
Dalam kerumunan siswa-siswi yang tengah menikmati waktu istirahat mereka pemuda tampan berlari mengejar gadisnya yang juga lari entah kemana dia kehilangan jejak. Hampir satu sekolah ia putari hanya untuk mencari keberadaan Ayesha. Aneh, padahal baru beberapa menit gadis itu meninggalkannya tapi batang hidungnya sudah tidak terlihat lagi.
Darren menghela nafas lelah ia kemudian pergi ke kantin untuk membeli minum. Mengejar Ayesha ternyata melelahkan. Entah kenapa gadis itu cepat sekali menghilang entah karena larinya yang cepat atau dia lebih tau seluk beluk sekolah itu atau justru karena Ayesha terlalu mungil jadi tak terlihat di matanya.
Tapi, jika karena alasan ketiga itu sungguh tak masuk akal. Bagaimana bisa dia yang setiap hari selalu terbayang wajah Ayesha justru tak melihatnya karena alasan mungil? Tak masuk akal sama sekali.
Saat Darren tengah menghilangkan kepenatan gadis yang di cari pun tengah melakukan hal yang sama. Melarikan diri dari pemuda itu membuat nafas nya tersengal-sengal. Kini Ayesha berada di tempat favoritnya di taman halaman belakang sekolah. Tempat dimana dia bisa merasakan ketenangan tanpa suara bising dari teman-temannya.
Ayesha tak habis pikir, bagaiman bisa Darren yang di kenalnya dingin dan sok itu bisa mengejarnya seperti itu. Bahkan Ayesha sempat berfikir jangan-jangan ketika insiden penculikan oleh Kak Rezky waktu itu si penculik salah memasukan serum ke tubuh pemuda itu hingga membuatnya menjadi aneh. Karena hal ini juga Ayesha sempat menanyakannya pada Rezky tapi sang kakak mengatakan tidak ada serum aneh yang ia gunakan. Dia hanya menggunakan obat bius dengan dosis terendah.
Baru juga Ayesha bisa bernafas lega ternyata Darren berhasil menemukannya. Sia sia usahanya untuk menghindar ternyata.
"Gue cari lo keliling gedung nih sekolah ternyata lo di sini?" Ujarnya begitu duduk di sebelah Ayesha.
"Please biarin gue menghirup udara segar sebentar aja, bisa ngga sih" gerutu Ayesha.
Bukannya tidak senang berada di dekat pemuda itu bahkan mendapatkan perhatiannya, tapi dia merasa sesak jika berada di samping Darren entah kenapa jantungnya pun tidak bisa di ajak kompromi di dalam sana sudah jungkir balik tak menentu apa lagi jika Darren memberikan perhatian-perhatian kecil untuknya. Mungkin Ayesha butuh dokter spesialis jantung?
"Kenapa emang? Kan gue pengen selalu deket sama lo, masa ngga boleh sih" ucap Darren yang sudah cemberut. Sumpah wajah datar nan dinginnya hari ini entah pergi kemana dia justru terlihat seperti kucing.
"Otak lo agaknya sedikit geser. Mendingan lo periksa in dulu gih"
"Buat apa?, dokter gue kan di sini"
"Tau ah, males gue ngomong sama lo" Ayesha kemudian beranjak hendak meninggalkan Darren di sana namun belum sempat kakinya melangkah tangannya lebih dulu di cekal oleh Darren.
"Kita balik ke kelas bareng" ujarnya datar.
Kini, keduanya berjalan beriringan menuju kelas Ayesha tentunya. Sambil berjalan Darren menawarkan Ayesha makan karena gadis itu hanya mengisi perutnya dengan air mineral saja tapi ajakannya itu di tolak mentah-mentah oleh Ayesha. Dia terlalu bingung dengan perasaanya hingga membuatnya tak mempunyai selera makan.
__ADS_1
Dia ingin menjauhi Darren karena takut hatinya akan goyah bila terus bersama tapi pemuda itu seolah tak mengizinkannya.
Lalu apa yang harus dilakukannya? apa Ayesha harus mulai membuka hati? merasakan kasih sayang dari orang lain kah? atau tetap kokoh pada keyakinannya? Sekali lagi terlalu cepat memutuskan bahkan dia sendiri belum yakin. Lantas apa dia harus diam saja menerima perlakuan manis dari Darren? atau dia harus menolak? sungguh ini adalah hal yang sangat rumit. Ia merasa risih tapi ketika Darren mengacuhkannya kenapa dia seolah terasa hampa. Adakah seseorang yang bisa menjawab kegelisahannya?
