Ucap Rasya.
"Lalu kita harus bagaimana kak? apa mereka akan baik-baik saja?" tutur Anisha cemas.
__ADS_1
"Oke, jadi begini. Pertama kita harus mengumpulkan bala bantuan yang jumlah nya tidak sedikit karena kakak yakin pertumpahan darah tidak mungkin bisa di hindari di sini. Kakak sudah menghubungi teman kakak yang ada di anggota SWAT untuk ikut bergabung. Mengingat mereka adalah penjahat akan lebih baik jika di urus oleh pihak yang berwajib"
"Selanjutnya kita persiapkan diri menyerang sebelum di serang. Sebelumnya kalian yakin akan ikut? Apa kalian bisa melindungi diri sendiri, minimal? Kakak ngga mau ngambil resiko" Tanya Rasya pada si kembar. Untuk Darren dia tidak perlu bertanya dia tau sendiri bagaiman kemampuan adiknya itu dalam bela diri.
"Yakin!!!, sangat yakin kak" Jawab mereka mantab. Untuk Anisha dia mungkin tidak bisa membantu tapi ia tidak ingin hanya tinggal diam saja di rumah paling tidak dia ingin melihat meskipun dari jarak yang jauh itu lebih membuatnya tenang.
"Baiklah. Malam nanti kita akan mulai misi ini. Kakak harap tidak akan ada korban jiwa nantinya. Semangat!!!" Pekik Rasya menggebu. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera menghabisi para penjahat itu.
Mereka kini membubarkan diri dari kediaman Darren. Si kembar ingin memberitahu om Ray juga Rezky tentang hal ini. Mereka juga akan turun tangan karena Ardi juga telah mereka anggap sebagai keluarga.
Malam harinya..
Orang-orang berpakaian serba hitam yang juga di lengkapi dengan senjata berupa dua buah pistol dan dua pisau lipat. Mereka juga di berikan alat komunikasi mirip earphone di telinga kanan. Mereka berkumpul di lokasi yang sudah di tentukan oleh Rasya. Tempat itu tak jauh dari markas para penjahat.
Beberapa orang mengintai tempat tersebut dengan menggunakan teropong mengamati situasi di tempat musuh. Mereka adalah para penembak jitu dari kesatuan kepolisian SWAT. Mereka akan menyerang dari arak jauh menggunakan senapan Arctic Warfare Magnum (AWM) yang mempunyai jarak tembak hingga 1,500 m. Alat ini juga dilengkapi dengan pereda suara agar musuh tidak bisa memprediksi dimana keberadaan mereka.
Anisha terlihat sangat gugup. Tak pernah terbayangkan jika ia akan mengalami hal ini. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan kekerasan yang kemungkinan akan merenggut nyawa. Ayesha yang menyadari itu menggenggam tangan Anisha yang terasa dingin menenangkan kakaknya itu juga meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
"Lo ngomong apa sih? Semuanya akan baik-baik saja. Setelah badai ini berlalu keluarga kita akan hidup bahagia seperti dulu. Lo harus janji itu" Ucap Anisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ayesha tersenyum, tapi percayalah senyuman itu terasa berbeda dari biasanya. Menenangkan tapi seperti terdapat keraguan di sana. Sulit di jelaskan.
"Gue akan berusaha. Lo juga haru janji setelah ini lo harus jaga Ayah baik-baik jangan biarin ayah ngelakuin hal bod*h kaya gini lagi" Ucap Ayesha menyisakan pertanyaan di benak Anisha.
Anisha hendak bertanya tapi beberapa orang memberitahukan jika mereka akan segera menyerang.
Di mulai dari anak buah Darren, Rezky juga om Ray yang di pimpin oleh Baron untuk menyerang terlebih dahulu dengan tujuan dapat membuat lengah para musuh. Tim kedua di pimpin langsung oleh Rasya, mereka membuka jalan untuk Ayesha, Darren, Rezky dan para anggota SWAT untuk menyelamatkan Ayah Ardi dan juga sang nenek. Tim terakhir di pimpin langsung oleh om Ray bertugas untuk menyerang jika anggota yang lain terdesak. Sedangkan para Sniper akan membantu tugas dari tim om Ray.
Anisha tidak henti hentinya berdoa ketika terdengar bunyi letusan dan tembakan yang menggema di langit malam.
Peperangan yang di lakukan secara mendadak oleh kubu Rasya dan yang lainnya membuat musuh kocar kacir. Apa lagi di jam dini hari seperti ini banyak dari para musuh yang tengah beristirahat. Belum adanya persiapan membuat mereka terdesak. Jalan masuk pun terbuka Tim kedua tidak menyianyiakan kesempatan untuk menerobos masuk.
__ADS_1
Seperti yang sudah di duga ternyata di dalam sana ada banyak musuh yang sudah menunggu. Ternyata mereka pun membuat pertahanan berlapis. Anggota mereka lebih banyak dari dugaan mau tidak mau mereka pun berkelahi di sana.
Ayesha menembak orang-orang yang dekat dengannya. Walaupun dia tidak pernah memegang senjata api itu tapi latihannya kemarin cukup membantu. Beberapa kali ia meleset tapi bukan berarti ia tidak bisa.
Darren dengan mudah bisa menjatuhkan musuh yang menghadang begitu juga dengan Rezky menggunakan alat yang sama dengan Ayesha.
Ketiganya mengitari ruangan itu mencari keberadaan ayah juga nenek si kembar. Untuk melumpuhkan musuh mereka mempercayakan kepada anggota kepolisian. Fokus utama mereka adalah menyelamatkan Ayah Ardi dan juga sang nenek.
Puas mengitari seluruh ruangan ternyata mereka belum bisa menemukan yang mereka cari. Hingga tiba dimana Ayesha melihat satu pintu yang ternyata mengarah ke ruang bawah tanah. Mereka menemukan seorang wanita yang terkapar di sebuah penjara di sana.
"Itu...apa itu?" ujar Ayesha yang perasaanya sudah tidak menentu.
"Kita buka semoga itu bukan nenek" ujar Rezky.
Pintu sel terbuka dan itu bukan sang nenek membuat Ayesha sedikit lega tapi hal itu tidak berlangsung lama.
"Ay!!!!" Pekik Darren yang dari sudut penjara bawah tanah itu.
"Ada ap-" Ayesha tidak bisa melanjutkan kata-katanya mulutnya menganga tak percaya, air matanya mengalir deras, dan lututnya terasa lemas seperti kehilangan tenaga hingga ia ambruk di atas tanah saat melihat sosok yang ia cari sedang berdiri dalam keadaan di ikat pada sebuah tiang yang tinggi. Tiap bagian tubuh itu memar dan membiru, darah mengalir dari setiap bagian tubuhnya.
.
.
.
Bersambung...
...****************...
Readers jangan lupa Like n komennya ya..
__ADS_1
Happy reading all...