Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Karna kamu kekuatanku


__ADS_3

Baru memasuki ruang tamu Ayesha di kejutkan dengan suara bariton milik ayahnya yang ternyata sedang menunggunya dengan sorot mata yang tajam.


"Darimana saja kamu?" Tanya ayah Ardi dingin.


"Haduh gawat ketahuan" gumam Ayesha pelan.


...****...


Ayah Ardi menatap anak gadisnya tajam mengisyaratkan untuk Ayesha mendekat. Ayesha melangkah gontai mendekat pada Ayahnya.


"Bagus...Kamu sudah tidak menghargai saya lagi di sini? kamu tau apa peraturan di rumah ini kan?" Tanya Ayah Ardi datar tapi nada bicara yang seperti itu lah yang membuat nyali Ayesha menciut.


Ayesha bahkan sangat gugup terbukti dari keringat yang mulai keluar dari dahinya bahkan tangan yang sedari tadi saling bertautan nampak basah dan dingin. Sungguh dia seperti ketahuan habis mencuri padahal hanya pulang terlambat sedikit. Hanya sedikit loh ya.


"JAWAB!!!! kenapa kamu diam saja" Pekik ayah Ardi.


"Yesha..." Suara nya tertahan di kerongkongan, untuk mengeluarkan satu kata pun terasa sangat sulit saking gugupnya.


"Apa? kamu sadar ngga kalau di luaran sana rekan bisnis saya mengira jika kamu itu Anisha, mau taruh di mana muka ku, hah? selama ini saya sudah bersusah payah agar kalian tak pulang larut untuk menghindari pandangan buruk mereka, tapi seenaknya saja kamu di sini, kamu itu ngga tau diri, ngerti ngga?" ujar ayah Ardi panjang lebar.


Deg.


Ayesha semakin mematung, dia tidak menyangka ayahnya akan mengatakan itu. mengatakan kalimat menyakitkan seperti itu.


Sakit benar benar sakit ayahnya sama sekali tak menghargai kehadirannya yang di dipikirkannya hanya nama baik dia dan Anisha sedangkan Ayesha? Gadis itu seperti sebuah bayangan untuk kakaknya sama tapi tak terlihat.


Apalagi mendengar kata demi kata dari ayahnya yang seolah tiada puas menghinanya bahkan dari dia masih anak-anak. Beruntung mental Ayesha tak terguncang. Karena sesungguhnya mendengar kalimat menyakitkan dari keluarga apalagi dari ayah nya sendiri itu sangat menyedihkan.


Tidak bisa di pungkiri Ayesha pun sangat kesakitan mendengarnya tapi, seiring berjalannya waktu hatinya seolah sudah bisa menerimanya jika ayahnya memang 'tidak lagi menyayanginya'.


Tidak ada air mata meskipun hatinya sakit, hanya wajah sendu yang selalu ia tunjukan di hadapan orang-orang, dia tak ingin di kasihani.


"Ayah" suara Ayesha terdengar bergetar, sekuat tenaga ia menahan tangisnya.


Meskipun dia mencoba kuat, tapi pada kenyataannya dia hanya anak remaja dengan emosi yang labil dan lagi dia perempuan, perasaannya lebih lembut.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngga pernah dengerin apa kata saya? apa susahnya sih nurut di rumah aja, seperti Anisha bisa ngga? jangan kelayapan kamu tuh perempuan, sialnya kenapa kalian harus kembar identik? seenggaknya kalau kalian berbeda saya tidak akan pusing. Kamu tau saya hendak menjodohkan Anisha dengan Pewaris kedua perusahaan Pranadipta kalau sampai keluarga mereka melihatmu, akan seperti apa pandangan mereka pada anak ku, hah?" sambung Ayah Ardi lagi.


Dia belum benar benar puas meluapkan kekesalannya pada Ayesha.


"Cukup Ayah!!! Hentikan!!" teriak Ayesha sambil menutup kedua telinganya.


Pada akhirnya dia tak bisa menahan lebih lama lagi tangisnya. Terlalu sakit ketika Ayah kandungnya sendiri hanya mengaggap Anisha sebagai anaknya. Bahkan dia sama sekali tak menyebutkan dirinya Ayah untuk Ayesha.


"Aku tau, aku memang tak bisa membanggakan ayah seperti Anisha, tapi ayah juga harus ingat aku Ayesha, Ayesha juga anak ayah, Ayesha hadir dari Ayah Ardi dan juga mamah Dinda. Ayesha pun berbagi rahim dengan Anisha. Ayesha juga lahir dari wanita yang Ayah cintai. Lalu kenapa hanya Anisha yang ayah lihat?.. huhuhu" tangis Ayesha menggema di ruang tamu mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam.


"Selama ini Ayesha terima jika ayah selalu menghina dan mengacuhkan Yesha, tapi tolong setidaknya sekali saja panggil aku Anakmu juga Ayah. Yesha sakit, teramat sakit mendengar Ayah hanya menyebut Anisha padahal kami pun sama kami satu" Ayesha sudah terduduk lemah di atas lantai dengan bercucuran air mata, rasanya sangat menyakitkan.


