Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Makan bareng


__ADS_3

Tolongin lo? ogah mending gue pulang, capek lapar juga karena gue belum sempet makan banyak tadi ada setan yang gangguin soalnya" ujar Ayesha ketus.


"Ck. timbang makan doang tar gue traktir makan sepuasnya deh tapi lo tolongin gue dulu ya?"


"Lo mau apa emang?"


...****************...


"gue mau lo bawa mobil ini ya?" ucap Darren


"Ogah banget, gak minat" sahut Ayesha ketus, seperti biasa.


Entah kenapa setiap melihat Darren Ayesha selalu bersikap dingin dan tak bersahabat.


"heh!!! gadis preman!! gue dah ngomong baik baik loh ini, seumur umur baru kali ini gue minta tolong sama orang asing, harus nya lo tuh tersanjung karena lo gadis pertama yang bisa duduk bareng satu mobil sama gue dan lagi gue ngga kasar kan" ujar Darren panjang lebar.


"Ngga kasar lo bilang? lah ini apa lo bentak bentak gue!!"


"Itu reflek"


Beberapa menit kemudian...


Sebuah mobil Ferrari hitam yang sedari tadi di ributkan akhirnya terlihat keluar dari halaman parkir sekolahan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang melewati satu mobil dan dua sepeda motor. Orang-orang yang duduk di atas kendaraan tersebut memakai pakaian serba hitam. Tatapan mata meraka yang tajam dan tegas di balik kaca mata hitamnya menelisik mobil yang baru saja lewat seolah mereka bisa melihat apa yang ada di dalam sana walaupun kaca mobil itu gelap tapi tetap saja insting mereka begitu tajam.


Tak menunggu waktu lama para penjaga yang di tugas kan Rasya untuk mengawasi Darren berhasil menyusul mobil tersebut.


Betapa terkejutnya mereka ketika yang keluar bukan lah tuan mudanya melainkan hanya seorang gadis. yah, pada akhirnya Ayesha yang tidak tega dengan rengekan Darren akhirnya menyetujui permintaan pemuda itu.


Sangat sulit tentunya untuk meyakinkan para penjaga berpakaian serba hitam itu. Tapi, Darren selalu ada cara. Pada akhirnya Ayesha di loloskan ketika dia memperlihatkan pesan dari sang tuan muda jika mobilnya memang di bawa Ayesha yang saat itu di akuinya sebagai kekasih dan dirinya tengah berada di rumah temannya.


Dengan wajah lesu para penjaga itu mulai menyisir area sekolah karena mereka tak langsung percaya begitu saja. Meskipun dengan hasil yang nihil. Setelah di rasa aman barulah Darren keluar dari persembunyiannya.


"gue ngga mau makan di sini!!" seru Ayesha ketika mereka telah sampai di sebuah restoran yang terkenal enak dan tentu saja mahal.


"Kenapa? ngga sanggup bayar ya? tenang aja lo bebas makan apa saja gue yang bayar" ujar Darren.


"ck. bukan itu payah!! biar kata di sini recommend tapi porsinya dikit banget, lambung gue yang biasa makan mie goreng pake nasi mana cukup, cari yang lain"


"lo mau makan di mana sih, ribet banget"


Walaupun sempat menggerutu akhirnya pemuda itu pun mengikuti kemauan Ayesha. Mobil kembali berbaur dengan berbagai kendaran di jalan raya mengikuti arah yang di tunjukan Ayesha.


Cukup lama untuk mereka sampai di tempat yang Ayesha mau. Ketika mobil berhenti di tempat tujuan, protes pun di layangkan pada gadis itu.


"Hah ngga salah di sini?" ujar Darren terdengar mengeluh.


"Ayo turun!!" seru Ayesha tak mempedulikan ekspresi Darren.


"Ah gue ngga mau!! di sini tuh kotor makannya ngga higenis. Gila kali lo ngajak gue makan di sini"


Ayesha memutar bola matanya malas, sudah dia duga pasti reaksinya akan berlebihan seperti itu. Ayesha sengaja membawa Darren ke tempat makan itu untuk sedikit menjahilinya. Tempat yang di pilih Ayesha itu adalah sebuah WARTEG tapi tempat makan itu bersih kok Darren saja yang berlebihan.


"ck. itu tuh bersih tau, ngga usah lebay deh" ucap Ayesha.

__ADS_1


"siapa yang lebay sih tapi kan itu memang kotor" ujar Darren.


"Kalo abis makan di sana terus masuk rumah sakit giman?" sambungnya.