Pulang sekolah Darren mengantarkan Ayesha kembali ke kediaman Rezky dengan aman dan selamat. Kedatangan keduanya di sambut hangat sang tante. Bukan tanpa alasan tapi Tante Sarah sangat penasaran dengan hubungan Ayesha dan pemuda tampan yang beberapa hari lalu menjadi korban kejahilan anaknya itu. Tante Sarah merasa bertanggung jawab atas Ayesha karena gadis itu sekarang di bawah pengawasannya.
Tapi, sayang harapan tinggal harapan baik Darren maupun Ayesha sama sekali tidak ada yang memberikan jawaban pasti membuat tante Sarah harus menelan kekecewaan padahal jiwa kepo di atas nama kekhawatiran nya itu sudah meronta-ronta butuh kebenaran.
Di dalam kamarnya Ayesha memandangi ponselnya yang hari ini juga kemarin sepi tidak ada pesan dari kembarannya. Dia sedikit khawatir namun mencoba menepis nya jauh-jauh karena di sana ada ayahnya tidak mungkin kan dia menelantarkan Anisha seperti dirinya.
Untuk menghilangkan kebosanannya Ayesha menonton video-video yang tengah viral di media sosial hingga tanpa terasa matanya kini sudah terpejam dan dia pun kembali menjelajahi alam mimpi bahkan dia sama sekali belum berganti baju apalagi makan siang. Hari ini ia merasa sangat letih.
Di dalam mimpinya Ayesha berada di sebuah ruangan yang gelap hanya ada satu titik cahaya pun itu sangat redup. Namun dalam kegelapan itu dia melihat seorang laki-laki tengah berdiri dengan tangan yang terikat pada tali yang membentang. Laki-laki itu berdiri dengan kepayahan.
Tampilannya sangat memperihatinkan. Baju kemeja yang di pakainya sudah kusut, kumuh dan juga kotor karena debu dan juga bercak darah. Tangannya terlihat memerah ada bekas seperti cambukan di sana dan beberapa bagian dari bajunya di daerah itu sobek.
Ayesha gemetar melihat pemandangan di depannya. Walupun Ayesha sering bertarung tapi dia tidak pernah melihat penyiksaan seperti ini. Dia pun menitikkan air matanya. Ayesha ingin berlari dan menyelamatkan pria itu tapi entah kenapa kakinya terasa sulit di gerakan begitu juga dengan suaranya. Dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan sedikit pun suaranya. Tubuhnya benar-benar kaku.
Kakek itu mendekatkan benda tajam tersebut ke arah pria yang terlihat sudah pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh sang kakek pada dirinya. Pisau di arahkannya pada tangan pria itu dan...
Sraaakkkkk
Spalshhhh
Brukkkkk
Ayesha terperanjat dari tidurnya dan jatuh dari tempat tidur. Nafasnya tersengal-sengal baju seragam yang ia pakai pun basah oleh keringat air mata nya mengalir tiada henti seolah ia pun merasakan apa yang di rasa pria itu. Dia melihat jelas adegan kekerasan itu tapi anehnya dia tak bisa melihat wajah orang orang di mimpinya itu. Dia hanya bisa mendengarkan jerit kesakitan dari pria malang itu.
"Apa ini? kenapa gue mimpi seseram itu?"
__ADS_1
"Gue bahkan cuma melihat sedikit adegan kekerasan nya dan itu terasa amat menyakitkan apalagi jika gue lihat dari awal?"
"Gue mimpi tapi kenapa terasa sangat nyata?"
"Bahkan air mata gue ngga mau berhenti, dan jeritan itu terngiang-ngiang di kepala gue"
Ayesha terus bergumam ia masih tidak habis pikir ia bisa memimpikan hal aneh seperti itu. Dalam keadaan syok nya, Ayesha mengedarkan pandangan sekeliling kamarnya. Ternyata hari sudah hampir gelap dan dia tidur sudah selama itu ternyata.
Ayesha pun segera beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Karena kelelahan ia jadi melewatkan waktu Ashar nya.
Ketika Ayesha tengah mengeringkan rambutnya Rezky mengetuk pintu kamarnya dan tanpa menunggu jawaban dari Ayesha pemuda itu langsung saja masuk.
Sudah berapa kali Rezky mencoba membangunkan Ayesha tapi gadis itu benar benar tidur dengan nyenyak.
Rezky mengajak Ayesha untuk makan siang yang ia lewatkan namun belum sempat Ayesha menjawab bi Mei mengetuk pintu kamarnya membuat kedua orang itu menoleh bersama.
"Maaf tuan muda dan nona ada yang mencari nona di bawah" ujarnya.
.
.
.
Bersambung...
...****************...
Jangan lupa like n komen karya receh aku yah readers...
__ADS_1
Terimakasih