Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Ada yang berbeda


__ADS_3

Setelah mengutarakan perasaanya Darren merasa lebih lega, berbeda dengan Ayesha gadis itu merasa cukup canggung. Hingga makan malam mereka pun hanya kebanyakan Darren yang bercerita tidak seperti biasanya.


...****************...


Ayesha pulang dengan perasaan tak menentu. Tidak seperti berangkat tadi kini, Darren sendiri yang mengantarkan Ayesha. Tapi justru karena hal ini lah yang membuat Ayesha menjadi canggung. Kini, mereka tengah berada di mobil.


Darren tentu saja tahu akan hal itu tapi, ia tak peduli. Mungkin hari ini Ayesha masih canggung dengannya tapi ia yakin suatu hari nanti pasti gadis itu akan merasa nyaman di dekatnya bahkan akan ketergantungan dengannya.


"Lo ngga susah sungkan gitu sama gue. Tenang aja gue ngga marah kok dan ngga akan ada yang berubah meski lo tau isi hati gue tapi, gue janji gue ngga akan maksa lo" ujar Darren memecah kesunyian. Bahkan ia kembali merubah panggilannya seperti semula supaya Ayesha merasa nyaman dan tak terbebani dengan ungkapan hatinya.


"Ekhem.." Ayesha mencoba menormalkan kegugupannya.


"Lo yakin ngga akan marah?" Tanya Ayesha menyelidik karena ia tau betul Darren ini tipe cowok yang bossy dan keinginannya harus selalu terpenuhi mengingat dia adalah anak terakhir dari keluarga Pranadipta pasti apapun yang dia ingin kan selalu terpenuhi.


"Iya, gue emang sempet kecewa tapi karena dari awal gue udah mempersiapkan kemungkinan terburuknya jadi, it's okay" ucap Darren.


"Lagian gue juga belum yakin kalau bongkahan es ini udah mencair. Gue sekali lagi tegasin malam ini gue mengutarakan perasaan gue bukan berarti lo harus jadi milik gue. Gue cuma mau lo tau dan mulai malam ini gue akan kasih tau lo seberapa dalam cinta gue ke lo dengan terang-terangan." tambahnya dengan senyum yang amat sangat tulus siapa saja yang melihat senyuman itu sudah pasti akan terpesona begitu juga dengan Ayesha.


Sejak dia tak pernah lagi bertemu dengan Darren tak bisa di pungkiri Ayesha pun merasa ada sesuatu yang hilang tapi, dia tidak mau cepat menyimpulkan apa itu dia harus meyakinkan terlebih dahulu.


"Kenapa?" Tanya Ayesha mengalihkan pandangannya dari Darren.


"Kenapa lo milih gue? Bahkan banyak sekali gadis-gadis cantik di luar sana yang senantiasa mengantri jadi pacar lo. Kenapa harus gue?" Lanjutnya.


"Em..kenapa ya? Mungkin karena lo jodoh gue" ujar Darren asal. Sejujurnya jika di tanya kenapa Darren bingung ia tak memiliki alasan untuk bisa mencintai seseorang yang dia tau ketika berada di samping Ayesha selain dia merasa nyaman ia juga merasa ada getaran-getaran aneh bahkan hanya menyebutkan namanya saja hatinya akan berdebar tak menentu membuat suhu tubuhnya meningkat, terasa panas tapi pada telapak tangan nya dia merasa dingin.


"Hais gue serius, Ren"


"Gue juga serius Ay" balas Darren tak mau kalah ia meraih jemari Ayesha dan menautkan jemarinya di sana ia menggenggam lembut tangan gadis itu, Ayesha tak menolak ia pun merasa nyaman. Kehangatan dari genggaman tangan itu sampai pada hatinya membuatnya enggan melepaskan tautan itu Tidak seperti sebelumnya.


"Tak ada alasan buat gue ngga mencintai lo. Lo cukup tau itu dan lo harus inget, walupun gue di kelilingi banyak wanita tapi percayalah hanya sama lo gue akan berekspresi dan ngga usah berpikiran macem macem oke, cukup nikmati dan rasakan ketulusan yang gue kasih" tutur Darren kini ia memberanikan diri mengelus pipi mulus Ayesha yang selama ini hanya bisa ia sentuh ketika gadis itu tertidur. Ayesha terkejut dengan perlakuan manis dari Darren semburat warna merah muncul di kedua pipinya membuat Ayesha menampik tangan itu dan mengalihkan pandangannya tak ingin Darren melihat.


Darren tersenyum, meskipun di sembunyikan tapi dia sudah melihat itu dan dia tak marah ketika tangannya di tampik kasar seperti itu karena dia tau gadisnya itu pasti kini tengah malu.


Akhirnya mobil yang di kendarai Darren memasuki halaman rumah milik om dan tantenya. Tak ingin berlama-lama berduaan dengan Darren, Ayesha bergegas turun. Terlalu menyesak kan berada dekat dengan laki-laki itu dan lagi tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan seperti hendak melompat keluar saja.


Tapi belum sempat Ayesha membuka pintu mobil itu Darren kembali memanggilnya membuat Ayesha reflek menoleh.

__ADS_1


Pemuda itu tak mengatakan apa-apa tapi justru semakin mencondongkan dirinya ke arah Ayesha mengikis jarak di antara mereka. Tentu saja Ayesha semakin merasa malu dan lagi jantungnya sudah jungkir balik tak menentu.


Tuk


Darren menyatukan keningnya dengan kening gadis itu dan tersenyum, membuat Ayesha tertegun.


