
Ajeng menggeliatkan tubuhnya dalam pelukan caka . Ajeng tak menyangka , saat ini dirinya telah berbagi keringat bersama sang suami . Biarlah dia dikatakan bodoh . Hatinya ingin menolak , tetapi reaksi tubuhnya berbeda , dia menginginkan lebih dari ciuman yang Caka berikan .
Selama lima tahun , Ajeng berusaha untuk tetap melayani Caka , tetapi Caka yang sering menghabiskan waktu malamnya untuk bekerja , Ajeng hanya bisa pasrah . Melihat Caka yang sering pulang tengah malam setiap harinya , Ajeng hanya bisa diam . Ada apa sebenarnya , apakah dirinya sudah tak menarik . Pikir Ajeng seperti itu , tetapi kenyataan yang Ajeng dengar , mengapa Caka tak mau menyentuhnya sama sekali membuat Ajeng diam .
Ajeng mengambil ponselnya yang berada di samping tempat tidur , dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul empat sore . berarti dia ketiduran hampir dua jam . Pikiran Ajeng langsung tertuju pada Embun .
dengan segera Ajeng menyingkirkan lengan Caka yang melingkar erat di perutnya . Dipindahkannya tangan Caka yang membelitnya dengan perlahan lahan agar Caka tak terbangun dari tidurnya .
Dengan susah payah Ajeng berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri yang terasa lengket . hati hati Ajeng masuk kedalam kamar mandi , lalu mengisi bathub dengan air hangat .
Dia berdiri didepan cermin sambil melihat lehernya yang jenjang . Gila , pikir Ajeng . Bagaimana tidak , tak ada satupun yang terlewat oleh Caka untu menciptakan mahakaryanya ini .
" Astaga , mas Caka , bisa bisanya leher Aku seperti macan tutul begini . Gila kamu mas " umpat Ajeng saat melihatnya kembali .
Saat sudah penuh , Ajeng langsung masuk kedalam bathub guna merilekskan tubuhnya yang terasa remuk redam , Sambil memenjamkan matanya .
Caka menggeliatkan tubuhnya , meraba raba sampingnya memeriksa Ajeng , Caka membukan mata perlahan lahan , mengerjapnya pelan pelan . Tak ada Ajeng disamping dia , kemana ajeng pergi ? . Caka mengambil ponselnya untuk melihat jam , jam empat lewat limabelas , gumam Caka .
Caka yang mendengar gemericik air di dalam kamar mandi , hanya terdiam , dia tau siapa yang sedang berada di dalamnya .
saat Caka mendengar tak ada lagi suara air gemericik , dengan segera dia memakai celana pendeknya . Dan menunggu ajeng didepan pintu kamar mandi , takut takut kaki Ajeng masih terasa sakit .
****
Hampir limabelas menit Ajeng berkutat didalam kamar mandi. Dia keluar menggunakan bathrobe yang melekat ditubuhnya , dengan pelan pelan dia membuka pintu , tetapi betapa kagetnya dia saat melihat Caka sudah berada didepannya .
" Astagafirullah Mas Caka , lagi apa disini ?" Ajeng terlonjak kaget saat membuka pintu kamar mandi .
" kamu habis ngapain ? kenapa engga bangunin Mas Ajeng , kaki kamu belum sembuh benar " sambil meneliti leher jenjang Ajeng yg ternyata mahakarya dia masih jelas terlihat disana . Sial , Dia ingin merasakan kembali kenikmatan itu bersama Ajeng .
" Ajeng habis mandi Mas , engga enak badannya lengket banget . Lebay banget sih Mas , kaki Ajeng udah engga apa apa ko , ini aja pelan pelan jalan ke kamar mandinya " sahut Ajeng sambil menuju walk in closet .
Caka yang kesal melihatnya segera membopong Ajeng mendudukannya di ranjang.
Ajeng yang reflek langsung memegang leher Caka dengan kedua tangannya .
" M .. Mas mau apa , Ajeng mau pakai baju mas , ini sudah sore , ajeng mau lihat Embun dikamarnya " ucap ajeng yang terbata dan setengah kesal kepada Caka .
" Tunggu disini , biar Mas yang ambilin baju kamu , jangan kemana mana , kalo engga Mas hukum kamu " sambil menatap mata Ajeng dengan senyuman nakalnya .
__ADS_1
" Jangan macem macem ya Mas " jawab Ajeng dengan melototkan matanya.
Caka berjalan sambil tertawa , mengambil baju Ajeng yang berada di walk in closet . setelah puas memilih baju untuk Ajeng , dia lalu mengahampirinya untuk memberikan baju itu kepada Ajeng .
" Mas mau mandi dulu , tunggu Mas kalo mau ke kamar Embun , jangan sendiri , kalo kamu nakal , lihat nanti malem mas hukum kamu lagi " ucapnya sambil mengacak rambut Ajeng .
