Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Hampir saja


__ADS_3

Di tempat lain tepatnya di sebuah ruang kerja rumahnya, seorang pria tengah duduk dengan gelisah tangan kanan nya memegang sebuah kalender dan tangan kirinya ia ketuk-ketukan ke meja kerjanya. Ia melihat dengan tegang angka-angka yang ada di kertas putih itu.


Sudah beberapa minggu ini ayah Ardi makan dengan tak teratur jarang menghabiskan makanan yang ada di piringnya, ia pun kurang tidur hingga lingkar hitam di sekitaran mata dan kerutan kerutan halus di wajahnya juga semakin terlihat jelas di wajahnya. Sungguh ia terlihat sangat tertekan.


Hari sudah semakin dekat tapi ia belum bisa menemukan solusi atas permasalahannya. Belum lagi ia yang selalu di teror untuk menepati janjinya nanti membuatnya semakin tertekan.


Ayah Ardi mengacak rambutnya frustasi. Betapa bodoh nya dia yang mau menandatangani perjanjian terkutuk itu. Jika saja dulu dia bisa ikhlas menerima takdirnya tak menghalal kan segala cara seperti saat itu mungkin hidupnya akan tenang walau pun tanpa istri tercinta di sampingnya.


Setiap orang pasti menginginkan kebahagian dan keutuhan keluarganya tak terkecuali Ardi, ia pun menginginkannya tapi ternyata takdir berkata lain. Tuhan ternyata lebih sayang istrinya dan dengan bodohnya ia menyetujui pertukaran antara nyawa istrinya dan juga putrinya. Kini disaat ia seharusnya bisa membuat kebahagian untuk anak-anaknya justru ia lah yang menyebabkan kesedihan untuk putrinya.


Anisha memperhatikan ayahnya dengan pandangan sedih. Ia sedih melihat ayahnya seperti ini tapi ia juga bingung apa yang harus di lakukan.


Anisha memberanikan diri menghampiri ayahnya. Mencoba untuk menghiburnya.


"Ayah" sapanya.


Merasa ada yang memanggilnya Ayah Ardi mendongakan kepalanya melihat siapa yang menyapanya.


"Iya sayang, kenapa?" Ucapnya mencoba tersenyum walau perasaan nya tak menentu.


"Apa ayah merindukan Yesha?"


Ayah Ardi tersentak, jauh di lubuk hatinya ia pun amat merindukan anaknya. Anak yang selama ini membuatnya bangga tapi tak bisa ia ungkapkan. Kesalahannya pada anak itu sangat besar membuatnya sungkan.


"Kalau ayah merindukannya ayo ikut Anisha. Kita temui Yesha" ujar Anisha.


"Tidak" singkatnya sungguh bertolak dengan apa yang ada di hatinya.


"Yah, Anisha tau semuanya. Tapi, apa tak sebaiknya ayah buatlah kenangan yang indah berama Ayesha? Setidaknya sebelum hari itu terjadi dan ayah kehilangan kesempatan itu untuk selamanya"


Lagi Ayah Ardi kembali tersentak, ia tak menyangka rahasia yang selama ini ia tutupi akhirnya terbongkar juga.


"Nenek hari itu menceritakan semuanya yah, jadi Ayah tidak perlu repot-repot untuk mengelak dari Anisha"


Ayah Ardi menghela nafasnya kasar. Ternyata ini semua karena ibunya. Apa lagi yang mau dia sembunyikan jika ibunya pun sudah mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Ayah, apa perjanjian itu tidak bisa di batalkan atau paling tidak di rubah sedikit? Jujur Anisha sangat kecewa dengan keputusan ayah" ujar Anisha yang kembali di acuhkan ayahnya.


Ayah Ardi tak menjawab pertanyaan anaknya karena ia tak mau melibatkan siapa pun dalam masalahnya apalagi itu putrinya. Anisha yang paham jika Ayah nya tak ingin di menjawab kemudian memutuskan untuk keluar dari ruangan itu setelah ayahnya memberikannya izin untuk keluar rumah. Kini tinggal lah Ayah Ardi sendiri yang masih termenung.


Di kediaman Rezky, Ayesha tengah berjalan mondar mandir di depan Darren menunggu dengan tak sabar kakak abal abalnya itu kembali. sedangkan Darren sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ayesha yang membuat kepalanya tiba-tiba berputar.


"Ah, asisten lo bisa duduk diam gak sih? Gue pusing dari tadi liatin lo mondar-mandir" gerutu Darren


"Berisik!!!" Sentak Ayesha membuat Darren terkesiap.


"Biasa aja kali ngga usah teriak teriak lo kira ni hutan"


"Ah!!! Lagian kemana sih kak Rez ini tuh dah lama banget dia belum balik-balik juga, dia pasti mau kabur. Ah!!!" Teriak Ayesha frustasi.