"Hus kalo ngomong tuh jangan sembarangan, gue sering banget makan di sini tapi masih sehat ko, masih bisa bikin lo bonyok malah." ucap Ayesha sembari melirik tajam wajah Darren yang terlihat tertekan.


"Ck. ya udah lah, Tapi kalo gue kenapa kenapa lo harus tanggung jawab, awas kalo lo lari" ujar Darren pasrah.


Kini mereka berdua sudah duduk manis di bangku panjang yang tersedia di sana di depannya ada etalase yang di isi berbagai jenis makanan seperti pada warteg-warteg yang lain.


Ayesha memilih menu Ayam kecap, sayur sop dan tempe goreng, tanpa sambal dia memang tak suka makanan terlalu pedas.


Sedangkan Darren mengikuti apa yang Ayesha pesan. Tak henti hentinya ia melihat bagaiman Ayesha makan sedangkan piring yang di depannya sama sekali tak di sentuh, dia masih ragu.


Kehadiran Darren dan Ayesha di tempat itu membuat heboh pembeli di sana. Bagaimana tidak, wajah mereka yang tampan dan juga cantik serta kendaraan mereka yang terbilang mewah mencuri perhatian orang orang. Meskipun begitu tapi orang- orang di sana tidak berani menyentuh keduanya hanya tatapan mereka saja yang tak pernah lepas dari kegiatan yang di lakukan pasangan yang masih memakai seragam sekolahnya.


Mendapatkan respon seperti itu sungguh membuat Darren merasa tidak nyaman. Sedari tadi laki-laki itu terus duduk dengan gelisah. Berbeda dengannya, Ayesha justru sangat menikmati. Menikmati makannya, menikmati juga ekspresi lucu dari pemuda di sebelahnya. Jarang-jarang kan liat anak sultan makan dengan ekspresi wajah di tekuk seperti itu.


"Hei gadis resek! di sini panas banget, gue pengap" ujar Darren mulai mengeluh.


"Nggak usah lebay deh!! cepetan makan" jawab Ayesha berusaha menahan tawanya.


"Tapi-" Belum selesai Darren mengucapkan protesnya Ayesha sudah lebih dulu menyelanya.


"Ngga usah banyak protes ngapa sih, ribet banget deh!".


Meskipun enggan untuk menyentuh makanan tersebut, namun pada akhirnya Darren mulai memasukan suap demi suap ke dalam mulutnya hingga habis tak tersisa.


"Lagaknya ngga doyan, ngga higenis, kotor habis juga tuh" Ayesha tak menyianyiakan kesempatan langka itu untuk meledek Darren.


"Ouh ya, ko lo bisa ke sekolah gue sih, lo ngikutin gue ya?" Ucap Ayesha.


"Pd banget lo,"


"Terus, kenapa lo tiba-tiba bisa satu sekolah, kenapa ngga sama sekolah yang lain, lo kan horang kaya ngga mungkin kan masuk SMA gue?"


"Gue dah masukin semua sekolah yang ada di kota ini"


"Hah?"


"Sebenernya..."


(Flashback on)


Tap..tap..tap..


Terdengar suara dari patukan sepatu dan juga lantai pada sebuah sekolah. Seorang laki-laki yang terlihat gagah juga tampan di usianya yang matang tergesa-gesa menuju sebuah ruangan dengan tulis Ruang BK di daun pintunya.


Ketika pintu telah terbuka terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk menghadap layar monitor yang ada di mejanya.


Laki-laki paruh baya itu mempersilahkan tamunya untuk duduk kemudian memberikan sebuah amplop putih. Setelah sedikit berbincang sang tamu pamit undur diri membawa surat yang di bungkus rapi di sebuah amplop putih yang berstempel sekolahan itu.


Tiba di kediamannya laki-laki yang membawa amplop tersebut langsung menuju sebuah kamar bernuansa hitam dan abu-abu.


Brakkkk

__ADS_1


Laki-laki tersebut membuka dengan kasar ruangan tersebut hingga pemuda yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya terlonjak kaget.


"Astaga, kalo mau masuk kamar orang tuh ketuk pintu dulu!!" sentak pemuda yang tengah bersantai itu yang tak lain adalah Darren.


"Masih bisa kamu santai-santai kaya gini de,!!" sentak sang kakak yang tak lain adalah Rasya pun tak mau kalah. Kali ini dia sudah tak bisa bersabar lagi menangani kenakalan adik satu satunya itu.


