Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Pantai


__ADS_3

Beberapa hari berlalu tak terasa hampir dua bulan Ayesha pergi dari rumah yang selama 16 tahun ia tempati.


Di sini, di dalam mobil tak jauh dari rumah penuh dengan kenangan kini ia berada. Melihat dari kejauhan gerbang tinggi menjulang tempat dulu Ayesha kecil sering memanjatnya.


Halaman luas penuh bunga berwarna warni dimana dulu mamahnya begitu telaten merawat bunga-bunga kesayangannya itu.


Garasi tempat biasa ayahnya mengisi akhir pekan dengan mengotak atik mesin motor atau mobilnya membuat mamah Dinda berkacak pinggang sembari memarahi ayahnya karena hobinya itu membuat kendaraan-kendaraannya harus berada di bengkel.


Di halaman itu pula ia sering lari di kejar kakaknya yang kesal karena ia selalu menggoda sang kakak.


Sosok ibu yang penyayang serata sabar selalu tersenyum teduh pada ayah, kakak, dan dirinya. Ayah yang melindunginya, menjaga serta menyayanginya. Kakak yang selalu khawatir jika ia terluka. Tapi, kini semuanya telah berubah.


Mamah Dinda yang menyayangi keluarganya pergi untuk selama lamanya membawa serta kebahagian dan kehangatan keluarganya. Ayah Ardi tak lagi sama.


Tak lagi melindunginya melainkan kini selalu menorehkan luka. Luka yang bahkan belum sempat mengering harus lagi dan lagi ia torehkan. tak lagi menjaganya melainkan mendorongnya pada kesedihan tak berkesudahan.


Ayesha menghembuskan nafasnya kasar mengingat kembali kenangan yang masih ia ingat dengan jelas.


Disampingnya, Darren memperhatikan gadis itu dan menanyakan keadaanya seperti biasa Ayesha selalu ingin terlihat baik-baik saja didepan orang lain.


Tak ingin mendapatkan belas kasihan dari orang lain tentang takdirnya yang miris, ia menutupi itu dengan senyum yang tak pernah surut di wajahnya di hadapan orang-orang.


Tapi, Darren tak bisa di bohongi selebar apa pun senyuman yang selalu Ayesha berikan dari matanya ia tau bahwa ada luka yang teramat dalam di hati Ayesha.


Tadi pagi entah ada apa tiba-tiba Ayesha memohon untuk melihat keadaan rumahnya. Rumah tempatnya di besarkan. Jadilah disini mereka berada. Di sebrang jalan depan rumahnya.


Cukup lama mereka di sana dan Ayesha tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari bangunan tersebut. Terlihat ia sangat merindukan bagaimana ia dulu di sana tapi tak berani untuk kesana.


Mobil mulai melaju perlahan dan meninggalkan tempat itu. Kini, tujuan mereka beralih pada pantai terdekat dari tempat mereka tinggal.


Sedangkan di dalam bangunan yang sedari tadi mereka amati, Anisha tengah termenung di kamarnya. Sejak hari itu, hari dimana ia tau semuanya tentang masa lalu sang ayah Anisha menjadi anak yang lebih pendiam. Ia bingung harus melakukan apa.


Terlalu kecil dan lemah untuk mengatasi masalah yang di hadapi ayah dan adiknya membuatnya tak berdaya. Jika bisa ia meminta ingin ia menukar dirinya dan sang adik. Sudah cukup selama ini Ayesha selalu mendapatkan perlakuan tak adil di tambah jika ia tau kebenarannya entah bagaimana perasaan gadis itu nantinya.


Entahlah ia tak bisa berfikir dengan jernih, bingung langkah apa yang hendak ia tempuh akankah ia tetap diam atau justru ikut membantu jika ayahnya memang mengizinkan? biar waktu yang nanti menjawabnya.

__ADS_1


Beralih ke tempat dimana kini Ayesha dan Darren tengah duduk di atas pasir putih memandangi luasnya lautan di hadapannya. Menghitung tiap ombak yang datang membawa ketenangan di dalam benak Ayesha.


Pemandangan yang sungguh indah di sore yang cerah terbentang di hadapan mereka menyaksikan sang surya perlahan menghilang bak di telan samudra.


Ayesha menghirup udara sore yang mulai menggelap merasakan angin yang menerpanya lembut membuat helaian rambutnya tampak bergoyang.


Di bawah langit senja entah kenapa Darren melihat gadis di sampingnya terlihat cantik membuat pandangannya enggan lepas dari sosok Ayesha, hingga tanpa ia sadari di dalam sana jantungnya terus berdetak dengan kencang seolah ingin keluar dari tempatnya.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengintai mereka menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencana yang telah di susun matang.


