Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Tom and Jerry, katanya?


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, sepasang telinga mendengar semua percakapan mereka.


"ternyata belum ada perubahan" ucapnya dari balik lemari buku di sebelah ruangan kerja Ayah Ardi...


.


.


.


Setelah tidak sengaja mencuri dengar percakapan singkat dari Ayah dan anak tersebut, si penguping kembali ke depan dengan maksud memberi salam dahulu pura-pura jika dia baru saja datang.


Niat hati akan memberikan kejutan untuk si kembar malah dia yang terkejut. jadi untuk menghindari kecurigaan ayah Ardi dia pun masuk dengan sopan.


"Assalamualaikum" ucapnya setelah menormalkan kembali mimik mukanya.


Hening tidak ada sahutan dari dalam, hingga tak terasa sudah berkali-kali dia mengucapkan salam masih juga belum ada sahutan.


"Assalamualaikum... Yuhu... Om Ardi, keponakanmu yang tampan ini datang" serunya setengah berteriak.


"ish pada kemana sih ini penghuninya, sepi bener kuburan aja lewat ini mah" gerutunya.


"Assalamualaikum"


ceklek


"Waalaikumsalam, eh ada den Rezky" ucap bi Ina ketika pintu sudah di bukanya.


"Udah lama? Maaf den bibi ngga denger" lanjut bi Ina lagi terdengar tidak enak hati.


"Ngga ko bi, paling ini tenggorokan udah kering dari tadi teriak teriak" Ucap Rezky pelaku yang tidak sengaja menguping.


Kemudian mereka pun masuk dengan beriringan setelah di persilahkan terlebih dahulu oleh BI Ina.


Seperi biasa tujuan Rezky yaitu kamar dari Ayesha. Rezky memang lebih suka menghabiskan kunjungan nya di kamar gadis itu, lebih nyaman menurutnya.


Ketika Rezky tengah berjalan di tangga, dia berpapasan dengan Ayah Ardi yang kebetulan hendak turun dengan pakaian yang rapi.


"Eh Rezky? sejak kapan kamu datang?" Tanya Ayah Ardi ramah.


"Baru aja masuk om, mau ke kamar si kembar, boleh kan om?"


"masuk aja Rez, mereka lagi di kamar kok. Tapi maaf ya om ngga bisa temenin, om ada meeting di luar"


"iya ngga apa-apa om, kita bisa ngobrol di rumah nanti, om Dateng kan?"


"iya om pasti datang ko. Kalau gitu om pergi dulu ya"


Ayah Ardi kemudian pergi meninggalkan Rezky. Tak lupa ia menepuk pemuda yang sudah di anggap nya anak sendiri itu tiga kali seperti biasa setiap kali mereka bertemu.


Untuk sesaat Rezky termenung memandangi punggung dari Ayah Ardi yang semakin menjauh.


"padahal pada semua orang, om begitu baik bahkan pada bibi sekalipun. Tapi, kenapa pada Ayesha om seolah tak pernah melihatnya?" gumam Rezky dalam hati.


Rezky kemudian melanjutkan langkahnya menaiki tangga hingga dia tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu yang di beri warna coklat tua dan di beri hiasan berupa papan kecil dengan ukiran nama si penghuni ruangan tersebut AYESHA.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok..


Rezky mengetuk pintu, namun sunyi tak ada jawaban dari empunya kamar tersebut. Dia kemudian menarik nafas mengisi stok kesabarannya lagi.


"huh harus nunggu lagi kah?" gumamnya pelan.


Tok...Tok..Tok..


Tok.. Tok..Tok..


"Kemana ni bocah? gue masuk aja kali ya?"


Setelah berdebat dengan batinnya akhirnya Rezky memutuskan untuk masuk guna melihat keadaan di dalam.


Ceklek..


