Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Berburu Perabotan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Darren dan Ayesha sudah berada di warung pecel lele di pinggir jalan request Ayesha tentunya. Ayesha sepertinya menganggap serius ucapan Darren yang tadi mengatakan tidak akan mentraktirnya. Jadilah mereka disini sekarang.


"Selera elo tuh ya ampun gue udah nggak bisa berkata-kata lagi, kemarin warteg, lah sekarang? ih apaan tuh? kenapa bentuknya kaya gitu? itu ikan? ikan hiu kah?" Ucap Darren heboh melihat menu yang Ayesha pesan.


Karena celetukannya yang heboh sendiri para pembeli dan pedagang di sana menahan tawanya melihat ekspresi Darren yang lucu, imut menggemaskan ketika melihat ikan lele di piring Ayesha maklum anak sultan yang satu itu sama sekali belum pernah melihat ikan lele jadi di usianya yang sekarang itu adalah hal yang luar biasa.


Sedangkan Ayesha sendiri jangan tanya gadis itu sudah tertawa saking polosnya anak sultan di sampingnya.


"Please deh Ren gue tau lo nggak pernah makan ikan ini tapi jangan norak dong" ucap Ayesha yang sudah bisa menenangkan dirinya.


Menyadari sikapnya yang tidak biasa Darren kemudian menormalkan kembali mimik mukanya menjadi mode datar, ia hanya menemani Ayesha menikmati makan malamnya.


Puas mengisi perut kini mereka mulai berburu perabotan seperti yang di rencanakan di awal tadi. Darren menepikan mobilnya di sebuah toko furniture ia ingin membeli sofa untuk ruang tamunya, lemari kecil dan terakhir meja kursi untuk ruang makan.


"Koh, ada yang murah ngga ini sofanya?" ujar Ayesha pada engkoh pemilik toko itu.


"Apaan sih lo jangan kaya orang susah deh, yang mahal koh" ucap Darren.


"Yang murah aja koh jangan dengerin dia, nanti kalo di kasih barang mahal dia ngga sanggup bayar masih sekolah soalnya" ucap Ayesha tak mau kalah.


"Saya yang mau bayar koh, walaupun pelajar saya ini anak sultan" ucap Darren sombong.


Sedangkan penjual itu pun bingung harus mendengarkan yang mana, semakin ia biarkan semakin sengit juga perdebatan kedua anak muda itu.


"Berhenti!!! kalian mau beli atau mau debat? saya pusing liat kalian, kalo mau debat sana ke meja DPR jangan di sini!!" Bentak engkoh penjual sudah sangat jengah dengan perdebatan tak berfaedah anak muda di depannya.


Karena merasa tak enak akhirnya Darren memutuskan membeli barang di harga yang standar tak murah dan juga tidak mahal. Pilihan jatuh pada sofa berwarna abu-abu.


Kini keduanya menuju toko elektronik, sebenarnya Darren mengajak Ayesha untuk membeli perabotan apartemennya di mall tapi dengan keras Ayesha menolak karena jika harus berkeliling ia sudah tak mempunyai tenaga kakinya teramat lemas.


"Kulkas yang kecil ada ci?" tanya Darren begitu mereka sampai di toko elektronik itu.


"Dua pintu lah" potong Ayesha.

__ADS_1


"Satu aja buat apa besar-besar toh tempatnya juga kecil"


"Dua dong, kan buat nyetok bahan makanan, lagian ngakunya sultan tapi punya apartemen kecil dah kaya kandang hamster nyari kulkas juga yang kecil kaya orang susah."


"Hei!! jangan menghina tempat tinggal gue ngga sopan"


"Ya udah kalo lo ngga pengen di hina ya beli yang gede kalo perlu yang pintunya delapan, atau yang pintunya ajaib biar kalo naro bahan mentah pas di buka dah pada mateng"


"Lo pikir Doraemon pake pintu ajaib ini kulkas lah"


"Aduh ade jadinya mau yang mana?" tanya Nci yang juga sama kepalanya sudah pusing. Kalau di biarkan mereka pasti tidak akan kelar. Pilihan pun jatuh di kulkas dengan dua pintu. Yah, lagi-lagi mahluk bernama perempuan menang.


Puas berkeliling akhirnya kini keduanya sudah kembali ke apartemen yang kata Ayesha itu mirip kandang hamster. Barang-barang pun sudah di tata rapi oleh Ayesha. walaupun tengah kelelahan tapi Ayesha tak bisa menunda pekerjaan dia menata setiap barang-barang yang mereka beli dengan teliti dan semangat maklum barang baru. Sedang Asyik membereskan alat-alat perangnya di dapur sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Ting.


