Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Ngga peka


__ADS_3

Sejak ia memutuskan mengeluarkan Ayesha dari kediamannya ayah Ardi terlihat semakin murung hari ini tepat satu minggu Ayesha telah pergi dengan sejuta luka yang ditorehkannya.


Ayah Ardi duduk di kursi kebesarannya di ruang kerjanya menerima laporan dari anak buahnya yang di tugaskan untuk selalu memantau anak gadisnya itu. Ayah Ardi memang sering berkata tak pantas pada Ayesha bahkan ia dengan tega mengusir anaknya itu yang belum genap berusia tujuh belas tahun tapi bukan berarti ia tak peduli.


Sejahat-jahatnya ayah Ardi mau bagaimana pun kenyataanya Ayesha adalah darah dagingnya ia terlahir dari rahim wanita yang paling ia cintai setelah ibunya. Karena itu sebenarnya Ayah Ardi tak sungguh-sungguh membenci anaknya. Jika boleh jujur justru ayah Ardi sangat benci pada dirinya sendiri karena kebodohan dan ambisinya serta cintanya yan besar pada sang istri membuatnya gelap mata, hingga kini ia harus di hadapkan dengan persimpangan yang sama-sama berbahaya.


Huft...


Terdengar helaan nafas dari ayah Ardi, mengingat kebodohannya di masa lalau membuat dadanya sesak.


"Seandainya dulu aku mendengarkan mu Din, mungkin ini semua tak akan pernah terjadi" gumam ayah Ardi pelan.


Saat dirinya sedang asik mengenang masa lalu, pintu ruangannya di ketuk oleh sekretarisnya ia mengatakan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan ayah Ardi sekarang juga. Tanpa menunggu waktu lama ayah Ardi pun mempersilahkan tamunya masuk walaupun sebenarnya ia sedang tidak bersemangat untuk melayani tamunya.


Begitu pintu terbuka dan ayah Ardi dapat dengan jelas melihat siapa gerangan yang datang. Seorang Kakek tua memegang tongkat kayu dengan ukiran naga yang terlihat artistik di tangan kananya sedang tangan kirinya ia masukan ke saku celana panjang nya ia menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang mulai tanggal beberapa.


"Apa kabar tuan Herlambang" sapanya.


"tu..tu..tuan Jay?" ucap ayah Ardi tampak terbata melihat kakek tua yang bernama Jay itu. Kakek tua ini sebenarnya mempunyai nama panjang Jaelani tapi biasa di panggil tuan Jay seorang kakek tua yang mempunyai kekayaan sangat melimpah bahkan tak akan habis walau anak cucu dan cicitnya tak bekerja sekalipun. Karena kekayaan dan kuasanya menjadikan Tuan Jay manusia yang sombong dan angkuh. Bekerja sebagai Lintah darat membuatnya tak kenal ampun pada siapa pun yang berurusan dengannya.


Jika tuan Jay saat ini datang langsung menemui Ayah Ardi itu artinya ia mempunyai urusan dengan ayah si kembar itu.


"Kenapa kau tegang sekali? relaks ayo silahkan duduk dulu" ucap Tuan Jay. Malah ia yang menawarkan duduk pada sang tuan rumah.


Sedangkan ayah Ardi yang sudah sangat pucat menuruti instruksi dari tuan Jay itu.


"Huft..sepertinya kau tak senang aku datang? baiklah aku tak akan basa basi aku datang untuk menagih janji mu, tepat di 4 bulan lagi pastikan apa yang kau janjikan sudah siap, aku tak ingin begitu aku datang justru drama-drama tak berguna yang kau suguhkan" ujar tuan Jay. Setelah mengatakan maksud kedatangannya, kakek tua itu kemudian beranjak pergi meninggalkan ayah Ardi yang mematung di tempat dengan wajah yang pucat pasi lidahnya pun terasa kelu hingga tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.


