
Di tempat Ayesha ketika sang ayah menjangkau wajah gadis kecilnya tiba-tiba tubuh yang sudah lemah itu seolah mendapatkan tenaga yang baru berusaha untuk bisa duduk ia ingin memeluk putrinya untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun yang lalu. Namun belum sempat sang ayah memeluk putrinya tiba-tiba...
Dor!!
Dor!!
Dor!!
.
.
.
Terdengar tembakan yang menggema di penjara bawah tanah tersebut dan..
Bruk...
Tubuh Ayesha ambruk bersimbah darah di bagian punggungnya. Begitu juga si penjahat yang juga mendapatkan dua tembakan dari Rezky dan Darren. Namun keduanya terlambat satu detik hingga peluru si penjahat sempat melesat ke arah ayah Ardi. Ayesha tentu menyadari itu secepat kilat ia menghalangi laju timah panas tersebut agar tidak melukai ayahnya yang memang sudah terluka parah.
Ayesha tidak berfikir hal itu justru membuatnya terkena timah panas yang mengarah ke jantungnya.
Semua orang yang melihat itu panik tak terkecuali ayah Ardi. Ia tidak menyangka putrinya menyelamatkan dirinya setelah apa yang selama ini ia lakukan. Betapa hancurnya sang ayah melihat putrinya yang ia jaga pada akhirnya terluka. Padahal dia sudah mempersiapkan diri seandainya tuan Jay itu menginginkan nyawanya tapi semua seakan sia-sia melihat putrinya jatuh bersimbah darah.
"Ayesha!!!!" Pekiknya. Susah payah Ayah Ardi meraih kepala Ayesha dan meletakkannya di pangkuan.
"Ayesha!!!" Pekik Darren dan Rezky yang juga sudah sampai di ruangan tempat ayah Ardi di sekap.
"A..Ayah...Uhuk..Uhuk.." Ayesha menyeburkan darah dari mulutnya akibat tembakan itu. Hal itu membuat ayah Ardi cemas begitu juga kedua pemuda yang sudah menangis melihat gadis yang ia sayangi berada di ambang batas.
Secepat kilat Rezky menghubungi ayahnya melalui earphone yang ada di telinganya meminta tim medis segera di kirimkan ke sana.
"Cukup nak, kamu jangan banyak bergerak supaya darahnya tidak banyak yang keluar" ucap ayah Ardi yang terus mengecup rambut anaknya. Ayah Ardi takut kejadian yang menimpa ibu si kembar terulang kembali. Ia tidak siap benar-benar tidak menginginkan hal itu.
"Kamu harus kuat Ay, kamu harus bertahan" ucap Darren mencoba memberi semangat.
"Sha tahan sebentar ya, dokter sedang menyusul ke sini" tutur Rezky tak kalah cemas.
Uhuk..Uhuk..Uhuk..
Darah kembali keluar dari tubuhnya. Sebisa mungkin Ayesha tetap menjaga kesadarannya. Tapi rasa sakit yang amat luar biasa itu membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Ia ingin mengatakan sesuatu sebelum terlambat tapi, tak bisa susah sekali walau ingin mengucapkan satu kata. Ketika ia membuka mulut justru darah lah yang terus keluar.
Ayesha tak ingin kehilangan banyak darah tapi ia juga merasa waktunya menipis.
"A..Ayah..Uhuk..Ye..Yesha menyayangi Ayah.. Uhuk.." Akhirnya kalimat yang ingin ia sampaikan bisa ia ucapkan walaupun dengan susah payah.
"Iya nak..iya ayah juga sangat menyayangi mu. Ayah minta maaf selama ini ayah sangat jahat sama kamu. Ayah menelantarkan mu. Ayah menyakitimu. Ayah melukaimu setiap hari bertahun-tahun lamanya. Ayah minta maaf nak" Tutur ayah Ardi dengan air mata yang sudah sangat deras hingga air mata itu menetes mengenai wajah pucat Ayesha.
"A..Ayah.. to..tolong kata..katakan..jika... Yesha.. juga putri...Ayah. To..tolong peluk Ayesha seperti dulu. A..Ayesha merindukan pelukan itu A..Ayah..Sekali saja untuk yang terakhir Ayesha ingin merasakannya.. Uhuk..Uhuk..Uhuk.." Tutur Ayesha dengan tenaga yang tersisa. Ia mengatakan apa yang selama ini ingin ia sampaikan.
