
Menjelang siang Ayesha sudah berada di jalan, ia hendak kembali ke apartemen milik Darren karena semua barang-barangnya ada di sana.
Kali ini ia tak sendiri karena Rezky dan Anisha bersikeras untuk ikut membatu mengemas barang. Yah, Ayesha tak bisa menolak akhirnya di sini sekarang mereka berada. Setelah perjalanan sekitar satu jam kini mereka sampai di lobi gedung dengan hanya sepuluh lantainya.
Ayesha menekan tombol angka 8 di dalam lift, Lantai di mana ia tinggal.
Ting..
Pintu lift terbuka mereka berjalan beriringan menuju sebuah pintu yang berada di tengah-tengah lantai itu. Setelah menekan beberapa angka akhirnya pintu pun terbuka, mereka memasuki ruangan itu dan menelisik setiap sudut dari apartemen itu.
"Wow ini dia beli sendiri?, memalukan seorang tuan muda dari keluarga terkaya membeli sebuah apartemen sekecil ini? Ini sih bukan tempat tinggal ini lebih mirip rumah kelinci. Hahaha" celetuk Rezky merendahkan.
"Hus ngga boleh gitu kak, biar bagaimana pun ini tuh tempat tinggal orang. Kakak bisa menyinggungnya" Anisha mengingatkan kakaknya itu.
"Tau tuh punya mulut ngga ada saringannya, kena azab ikan terbang baru tau." cibir Ayesha.
Rezky tak lagi menjawab ia langsung membantu Ayesha tanpa suara. Sejujurnya ia lelah karena benar-benar kurang istirahat tapi ia juga penasaran seperti apa tempat tinggal teman tongkrongannya. Di luar ekspektasi ia kira apartemen temannya itu akan luas, mewah lagi megah kenyataannya? Bahkan kamarnya lebih luas dari pada tempat ini.
Di kediaman keluarga Pranadipta, Darren sedari tadi mematut wajahnya, ia tak keluar kamar. Darren merasa benar-benar kesal dengan kakaknya. Semua rencana yang dia susun rapi hancur berantakan.
Tadinya ia ingin membuat seorang Ayesha Saqeena Herlambang jatuh cinta pada dirinya, Darren Pranadipta, tapi sang kakak menghancurkan nya begitu saja. Karena hanya dia satu satunya gadis yang tak mengenali dirinya bahkan berkali kali Darren di tolaknya karena penasaran ia ingin mencairkan bongkahan es itu. Sayangnya setelah sekian lama belum juga ada tanda-tanda gadis itu jatuh cinta padanya.
Tok..tok..tok..
Ketukan di pintu berulang-ulang terdengar tapi Darren tak bergeming. Ia malas sekali untuk sekedar makan atau pun beranjak dari tempat tidurnya.
Di luar para ART sudah menyerah untuk membujuk tuan mudanya kini gantian Rasya yang mencoba memanggil adiknya tapi hasilnya tetap saja sama pintu masih saja tertutup rapat.
Karena Rasya tidak memiliki banyak waktu akhirnya dia menyerahkan kembali pada ART untuk membujuk adiknya agar mau memakan sesuatu.
Saat ini yang di butuhkan Darren adalah sebuah pelampiasan jadi dia memutuskan untuk keluar rumah dan hendak mengajak Baron atau siapapun untuk balapan motor dengannya.
Dia tak tau kenapa bisa se kesal ini hanya karena dia tak bisa lagi berdekatan dengan Ayesha. Walupun mereka satu sekolah tapi rasanya lain ketika gadis itu menjadi Asistennya. Dia sadar selama ini ada sedikit ketertarikan dengan Ayesha tapi ia selalu menanamkan pada hatinya jika ia hanya penasaran. Hanya penasaran tidak lebih!.
Tapi, hari ini ketika ia tak lagi bisa menganggu Ayesha ada sesuatu yang hilang. Mungkin kah karena terlalu sering bersama? Mungkin hanya kesenangannya tiba-tiba di rampas? Yah mungkin karena itu.
__ADS_1
Sepertinya terlalu cepat jika menyimpulkan ini adalah Cinta. Tak mungkin kan hanya dalam waktu dua bulan? Mustahil! Dan berbagai pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam benaknya membuat ia tak bisa berkosentrasi.
"Kenapa gue mikirin dia mulu sih. Akhhhh!!!"
"Hey lo hantu ya? Menyingkir dari otak gue!!!!"
"Apa lo senyum-senyum mau gue sleding tu muka ya?"
Tidak tahu kenapa bayangan-bayangan Ayesha memenuhi pikiran bahkan di pelupuk matanya. Dalam khayalannya, kini Ayesha tengah duduk di sampingnya memandangi wajah tampan Darren dan terus tersenyum tulus padanya. Itulah kenapa Darren berbicara sendiri.
Darren bagai orang tak lagi waras ia terus saja berteriak-teriak tak jelas membuat para asisten rumah tangga yang ada di depan pintu kamarnya menjadi khawatir. Khawatir tuan mudanya benar-benar tak waras.
Dia butuh pelampiasan sekarang sebelum dia benar-benar kehilangan akal. Darren pun menyambar kunci motor kesayangannya mengabaikan pertanyaan-pertanyaan dari para ART yang mengkhawatirkannya.