Ketika tuan Jay tak terlihat lagi dalam ruangannya saat itu ayah Ardi terduduk di lantai dengan lemas, pandangannya memudar karena air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Apa..apa yang harus aku lakukan? kenapa dia datang kenapa dia belum mati?" gumamnya.


Sementara tuan Jay sendiri tampak tengah menyeringai di mobil kesayangannya. Ia masih teringat wajah syok ayah Ardi saat bertemu dengannya tadi, tampak sangat lucu di mata tuan Jay.


"kau pikir akan dengan mudah lari dari ku? kau pikir lima tahun lalu rencana mu untuk menghabisi ku berhasil Herlambang? cih, kau akan mendapatkan pelajaran yang berharga dari ku Herlambang" gumam tuan Jay.


Sesampainya di mension, tuan Jay di sambut para ART yang berjumlah lebih dari lima puluh orang berbaris rapi sambil sedikit membungkuk memberikan hormat pada tuan besarnya. Pemandangan yang biasa terlihat setiap kali tuan Jay kembali dari luar.


Di ruang keluarga tampak seorang laki-laki seumuran dengan ayah Ardi telah menunggu kedatangan tuan Jay dia adalah Rendra Jaelani anak pertama tuan Jay.


"Ayah, kau sudah kembali?" ucap Rendra begitu melihat ayahnya.

__ADS_1


"hmm"


"Apa ayah menemui Herlambang? apa ayah sudah bertemu gadis itu?" tanya Rendra antusias bahkan ayahnya belum lah duduk tapi Rendra sudah menodongnya dengan pertanyaan.


"Kau tak menunggu ayah duduk dulu?" Tanya tuan Jay datar.


"Ah iya maaf yah aku lupa"


"yah, seperti yang kita duga dia akan menyembunyikan anak gadis nya itu. Tapi, dia lupa berhadapan dengan siapa bahkan belum sampai 24 jam ayah sudah tau dimana keberadaan barang kita" ujar tuan Jay.


"Jadi Herlambang belum mau memberikannya?"


"Tentu saja belum, ini masih beberapa bulan lagi dari yang dia janjikan, sudahlah kita lihat saja apa dia akan menepati janjinya atau justru akan ingkar"


"Kalau mereka ingkar?"


"apa lagi? seperti sebelumnya bantai habis seluruh keluarganya jangan ada yang tersisa"


"Lalu jika dia memberikan anak gadisnya itu apa yang akan ayah lakukan padanya?"


"hem.. ayah tidak menyangka ternyata dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, tadinya ayah akan menikahkan dia dengan Jakson tapi setelah ayah pikir-pikir lagi itu terlalu menyenangkan mungkin ayah akan mendorongnya ke lembah hitam di dunia bawah, mungkin kita lihat saja nanti"


"bukankah dia baru berusia tujuh belas tahun? kenapa ayah mau menjerumuskan dia ke para pembunuh itu"


"Tapi itu memang kenyataanya"


"Sudahlah aku lelah"


Selepas perbincangan singkat dengan anak sulungnya tuan Jay kembali ke kamarnya, di usia nya yang lanjut ini berpergian sebentar saja sudah membuat tubuhnya lelah ia butuh tempat tidur untuk menyegarkan kembali tubuhnya.


Di apartemen Darren tengah duduk manis di sofa yang baru mereka beli. Semenjak Ayesha tinggal di huniannya itu Darren rajin mengunjungi tempat itu entah lah dia bahagia jika melihat raut kesal Ayesha yang setiap hari ia ganggu sangat imut menurutnya.


ting tong...


Suara bel menganggu kedamaian Darren dengan malas ia beranjak untuk membuka kan pintu, tapi ternyata Ayesha sudah lebih dulu membuka pintu itu. Terlihat seorang pemuda tampan ke bule-bule an di tangannya membawa sebuah paper bag kecil bertuliskan nama sebuah restoran.