Ternyata itu adalah notifikasi dari aplikasi perbankan miliknya, transferan dari hadiahnya nya kemarin telah masuk ke rekeningnya setelah sebelumnya di bagi rata tiap anggota.


Kini jumlah tabungannya sudah lumayan. Sebenarnya jika dia mau, Ayesha bisa langsung melunasi hutang beserta bunganya itu tapi dia berfikir jika dia bayar lunas pasti Darren tak mengizinkannya tinggal di tempat itu dan dia juga harus membayar kos dan juga makannya sedangkan dia harus menabung untuk biaya kuliahnya nanti.


Lewat tengah malam akhirnya pekerjaannya telah selesai rumah sudah rapi, tak seperti rumah hantu atau lapangan bola lagi. Sudah nyaman sudah bersih kini saatnya Ayesha melanglang buana ke dunia mimpi.


Darren tiba di kediamannya pun sudah hampir pagi karena sehabis dari berburu perabotan tadi ia langsung menuju Base camp nya. Hari ini dia mendapat kabar dari Baron jika X-spider lagi-lagi ingin mencari masalah dengan mereka.


Sebenarnya ia kasian jika harus membiarkan Ayesha menyusun sendiri barang-barang yang baru saja mereka beli tapi mau bagaiman lagi ia harus melayani X-spider yang menantangnya untuk balapan motor.


Darren memasuki mension peninggalan orang tuanya dengan sangat hati-hati setau Darren hari ini kakaknya akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnisnya tapi ternyata begitu ia melihat garasi mobil kakaknya masih terparkir rapi di sana.


Takut akan ketahuan tapi ia juga berharap Rasya sudah pergi. Pelan-pelan ia mulai membuka pintu, aman masih gelap dan sepi Darren pikir memang kakaknya telah berangkat tapi begitu ia akan menaiki tangga.


Cetrek


Lampu di lantai bawah tiba-tiba menyala dengan terangnya, Rasya berdiri di samping lemari hias menatap tajam adik kesayangannya itu yang lagi-lagi pulang pagi.

__ADS_1


Huft..


Darren membuang nafasnya kasar percuma mengendap-endap jika akhirnya ketauan juga.


"Dari mana aja kamu? ini udah hampir pagi tapi kamu baru pulang? de, kakak tuh dah capek bilangin kamu tapi sama sekali ngga di dengerin" ujar Rasya.


"Kakak ngga perlu repot-repot ngurusin aku, cukup kakak fokus aja nyari duit" ucap Darren tanpa menoleh ke belakang ia terus saja berjalan meninggalkan Rasya yang masih mematung di tempat.


"Anak nakal, huh susah sekali di bilangin" gumam Rasya kemudian ia pun kembali ke kamarnya.


Matahari sedari tadi telah bersinar terang di pagi ini, murid murid pun mulai berdatangan termasuk Ayesha yang saat ini tengah duduk manis di bangkunya sebelum mengikuti upacara bendera.


Walaupun Ayesha tidur larut tapi karena ia tidur di tempat baru jadi ia bangun lebih awal.


Ting.


Sebuah pesan masuk terdengar di ponsel milik Ayesha.


"sha, gimana kabar lo hari ini? lo tinggal di mana? gue main ya? gue bete banget ngga ada lo" Ternyata yang pagi pagi sudah mengirimi Ayesha pesan adalah kakaknya, sudah sedari kemarin sebenarnya Anisha mencoba menghubungi Ayesha tapi karena sibuk jadi getar ponselnya ia abaikan.


"gue baik sangat baik ko Na lo tenang aja lo inget gue kan bukan cewek yang lemah. Inget walupun lo kesel dan kecewa karena keputusan Ayah ini tapi lo ngga boleh benci sama Ayah kita. Gue yakin di balik ini semua pasti ada alesannya" balas Ayesha.


"Iya gue tau ko tenang aja tapi ya sebagai bentuk kekecewaan gue semenjak lo pergi gue belum ngobrol lagi sama Ayah gue selalu menghindar gue belum bisa ketemu ayah dulu, bentar lagi upacara nih udah dulu ya, lo harus jaga diri baik baik jangan lupa share loc nanti ya, dah" setelah memastikan jika adik satu satunya itu baik-baik saja barulah Anisha bisa bernafas lega.


"Dah"


Ayesha termenung usai berkabar dengan kakaknya sebenarnya dia pun sangat rindu dengan kembarannya itu mengingat ini pertama kalinya bagi mereka harus berjauhan tapi membawanya ke tempat Darren itu tidak mungkin karena bagaiman pun juga tempat itu privasinya Darren dan Ayesha tidak berhak sama sekali. Jadi untuk sekarang dia hanya bisa memendam sendiri rasa rindunya. Masih banyak hal yang harus Ayesha bereskan terutama urusannya dengan Darren Prandipta.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2