
Ajeng yang tengah duduk dikursi penumpang dengan sang Ibu hanya diam tak berbicara . Pikirannya melayang tak karuan .
Hartati yang melihat itu mengusap lengan Ajeng dengan pelan .
Ajeng tersentak saat lengannya di elus oleh sang Ibu . Dia menatap sang Ibu lamat lamat . Lalu tersenyum .
" Jangan terlalu dipikirkan nduk . Berdoa pada gusti allah Minta petunjuk Nya " jemarinya di genggam erat oleh sang Ibu .
Ajeng diam tak menjawab .
Hartati yang melihat itupun hanya bisa diam tak banyak berkata .
****
Anastasya yang saat ini tengah membawa Embun untuk melihat ke Kebun Binatang , tak berhenti tersenyum . Saat melihat sang Cucu sudah terlihat Ceria lagi .
Sebab saat dia sampai tadi , Dia melihat wajah sang Cucu yang tak enak dipandang . Ada raut kesedihan dan kekecewaan yang terpancar di mukanya . Sudah pasti pelakunya adalah Caka .
Emang dasar anak tak tau di untung . Umpatnya yang kesal dalam hati .
" Kita telfon Opa mau ga sayang ? Bilang kalo kita mau pergi kekebun Binatang , siapa tau Opa mau ikut " tanyanya pada sang Cucu.
" Boleh Oma . Nanti Embun yang ngomong sama Opa ya " jawabnya dengan gemas .
Sambungan telfon tersambung dengan sang suami .
Rafael yg mendengar bunyi ponselnya dengan segera merogoh saku jasnya .
" Opaaaaaaaa " Teriak embun saat panggilan terhubung .
" Cucu Opa , lagi dimana nak ? Ko telfon pake ponsel Oma sayang ? Embun lagi bareng sama Oma ? ." ucap rafael bertubi tubi .
" Iya Opa , Kita mau pergi ke Kebun Binatang . Opa mau ikut ga ? " tanya Embun antusias .
Rafael sejenak berfikir , ada lagi tidak jadwalnya hari ini . Setelah rapat yang sangat alot dan panjang juga menguras pikiran dan emosinya . Sejenak dia berfikir untuk ikut bersama sang Cucu dan Istrinya .
" Tunggu Opa di kebun Binatang aja ya sayang nanti Opa susul Embun kesana , Opa selesain pekerjaan Opa dulu " .
" Embun tunggu ya Opa , Opa jangan lama lama disananya " jawabnya lagi .
" Siap Tuan Putri " sambil mematikan sambungan telfonnya dengan sang Cucu . Dia memanggil Dave orang kepercayaan Caka .
" Dave , Saya mau pergi dengan Cucu saya , Kamu bisa kan Handle perusahaan bersama Tria ." ucapnya dengan tegas .
Dave lantas mengumpat dalam hati . Engga Anak engga Bapak , sukanya nyusahain aja . Kalo bukan karena benar benar gue sahabat Lo Ka , ogah Gue ngurusin Perusahaan segede ini sendiri .
__ADS_1
" Baik pak " jawab Dave dengan Pasrah .
****
Rafael dengan segera mengambil ponselnya yang berada disaku jasnya untuk menghubungi Supir sekaligus Asistennya .
" Siapkan Mobil , saya tunggu di bawah sekarang ini juga " Rafael mematikan telefonnya dan menaruh kembali didalam sakunya .
Lantas Rafael pun berjalan keluar dari dalam ruangannya menuju lift para petinggi .
umurnya boleh tidak muda lagi . Tetapi siapa bisa menolak pesona Rafael Adiguna . Walaupun sudah berumur , tak surut menghilangkan ketampanan di wajahnya yang sudah berkepala Lima itu.
Ting . .
Bunyi lift berdenting , dengan segera ia berjalan menuju Loby .
Kasak Kusuk terdengar di telinga Rafael saat Ia tiba di loby perusahaan , tetapi dia berusaha mengabaikannya saja .
Dimas yang melihat sang Bos dengan segera membukakan pintu mobilnya , dan mempersilakan sang Bos untuk masuk dan duduk .
Saat sudah memastikan sang Bos duduk dengan nyaman dikursi belakang . Dia berbalik membuka pintu mobil dan menutupnya . Dengan segera dia menyalakan mesin mobil.
" Dimas , Kita ke Kebun Binatang xxx Istri dan Cucu saya sekarang ada disana " ucap tegas Rafael.