Ayah Ardi memeluk Ayesha erat seperti dulu ketika Ayesha masih anak-anak. Sungguh Ayesha merindukan kehangatan itu. Namun belum sempat ayah Ardi mengucapkan apa yang putrinya ingin dengarkan kesadaran Ayesha hilang sepenuhnya bersamaan dengan para tenaga medis yang baru sampai.
"Tidak!!! Ayesha!!! buka matamu!!! Yesha!!! huhuhuhu" Teriak Ayah Ardi melihat putrinya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Petugas medis memeriksa keadaan Ayesha namun karena peluru yang kemungkinan mengenai organ vitalnya mereka tak bisa mengambil timah panas itu di sana. Mereka harus melakukan operasi. Akhirnya Ayesha di bawa ke rumah sakit terdekat.
Melihat itu ayah Ardi yang memang terluka parah juga kehabisan tenaga akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Rezky.
Ayah dan anak itu di larikan ke rumah sakit terdekat. Darren senantiasa setia di samping Ayesha menggenggam tangan gadis itu berharap Ayesha akan baik-baik saja.
Ayah Ardi di larikan ke rumah sakit mengunakan ambulance yang terpisah dengan Ayesha. Di sisinya Anisha setia menemani air matanya tak bisa di tahan. Tubuhnya melemas mengetahui Ayah Ardi dalam kondisi yang mengenaskan, kembarannya yang sedang berjuang antara hidup dan mati belum lagi neneknya meninggal.
Tidak bisa dilukiskan betapa hancurnya perasan Anisha. Semua orang yang dia sayangi tengah terluka parah dan juga meninggalkannya. Anisha menangis tersedu-sedu di samping ayahnya merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi hingga Ayesha harus terluka seperi ini.
Suara sirine menggema di keheningan dini hari. Di dalam mobil ambulance Darren tak henti-hentinya berdoa agar Ayesha bisa melewati rasa sakitnya. Ia berulang kali menciumi tangan Ayesha yang mulai terasa dingin. Detak jantung Ayesha mulai melemah membuatnya panik begitu juga dengan tim medis. Beruntung mereka telah sampai di rumah sakit.
Kini Ayesha berada di ruang ICU untuk melihat dengan jelas kondisinya hingga di putuskan tindakan operasi untuk mengambil peluru yang masih bersarang di sekitar jantungnya. Hanya kurang 1 cm lagi peluru itu mengenai jantungnya.
Di Brangkar yang lain ayah Ardi mengalami koma karena benturan di kepalanya ia juga kehilangan banyak darah dan cairan dalam tubuhnya. Dokter belum bisa memastikan kapan Ayah Ardi akan sadar.
Darren, Anisha, Rezky, Om Ray, dan juga Rasya kini berada di depan ruang operasi menunggu dokter selesai melakukan tindakan.
"Ayesha pasti akan baik-baik saja. Om yakin dia anak yang kuat dan tidak mudah menyerah. Kamu harus kuat Na, doakan Ayesha agar bisa melewati ini" Tutur Om Ray memberikan semangat pada Anisha yang tengah kalut.
Mendengar itu Anisha menangis sejadi-jadinya mengeluarkan segala sesak yang ada di dadanya. Saat ini ia sangat membutuhkan pelukan seperti ini. Om Ray benar Anisha harus percaya Ayesha akan baik-baik saja dan bisa berkumpul lagi dengannya.
"Huhuhu Ayesha.." Tangisnya dalam pelukan om Ray. Rezky pun turut memberikan pelukan untuk adiknya. Rezky pun sama ia sangat sedih melihat adik tersayangnya berada dalam ruangan itu. Adik yang selalu bertengkar dengan nya. Adik yang selalu menjahilinya kini tengah berjuang untuk bisa merasakan kembali indahnya dunia.
"Ay, Lo harus kuat..lo bisa..lo pasti bisa..liat lah Ay, banyak orang yang menyayangi elo mereka semua menunggu elo." Batin Darren sambil menatap nanar pintu ruangan yang masih tertutup rapat dengan lampu yang masih menyala di atasnya.
Rasya melihat kesedihan di wajah adiknya, ia merangkul adiknya. Mencoba memberi semangat pada Darren. Darren yang merasakan itu tanpa sadar ia memeluk sang kakak. Ini pertama kalinya setelah sekian tahun Darren memeluk kembali kakaknya. Rasanya masih sama hangat dan menenangkan.