Dengan kecepatan sangat tinggi, Darren mulai melajukan motornya menyalip kendaraan-kendaraan di jalan raya. Ia tak peduli dengan umpatan-umpatan dari pengendara lain yang ia pedulikan hanyalah ia ingin melepaskan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Tak butuh waktu lama ia tiba di sebuah lintasan untuk motor-motor trail. Medannya lumayan terjal tak banyak yang berani menggunakan lintasan ini untuk latihan apalagi lomba hanya Darren, Baron dan beberapa anggota yang lain tak banyak. Karena lintasan ini di jadikan hak milik oleh Darren untuk para anggotanya. Siapa pun yang ingin mencobanya harus mendapatkan izin darinya.
Darren mulai mengganti motornya dan bersiap menggunakan segala atribut keselamatan. Mesin mulai di digembar-gemborkan bersiap untuk memulai aksinya. Pertama ia harus melewati jalanan yang lurus tapi cukup berlumpur dan bebatuan terjal setelahnya ia akan menuruni bukit dengan kemiringan lebih dari 90 derajat dan ketinggian kurang lebih lima meter.
Jika Darren tengah merasa kesal karena usahanya gagal lain halnya dengan Ayesha. Gadis itu justru tengah bahagia karena bisa bertemu dan bahkan tidur bersama dengan kembarannya. Catet tidur siang.
Selepas kembali dari Apartemen Ayesha, Rezky, dan Anisha ketiganya tengah bergurau dan saling meledek di ruang keluarga.
Anisha bilang ia ingin sekali menginap di tempat Rezky tapi ia tak bisa meninggalkan ayahnya terlalu lama.
"Sha, lo tau ayah sangat menyesal telah mengusir mu dari rumah. Setelah kepergian mu hari itu ayah menjadi pribadi yang berbeda. Lebih cuek, tak lagi memperhatikan gue, makan dan tidur tak teratur yang lebih parahnya walupun ayah selalu tampil rapi tapi entah kenapa gue ngeliat ayah tuh selalu berantakan" tutur Anisha.
"Sha, pulang lah kita semua merindukan mu. Terutama ayah dia sangat menyesal." Lanjutnya lagi.
Sesaat Ayesha menghembuskan nafasnya kasar. Ya, siapa sih yang tak mau keluarganya utuh dan berjalan normal seperti keluarga-keluarga yang lain. Tapi kan ini kasusnya lain meskipun ingin tapi Ayesha tak bisa, ia merasa tak berhak karena ayahnya sendiri yang memintanya pergi. Harus kah ia mengemis hanya untuk kembali masuk ke dalam rumah penuh kenangannya?.
Tidak!! Sudah cukup ia menumpahkan segala air mata dan keringat untuk sekedar mengemis perhatian ayahnya.
Kebahagiaan bisa ia raih walaupun tanpa adanya sosok ayah, karena sejatinya ia pun sedari kecil tak pernah merasakannya.
__ADS_1
"Itu.. terdengar sangat indah Na... Bahkan hatiku mampu bergetar hanya mendengar nya dari mu. Tapi.. akan terasa lebih indah jika saja ayah sendiri yang mengatakannya". Ayesha menjeda kalimatnya ia menengadahkan kepalanya memandang langit-langit mencoba menahan air mata yang hendak meluncur dari pelupuk matanya.
"Saat itu tiba, gue akan lari dengan tangis bahagia menyambut pelukan ayah yang hangat dan menenangkan. Pelukan yang selalu gue rindukan" tukasnya.
Anisha paham maksud adiknya ia tak lagi memaksa, karena memang apa yang Ayesha katakan itu benar. Walupun ia tau ayahnya memang merindukan Ayesha tapi, hingga detik ini ayah Ardi tak pernah mengatakannya. Obrolan sentimentil itu terdengar jelas di telinga Rezky karena memang dia masih ada di sana tapi pemuda itu enggan ikut campur masalah keluarga si kembar. Dia hanya membantu jika si kembar memintanya karena dia merasa tidak sopan masuk ke tengah-tengah masalah orang lain.
Setelah Anisha pulang, Ayesha berdiri termenung memandangi langit yang mulai berubah jingga merasakan hembusan angin sore membelai lembut kulitnya.
Lagi-lagi perasaanya tak menentu kala ia mengingat sosok ayah. Sudah bagus beberapa minggu ini dia melupakannya karena terlalu sibuk mengurus tuannya. Ngomong-ngomong tuannya Ayesha menjadi merasa sedikit sepi. Karena di jam-jam ini dia biasa membuatkan Darren makan malam atau menemaninya beradu mulut tapi sekarang semuanya telah kembali pada posisi semula.
"Kira-kira dia lagi apa ya?" gumamnya pelan tak lama kemudian ia tersentak menyadari ucapannya sendiri.
"Hais kok gue malah mikirin dia, ogah banget"
Pusing memikirkan nasibnya ia memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan buku pelajaran karena besok sudah mulai sekolah.
"Ya, ini lebih baik"
.
.
.
Bersambung...
...****************...
Jangan lupa kasih dukungan kalian pada cerita acak adul aku ini yah readers..
Satu jempol kalian sangat berarti buat aku..
Terimakasih
Heppy reading all...
__ADS_1