
Seperti yang sudah di janjikan kini Darren tengah menemani Ayesha pergi ke rumah ayahnya. Di dalam perjalanan Ayesha sangat gugup tiba-tiba badannya menggigil, bibirnya bergetar, dan perutnya juga tiba-tiba mulas saking gugupnya.
Ini adalah kali pertama ia kembali menginjakan kakinya di rumah penuh kenangan itu setelah sekitar empat bulan berada di luar. Rasanya ia bahagia tapi juga ia takut jika nanti mendapatkan penolakan lagi karena terakhir mereka bertemu Ayesha begitu tidak sopan pada ayahnya takut mereka tersinggung.
Menyadari kegugupan Ayesha, Darren menggenggam lembut tangan gadis itu mencoba menyalurkan energi positif. Benar saja sentuhan itu berhasil membuat Ayesha lebih tenang. Entah sejak kapan genggaman itu teramat berarti untuknya apalagi di saat-saat seperti ini, tapi Ayesha enggan mengakui itu.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah kediaman Herlambang. Pak Scurity yang mengenali wajah nona mudanya bahagia karena bisa melihat wajah Ayesha. Mereka pun di persilahkan masuk kebetulan Anisha ada di rumah tapi tidak dengan Ayah Ardi. Yah, dia tau di jam-jam ini memang ayahnya tidak pernah di rumah jadi ia tak perlu menanyakan kemana ayahnya itu.
Tiba di depan pintu rumahnya ia kembali terdiam. Ragu apakah ia harus masuk atau lebih baik kembali tapi Darren meyakinkan nya jika tidak ada masalah di dalam sana Ayesha tak perlu khawatir.
Darren menekan bel rumah itu karena Ayesha sama sekali tak bergeming bahkan tangan yang sedari tadi ia genggam pun terasa dingin dan berkeringat.
Pintu di buka oleh bi Ina. Bi Ina terkejut melihat tamu yang datang. Orang yang di rindukan seisi rumah akhirnya kembali membuat Bi Ina tidak bisa membendung tangis bahagianya. Ia pun memeluk majikannya dengan erat begitu juga Ayesha. Dia sudah menganggap Bi Ina seperti ibunya sendiri.
Ayesha mengatakan akan membuat kejutan untuk Anisha jadi dia berjalan menuju kamar Anisha. Ia yakin kakaknya di jam seperti ini pasti masih di kamar di ikuti Darren yang selalu setia di belakangnya Ayesha mulai mengetuk pintu kamar milik Anisha.
Tok..tok..tok..
Cukup lama mereka menunggu akhirnya pintu itu pun di buka menampakkan Anisha yang terkejut melihat kedatangan adiknya begitu juga Ayesha dia terkejut melihat keadaan kakaknya yang di lihat berantakan itu. Di sekitar lingkar mata Anisha tampak menghitam begitu juga matanya yang sembab dan memerah seperti habis menangis. wajahnya pun terlihat kusam belum lagi rambut yang kusut seperti kurang istirahat.
"Yesha? Lo ke sini?" Ucap Anisha masih dalam keadaan yang syok apa lagi di belakang adiknya ada Darren yang sama terkejut seperti Ayesha melihat keadaan Anisha yang acak-acakan seperti itu.
"Na? Lo kenapa? Sakit?" Tanya nya khawatir.
"Ah, em.. ngga ko gue bikin tugas sampe lupa waktu semalem jadi kaya gini deh. Duh lo mau pulang ko ngga bilang-bilang jadi gue bisa dandan dulu. Mana bawa gandengan lagi" ujar Anisha gugup.
"Lo lagi ngga nyembunyiin sesuatu kan dari gue" Ayesha tidak mau percaya begitu saja dengan alasan Anisha. Karena dari apa yang dia lihat Anisha bukan kelelahan karena mengerjakan tugas tapi itu lelah kerena terlalu banyak menangis.
"Ah gue ngga apa-apa. Sekarang kalian tunggu di kamar lo aja ya? Pasti lo kangen kan sama suasana kamar lo itu? Gue mau mandi dulu. Malu gue" tutur Anisha menghindari lebih banyak lagi pertanyaan dari adiknya.
"Tapi-"
Brukkk
Belum sempat Ayesha menyelesaikan kalimatnya pintu sudah lebih dulu di tutup oleh Anisha membuat ia semakin curiga jika ada sesuatu yang di sembunyikan kembarannya.
__ADS_1
Di dalam kamarnya Anisha berjalan mondar mandir dengan gelisah. Bukan, bukan karena dia tidak suka Ayesha kembali ke rumah itu hanya saja waktu nya tidak tepat. Benar memang saat ini Anisha sedang tak baik-baik saja dia tidak ingin adiknya itu tau masalah pelik yang menimpa dirinya. Lebih tepatnya dia dan ayahnya.
Sudah cukup selama ini Ayesha merasakan penderitaan karena ayahnya tidak ingin ini menjadi kesedihan untuk kesekian kali nya di hati adiknya itu.
