Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
si tampan Darren


__ADS_3

Di lain tempat, tepatnya di dalam sebuah mobil tampak seorang pemuda tengah tersenyum sambil memandangi benda pipih di tangannya.


Apa yang membuat nya tersenyum?...


.


.


laki-laki yang tengah memperhatikan deretan nomor di hpnya tak lain adalah Darren. Darren tersenyum mengingat kebodohan yang baru saja ia lakukan. sungguh perkenalkan yang buruk pikirnya.


......*****......


Kejadian sebelum Darren berada di gudang..


.


.


"Gimana bos?" ucap seorang pemuda yang masih memakai seragam putih abu-abu. Tertulis sebuah nama Baron Susanto pada bet nama di seragam sebelah kanannya.


Baron bertanya pada seorang pemuda tampan yang tengah duduk di kursi kebesaran nya dalam sebuah ruangan kotor. Ruangan yang tidak terlalu besar mungkin sekitar 5X5 M. Bangunan yang terbengkalai tersebut berada di sebuah kebun yang kosong jauh dari keramaian tempat yang sangat cocok untuk dijadikan sebuah markas.


Di dalam bangunan tua tersebut terdapat sebuah kursi yang tengah di duduki oleh pemuda tampan itu, sebuah meja persegi panjang di depannya, sebuah lemari kayu yang terlihat kokoh, ada juga kulkas untuk mereka menyimpan makanan dan minuman, juga sebuah lampu yang tergantung ditengah tengah ruangan dengan cahayanya yang remang remang, menambah kesan misterius pada ruangan tersebut.


Beberapa pemuda menjadikan tempat tersebut sebagai markas untuk kelompok mereka yang di ketuai oleh pemuda tampan nan rupawan yang tidak lain adalah Darren.


Darren dan beberapa pelajar dari sekolah nya tengah berkumpul untuk membahas masalah pengeroyokan salah satu anggota mereka yang dilakukan oleh sekolah lain sehingga anggota yang menjadi korban tersebut berakhir di atas Brangkar ruangan ICU sebuah Rumah Sakit tak sadarkan diri hingga sekarang.


Karena kejadian itulah Darren beserta anggota di kelompoknya di buat kesal dan merencanakan serangan balasan sore ini sepulang sekolah.


"Kita jalan!" ucap Darren tiba-tiba dengan mata yang memerah memancarkan kilatan amarah pada tatapannya.


"Kau sudah kirimkan surat kaleng itu pada mereka?" Lanjutnya lagi, bertanya pada Baron yang tak lain adalah orang kepercayaan nya.


Pemuda yang berbadan tinggi dan kekar walaupun masih SMA itupun hanya mengangguk mantap sebagai jawaban dari pertanyaan bosnya.


Setelah bersiap, kelompok yang biasa di sebut Black Dragon tersebut meluncur ke tempat dimana mereka telah di tunggu. Ketika kelompok Black Dragon tiba nampak seringai an dari musuhnya yaitu kelompok X-spider yang telah menunggu kedatangan mereka.


Tanpa banyak membual kedua kelompok tersebut telah saling adu kekuatan. Suara dari berbagai senjata yang beradu serta teriakan terdengar saling bersahutan.


Srang...


srang...


tak...


tak..


bugh

__ADS_1


Arrghh..


Beberapa orang telah tumbang dan jatuh tersungkur di tanah.


Ditengah pertarungan, Darren melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam tengah menatap tajam kearahnya. Darren tau betul itu adalah pengawal kepercayaan kakaknya. Ia kemudian mendecakkan lidah, dia sangat yakin kakaknya pasti tengah memata-matai nya.


Semakin lama kelompok Black Dragon mendesak lawannya mundur. Hingga ketua dari X-spider yang menyadari bahwa keadaannya semakin terdesak akhirnya memutuskan untuk melarikan diri namun sayangnya pergerakan darinya di ketahui oleh Darren.


Darren yang tidak mau kehilangan mangsanya pun mengejar ketua kelompok dari X-spider itu setelah sebelumnya mempercayakan pertarungan tersebut pada Baron yang kebetulan berada tak jauh darinya.


Saat Darren mengejar ketua yang lari tersebut saat itulah Rayna dan Ayesha sampai ditempat mereka tengah berkelahi dan sialnya kehadira dua gadis cantik itu diketahui oleh kelompok X-spider yang memang tengah hilang kesadaran akibat pengaruh dari obat terlarang yang sebelumnya mereka konsumsi.


Saat tengah menghindari pengawasan dari pengawal sang kakak saat itulah Darren melihat Ayesha yang tengah berlari dengan nafas yang terlihat tidak beraturan.


