
"Bisa ketemu Kak hari ini? Nanti aku kirim lokasinya untuk kita bertemu." Ucap Ajeng kepada Angga melalui sambungan telefon .
"Bisa , Kamu Shareloc aja mau bertemu di mana . Gimana keadaan Embun? Kaka mau jenguk pagi ini boleh?." Jawab Angga kepada Ajeng .
"Embun hari ini kebetulan sudah boleh pulang Kak . Kaka mau jenguk? Memangnya Kaka di mana? Enggak ke kantor?." Tanya Ajeng bertubi tubi pada Angga .
"Enggak , Kaka hari ini masih jaga Kak Aksha di rumah sakit . Papa yang mengurus semuanya ke kantor , kenapa? Hem?."
"Oh enggak apa apa Kak , kalau begitu Ajeng tutup dulu telfonnya ya Kak , Ajeng mau siap siap buat ke rumah sakit."
"Sebentar , kamu mau ke rumah sakit? Kalau gitu Kaka nunggu kamu aja jenguk Embunnya ya . Kamu engga keberatan kan?."
"Boleh , enggak ko Kak . Nanti aku hubungin Kaka lagi kalau sudah sampai ya."
"Hati hati di jalannya ya."
"Iya , terimakasih Kak . Ajeng tutup ya." Dengan segera dia menutup panggilannya dengan Angga dan segera bersiap siap untuk pergo ke rumah sakit .
"Andi." Teriak Ajeng saat melihat Andi yang tengah mengelap kaca mobil Majikannya .
Andi yang tengah mengelap kaca mobil pun menoleh mendengar Ajeng memanggilnya .
"Iya Bu , ada yang bisa saya bantu? Ibu mau pergi keluar?." Tanya Andi yang sudah menaruh kain lapnya .
"Saya mau jemput Embun , Ndi . Kamu bisa siapkan mobil?."
"Bisa Bu . Saya panaskan dulu mobilnya ya Bu."
"Ya sudah , Saya ambil tas dulu di meja makan ya."
"Baik Bu." Dengan segera Andi berbalik badan dan memanaskan Mobil sang Majikannya .
Tidak berselang lama Ajeng keluar dengan tas selempang yang berada di pundaknya , lalu menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya .
Andi yang melihat Majikannya berjalan dengan segera membukakan pintu mobil untuknya .
"Silahkan Bu." Ucap Andi kepada Ajeng .
"Terimakasih Andi."
Dengan gerakan cepat Andi memutar badannya dan berjalan menuju arah kemudi untuk segera memacu kendaraannya .
__ADS_1
****
Caka yang saat ini berada di dalam mobil miliknya dengan segera menghubungi Papanya untuk membritahukan bahwa dia tidak bisa menjemput Embun yang seharusnya akan keluar dari rumah sakit hari ini .
"Pa ini Caka , Caka bisa minta tolong untuk jaga Embun juga Ajeng . Caka hari ini sedang di jalan menuju rumah sakit untuk membahas masalah dengan Ara . Bisa Caka minta tolong Pa?."
Rafael mendengus mendengar Anaknya akan menuju bandung guna menemui Wanita Ular itu . "Untuk apalagi Caka? Anak kamu sudah sembuh , tetapi kamu malah datang ke bandung untuk menemui Wanita itu lagi? Enggak habis pikir Papa." Ucap Rafael menggebu kepada Caka .
"Caka bisa jelaskan nanti Pa . Caka mohon , tolong jaga Embun dan juga Ajeng , Caka hanya tiga hari disini Pa . Caka janji akan segera menyelesaikan semuanya disini."
"Terserah." Ucap Rafael sambil mematikan sambungan telfonnya dengan Caka . Dia terlanjur kesal kepada Anaknya saat ini .
Caka mengumpat di dalam mobil saat Papanya mematikan panggilannya secara sepihak . Apakah dirinya salah jika ingin menyelesaikan semuanya dengan Ara? Dia tidak ingin Kakek Wira yang akan menyelesaikan semuanya . Caka takut apabila Kakeknya tiba tiba datang ke Indonesia . Dia tidak ingin jika ada korban jiwa untuk masalah ini , Caka tau bagaimana sifat Kakeknya .
"Siallll." Umpat Caka sambil meninju setir mobilnya .
Dia sengaja tidak memberitahukan kepada Ara , bahwa dirinya hari ini akan datang menjenguk Arka . Caka juga harus memastikan jika Arka baik baik saja dan akan dia bawa ke hadapan Ajeng sesuai permintaannya .
"Mas akan menyelesaikan semuanya Ajeng." Ucap Caka yang bermonolog sendiri di dalam mobil .
****
"Telfon dari siapa?." Tanya Isabella kepada Angga yang saat ini baru masuk ke dalam kamar Aksha .
"Dari Ajeng Mi , Ajeng bilang Embun hari ini sudah boleh pulang . Angga menawarkan diri untuk menjenguk Embun , Anak Ajeng Mi."
"Mami boleh ikut ?." Mendengar nama Embun , Isabella antusias sekali . Pasalnya dia tidak sabar ingin sekali bertemu dan melihat Ajeng secara langsung .