"Lo kalo kayak gini bikin gue merinding, Sis"


Ayesha yang tadi sedang mengacak-acak rambutnya pun menoleh ke arah Darren mendengar dia menyebut Sis?


"Apa itu? Siapa Sis?"


"Elo lah, lo kan sisten, alias asisten"


Keduanya kembali terdiam. Satu menit, sepuluh menit hingga satu jam mereka menunggu tapi yang di tunggu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Darren mulai kesal sudah lima cangkir kopi lass sugar ia tenggak habis tapi Rezky tak kunjung pulang.


Kantuk mulai menyerang Ayesha, karena tubuhnya kembali menggigil tak lama kemudian ia pun terlelap.


"Ah elah malah ngorok lagi nih anak. sekarang gue sendirian. nih mata ngga mau merem lagi gara-gara kebanyakan kopi, pfttt" gumam Darren.


"lo selalu terlihat cantik kalo lagi tidur, Asisten" gumam Darren pelan.


Darren kemudian beranjak dari duduknya menghampiri asisten kesayangannya yang tengah terlelap. Ia masih ragu antara akan memindahkan tubuh gadis itu atau memandangi keindahan ciptaan Tuhan itu.


Semakin intens ia menatap pahatan sempurna di wajah Ayesha tak terasa tangannya sudah terulur untuk membenarkan anak rambut yang sedikit berantakan. Tangan nya terhenti kala ia menyentuh pipi mulus asistennya itu. Seolah sedang terhipnotis tak di rasa tangannya semakin nakal menyentuh bibir tipis kemerahan milik Ayesha.


"Benda ini yang setiap hari selalu bikin gue lupa segalanya" gumam Darren masih dengan tangan yang mengelus lembut bibir kemerahan Ayesha.

__ADS_1


Sedangkan sang empunya sama sekali tak terganggu dengan apa yang tengah di lakukan Darren.


Seolah lupa saat ini mereka tengah ada di mana, perlahan Darren mulai mendekatkan bibirnya pada bibir yang selalu menggoda imannya itu. Perlahan tapi pasti ia mulai mengikis jarak, semakin dekat ia pun memejamkan matanya mencoba meresapi apa yang akan ia gapai, sedikit lagi tapi tiba-tiba..


"Aden" sapa bi mei


Darren terlonjak kaget, hampir saja ia terjungkal karena mendengar sapaan bibi mei itu. Ia merasakan jantungnya berhenti sekejap sebelum akhirnya ia berdetak sangat cepat. Badannya menjadi panas dingin tak menentu dan sudah pasti wajahnya memucat untuk sesaat.


"Astaga!!! bibi bisa tidak jangan bikin saya kaget kaya gitu?" ujar Darren begitu ia bisa menormalkan kembali detak jantung dan suhu tubuhnya.


"Hehe maaf den, bibi cuma mau bilang ini udah hampir pagi, apa tak sebaiknya aden istirahat atau masih mau nambah kopi?" Tanya bi Mei ramah, padahal ia sengaja menganggu apa yang akan Darren lakukan pada Nona muda yang keluarga majikannya itu sudah di anggap seperti putri sendiri.


"Saya akan tetap menunggu Rezky gila itu pulang, dan saya juga tak butuh kopi. Asam lambung saya bisa naik kalau kebanyakan kopi, bi" ujar Darren datar berusaha menutupi rasa malunya atas apa yang tadi hendak ia lakukan tadi.


Entah kenapa ketika melihat Ayesha yang terlelap ia selalu tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh wajah asisten kesayangannya itu. Sialnya ia lupa jika kini sedang berada di rumah orang.


"Ya sudah kalau gitu saya permisi istirahat dulu den" Bi Mei kembali meninggalkan Darren. Di dapur ia terus saja tersenyum mengingat bagaiman ekspresi terkejut tamu tuan mudanya itu.


Sedangkan di ruang tamu Darren tak henti hentinya merutuki kebodohannya. Saat sedang mengumpati dirinya sendiri sebuah suara mobil yang memasuki pekarangan rumah itu menarik perhatiannya. Akhirnya orang yang di tunggu pulang juga ia pun bergegas menyambut kedatangan temannya itu.


Belum sempat Darren mencapai pintu, ternyata orang tersebut lebih dulu membukanya. Pandangan keduanya bertemu, Darren terkejut ternyata itu bukan lah Rezky melainkan orang tuanya. Untung saja gelas yang sedari tadi ia genggam belum sempat di lemparnya.


"Kamu siapa?" Tanya om Ray.


"kenapa kamu di rumah saya?"


.


.


.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like nya yah pemirsah...


Terimakasih


__ADS_2