Darren curiga jika gadis itu tengah di kejar oleh anak-anak yang terlibat tauran. Dugaannya semakin kuat ketika Darren melihat dari kejauhan beberapa pemuda yang penampilannya sangat kacau, yang pasti bukan dari anggota kelompok nya. Reflek Darren melangkah kan kakinya mendekati Ayesha kemudian membawanya masuk ke dalam gudang.


Setelah perdebatan nya dengan Ayesha, Darren pergi menuju taxi yang sebelumnya sudah dia pesan dengan menggunakan sebuah aplikasi.


setelah menempuh perjalanan cukup jauh hingga matahari kini sudah tak menampak kan sinarnya lagi di ganti dengan cahaya bulan, taxi yang ditumpangi Darren tiba didepan sebuah rumah yang besar nan mewah bak sebuah istana.


Darren melangkah kan kakinya memasuki mansion keluarga nya. mansion yang sudah ia tempati selama 18 tahun.


"Darimana saja kamu?" ucap sebuah suara ketika Darren telah sampai di ruang keluarga.


"tanpa gue bilang Abang pasti tau jawabannya" sahut Darren datar tanpa menghentikan langkahnya.


Untuk anak usia 10 tahun mungkin Darren akan menurut namun kini dia telah remaja tak ingin dikekang.


Di ruang keluarga kakak Darren yaitu Rasya tengah termenung. sulit sekali untuk sekedar bisa duduk bersama dengan adik satu-satunya itu.


Selepas kepergian kedua orang tua mereka karena sebuah kecelakaan pesawat beberapa tahun silam. Rasya memang sangat mengawasi Darren karena dia tak mau kecolongan lagi seperti kedua orangtuanya yang meninggal karena pesawat yang di tumpangi kedua orangtuanya di sabotase oleh pesaing bisnis keluarga nya.


Namun justru sikap protektif nya malah membuat sang adik kesayangan menjauh.


...*****...


Hari demi hari berlalu begitu cepat, sejak pertemuan keduanya dengan Darren, Ayesha tak sekalipun menerima telfon atau sekedar pesan singkat darinya. Tak masalah justru Ayesha terlihat sangat menikmati saat-saat dia masih bisa bebas. dia yakin jika Darren sudah mulai menghubunginya lagi pasti kehidupan yang tenang akan berubah penuh dengan drama dan Ayesha tengah mempersiapkan kan itu.


tok..tok .tok..


Suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Ayesha.


"masuk" ucapnya singkat.


"apa gue ganggu?" ucap sebuah suara lembut dari Anisha.


"ngga ko, kenapa?"


"Sha gue mau ke rumah kak Rezky sama ayah, apa Lo mau ikut?"

__ADS_1


"kapan"


"malam ini"


"tapi ayah ngga bilang apa apa sama gue, ngga usah deh gue takut ngerusak mood ayah"


"tapi Sha ini kan makan malam keluarga, buat ngerayain kepulangan keluarga om Raymond masa Lo ngga ikut sih"


Ayesha terlihat menghembuskan nafas nya kasar. keluarga? bahkan ia tidak tau sejak kapan ia punya keluarga. wajar saja jika dia tak di ajak oleh ayah apalagi jika disana banyak orang sudah dipastikan ayahnya tidak akan mengajak dirinya.


"ngga usah Sha gue besok ada janji bareng Dito juga Rayna mau nonton, kalo ikut gue takut kesiangan" ucap Ayesha dengan nada getir.


"Lo baik baik aja?"


"ya"


Setelah memastikan Ayesha baik baik saja Anisa mencoba membujuk ayahnya untuk mengizinkan Ayesha ikut.


"Yah" ucap Anisha begitu duduk di sofa ruang kerja ayahnya.


"kenapa, nak?" ucap Ayah Ardi lembut.


"yah, apa Ayesha-"


"Tidak biarkan dia di rumah" potong Ayah Ardi, bahkan sebelum Anisha menyelesaikan ucapannya.


"lebih baik kau tidak perlu bahas anak itu di hadapan ayah, jika tidak ingin melihat ayahmu ini marah" lanjutnya lagi tegas.


"tapi yah ye-"


"sebaiknya kamu istirahat, ayah sedang banyak pekerjaan"


Mau tidak mau Anisha bejalan meninggalkan ruangan kerja ayahnya. Dia sangat ingin membuat hubungan diantara adik dan ayahnya normal selayaknya keluarga pada umumnya, namun selalu saja ketika melihat sorot mata tajam dari ayahnya nyalinya menciut.


"Maafkan gue Sha..." gumam Anisha pelan.


Tanpa mereka sadari, sepasang telinga mendengar semua percakapan mereka.


"ternyata belum ada perubahan" ucapnya dari balik lemari buku di sebelah ruangan kerja Ayah Ardi...


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2