
Keesokan harinya seperti biasa setiap pagi Ayesha sudah sibuk di dapur membuat kan sang majikan sarapan. Walaupun Darren tak tinggal satu atap dengannya tapi setiap pagi pemuda itu akan datang untuk menikmati sarapannya.
Hem sudah seperti pasangan suami istri atau pacar mungkin tapi yang ada justru keduanya akan selalu bertengkar hal-hal sepele jika bersama.
Tengah sibuk membuat nasi goreng dengan aneka toping sang majikan rupanya sudah datang. Karena itu adalah apartemennya jadi Darren dengan mudah bisa keluar masuk dari sana dan Ayesha pun tak heran lagi dengan itu.
Pemandangan yang indah setiap pagi seperti ini tak pernah ia lewatkan dimana ia bisa dengan leluasa memperhatikan bagaimana tangan tangan mungil itu bekerja dengan cekatan mengolah bahan makanan.
Entah sejak kapan tapi Darren selalu suka hidangan apa saja yang di sajikan asistennya itu. Walupun hanya telur dadar tapi ia sangat menyukainya.
"ehem apa lihat-lihat!!?" sebuah suara yang terdengar ketus membuyarkan lamunan singkat Darren.
Tanpa di sadari ternyata Ayesha telah selesai dengan aktivitas masak memasaknya. Darren tak menjawab pertanyaan menyebalkan dari asistennya itu ia langsung menikmati apa yang di hidangkan gadis itu.
Setelah selesai dengan sarapan yang sunyi keduanya kini berangkat bersama ke sekolah. Setiap hari mereka akan menjadi pusat perhatian dari siswa di sana itu karena Darren saat ini menjadi most wanted di sekolah itu. Setiap apa yang ada pada dirinya tentu saja menjadi pusat perhatian para siswi di sana termasuk kedekatannya dengan Ayesha.
Ada banyak pasang mata yang tak menyukai kehadiran Ayesha di sisi idola mereka. Tapi, ia tak peduli meskipun tak jarang Ayesha mendapatkan pesan-pesan ancaman. Ya, hanya ancaman tak berarti tak akan membuat Ayesha gentar toh dia dan Darren tak ada apa-apa kecuali perjanjian menjengkelkan itu.
Tiba di kelasnya Ayesha menghempaskan bok*ngnya di kursinya. Wajahnya tampak mematut entah kenapa hari ini moodnya sangat buruk.
"Kenapa sama muka lo?" Tanya Rayna yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu.
"Hem..entahlah gue juga bingung mood gue buruk hari ini"
"Kenapa? ngga di kasih jatah semalem sama Darren" celetuk Dito tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang sedari tadi ia tatap.
Pletak..
"Aduh..dih kebiasaan banget nih anak main gaplok kepala orang sembarangan" gerutu Dito tak terima kepalanya lagi-lagi kena sasaran tangan Ayesha.
Kebiasaan memang pemuda satu ini ucapannya tidak pernah di filter. Untung teman jadi Ayesha tak pernah menganggap serius celotehan tak berfaedah nya.
"Tuh bibir mau gue kuncir ya? Ngomong asal mangap aja mana suaranya kaya toa lagi" gerutu Ayesha kesal.
Rayna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Sedangkan Dito? ya, apalagi yang bisa ia lakukan dia memilih untuk tak menjawab gerutuan Ayesha tapi, ia kelihatan sekali tengah kesal dia terus saja bergumam tanpa suara entah apa yang diucapkannya yang pasti itu sebuah umpatan. Berhubung Darren tau sendiri seperti apa Ayesha jadi ia hanya bisa mengumpati sahabatnya itu di dalam hati.
Terlalu beresiko jika Ayesha sampai dengar bisa-bisa ia di hajar karena sekarang Ayesha tak lagi menutupi apa yang dia bisa berbeda dengan dulu. Dulu ia akan berusaha keras menutupi siapa dirinya tapi sekarang hobi barunya memberikan cap tangannya di wajah orang yang berani menyinggungnya.
__ADS_1
Seperti pada Celina cs yang mencoba mencari masalah dengannya beberapa minggu yang lalu karena mereka tak terima Ayesha terus membuntuti Darren sang idola mereka, padahal yang ada Ayesha lah yang selalu di tarik pemuda itu. Sebagai fans fanatik nya tentu saja Celina cs tak menerima pembelaan dari Ayesha.
Karena geram Celina hendak memberi sedikit pelajaran pada Ayesha tentu saja Ayesha yang sekarang bukan lagi yang dulu jika di tindas dia akan mengalah karena menjaga perasaan sang ayah tapi sekarang tak ada lagi alasan untuknya diam saja.
Ayesha tak lagi peduli dengan respon ayahnya nanti. Jika ia di hukum maka mereka juga harus merasakan hal yang sama. Ya, seperti itulah yang terjadi saat terakhir kali Celina cs mengurungnya di toilet dan menyiramnya dengan jus yang mereka pesan di kantin sekolah. Pada akhirnya mereka berempat sama-sama menjalankan hukuman untuk membersihkan lingkungan sekolah karena sudah membuat kegaduhan.
Sejak saat itu sampai hari ini Celina cs belum menunjukan tanda-tanda penyerangan lagi. Mungkin mereka tengah menyusun rencana yang lain, entah lah.
