
Malam hari tiba, Anisha dan ayah Ardi telah siap untuk menghadiri acara makan malam di sebuah hotel bintang lima, karena sore tadi ayah Ardi mendapatkan pesan singkat bahwa acaranya di pindahkan ke hotel mengingat bukan hanya dirinya yang akan hadir tapi juga beberapa rekan bisnis dari om Raymond.
Ayah Ardi terlihat gagah dengan stelan jas biru tua meski usianya yang tak lagi muda. Sedangkan Anisha juga terlihat sangat cantik dengan dress selutut tanpa lengan berwarna biru muda. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan hiasan berupa bando mutiara di kepalanya.
Tak lupa Anisha juga mengenakan kalung pemberian dari Rezky tadi sore.
Keduanya berjalan menuju mobil ayah Ardi dimana disana sudah menunggu sopir pribadi nya yang bernama Jojo. Anisha dan Ayah Ardi sesekali juga terlihat bersenda gurau jelas terlihat jika keduanya sangat bahagia.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka dengan tatapan sendunya. Ayesha mengantar kepergian ayah dan kakaknya dari balkon lantai dua. Lagi-lagi setetes air matanya jatuh namun buru buru ia seka.
Setelah kepergian ayah dan kakaknya itu Ayesha kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. tempat ternyaman nya.
Baru beberapa menit Ayesha merasa lebih tenang dering teleponnya terdengar, dengan malas Ayesha mengangkat handphone nya tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.
"Apa?" ucap Ayesha ketus begitu ia menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.
"ish galak banget sih, Assalamualaikum Ayesha" terdengar suara perempuan dari sebrang telpon.
"Waalaikumsalam, apa?"
"gue mau minta tolong, Lo mau ya tolongin gue, please ini darurat!" ucap penelpon itu terdengar memelas.
"tolong?" gumam Ayesha kemudian ia melihat ke layar handphone nya tertulis nama Nita, ketua kelas kesenian di sekolah nya.
"Tolong apa?" lanjutnya.
"Lo ikut tim kita lomba yah Sha? dua orang anggota kita kecelakaan kemarin jadi ngga bisa ikut, gue denger Lo ikut salah satu sanggar tari kan?" ucap Nita mengutarakan maksudnya.
"tau dari siapa Lo? tapi maaf gue ngga minat"
"ayolah Sha masa Lo ngga mau bantuin sih, ini tuh perlombaan bergengsi buat sekolah kita karena acaranya akan di liput di sebuah acara tv. yakin Lo ngga minat?"
Ayesha diam sejenak ia tengah berfikir sepertinya bukan hal yang buruk jika dia ikut.
"oke baiklah, kapan emang lombanya?" tanya Ayesha antusias.
Sebenarnya Ayesaha tidak terlalu senang terekspos mengingat beberapa kali ia menang di beberapa kompetisi menari, menyanyi, bermain alat musik juga kejuaraan taekwondo namun bukan sebuah ucapan kebanggaan dari ayahnya seperti yang dia harapkan justru sindiran pedas dari ayahnya jika Ayesha hanya menang lomba yang tak patut di banggakan berbeda dengan Anisha yang sering sekali mengikuti olimpiade matematika atau sains pasti selalu menjuarainya.
Sejak saat itu Ayesha lebih memilih menekuni hobinya itu dari balik layar.
"woy!! Sha Lo masih idup Lo?" tanya Nita dari sebrang sana membuyarkan lamunan masa lalu dari Ayesha.
"oh masih lah, Lo pikir lagi ngomong sama siapa?" jawab Ayesha ketus.
"hehehe iya sorry, jadi gimana Lo mau kan bantuin kita?"
"baiklah, kapan emang kompetisinya?"
"empat Minggu lagi, tapi kita harus seleksi dulu ya buat bagi posisi"
__ADS_1
"kapan seleksi nya?"
"sekarang"
"Apa!!!?? lo gila ya? dadakan banget, besok aja sih"
"untuk itu gue minta maaf soalnya gue baru dapet info soal Lo yang ikut sanggar, jadi baru gue hubungin."
Ayesha menekan pangkal hidungnya baru juga mau nolongin tapi yang minta tolong ngga kira kira. untung orang rumah pada keluar.
"serloc, gue otw."
tanpa menunggu jawaban dari Nita, Ayesha langsung mematikan telfon kemudian mengganti pakaiannya.
Ting...
Pesan dari Nita muncul di layar ponselnya. Segera Ayesha memesan ojek dari aplikasi nya.
Tiga puluh menit kemudian Ayesha sudah berdiri di depan sebuah rumah minimalis dengan halaman yang cukup luas ada banyak sepeda motor dan dua mobil Ayesha yakin itu pasti punya teman teman dari kelas kesenian.
Ting tong Ting tong..
Ayesha menekan bel yang berada di samping pintu masuk. Tak lama kemudian pintu pun terbuka menampakkan seorang wanita cantik yang tersenyum manis kepadanya.
Seorang wanita cantik tampak masih muda mungkin sekitar tiga puluh tahunan tampak anggun dan suaranya pun terdengar lembut mungkin dari dia berasal daerah Jawa terdengar dari logatnya bicara.