"Sebaiknya kita doakan Ayesha agar ia bisa melewati ini semua. Ayo kita sholat kita minta kesembuhan pada Allah untuk Ayesha" Ajak Rasya dan di angguki oleh Darren mereka menuju mushola.
Hampir dua jam waktu berlalu tapi pintu ruangan itu belum juga terbuka. Raut cemas terlihat dari semua orang.
Krieettttt....
Dokter yang masih mengenakan seragam operasi keluar, mengetahui hal itu semua orang menghampirinya mendesak sang dokter mengatakan keadaan Ayesha.
"Alhamdulilah operasinya berjalan lancar. Tapi ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait kondisi pasien." tutur sang dokter.
"Apa itu dok" tanya mereka bersama.
"Anggota keluarga nona Ayesha mari ikut saya ke ruangan"
Anisha di temani om Ray mengikuti dokter. Kini mereka sudah duduk berhadapan dengan dokter di dalam ruangan.
"Begini tuan dan nona. Karena peluru itu mengarah ke jantungnya dan hampir mengenai pembuluh utama, saya sampaikan bahwa nona Ayesha tidak dalam keadaan baik-baik saja." Tutur sang dokter.
"Tapi dok. Dokter bilang tadi operasi adik saya berhasil tapi kenapa keadaanya justru memburuk?" Ujar Anisha berusaha menahan tangisnya.
"Maaf nona. Tapi luka yang di alami nona Ayesha tergolong fatal. ia bisa bertahan sejauh ini itu adalah suatu keajaiban dan kita saat ini hanya bisa berharap keajaiban yang lainnya akan Tuhan turunkan untuk nona Ayesha. Kami akan berusaha yang terbaik untuk menyembuhkannya tapi semua kembali lagi pada " Tukas sang dokter mengakhiri penjelasannya.
Anisha dan om Ray berjalan keluar dari ruangan dokter dengan lesu. Fakta bahwa harapan hidup untuk Ayesha yang tipis membuat mereka kehilangan tenaga. Apa iya mereka akan kehilangan harapan untuk dapat kembali berkumpul dengannya.
Ayesha kini di pindahkan ke ruang ICU. Banyak sekali kabel yang menempel pada tubuhnya. Keadaanya yang masih buruk membuat Ayesha harus bergantung dengan alat-alat dokter. Di samping tempatnya berbaring sang ayah pun dalam keadaan yang sama dengannya.
__ADS_1
Di dalam alam bawah sadarnya, Ayesha sedang berada di sebuah taman bunga yang sedang bermekaran. Air terjun juga pohon-pohon yang menjulang membuat sejuk suasana di sana. Di tempat itu Ayesha sedang bermain air dengan riang di temani wanita cantik yang selalu di rindukan Si kembar. Ya itu mamah Dinda. Mereka terlihat sangat bahagia berbeda dengan kehidupan nyata di rumah sakit.
Sudah satu minggu Ayah dan Ayesha tidak sadarkan diri keadaanya masih sama tidak ada perubahan. Setiap hari Darren tidak pernah meninggalkan Ayesha kecuali untuk Sholat. Bahkan sekolahnya pun ia tidak peduli. yang ada di benaknya ia ingin menjaga Ayesha sepanjang waktu.
Darren selalu mengajak Ayesha berbicara, menceritakan hal-hal indah dan lucu berharap alam bawah sadar Ayesha merespon membuat si putri tidur terbangun.
Anisha tak jauh berbeda dengan Darren ia selalu bergantian dengan Darren menemani Ayah dan adiknya. Bercerita banyak hal tentang keseharian mereka dulu dengan harapan yang sama dengan Darren.
Di saat Anisha sedang memotong kuku sang ayah, tiba-tiba tangan yang di pegang nya bergerak. Ayah Ardi tersadar dari tidur panjang nya membuat Anisha bahagia karena masih di beri kesempatan untuk bersama sang ayah.
1 bulan berlalu..
Ayesha mulai menunjukan pergerakan kecil di jari jarinya. Ayesha membuka perlahan matanya. Hal pertama yang di lihatnya adalah wajah tampan dari Darren yang senantiasa menemaninya. Melihat hal itu Darren bahagia sekali. Ia ingin berlari memanggil dokter dan juga Anisha yang berada di luar dengan ayah Ardi yang sudah sehat kembali tapi ketika hendak berbalik tangannya lebih dulu di tahan oleh Ayesha.