Bunyi pintu menandakan jika Ayesha tidak Rezky kemudian masuk dengan mengendap-endap seakan ia takut di pergoki oleh penghuni rumah padahal itu adalah hal yang biasa selalu dia lakukan ketika berkunjung.


Ketika dia melihat lebih dekat ke arah ranjang, terlihat Rezky menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman. Sesaat ide jahil muncul di kepalanya.


"Gue ganti kerjain ni bocah"


Rezky kemudian mencari lipstik di meja rias milik Ayesha. Bahkan dia sampai mengobrak Abrik isi tas dari Ayesha namun apa yang ia cari tidak di temukan nya.


"Bus*t ni anak cewe apa cowok sih? satu alat make-up pun dia ngga punya?"


Rezky geleng geleng kepala, tapi dia tidak putus asa. Kini dia beralih ke meja belajar milik Ayesha. Tak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang dia cari. Sebuah benda dengan bentuk seperti pulpen namun mempunyai banyak warna itu adalah spidol, tersimpan rapi dalam kotak transparan.


Rezky menatap benda itu dengan mata yang berbinar ia tersenyum kemudian mengambil spidol dengan warna merah. Tenang saja itu bukan spidol permanen.


Rezky mendekati Ayesha kemudian mulai melukis pada wajah gadis itu. Senyuman Rezky tidak pernah surut ketika menggambar sebuah wajah binatang di kening Ayesha kemudian melingkari kedua matanya seolah gadis itu tengah memakai kacamata. Tak lupa juga beberapa gambar aneh lainnya yang ia gambar di bagian hidung pipi dan dagu Ayesha.


Setelah semua selesai Rezky tersenyum membayangkan jika jebakan nya akan berhasil. Sekarang tinggal mengejutkan targetnya. Dia terdiam sesaat kemudian dia menjentikkan jari nya ke udara seolah baru saja sebuah bohlam lampu menyala di atas kepalanya.


Rezky kemudian beranjak ke luar kamar untuk mengambil sebuah cermin yang tergantung di ruang bersantai yang ada di lantai dua. Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Rezky kembali kedalam kamar untuk membangun kan targetnya.


"Saatnya kita mulai pertunjukan" gumamnya pelan.


"ekhem... Yesha..bangun udah jam lima" ucapnya pelan sambil menghadap kan wajah cantik Ayesha ke cermin yang dia pegang mengikuti kemana adiknya itu bergerak.


"Yesha.."Ulangnya yang kini mulai mengguncang pelan bahu Ayesha.


"em" Akhirnya mangsanya mulai tersadar perlahan mengangkat tangannya ke atas untuk meregangkan otot nya kemudian perlahan namun pasti matanya mulai terbuka dan ketika matanya telah terbuka sempurna Ayesha lantas melotot kan matanya dan...


"Argggghhhh Setan!!!" teriaknya sekencang mungkin sambil menampik cermin tersebut sekuat tenaga hingga hampir jatuh ke lantai jika saja Rezky tidak sigap menangkap benda itu.


Jantung Ayesha berdetak kencang tak beraturan pun nafasnya yang terengah-engah seolah baru saja lari maraton. Namun suara kekehan disampingnya mengalihkan perhatian Ayesha dari keterkejutan yang tengah ia rasa.


"muka mu lucu banget Sha..Hahaha.. kakak ngga kuat...hahaha" ucap Rezky


"Huh lucu yah? jantung Ayesha hampir copot Kakak bilang lucu, ngeselin banget sih" sentak Ayesha kesal.


"Rasain nih" lanjutnya lagi.


Bugh... Bugh..Bugh.. Ayesha memukul pundak Rezky dengan tinjuannya. Jelas saja Ayesha yang memang jago bela diri tenaganya tak bisa di anggap remeh walau badannya cenderung mungil namun dapat membuat Rezky mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Anisha yang mendengar teriakan dari Adiknya itu berlari ke kamar Ayesha untuk melihat keadaan adiknya.


