Aku Juga Putrimu, Ayah

Aku Juga Putrimu, Ayah
Kebenaran Sesungguhnya 2


__ADS_3

"Apa!!??"


Sejenak ruangan itu begitu sunyi Anisha tengelam dalam pikirannya sendiri sedangkan neneknya ia pikir sudah saatnya cucu nya itu tau kebenaran yang sesungguhnya.


"Ayo biar nenek katakan semuanya" ujar nenek sembari berjalan ke arah gazebo yang ada si belakang rumah, Anisha pun mengikutinya.


Sebelum mulai bercerita nenek si kembar ini menghirup nafas dalam-dalam berusaha mengisi stok oksigen dalam paru-parunya.


"Kau tau ayahmu sangat mencintai Dinda apapun dia lakukan untuk cintanya. Bahagia ayahmu ada apa Dinda" ujar sang nenek memulai.


"Hingga suatu hari dokter menyatakan penyakit mengerikan itu membuatnya merasa terpukul. Sudah berbagai usaha di lakukan agar istrinya kembali pulih tapi entah kenapa tak ada seorang pendonor pun yang mau Ardi mintai tolong keluarga mereka tak mengizinkan hingga saat keterpurukan itu datang seseorang menawarkan bantuan tapi ia meminta harga yang sangat mahal."


"Ayahmu bingung ia ingin melihat kembali senyum Dinda tapi ia tak mau memberikan keceriaan adikmu pada laki-laki itu. Akhirnya ayahmu meminta waktu untuk menyerahkan Ayesha yaitu ketika ia berusia 17 tahun, karena orang itu hanya meminta putri kedua dari Ardi entah kenapa". Ujar nenek Anisha panjang lebar ia memperhatikan reaksi Anisha sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Jika ayah menyayangi mamah tapi kenapa ayah mengorbankan keceriaan Ayesha yang susah payah mamah lahirkan? bukankah jika ayah melakukan itu sama saja melukai perasaan mamah? Anisha yakin di atas sana mamah pasti sangat kecewa seperti hal nya Anisha sekarang". Tanya Anisha setelah sekian lama ia terdiam.


Sang nenek memandang jauh pemandangan di depannya tatapan matanya kosong ia kembali menghela nafas kasar.


"Ya, mau bagaimana lagi ayah mu memang bodoh. Satu tahun setelah operasi, Dinda memang sembuh keceriaan keluarga nya berhasil ia kembalikan tapi itu hanya satu tahun karena setelah itu kecelakaan yang merenggut nyawa ibu mu terjadi" Ujar sang nenek sendu ia bahkan sudah menjatuhkan beberapa tetes air matanya mengingat kembali bagaimana masa lalu yang membuat Ardi terpuruk tak berdaya.


"Jadi,?"


"Ayahmu sangat terpukul, kehilangan cintanya, kehilangan hartanya serta kehilangan kepercayaan dirinya pada satu waktu tak ada yang mengerti kesedihan mendalamnya. Bahkan sampai detik ini ia tak bisa membuang nama ibumu di hatinya."


Keduanya menangis dalam diam tak menyangka keadaan pelik seperti ini pernah terjadi. Ia kira ayahnya menjadi dingin karena membenci adiknya tapi ternyata dugaannya salah. Selama ini ayahnya menanggung sendiri penderitaannya.


"Kau tau?" ucapan neneknya yang secara tiba tiba membuat nya sedikit terkesiap tapi ia tak mengatakan apapun Anisha hanya menoleh sebentar setelah itu ia kembali menundukkan pandangannya melihat kedua kaki yang sedari tadi tak mau diam karena gugup.


"Ayahmu tak benar-benar membenci Ayesha. Sebenarnya ia melakukan itu karena memang sengaja ia ingin membuat kesan menjadi ayah yang buruk di depan adikmu" Ya, Anisha tau itu dan hal ini pula yang ia pikirkan.


"Ardi tak tau apakah ia bisa melawan orang itu mengingat betapa kuatnya dia. Kerena itu, Ardi sengaja membuatnya di benci Ayesha agar ketika hari itu tiba Ayesha tak terlalu terluka karena pada kenyataannya ia telah menjual anaknya. Jika Ayesha membencinya mungkin ketika ia tau akan di serahkan pada orang lain dia tak terlalu terpukul karena berpikir ayahnya memang tak menyayanginya."