Kak Lisa mempersilahkan Ayesha masuk dan bergabung bersama teman teman yang lain.
Di dalam rumah ternyata sudah banyak anggota kesenian yang datang tapi, hanya beberapa orang yang Ayesha kenal Seperti Nita misalnya.
Karena Ayesha adalah anggota yang terakhir seleksi pun di mulai. Setelah cukup lama akhirnya dipilihlah Ayesha sebagai penari utama yang berpasangan dengan Exel dari kelas 10 IPS.
Sementara itu di sebuah hotel mewah nan megah nampak ramai dengan banyak pasangan yang tengah berdansa mengikuti alunan merdu musik yang tengah di mainkan.
Di antara keramaian yang ada tampak seorang laki-laki tampan berjalan menghampiri seorang gadis bermata biru yang tengah duduk sambil menikmati segelas jus jeruk sambil memperhatikan ayahnya yang tengah berbincang dengan rekan bisnisnya.
" Ekhem" sapa laki-laki itu yang tidak lain adalah Rezky.
"Eh kak Rezky?"
"Boleh Kakak ikut duduk?"
"ya"
"Bagaimana mana menurutmu pestanya Na?" Tanya Rezky ketika ia telah duduk di sebelah Anisha.
"Bagus kak tapi, untuk anak muda seperti Qena ini terlalu membosankan" ucap Anisha jujur. Namun, sedetik kemudian ia terkesiap menyadari mungkin ucapannya menyakiti perasaan Rezky yang tidak lain adalah anak dari sang tuan rumah.
"Eh maaf kak, bukan maksud Qena nyinggung perasaan kakak" ucapnya lagi penuh penyesalan.
__ADS_1
"Santai aja Na, gak usah sungkan kakak juga bosen. Kebetulan tadi kakak ngga sengaja liat kamu duduk sendirian ya udah kakak samperin aja" Ucap Rezky santai.
Dan obrolan mereka pun berlanjut sesekali terlihat mereka saling melempar candaan, mengejek dan tertawa.
Saat sedang asyik berbincang, pandangan Anisha tak sengaja melihat seorang laki laki tampan yang mungkin seumuran dengan Rezky tengah meminum minuman yang entah apa itu yang terlihat oleh Anisha airnya bening seperti air minum biasa.
Dia terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa pemuda yang nampak seumuran. Karena postur tubuhnya yang tinggi serta putih juga tampan tentunya membuat pemuda itu tampak mencolok dibandingkan dengan yang lain.
Jantung Anisha tiba-tiba berdetak kencang ketika melihatnya membuat dia enggan melepaskan pandangannya dari pemuda itu barang sedetik pun.
Anisha terhanyut dalam perasaan nya hingga dia tidak menyadari panggilan dari Rezky yang sedari tadi masih asyik mengajak nya berbicara , padahal sama sekali tidak ada Jawaban dari Anisha.
Menyadari itu Rezky menatap dan memperhatikan adiknya itu mencoba mendapatkan perhatian nya lagi.
Karena penasaran sedari tadi tidak ada respon dari Anisa, Rezky mengikuti arah pandangan dari adiknya itu.
Setelah mendapatkan jawaban dari kebisuan adiknya itu, Rezky tersenyum penuh arti. kemudian menepuk bahu Anisha.
"Liatin apa sih Na?" ucap Rezky menggoda adiknya.
"Apa sih kak ngga ada ko" jawab Anisha yang terlihat gugup.
"kamu mau Kakak ajak kenalan? dia jomblo loh" ucap Rezky kembali menggoda Anisha.
Anisha tampak malu-malu terbukti dari mukanya yang memerah dan tanpa menunggu jawaban dari adiknya ,Rezky menarik tangan Anisha mendekati kumpulan pemuda yang sedari tadi di tatap oleh Anisha.
"hai Ren!" sapa Rezky ketika mereka telah berada di samping laki-laki yang sedari tadi telah mencuri perhatian Anisha.
"Eh hai Rez, silahkan. gabung aja" ucap pemuda yang tidak lain adalah Darren.
Kebetulan Darren dan Rezky memang sudah saling kenal sejak SMP dimana dulu mereka sering kumpul bareng di salah satu teman mereka yang kebetulan kenal keduanya meskipun beda sekolah.
Hubungan diantara keduanya bisa di bilang cukup baik meskipun sempat hilang kontak saat Rezky pindah ke luar negeri untuk merawat nenek nya yang saat itu tengah sakit tapi tidak membuat persahabatan mereka pudar.
"Kenalin Ren Ade gue, Anisha" ucap Rezky mengenalkan Anisha.
"Hai gue Anisha" ucap Anisha ramah meskipun di dalam sana jantungnya maraton sejak tadi namun untungnya Anisha bisa mengontrol diri agar tidak terlihat gugup.
Darren yang melihat Anisha mengrenyit kan alisnya dia seolah pernah melihatnya.
"kok gue kaya pernah liat ya?"
.
.
.
Bersambung
__ADS_1