"Loh kak Rezky? Ayesha? Kalian ngapain?" ujar Anisha begitu ia masuk dan melihat pemandangan di depannya dimana Ayesha tengah menghajar Rezky dengan brutal.


Mendengar suara dari kakaknya, Ayesha menoleh kearah sumber suara ketika tatapan mereka bertemu, Anisha langsung terbahak melihat wajah Adiknya yang sudah tidak berbentuk.


Ayesha pun di buat bingung, ia tidak sadar jika yang dia lihat tadi adalah wajahnya sendiri. Ayesha baru tersadar ketika Rezky memberikan nya cermin yang sedari tadi di pegangnya.


Panik dan syok ketika melihat pantulan wajahnya ia kemudian langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Namun baru saja kakinya masuk satu langkah seiring dengan dorongan pada Pitu tiba tiba...


Byuuurrrrr


"Argggghhhh Kak Rez!!!" teriaknya semakin menggelegar membuat Rezky dan Anisha terbahak-bahak.


Air di dalam ember yang sudah di siapkan Rezky dengan sempurna itu tumpah mengguyur Ayesha.


Ayesha sangat merasa kesal dia mengumpat tiada henti di dalam kamar mandi. Tidurnya yang nyaman di ganggu belum lagi ketika kesadaran nya belum terkumpul sempurna, dia di kejutkan dengan penampakan aneh juga langsung di guyur air satu ember penuh.


Jadi sekarang ketiga anak muda itu sedang duduk di ruang keluarga di lantai dua dengan Ayesha yang manyun dan wajahnya yang dia tekuk sedangkan Rezky tak henti-hentinya menggoda Ayesha membuat Anisha harus membujuk adik dan kakaknya agar kembali berdamai. Namun bukan Ayesha namanya jika tidak ingin bermanja pada kakak laki-lakinya itu.


Ayesha meminta sejumlah uang kepada Rezky untuk kata maafnya. sedangkan yang di palak tampak tak tega akhirnya memberikan apa yang adik kesayangan nya itu minta.


"udah kan manyunnya?" Ucap Rezky ketika sebuah pemberitahuan dari aplikasi perbankan milik Ayesha berbunyi.


Dengan senyum yang lebar, Ayesha mengangguk dan kemudian berterimakasih.


"CK dasar matre" cibir Anisha.


Seperti biasa Ayesha tak peduli dan enggan menimpali cibiran kakaknya itu.


"Gayanya aja kaya Tom Jarry kalo ketemu tapi giliran adenya ngambek apa aja di turutin, ck" lanjutnya lagi.


Rezky hanya bisa nyengir kuda, menanggapi ocehan dari Anisha karena memang seperti itu kenyataannya.


"oh ya kak Rezky ada perlu apa mampir ke sini? bukannya di rumah kakak lagi sibuk ya? Kakak ngga siap-siap gitu buat acara nanti malem?" tanya Anisha bertubi-tubi.


"Oh iya sampe lupa saking keasikannya jahilin ni bocah" ucap Rezky sambil menarik hidung minimalis Ayesha yang kemudian langsung di tampiknya.


"Ini Kakak mau ngasih kalian hadiah, nanti malem di pake ya? kalian berdua harus datang pokoknya". ucap Rezky tegas, sengaja agar Anisha tidak curiga jika dirinya sudah mencuri dengar.


"em aku kayanya ngga bisa Dateng kak ada janji lain. mungkin besok kali ya aku main sendiri ke rumah" ujar Ayesha dengan nada yang terdengar sedih.


"yah, batalin aja lah yes Kakak kan pengen ngenalin kalian ke temen-temen kakak" ujar Rezky sedikit memaksa.


"Maaf yah kak"


Akhirnya setelah cukup lama Rezky mengobrol dengan kedua adiknya, pemuda itu kemudian berpamitan tentu saja dengan hasil yang sama keputusan Ayesha tetap sama "Tidak".


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2