"Kenapa? udah dapet surat DO dari sekolah?" Tanya Darren santai.


"Kakak tuh dah ngga ngerti lagi sama jalan pikiran kamu, tiap bulan kakak harus keluar masuk sekolah buat daftarin kamu, tapi selalu saja kaya gini yang terjadi. lagi-lagi kamu di keluarin." Ujar Rasya berusaha tenang menghadapi adiknya yang luar biasa keras kepala ini.


"Tinggal pindah lagi sih, kan emang biasanya kaya gitu" jawab Darren masih saja santai seolah tak peduli dengan sekolahnya.


"Astaga Darren kakak tuh dah masukin kamu ke semua sekolah yang ada di kota ini, kalau bukan karena nama besar kakak kamu tuh dah di blacklist dari semua sekolah tau ngga, serius dikit dong de" ujar Rasya.


Darren memang sering sekali keluar masuk sekolahan. dua atau tiga bulan sekali dia pasti berbuat ulah hingga pihak sekolah sudah merasa tak mampu lagi untuk mendidik Darren akhirnya sekolahan pun mengeluarkannya.


Memang benar karena Rasya berpengaruh besar pihak calon sekolah barunya tak ada yang keberatan tapi lagi-lagi dia di keluarkan padahal Darren baru pindah empat bulan yang lalu. Ini juga sebab nya ketika Darren masih SMP dia pernah tinggal kelas dan sekolahan terakhir yang belum di masukinya yaitu sekolah dimana Ayesha juga menuntut ilmu. Sekolah yang terkenal sebagai sekolah pembuangan.


"ini yang terakhir, kakak peringatkan kalau sampai hal ini terjadi lagi, kakak ngga segan-segan buat....Menikahkan kamu" Tukas Rasya kemudian segera berlalu menuju kamarnya sendiri. Dia ingin segera berendam di air dingin jika perlu ia ingin berendam menggunakan air es karena saat ini bukan hanya kepalanya yang terasa panas seluruh tubuhnya pun demikian.


Kehilangan orang tua di saat usianya yang masih muda membuat tekanan tersendiri untuk Rasya, bukan hanya harus menggantikan sang papa dalam mengurus usaha mereka dia juga harus menjadi sosok orang tua untuk adik kesayangannya.


Berat memang Rasya pun mengakuinya apalagi untuk membagi waktunya dengan Darren ia tak bisa leluasa. Karena itu Rasya selalu menempatkan penjaga bayangan di sekitar Darren guna memantau apa saja yang di lakukan adiknya.


Dan di sinilah Darren sekarang, di sebuah sekolah dengan bangunan dan fasilitas alakadarnya.


Kedatangannya mengundang perhatian dari semua murid di sana terlebih untuk siswinya. dari sekian banyaknya gadis yang berusaha mendapatkan perhatiannya ada seorang gadis yang melengos begitu saja ketika Darren hendak menyantap makanan yang di pesannya.


Darren tersenyum sangat tipis, bahkan saking tipisnya sekilas tak terlihat jika ia tadi tersenyum. Darren mengikuti gadis itu yang ternyata sedang berteduh di belakang sekolah. Dia mengganggunya, membuatnya kesal tapi Darren sangat menyukai wajah kesal Ayesha itu adalah hiburan tersendiri untuknya.


(Flashback off)


Ayesha terbelalak mendengar cerita dari Darren. Ia tak menyangka pemuda di sampingnya ternyata senakal itu.


Setelah melewati perjalan panjang Ayesha tiba di tempat latihan, seperti biasa ia datang terakhir.


Matahari sudah tenggelam dan kini di gantikan oleh sang bulan yang bersinar terang walaupun hanya setengah. Setelah latihan Ayesha langsung pulang takut ia kembali mendengar kata-kata kasar dari Ayahnya. Ia takut terluka.


"Jadi kau masih mempertahankannya?" terdengar suara perempuan dari kamar Ayahnya itu adalah suara dari neneknya ibunda Ayah Ardi. ketika ia melewatinya seketika langkahnya terhenti.


"Aku tak bisa melakukannya" terdengar jawaban dari ayah Ardi. Ayesha masih setia menguping.


"Ck. dia akan membawa kehancuran untuk mu untuk keluarga kita" kini neneknya yang berbicara.


"Kamu harus secepatnya membuang gadis itu, kamu harus tegas pada Ayesha" lanjut neneknya.


Deg


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers aku kembali nongol setelah cukup lama istirahat, kira-kira ada yang rindu ngga ya? jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah...


__ADS_2