Hampir satu jam Dimas mengendarai mobilnya melaju ke tempat yang dituju .
" Permisi Tuan , Maaf kita Sudah sampai " ucapnya kepada sang bos yang masih setia duduk dikursi belakang .
" Ya Dimas , terimakasih " dengan segera dia menelfon sang Istri untuk menanyakan keberadaannya dimana .
Ponsel Anastasya berdering . saat melihat siapa yang menelfon Dengan segera dia mengangkatnya .
" Ya Pah , Papah sudah sampai ? Papah masuk saja ya. Mamah sama Embun ada di dalam . Lagi melihat lihat Kelinci , Embun lagi asyik melihatnya Pah . Papah bisa kesini sendiri kan?. " tanya Anastasya .
" Iya sudah kalo gitu Papah segera menyusul kalian ya ". Dengan cekatan Dimas sudah membukakan pintu mobil majikannya .
" Kamu pulang saja Dim. Kemungkinan saya akan pulang bersama Istri dan Juga Cucu saya .
" Baik Tuan , kalo begitu saya pamit " Ucap Dimas sambil mengundurkan diri untuk pamit dari sana .
Rafael mengangguk mendengar ucapam Dimas.
****
Di Supermarket . . .
__ADS_1
" Sudah semua ini Bu belanjaannya ? Engga ada yang kurang kan ? " ucap Ajeng sambil mendorong troli belanjaan di tangannya .
" Ibu rasa sudah Nak . Enggak ada lagi , yakin deh Ibu " jawab sang Ibu sambil mengecek barang belanjaannya .
" Oke kalo gitu , Kita langsung ke kasir aja gimana Bu ? , habis dari sini kita langsung pulang ke panti boleh Bu , Ajeng kangen masakan Ibu " .
" iyasudah kalo gitu nanti ibu masakin ya setelah selesai belanja " sambil mengelus pucuk kepala sang Anak.
Dilihatnya lamat lamat , ada setitik kesedihan dihati sang Ibu. Manakala mengetahui bahwa sang Anak disakiti oleh seseorang yg baru masuk kedalam hidupnya . Seharusnya dari dulu dia menolak permintaan Pak Wira untuk menikahkan Cucunya dengan sang Anak.
Tapi nasi sudah menjadi Bubur , yang lalu biarlah berlalu. Dia hanya bis berdoa pada gusti Allah agar Ajeng selalu dilimpahkan kebahagiaan didalam Hidupnya .
Setelah selesai mengantri dan Membayar . Mereka berdua keluar dari Supermarket dengan barang belanjaan banyak di tangannya .
Dengan segera Ajeng menelfon andi agar segera datang kehadapannya , guna membawakan barang belanjaan mereka yg lumayan banyak .
" Halo Andi , Dimana ? Bisa saya minta tolong , barang bawaannya banyak sekali ini , bisa kamu masuk kedalam menyusul saya dan Ibu ? " .
" Iya Bu , Baik saya akan segera kedalam Bu " jawab Andi sigap .
tidak sampai sepuluh menit Andi sudah sampai dihadapan sang Majikan.
" Saya bawa Belanjaannya dulu Bu , Ibu sama Eyang bisa tunggu di depan saja . Nanti saya menyusul sekalian membawa mobil Bu " jawab Andi dengan cepat .
" Baik kalo gitu Ndi , by the way Kamu udah makan belum Ndi ? ."
" Alhamdulillah sudah Bu barusan aja " jawab Andi .
Ajeng pamit untuk kedepan , dan Andi segera mendorong troli berisikan plastik belanjaan untuk kebutuhan Panti Asuhan .
Hartati yang terus menerus mengenggam tangan sang Anak , membuat Ajeng heran .
" Ajeng baik baik saja Bu . Jangan hawatir ya " ucapnya seraya meyakinkan sang Ibu .
Ajeng yg tak mau darah tinggi sang Ibu kumat lagi gara gara memikirkan kondisi Rumah Tangganya , berusaha tetap tersenyum disaat hatinya diliputi kekecewaan yang mendalam oleh Caka.
" Jangan sungkan untuk berbagi Cerita sama Ibu Nduk . Jangan kamu pendem sendirian ya Nak " .
" Nggih Bu , udah Ibu juga jangan banyak pikiran , nanti Darah Tinggi Ibu kumat lagi yg ada , Ajeng gamau Ibu kenapa napa " .
Hartati mengangguk dalam diam.
Semoga Bahagia selalu menyertaimu nak .
Bersambung . . .
__ADS_1