"Tentang pengusiran yang di dilakukannya tempo hari sebenarnya untuk melindungi Ayesha sendiri. Sekuat tenaga Ardi telah menyembunyikan identitas aslinya tapi kau tau sendiri kan Ayesha justru sangat menyukai hal-hal yang melibatkan ia di ketahui publik itulah kenapa Ardi menyuruhnya angkat kaki dari rumah ini karena ia takut keberadaan anaknya di ketahui oleh orang itu. Di luar dugaan ternyata orang itu beberapa waktu lalu mendatangi ayahmu dan mulai menagih janjinya karena memang waktu dari perjanjian itu sebentar lagi" ujar sang nenek membuat Anisha terdiam.


Menyayangi buah hatinya tapi ia tak bisa memeluknya walupun ia ingin itu sungguh menyakitkan apalagi ketika ia melihat orang yang begitu ia sayangi menangis di depannya tanpa bisa ia menghapus air matanya bahkan yang lebih menyakitkan lagi ketika luka itu di ciptakan olehnya, tak ada yang lebih menyakitkan dari itu.


Bodoh, itulah kata kata yang selalu diucapkannya dalam keheningan malam ayah Ardi selalu menangisi tindakan yang ia lakukan di masa lalu hingga membuat nyawa putri nya menjadi taruhannya. Penyesalan yang tak pernah bisa ia katakan membuatnya tak sanggup melihat terlalu lama sosok Ayesha, hatinya terlalu sakit.

__ADS_1


"Jadi seperti itu?"


"Ya, nenek harap obrolan kita ini bisa kamu simpan rapat-rapat. kami menyayangi Ayesha sama seperti kami menyayangimu hanya saja kami bingung cara menunjukannya pada anak itu"


Usai bercerita panjang lebar sang nenek kemudian kembali pulang kekediaman ny. Ia merasa lebih tenang ketika telah menyampaikan rahasia besar yang ia simpan rapi selama ini.


Sementara itu di kediaman Ayesha gadis itu sedari tadi terus mematutkan wajahnya terlihat sangat kesal sekali karena sedari tadi ia di kerjai oleh Darren.


Pemuda itu seolah balas dendam pada Ayesha tentang tempo hari yang dengan berani gadis ini memerintahkannya. Ia sedang menunjukan taringnya.


Sudah sedari kemarin Ayesha di mintai macam-macam oleh Darren. Mulai dari membuatkannya berbagai cemilan tapi pada akhirnya tak ada satupun yang di sentuh, Kemudian memijat kepalanya karena kesal bukannya ia memijat kepala Darren dengan lembut Ayesha justru mendaratkan beberapa jitakan di sana membuat Darren bertambah kesal.


Hari ini ia sudah lebih dari 7x keluar masuk toko untuk membelikan Darren baju awalnya ia mengiyakan setiap pilihan yang Ayesha pilihkan tapi begitu sampai di apartemen Darren menolak benda itu mentah-mentah dengan dalih barangnya tak sesuai dengan yang di tunjukan Ayesha ketika Video call tadi.


"Dasar cowok kurang ajar!!, dia seenaknya aja nyuruh-nyuruh gue? dia pasti sengaja ngerjain gue kaya gini, kalo barangnya ngga sesuai kenapa dia ngga ikut aja sih, sumpah ya kerja sama dia bikin gue cepet tua, huh pokonya bulan depan gue minta keluar dasar cowok ngga berperasaan!!" gerutu Ayesha tak henti hentinya mencaci Darren.


"Udah ini beneran ya awas kalo lo nolak lagi gue rontokin beneran tuh gigi lo" ujar Ayesha geram setelah berkali-kali menunjukan baju-baju yang ada di sana tapi tak ada satupun yang Darren minat.


"Iya, udah cepetan pulang gue buru-buru" ujar Darren kemudian menutup panggilannya begitu saja.


"Huh dasar cowok breng**k, kalo buru-buru kenapa ngga beli sendiri, manja benget jadi cowok heran gue mak nya ngidam apa pas hamil dia, bisa ada manusia menyebalkan kaya gitu." Saking geramnya Ayesha hendak membanting ponselnya disana tapi ia urungkan karena sekarang ia tak mempunyai uang lebih untuk membeli barang-barang yang mahal.