Bel istirahat sudah sedari tadi terdengar semua siswa pun meninggalkan kelas mereka masing-masing. Ada yang memenuhi kantin, nongkrong-nongkrong cantik di taman sekolah, atau sekedar menggibah ria di sudut-sudut sekolah.
Dari banyaknya kegiatan siswa di jam istirahat, Ayesha justru masih duduk santai di kelasnya sedari tadi ia tak beranjak bahkan ajakan Rayna dan Dito ia abaikan. Hanya satu jam waktu istirahat ingin ia habiskan seorang diri tanpa gangguan dari Darren pastinya tapi, rencana tinggal rencana kenyataanya saat ini Darren sudah ada di hadapannya dengan tangan di lipat di dadanya dan tatapan yang tajam menghunus sanubari siapa pun yang menatapnya itu bagi gadis-gadis yang tergila-gila dengan pesonanya tapi bagi Ayesha? hemmm tatapan seperti itu tak akan membuatnya takut sedikitpun.
"Hei asisten!!! ko lo malah males-malesan disini? temenin gue ke kantin, buruan!!" bentak Darren.
"Duh berisik banget sih dah kaya emak-emak kehilangan tutup Tupperware nya" cibir Ayesha sambil kedua tangannya menutup telinganya.
"Dih malah ngatain, buruan!! kalo lo ngga mau ikut hutang lo tambah lima ratus!!"
"ck. ngancamnya kayak gitu"
Mau tidak mau Ayesha beranjak mengikuti pemuda itu dari pada masa kerjanya harus di tambah sebulan lagi, bisa stres beneran nanti gadis itu.
Setelah berpusing ria dengan buku-buku pelajaran akhirnya bel yang di tunggu-tunggu siswa pun berbunyi dengan merdu.
Semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing menuju parkiran tempat mereka menyimpan kendaraannya.
Penat dengan aktifitas di sekolah membuat beberapa siswa tamak tergesa-gesa untuk bisa sampai di rumah mereka masing-masing. Begitu juga Rayna, Dito, Ayesha dan Darren keempatnya sudah berada di depan kendaraan masing-masing.
Setelah sedikit perbincangan, kini Ayesha dan Darren sedang dalam perjalanan pulang.
"Hei Asisten! kok lo diem aja sih kayak boneka penjual baju" ucap Darren.
Sedangkan yang di tanya hanya diam saja tanpa berniat menjawab pertanyaan pemuda di sampingnya.
"Eh malah diem aja, bolot lo ya?" ucap nya lagi.
Masih tak ada jawaban. Hal itu membuat Darren sedikit khawatir pasalnya, Ayesha pasti selalu menjawab apa saja yang di ucapkannya apalagi jika itu adalah sebuah ejekan. Tapi, hari ini entah kenapa gadis di sampingnya justru diam. Pemuda itu pun menepikan mobilnya bermaksud untuk lebih jelas melihat keadaan asistennya.
__ADS_1
Ayesha terlihat tengah memegang perutnya, wajahnya pucat dan keringat keluar dari keningnya, ia juga tengah mengigit bibir bawahnya guna mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya.
Melihat hal itu, membuat Darren panik karena baru kali ini ia melihat gadis di sampingnya itu seperti kesakitan. Padahal sebelumnya Ayesha beberapa kali mendapatkan luka luar tapi tak pernah menunjukan ekspresi seperti itu.
"Eh, Ay lo kenapa?, muka lo pucet banget, lo sakit? mana yang sakit?" Tanya Darren panik.
"gue...gue ngga apa-apa"
"ck. ngga apa-apa gimana, muka lo pucet gitu"
"Gue..gue butuh roti tawar" ujar Ayesha lirih.
"Apa!! roti tawar!?"
Dan keduanya pun kini tiba di Indoapril, Darren bergegas turun untuk mencari barang yang di butuhkan asistennya itu. Sempat heran sebenarnya untuk apa Ayesha meminta roti tawar sedangkan dia terlihat sedang kesakitan bukannya minta ke dokter atau paling tidak minta di belikan obat tapi kok? Ya sudahlah mungkin dia lapar, pikirnya.
Dengan polosnya Darren menenteng kantong kresek yang isinya roti tawar seperti permintaan Ayesha.
"Nih" ucap Darren sembari menyodorkan belanjaannya pada Ayesha yang tengah terpejam.
Secepat kilat Ayesha menyambar kantong kresek tersebut tapi, begitu ia lihat isinya sontak saja ia syok bahkan sampai tak bisa berkata-kata.
"A..Apa ini?" ucapnya.
"Apa? roti tawar lah kan lo yang minta tadi" ujar Darren santai.
Sontak saja Ayesha menepuk keningnya. Ini yang salah Darren atau Ayesha? Padahal maksudnya ia minta di belikan pembalut bukan beneran roti. Karena terlalu malu menyebutkan benda itu Ayesha pun menggunakan kata yang lain. Tapi, ternyata pemuda di sampingnya sama sekali tak faham maksudnya. Fix ini yang salah sih Ayesha memberi instruksi yang tak jelas.
"Gue tuh minta pembalut, bukan beneran roti lo kira gue megangin perut karena laper? perut gue tuh kram karena hari ini tamu bulanan gue dateng bukan minta makan" ujar Ayesha ketus.
"What!!? PEMBALUT!!!" pekik Darren syok.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...