"aduh gimana ini"
"gue ngga bisa pura-pura baik-baik aja di depan dia"
"kalau menyangkut perasaan satu sama lain kenapa kita peka banget sih"
"kalo udah kayak gini apa yang mesti gue lakuin?"
Anisha terus menggerutu ia memandangi secarik kertas yang membuat hatinya menjadi tak menentu. Haruskah ia ungkap kan semua yang dia tau. Jujur saja Anisha tidak bisa melakukannya sendiri setidaknya ia butuh adiknya yang lebih berani, tapi bagaimana? ia tidak ingin menyusahkan adiknya lagi.
Terlalu lama berdebat dengan batinnya buru-buru Anisha membersihkan dirinya dan bergegas mencari keberadaan adiknya.
Ayesha ternyata tidak membawa Darren ke dalam kamarnya ia mengajak Darren di ruang keluarga di lantai dua itu.
"Kenapa sih, padahal gue pengen banget liat kamar lo" gerutu Darren.
"Tapi kan cuma sebentar"
"Heh!!! masih untung lo gue izinin masuk ya atau lo mau nunggu di pos sono, temenin om Aris"
Perdebatan mereka terdengar sampai ke tempat dimana Anisha berdiri. Karena terlalu serius mereka tak menyadari kehadiran Anisha di dekat mereka.
Anisha berdehem untuk menghentikan perdebatan sengit mereka membuat keduanya seketika bungkam.
"Kalian lagi ngeributin apa sih? sampai ngga sadar ada gue di sini" ujar Anisha berusaha setenang mungkin.
"Ini nih adik lo masa gue di suruh nunggu di luar, emang gue gugug?" Ujar Darren cemberut. Dan sungguh itu menyakiti perasaan Anisha. Dia yang masih menyimpan perasaan untuk laki-laki di depannya tapi kini ia harus merelakan untuk sang adik. Melihat bagaimana kedekatan antara keduanya membuat sudut hatinya seperti di cubit.
"Apa an sih lo tuh yang ngga ada sopan-sopannya maksa buat masuk kamar gue. Big no!! itu privasi gue" Ujar Ayesha tak mau kalah.
"Ah elah sama calon imam sendiri juga main rahasian-rahasiaan segala"
__ADS_1
"Tunggu!! calon imam? kalian jadian?" Tanya Anisha terkejut.
"Ngga" "Iya" jawab keduanya bersamaan. Ayesha menjawab tidak sedang Darren tentu saja dengan percaya diri mengakui Ayesha hak milik nya.
"Jadi yang bener tuh yang mana?"
"Bukan ngga Nis, tapi belum bentar lagi ade lo juga ngejar-ngejar gue" ucap Darren percaya diri.
"Dih pede banget" ujar Ayesha sambil melemparkan bantal yang ada di pangkuannya pada Darren. Pemuda itu reflek menangkap benda itu kemudian mengedipkan matanya pada Ayesha sebagai bentuk ledekan karena lemparannya terlalu lemah.
Interaksi keduanya tak luput dari perhatian Anisha dan percayalah hal ini benar-benar menyakitinya. Dia yang hanya mampu mencintai Darren dalam diam namun harus selalu melihat bagaimana kedekatan lelaki yang di cintanya bersama orang lain dan itu adiknya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini.
Ternyata tanpa sengaja Ayesha menangkap wajah sendu Anisha meskipun ia berusaha keras menutupi itu membuatnya heran tak biasanya Anisha seperti ini.
"Lo kenapa Na?" tanya Ayesha membuyarkan lamunan Anisha begitu juga Darren yang langsung mengalihkan fokusnya pada Anisha.
"Gue?" ucap Anisha
"Iya, gue liat lo ngga kaya biasanya. Gue liat lo murung apa yang terjadi? apa ini ada hubungannya dengan Ayah? gue liat ada yang aneh pada kalian semua di sini?" Tanya Ayesha membuat Anisha seketika tercekat. Ia tak tau apa yang harus diucapkannya. Ternyata Ayesha sangat peka.
"Ini .... ngga apa-apa kok. Gue cuma lagi sedikit tertekan karena nilai gue merosot. Gue takut ayah kecewa. Itu aja ko" Ujar Anisha akhirnya nampak ragu tentu saja Ayesha tidak percaya begitu saja. Sejak kemarin perasaannya tak menentu.
"Lo jangan coba-coba bohongin gue Na. gue udah ngerti lo bahkan sejak kita masih jadi janin. Jadi lebih baik lo simpen aja kebohongan itu buat diri lo sendiri. Kasih tau gue apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Ujar Ayesha dengan nada dinginnya. Ayesha jarang sekali menunjukan wajah datar serta nada yang dingin seperti itu. Merasa terintimidasi mau tidak mau Anisha mengatakan yang sebenarnya.
"Gue benci banget kalo kayak gini" Gerutu Anisha pelan tapi masih bisa terdengar oleh keduanya.
"ada apa?" Kini Ayesha sudah melembutkan kembali nada suaranya agar Anisha bisa lebih nyaman bercerita.
"Sebenarnya...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...