"hem..langit sudah berubah warna angin juga sudah semakin dingin, sebaiknya kita pulang sekarang" ujar Darren datar mencoba menormal kan debaran jantungnya.


"Baiklah" Tanpa banyak protes mereka kini mulai beranjak.


Di dalam perjalanan tak ada obrolan sedari tadi perasaan yang tak menentu membuat Ayesha enggan membuka suara sekedar berbasa basi sedangkan Darren merasa tak enak hati takut menyinggung perasaan gadis itu.


Tak tahan dengan keadaan yang membuatnya canggung Darren akhirnya buka suara.


"hem.." niat hati ingin menanyakan apakah asistennya lapar? mau makan dimana? kamu yang pilih? dan sebagainya tapi apalah daya semua kata-kata itu hanya ada di benaknya tanpa bisa ia utarakan alhasil hanya deheman yang sanggup ia keluarkan.


"hem" sekali lagi Darren mencoba mencairkan suasana yang terasa mencekam tapi masih saja tak ada respon dari gadis itu.


"Hem..hem"


akhirnya karena merasa risih Ayesha pun menanyakan maksud bosnya dari tadi hanya ham hem an saja.


"Apa sih? batuk pa aji makan biji kedondong dulu sana" ucap Ayesha.


Akhirnya pancingannya berhasil membuat gadis di sampingnya membuka suara yang sedari tadi di rindukan Darren. Eh sepertinya terlalu cepat bila di sebut rindu sedangkan Ayesha tampak acuh padanya atau ini namanya rindu bertepuk sebelah tangan? entahlah.


"gue laper bukan batuk, tunjuk mana yang menurut lo enak" ujar Darren.


Tumben? tak biasanya Darren meminta Ayesha memilihkan tempat makan, mencurigakan. kira-kira seperti itulah kini yang ada di benak gadis cantik itu.


"lo yakin?" tanya Ayesha terlihat ragu dengan apa yang baru saja Darren sebutkan. Mengingat beberapa kali mereka makan tapi selera keduanya seperti tak bisa di satukan agak aneh kini Darren justru mengikuti apa kemauan Ayesha.

__ADS_1


"Ya, cepetan sebelum gue berubah pikiran" singkat pemuda itu.


Beberapa kali putaran, tak juga Ayesha menghentikannya. Hingga protes pun di layangkan Darren karena melihat gelagat aneh yang Ayesha tunjukan. Sepertinya Ayesha sengaja hanya berputar-putar untuk membuat cacing di perut pemuda itu bertambah demo di dalam sana, jadi ketika Ayesha akan menikmati makanannya nanti ia tak akan pusing mendengar protes yang selalu di lontarkan Darren.


Setelah dirasa cukup lelah akhirnya pilihan Ayesha jatuh pada sebuah rumah makan sederhana yang menyajikan aneka masakan khas padang. Melihat itu tentu saja Darren ingin sekali menghajar gadis di sampingnya jika saja ia bukan perempuan. Bagaimana tida tempat itu sudah mereka lewati lebih dari delapan kali.


Ayesha hanya terkikik melihat wajah kesal Darren bibirnya terus saja menggerutu tapi sama sekali tak terdengar.


"Kenapa itu bibir komat kamit, lagi ngusir setan?" Tanya Ayesha sok polos padahal ia tau jelas kenapa pemuda yang kini sudah duduk di depannya terus saja menggerakkan bibirnya.


"iya. Pergi lah kau setan, syuh..syuh" ujar Darren sembari mencipratkan air kobokan di depannya pada Ayesha.


"Ish apa an sih lo, jorok ih" Ayesha protes karena cipratan itu mengenai mukanya.


"Itu di kepala lo banyak setannya harus di bersihkan" ucap Darren masih saja mencipratkan air kobokan itu sambil tertawa.


"Makan nih setan!!" ujar Ayesha ketus sembari memasukan potongan jeruk nipis yang ada di air kobokannya pada mulut Darren yang masih terbuka karena tertawa.


"pih..pih..pih AYESHA!!!" reflek Darren melepehkan potongan jeruk nipis itu dan mengelap kasar lidahnya dengan tisu.


Melihat hal itu membuat Ayesha tertawa terbahak karena berhasil membalas Darren.


Perseteruan keduanya terhenti karena hidangan yang di pesan sudah memenuhi meja mereka. Keduanya kini menikmati makan malamnya dengan tenang walaupun sesekali Darren melirik Ayesha dari balik bulu matanya dengan tatapan yang tajam masih kesal agaknya.


.


.


.


Bersambung...


...****************...


Like, like, like jangan lupa yah pemirsah

__ADS_1


__ADS_2