Sadar ia menjadi pusat perhatian secepat kilat ia membayar belanjaan nya kemudian segera pergi dari sana.


Tiba di apartemen Ayesha ternyata sudah di tunggu oleh Darren pemuda itu tersenyum mengejek melihat raut kesal pada gadis itu. Sungguh menggemaskan pikirnya.


Ya, karena sudah bolak balik dari tadi kali ini Darren menerima baju yang Ayesha pilihkan.


"Lumayan" gumam Darren ketika melihat kemeja yang di pilihkan Ayesha.


"Oke! gue laper jadi buaran lo masakin gue sesuatu, nungguin lo dari tadi bikin cacing di perut gue demo" ujar Darren.


"Siap laksanakan yang mulia" ujar Ayesha sembari membungkuk ala dayang-dayang zaman kerajaan.


Di tengah kegiatan memasaknya tak sengaja ia menjatuhkan minyak yang sedang ia buka. Alhasil minyak itu tumpah hampir setengah kemasan buru-buru ia mengambil alat kebersihan untuk membersihkannya sebelum dirinya terpeleset. Namun begitu ia kembali Darren berjalan mendekat ke arah genangan minyak itu karena ia sibuk memainkan ponselnya ia tak melihat tumpahan di depannya reflek Ayesha berusaha menarik pemuda itu namun tinggal sedikit lagi tangannya menjangkau lengan pemuda itu, Darren justru sudah lebih dulu menginjak cairan itu alhasil ia pun terpeleset sembari tangan nya secara tak sengaja menarik tangan Ayesha yang ada di jangkauan terdekatnya dan


Brukk...

__ADS_1


Mereka terjatuh bersama dengan Ayesha yang ada di atas tubuh Darren. Untuk sesaat keduanya tampak terdiam hingga ringkisan di wajah Darren menyadarkannya dari keadaan yang memalukan itu.


"Hei kalo jatuh ngga usah ngajak dong, modus lo ya?" ucap Ayesha ketus berusaha menutupi kegugupannya.


Mendengar ia di salahkan seperti itu membuat Darren benar-benar jengkel, bagaiman tidak ia jatuhkan juga karena gadis itu tapi seenaknya saja dia menyalahkannya.


"Yang numpahin minyak di sini siapa!!? main nuduh sembarangan" balas Darren tak kalah ketus.


"Mata lo aja buta!! udah tau di sini ada tumpahan minyak tapi masih juga lo injek, minggir gue mau beresin ini!!" sentak Ayesha tak mau mengakui kesalahannya. Ya mana mau sih dia mengaku apa lagi pada Darren dia justru ingin meracuni pemuda itu kalau bisa.


"Lo bilang gue apa? Buta? biar gue tunjukin bagaimana si buta ini menghabisi mangsanya!" ujar Darren geram, kemudian ia melangkah kan kakinya perlahan mendekat ke arah Ayesha matanya yang memandang gadis itu dalam membuat Ayesha merasa sedikit gugup.


Glek..


Gadis itu menelan salivanya kasar ketika Darren terus saja mendekat ke arahnya.


"Ma..mau apa lo?" ujarnya gugup.


Darren tidak menjawab ia justru semakin melangkahkan kakinya mendekati Ayesha. Satu langkah Darren maju maka satu langkah pula Ayesha mundur hingga tubuhnya membentur dinding.


"Mu..mundur ngga lo atau gue-"


"Atau apa?" sergah Darren cepat ketika wajahnya kini semakin dekat dengan wajah memerah milik Ayesha. Sungguh sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi gadis itu tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Darren ingin memberi pelajaran pada gadis itu supaya tak asal bebicara lagi.


Tapi sayangnya ia hanya sebentar menikmati ekspresi Ayesha yang menurutnya menggemaskan itu karena ternyata dengan cepat Ayesha kembali bisa menguasai dirinya dan yang terjadi selanjutnya


Bugh...


Tanpa ragu Ayesha sekuat tenaga meninju perut Darren hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Aaahhhh.. Ku..kurang ajar, dasar ngga waras!!!" Bentak Darren sembari memegangi perutnya yang teramat sakit sedangkan yang di teriakinya hanya tertawa terbahak meledeknya sembari berlalu begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2