Angga menghela nafasnya pelan pelan . "Come on Mi , nanti saja jika Mami ingin bertemu Ajeng menumpahkan segala kerinduannya . Saat ini Ajeng pasti akan sibuk mengurus Embun yang memang sudah boleh pulang . Lagian di sana juga kan ada keluarga Adiguna Mi . Memangnya Mami mau bertemu dengan keluarga Adiguna?." Tanya Angga kepada Maminya .
Mendengar nama Adiguna , seketika darah Isabella mendidih saat ingat Ajeng menangis tersedu di bangku taman .
"Nanti saja ya Mamiku tercinta , pasti Angga pastikan nanti Mami dan Ajeng akan bertemu lagi , Angga janji." Sambil memegang tangan Isabella .
Isabella hanya mengangguk pasrah . Kerinduan akan dirinya kepada Ajeng pun dia simpan dalam dalam .
"Jangan sedih ya Mi , Angga ikutan sedih juga kalau Mami sedih seperti ini."
"Iya iya , Mami enggak sedih . Tapi Janji ya , Kamu bawa Ajeng buat ketemu sama Mami nanti."
"Iya Mi , Angg janji."
__ADS_1
Aksha yang melihat itu hanya bisa diam sambil menggelengkan kepalanya . "Lihatlah Ajeng , betapa besar cinta dan kasih sayang yang kamu dapatkan di keluarga ini . Bagaimana bisa keluarga Adiguna menyianyiakan kamu begitu saja?." Ucap Aksha dengan sendirinya .
"Angga pamit ya Mi , takut Ajeng sudah sampai."
"Sampaikan salam Mami untuknya ya Angga."
"Pasti Angga sampaikan Mi . Kak , gue pamit keluar bentar ya." Ucap Angga kepada Aksha .
"Lama juga enggak apa ko , gue di sini ada Mami yang jaga . Lo enggak usah mikirin gue."
Angga mencium pipi Isabella sebelum melangkah pergi menemui Ajeng "Pamit ya Mi." . "Thank you Kak." Ucap Angga kepada Aksha .
Aksha menganggukan kepalanya .
"Semoga semua sesuai yang di harapkan Angga ya Mi . Bukan maksud Aksha untuk mendoakan Ajeng segera berpisah dengan Caka . Tetapi melihat Angga yang serius seperti ini , mengingat kembali kejadian dimana Ajeng belum menikah dengan Caka ." Ucap Aksha seraya melihat Maminya.
Aksha benar , semangat Angga kembali saat mendengar Ajeng ingin berpisah . Dan Isabella tau bagaimana murkanya Angga saat mengetahui bahwa Ajeng di sakiti oleh Caka .
Isabella melihat sendiri bagaimana Putra keduanya menahan amarah saat tahu bahwa Ajeng di sakiti oleh Caka . Angga pun memastikan akan membantu Ajeng , jika memang Ajeng ingin berpisah dengan Caka .
"Mami juga tidak mau berdoa yang jelek jelek untuk Ajeng , Aksha . Tetapi jika boleh Mami egois sedikit . Mami inginnya Ajeng berpisah dengan Caka , bersama juga percuma bukan? Kalau pada akhirnya Ajeng akan di sakiti lagi , akan terluka lagi."
"Kita hanya bisa memantaunya dari jauh saja Mi . Semua keputusan ada di tangan Ajeng . Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikannya saja . Semoga Ajeng dan juga Embun selalu bahagia dalam keadaan apapun." Ucap Aksha kepada Maminya .
"Semoga ya Aksha , semoga Ajeng bisa konsisten untuk tetap pada pendiriannya."
Aksha tersenyum saat mendengar ucapan Maminya , dia tau bagaimana Isabella sangat amat menyayangi Ajeng . Ajeng dan Angga tumbuh bersama walaupun dengan perbedaan usia yang lumayan cukup berbeda dan Isabella juga tidak memandang latar belakang Ajeng darimana asalnya .
Dia sangat tertarik saat pertama kali melihat Ajeng yang tengah tersenyum saat itu . Senyuman tulus yang dilihat Isabella kala itu .
Anak perempuan pertama yang menarik hatinya saat berkunjung menemui Hartati , sang pemilik Panti Asuhan .
Pertemuan pertama itu yang tidak bisa Isabella hapuskan dari ingatannya . Bagaimana cerianya Ajeng saat itu , bagaimana Ajeng dengan ramah menyapanya dan menyambutnya saat itu .
Iya , Ajeng telah mencuri sebagian hati Isabella untuknya . Dia bertekad untuk menjadikan Ajeng menantunya kelak nanti . Tetapi , rencana tinggalan rencana . Apa yang di inginkan Isabella sirna sudah .
Tuhan , telah mentakdirkan Ajeng menikah dengan salah satu Cucu dari keluarga Adiguna . Kecewa dan sedih sudah pasti Isabella rasakan .
Isabella menata hatinya saat tahu Ajeng akan menikah . Dia akan bahagia jika melihat Ajeng bahagia dengan pasangannya . Tetapi , yang di lihatnya justru berbeda . Ajeng ternyata menderita selama menikah dengan Caka .
Isabella tidak akan tinggal diam saat tahu Ajeng yang dia cintai ternyata di sakiti begitu saja oleh Caka . Dia akan memberi pelajaran kepada Caka.
__ADS_1
Bersambung . . .