Hingga kini Ayesha masih bertanya-tanya apa kesalahannya apa bedanya dia dan Anisha?


Ayah Ardi mematung mendengar sendiri isak tangis Anaknya, selama ini Ayesha tidak pernah menunjukan kesedihannya meskipun berkali-kali dia berkata kasar pada Ayesha, tapi sekarang? apa ucapannya sebegitu menyakitkan kah, hingga anak yang menurutnya kuat bisa menangis sesenggukan seperti itu.


Tak ingin melihat anaknya menangis lebih lama tapi juga terlalu besar egonya ayah Ardi meninggalkan Anaknya begitu saja.


Ingin menghapus air matanya tapi dia tak cukup mampu untuk melakukan nya. sakit, dia juga merasakan sakit tapi tak bisa mengatakannya.


Kesalahan di masa lalunya selalu menghantui, membuatnya merasa tak nyaman berada di dekat Ayesha. entah perasaan seperti apa ayah Ardi belum bisa mencernanya.


Tanpa mereka sadari Anisha mendengarkan semuanya, pipinya telah basah oleh air mata. Memang benar karena kembar dia bisa merasakan sakit yang di rasakan adiknya. tapi, dia juga tak bisa berbuat apa-apa ayahnya terlampau keras kepala.


Setelah menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak terlihat mengasihani adiknya, Anisha masuk ke dalam kamar Ayesha dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu karena adiknya memang tidak pernah menguncinya.


Ketika memasuki kamar, Anisha tidak menemukan keberadaan adiknya hanya terdengar gemericik air di kamar mandi menandakan jika sang empunya kamar tengah mandi.


Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Ayesha yang masih mengenakan jubah handuk dan juga handuk yang di lilitkan di atas kepalanya keluar.


Sepasang matanya menangkap seorang gadis tengah tersenyum manis padanya karena terkejut Ayesha sempat menjerit, namun tak berselang lama dia sudah menguasai kembali tubuhnya.


"Lo kaget?" Tanya Anisha polos.


"ck. gue liat setan!" sahut Ayesha ketus.

__ADS_1


"Setan ngga tau sopan santun masuk kamar orang ngga permisi untung gue masih pake busana" lanjutnya


"Hehehe sorry gue kira lo lagi tidur ya udah gue masuk aja, lagian pintunya juga ngga di kunci"


"ck. mau apa lo!!!?"


"Dih jangan galak galak dong cantik, masa gitu sih sama kakak sendiri"


Ayesha memutar bola matanya malas, meskipun perasaan nya tak menentu tapi di depan Anisha dia mencoba sekuat tenaga tidak menunjukannya walaupun dia sangat yakin kalau kakaknya ini pasti sudah mendengar semua perseteruannya di ruang tamu tadi itu sebabnya sekarang Anisha berada di kamarnya.


Hal yang selalu kakaknya lakukan jika Ayesha di marahi ayahnya.


"gue tau lo pasti denger tadi kan?" tanya Ayesha.


"hem, gue kesini buat pastiin keadaan lo baik baik aja, sekali lagi maaf karena gue lo selalu di nomor sekian kan, tapi sekali lagi sha gue ngga bisa buat apa-apa, sekalipun gue ingin memperbaiki hubungan kalian tapi seperti yang sudah-sudah gue selalu gagal, gue ngga tau lagi harus bilang apa, yang jelas gue cuma bisa kasih lo semangat, gue selalu berdoa semoga suatu hari nanti Ayah kita akan berubah" ujar Anisha panjang lebar.


Ayesha membuang nafasnya kasar sebelum ia menjawab ucapan kakaknya.


"Na, lo tau ini terlalu menyakitkan, tak ada yang lebih sakit saat orang yang seharusnya melindungi, orang yang seharusnya menguatkan, orang yang kita sayangi, cinta pertama kita, dia justru yang paling dalam menorehkan luka? gue berusaha buat membatu, tapi nyatanya gue juga manusia, gue capek Na," tutur Ayesha dengan wajah sendunya.


Ya, hanya pada Anisha dia terbuka dan mempercayakan semuanya.


"Tapi, aku bersyukur setidaknya belahan jiwaku selalu berusaha meraih tanganku ketika tangan ini rapuh, selalu mengerti apa yang aku rasa, bahagia dan sedihku bersamanya...Terimakasih kak karena kamu adalah kekuatanku, tetaplah bersamaku, tetaplah menjadi pelangi di saat badai dalam hidupku datang" Lanjut Ayesha sambil tersenyum manis kepada Anisha.


.


.


.


Bersambung...


...****************...


Hai Reader jangan lupa Like dan kasih komentar kalian ya jangan lupa juga kasih favorit karya aku di rak buku kalian...

__ADS_1


Terimakasih...


Heppy reading..


__ADS_2