"Hai Sha, nih aku bawakan desert kebetulan aku mampir di resto dekat sini, terus aku ingat kamu suka sekali makanan manis" ujar pria itu.


"Wah kau sungguh pengertian kak Chris, aku malah merepotkan mu" ujar Ayesha basa basi padahal ia terlihat berbinar mengetahui isinya cemilan kesukaannya.


Christoper ini tetangga apartemen Ayesha, emh maksudnya apartemen Darren tapi sebelumnya mereka pernah bertemu beberapa kali di sebuah pameran atau acara lelang barang-barang kreasi tangan murid SMA yang biasa di ikuti oleh Ayesha makanya tak heran jika mereka sudah terlihat akrab.

__ADS_1


Chris salah satu mahasiswa semester akhir di sebuah universitas terbaik di sini walaupun wajahnya bule tapi ia sangat suka budaya Indonesia itu kenapa ia lebih memilih tinggal dan sekolah di sini tempat ibunya lahir dan menghabiskan masa remajanya sebelum akhirnya di dipersunting oleh papi Chris yang notabene adalah warga asli dari Kanada.


"Jangan sungkan ku senang bisa membuat mu berbinar seperti itu" ujar Chris.


"Terimakasih banyak kak, aku pasti akan menghabiskannya" ujar Ayesha tersenyum manis.


Di belakang Ayesha ada sepang mata yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya. Darren terlihat sangat kesal melihat Ayesha tersenyum semanis itu pada orang asing laki-laki pula. Iya orang asing kan Darren nggak kenal.


Dadanya serasa memanas tangannya pun tanpa ia sadari sudah mengepal kuat, entah kenapa dia pun tak mengerti.


"Ehem... kalau mau pacaran jangan di pintu, sana ke bawah atau kemana kek, bikin sakit mata tau ngga!" ujar Darren ketus.


Chris yang peka akhirnya memilih untuk kembali ke huniannya. Sedangkan Ayesha berjalan melewati Darren begitu saja. Tentu saja Darren sangat kesal di acuhkan seperti itu sedangkan dengan orang asing tadi Ayesha begitu manis.


Dia mengikuti kemana Ayesha pergi ternyata gadis itu tengah duduk manis di meja makan hendak menikmati desert yang tadi di berikan tetangganya baru saja sendok itu hendak masuk ke mulutnya ternyata ada mulut lain yang ingin menikmatinya.


Dengan jengkel dia menatap Darren yang sedang asik menikmati makanan itu tanpa menawarinya padahal yang di kasih kan Ayesha tapi yang menikmati justru Darren.


"itu punya gue, kenapa lo makan sih?" ucap Ayesha.


"Kenapa? lo ngga suka gue habisin makanan ini karena pacar lo yang ngasih?" tanya Darren sedikit kesal.


"Hah siapa yang lo bilang pacar?" tanya Ayesha tak mengerti maksud pemuda di sampingnya itu.


"ya laki-laki yang kasih ini lah, gue ingetin ya lo tuh harusnya ngga sembarang terima sesuatu dari orang asing apalagi itu makanan kaya gini nanti kalo ada racunnya gimana? lebih baik lo jauhi dia aja gue liat dia bukan orang baik" ujar Darren.


"sok tau lo, kalo itu makanan ada racunnya kenapa lo makan?" ujar Ayesha tak mengerti jalan pikiran pemuda yang satu ini.


"Gue ngecek lah dan kayaknya aman, nih gue balikin Aaaaa" ujar Darren sambil mencoba menyuapkan makanan itu pada Ayesha.


"Gue bukan bayi, gue bisa makan sendiri ngga usah di suapi" Ayesha kemudian menarik piring yang isinya tinggal setengah itu dan mengambil sendok baru, memakannya dengan tenang.


"ck. dasar cewek ngga peka gue kan pengen suap-suapan kaya film tadi, huft" gumam Darren dalam hati.


Rencana untuk makan romantis gagal sudah, ceweknya kurang peka. huft...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2