Ajeng mendengus kesal mendengar ucapan Caka . Ajeng tau apa arti dari hukuman itu , karena dulu Caka selalu saja menghukum dia dengan hukuman kenikmatan apabila dia membantah ucapannya .
Dan sekarang saat mendengar kata hukuman Ajeng langsung medumal tak jelas .
" Dasar mesum " teriak Ajeng saat Caka sudah menutup pintu kamar mandi " .
setelah Ajeng sudah memakai bajunya , saat ini dia berada di depan meja rias guna menutupi mahakarya sang suami .
" Astaga , bisa habis kalo begini concealer ku mas , keterlaluan kamu " umpatnya yang sedari tadi di dengar oleh Caka .
Ajeng tak tau kalu Caka sudah berada di belakangnya. Dia sibuk untuk menutupi lehernya yang seperti macan tutul.
" Mas belikan sekalian sama pabriknya kalo memang habis sayang . " jawab Caka .
Ajeng kaget saat mendengar suara bariton suaminya yang tepat di belakang dia .
" Mas sudah selesai ? Ko Ajeng engga tau ".
saat melihat jam dia hampir limabelas menit sudah berada di meja rias , pantas saja Caka sudah rapi , pikirnya . Ajeng memutar bola matanya dengan malas saat mendengar ucapan Caka .
" sudah belum , kita kekamar Embun sekarang , sejak tadi datang kita belum melihatnya " sambil membantu Ajeng berdiri .
Ajeng menganggukan kepalanya .
****
Mereka berdua keluar dari kamar menuju kamar Embun . Segera mereka membuka pintu kamar Embun , terlihat Embun sedang dipakaikan pakaian oleh mbok nah .
" Anak bunda sudah mandi ? Maaf Bunda tadi engga nemenin Embun sayang " melangkah maju untuk segera duduk di kursi mini Embun .
" it's ok Bun , engga apa apa ko , Embun sudah di bantu mbok tadi siang , terus engga kerasa Embun ketiduran , habis itu mandi karena sudah sore , lalu disiapkan baju dan dipakaikan oleh mbok ."
" terimakasih mbok " ucap Ajeng dengan tulus .
__ADS_1
" sama sama ibu , ngomong ngomong kaki ibu sudah mendingan ? " tanya si mbok .
" masih sedikit sakit sih mbok " .
" mbok buatkan ramuan biar engga terlalu bengkak ya bu , nanti sekalian mbok pijitin , mbok permisi mau kedapur lagi pak , bu " pamit si mbok .
" iya mbok , terimakasih , nanti kalo sudah jadi kasih tau saja mbok " ucap Caka kepada si mbok .
Caka berjalan mendekat kepada Embun dan Ajeng , sambil duduk disamping Embun .
" Mau makan malem diluar baby ? " tanya Caka kepada embun .
Embun menatap wajah sang Ayah .
" Mau ayah , udah lama kita engga makan diluar " ucapnya antusias .
Ajeng sempat melihat Caka sebentar , dia merasa aneh dengan sikap Caka . Pasalnya tidak biasanya Caka mengajak mereka makan bersama , bisa di hitung pakai jari kapan terakhir kali Caka mengajaknya dan juga Embun .
Dan sekarang entah ada angin apa Caka mengajak mereka makan diluar .
Caka yang merasa tengah diperhatikan , mendadak salah tingkah . Memang Caka jarang sekali mengajak mereka untuk pergi , terakhir sudah lama sekali , entah kapannya dia lupa .
" Mas siapin mobil dulu , sambil mau bilang sama si mbok , biar tidak usah masak makan malam buat kita " mencium kening Ajeng dan Embun secara bergantian .
Caka berjalan keluar menuruni anak tangga , sambil melihat sekeliling untuk mencari mbok . Setelah lama melihat sekeliling , caka berhasil menemukan si mbok yang sedang membuat racikan untuk kaki ajeng .
" Mbok , malem ini engga usah masak ya , saya dan ibu beserta Embun , mau jalan sore sekalian makan malam diluar " ucapnya pada si mbok .
" Baik pak " jawab mbok .
" yasudah kalo gitu kita semua pamit mbok " .
Mbok mengganggukan kepalanya sambil berucap " Hati hati pak Caka " .
Caka tersenyum mendengarnya .
Caka berjalan keluar menuju garasi mobil guna menyiapkan mobilnya yang akan di gunakan mereka bersama .
Sembari menyiapkan mobil Caka tengah termenung , dia sudah bertekad , untuk lebih memprioritaskan Ajeng dan juga Embun . Bukan lagi tentang Arka maupun Ara .
__ADS_1
Biarlah urusan Ara akan menjadi urusannya nanti , terima ataupun tidak , itu tidak akan merubah keputusan Caka .
Bersambung . . .