"Da..Darren..." Sapanya parau.
"Iya Ay, gue di sini.. lo butuh apa? lo mau minum? gue panggil dokter dulu ya?" ucap Darren dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Melihat kekasih hatinya membuka mata adalah hal yang paling di tunggunya dan hari ini dia bahagia, Ayesha masih mau bertahan padahal para dokter sudah angkat tangan mereka bilang tidak ada lagi harapan hidup untuk Ayesha.
"Tidak...a..aku..me..mencintaimu.." ujar Ayesha.
Dan ini adalah hal yang paling Darren tunggu. Akhirnya cintanya berbalas mendengar Ayesha mengatakan itu air matanya mengalir begitu saja tapi ini bukan kesedihan ini adalah air mata bahagia.
"Iya..Ay..iya aku juga mencintaimu aku sangat mencintaimu kamu bertahan ya kamu harus kuat. Aku panggil A-"
Tiiiiittttttttt
Bunyi dari monitor yang memantau detak jantung Ayesha membuat Darren terkesiap. Bunyi yang nyaring dan panjang serta garis lurus yang ada di monitor itu membuat Darren seketika panik. Kebahagian yang sempat ia rasakan harus ia telan kembali melihat kondisi Ayesha yang memburuk. Darren berlari keluar memanggil-manggil dokter.
Dokter bergegas datang bersama suster. Anisha dan Ayah Ardi panik, Darren ketakutan melihat kenyataan ia tak sempat merasa bahagia.
Dokter keluar dengan wajah lesu.
"Maaf kami telah berusaha yang terbaik tapi, pasien tidak bisa bertahan" ucap Dokter.
"Tidakk!!!!!!" Teriak ketiganya bersama.
"Yesha...bangun nak, ini Ayah. Kamu bilang kamu ingin ayah peluk tapi kenapa kamu pergi nak. Bangun sayang, kamu putri ayah kan? ayo bangun jangan tinggalkan ayah sayang..huhuhuhu" ucap Ayah Ardi saat berada di ruangan Ayesha. Alat-alat medis telah di lepas tidak ada lagi yang menempel pada Ayesha. Wajahnya pun memucat dan badannya terasa dingin.
"Ayesha...bangun!!! bercandaan lo ngga lucu Sha. Katanya gue kekuatan lo Sha, gue udah di sini kenapa lo ngga bangun juga. Ayo Sha bangun kalo lo bangun gue janji gue akan kasih jawaban soal Matematika ke elo tanpa mengeluh. Ayo dong Sha bangun jangan kaya gini....huhuhuhu". Racau Anisha ia begitu hancur. Saudari kembar yang selama ini selalu ada di sampingnya menghapus semua kesedihannya, mood booster nya, teman curhatnya, Body guardnya kini tidak lagi mau membuka matanya. Ayesha memilih pergi dan tidak mau bertahan.
"Ayesha...lo bilang lo mencintai gue tapi kenapa lo nutup mata lo dan ngga mau buka lagi. Lo kasih gue harapan tapi detik itu juga lo hancurkan. Lo kasih gue kebahagiaan tapi sesaat kemudian lo rampas lagi..Please Ay bangun gue mohon" Darren sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Ia merosot terduduk di lantai ruangan itu merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Ayesha pergi untuk selama-lamanya membawa semua kebahagiaan yang belum sempat di rasa. Ayesha meninggalkan cerita yang tak pernah membiarkannya bahagia. Membawa luka yang belum sempat di sembuhkan.
Taburan bunga di atas gundukan tanah menutup cerita sedih yang sempat terukir namun membuka cerita kehidupan sesungguhnya.
Terkadang hidup memang tidak seperti yang kita harapkan. Kita makhluk hidup hanya bisa merencanakan namun Tuhan lah yang menentukan alur ceritanya. Ayesha Saqeena Herlambang adalah gadis yang berharap hidup bahagia di cintai oleh orang-orang yang juga ia cintai namun ternyata Tuhan berkehendak lain kebahagian Ayesha ternyata bukan di dunia yang fana ini melainkan bahagia di sisi-Nya.
.
.
.
__ADS_1
The End, Tamat, Habis