"Selamat malam" ucapnya. Sadar ini terlalu dekat Ayesha reflek meninju perut Darren dan secepat kilat kabur dari sana.


Huh pukulan itu terasa sakit tapi dia juga bahagia lagi lagi bisa membuat Ayesha salah tingkah seperti itu.


Darren kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rezky. Hari ini dia bahagia walupun dirinya di tolak tapi Ayesha ternyata mau membuka hatinya untuk Darren itu sangat bagus. Tadinya dia pikir Ayesha akan marah dan menjauhinya tapi justru, ah sudahlah yang pasti Darren bahagia titik.


Ayesha sangat malu, bagaimana bisa dia diam saja mendapat perlakuan seperti itu.


"Dasar mesum" gerutunya. Ayesha berjalan dengan tergesa-gesa ia sampai tak menyadari kehadiran Rezky di depannya.


Bugh...


Ayesha menabrak dada bidang milik Rezky karena berjalan sambil menunduk. Dia mengusap-usap keningnya.


"Lo kenapa Sha? Jalan ngga lihat-lihat?" Tanya Rezky merasa heran karena Ayesha kurang fokus.


"Bukan ini tembok! Pake nanya lagi. Lo dari mana?" Ujar Rezky ketus.


"Ah kepo, minggir Yesha mau lewat" ujar Ayesha melengos begitu saja melewati Rezky yang masih mematung.


Baru beberapa langkah Ayesha berbalik.


"Oh.. apa ayah ke sini lagi kak?" Tanya Ayesha. Ia teringat dengan ucapannya tadi pagi.


"Enggak" jawab Rezky singkat. Dia tak habis pikir kalau ada Ayahnya saja dia terkesan jutek dan dingin tapi kalau tidak ada di cari-cari padahal kemarin adalah momen yang langka dimana ayah Ardi menurunkan egonya datang dan meminta Ayesha untuk kembali tapi gadis itu justru jual mahal. Dasar perempuan, cibir Rezky dalam hati.


Ayesha sendiri tak ambil pusing ia kembali ke kamarnya. Walau tak bisa di pungkiri ia kecewa dengan ayahnya ternyata permintaan ayahnya kemarin tak sungguh-sungguh, "tak aneh sih karena ayah kan emang kayak gitu" gumamnya pelan.


Hari sudah semakin larut dan Ayesha pun sudah melanglang buana ke alam mimpi namun ada sepasang mata yang masih terjaga. Seorang pemuda masih tersenyum mengingat momennya tadi.


Darren tak bisa tidur malam ini, entahlah mungkin dia terlalu bahagia tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu sang pujaan hati.

__ADS_1


Kepindahannya ke sekolah yang bisa di bilang sekolah sisaan di Jakarta membuatnya justru banyak berubah. Dia yang tadinya suka sekali membolos justru ia tak ingin ada hari libur. Ia yang tadinya ugal-ugalan justru sekarang lebih suka di rumah. Apalagi alasannya jika bukan karena satu nama AYESHA pastinya. Ah tak sabar rasanya dia menunggu pagi tiba.


.


Pagi yang cerah mengawali hari ini berharap tidak akan ada mendung nantinya. Seperti perasaannya saat ini, sebuah doa selalu ia panjatkan di pagi hari semoga kebahagiaan akan datang hari ini.


"Pagi semua" sapanya ketika sudah sampai di meja makan melihat semua orang sudah menunggunya di sana.


"selamat pagi tuan putri." ujar Rezky menyindir gadis itu. Cukup kesal karena dia tuan muda di sana malah menunggu nona yang dia pungut.


Ayesha jelas tau jika sang kakak tengah menyindirnya tapi ia tak ambil pusing dia tetap duduk manis di kursinya.


"Selamat pagi sayang, ayo sarapan dulu" ucap Tante Sarah menyambut sapaan anak perempuannya.


Saat sedang asik menikmati sarapannya bel rumah itu berbunyi bi Mei buru-buru membuka pintu menampakan sosok pemuda tampan berseragam putih abu-abu yang sama dengan Ayesha tengah berdiri di sana. Pemuda yang tak lain adalah Darren datang berniat menjemput Ayesha dan maksud nya itu pun di sampaikan bi Mei pada nona mudanya.


Ayesha mengrenyit karena tumben pemuda itu mau repot-repot datang menjemputnya dan ya, dia baru ingat semalam memang Darren telah mengiriminya pesan singkat perihal ini tapi dia lupa karena langsung tertidur tanpa membalas pesannya.


Semua orang kini menatapnya meminta penjelasan.


"Ah.. hehe itu teman ku om, tante kita satu sekolah jadi Yesha berangkat dulu. Assalamualaikum" ucap Ayesha buru-buru kabur dari interogasi mereka.


Karena penasaran Rezky pun melihat siapa yang mau menjemput gadis tomboinya itu, dan ternyata dia di buat tercengang sekaligus lega ternyata yang menjemput adiknya itu adalah teman tongkrongannya sendiri dia pun tak ragu untuk melepas kan mereka.


Mobil melaju meninggalkan kediaman Raymond dan berbaur dengan padatnya kendaraan di jalan ibu kota yang padat. Ini adalah hari pertama berangkat bersama dengan gadisnya setelah beban hatinya terangkat.


.


.


.


Bersambung...


...****************...


Hai hai hai Reades jangan lupa like nya ya dan jangan bosen tungguin cerita receh aku ini..

__ADS_1


Salam sayang dari author Nur semua...


Terimakasih...


__ADS_2