
Angga mengajak Ajeng ke cafe yang berada tidak jauh dari rumah sakit untuk membicarakan masalah Ajeng yang ingin berpisah dari Caka .
Mereka saat ini duduk di atas rooftoop dengan pemandangan kota yang terasji di depan mata . Walaupun pemandangannya sangat bagus untuk dilihat , tetapi itu tidak menarik perhatian Ajeng saat ini .
" Kenapa tidak memberitahukan Kakak bahwa kamu dimadu oleh Caka Ajeng ? . Kenapa tadi saat kita bertemu kamu diam saja ". Sekuat tenaga Angga menahan emosinya untuk tidak memukul Caka saat dia tau yang sebenarnya .
Ajeng tidak merasakan heran saat Angga menanyakan hal seperti itu . Dirinya tau kekuatan keluarga Adiguna dan Muneer tidak bisa tersaingi dan terkalahkan . Informasi apapun pasti akan mereka dapatkan dengan sangat mudah , walaupun sudah ditutup rapat rapat .
" Ajeng .. Ajeng pikir masih bisa untuk di pertahankan Kak . Tetapi nyatanya , tidak sama sekali . Ajeng menyerah Kak melepaskan Mas Caka demi Mba Ara dan Arka ".
Angga mengeryitkan keningnya " Arka " ucap Angga sekilas .
" Iya Arka , Anak dari Mas Caka dan Mba Ara " .
" Kamu yakin itu Anaknya Caka ? " tanya Angga tiba tiba kepada Ajeng .
" Kenapa Kakak tiba tiba bertanya seperti itu ? " .
" Engga .. Kakak cuma memastikan saja jika memang itu Anaknya , ya sudah . Kamu tau mereka saat ini tinggal dimana ? " .
" Waktu itu Dave keceplosan berbicara sama Ajeng . Dave bilang mereka sekarang ada di Bandung ".
Angga menganggukan kepalanya .
" Sudah yakin ingin berpisah dari Caka ? Jangan mengambil keputusan jika kamu lagi dalam keadaan emosi " . Angga berusaha untuk bersikap bijak kepada Ajeng . Pasalnya Angga masih melihat bahwa masih ada cinta yang kuat dimata Ajeng untuk Caka .
" Yakin Kak . Mungkin memang jodoh Ajeng hanya sampai disini saja dengan Mas Caka . Terlepas seperti yang Kakak bilang bahwa Arka anak Mas Caka atau bukan , Ajeng akan tetap menggugat Mas Caka di pengadilan nanti . Bantu Ajeng ya Kak , tolong permasalahan urusan perihai surat perceraian Ajeng dengan Mas Caka jangan sampai ada yang tau dulu ya Kak " .
Angga menghela nafasnya terlebih dahulu . " Kakak enggak bisa menjamin untuk Kakek Wira engga tau ya Ajeng . Kamu tau sendiri Kakek Wira berkuasanya seperti apa ? . Jadi kalau sampai Kakek Wira mengetahuinya , berarti bukan dari Kakak yang memberitahukannya . Tetapi akan coba Kakak pastikan untuk menutupinya serapih mungkin ".
" Iya kak , Ajeng paham , Ajeng mengerti bagaimana kekuasaan keluarga Adiguna . Kalaupun nantinya Kakek sampai mengetahui , biarkan saja , Ajeng ingin mengetahui reaksinya seperti apa ". Ucap Ajeng sambil meminum minuman yang dia pesan tadi .
Tanpa mereka sadari , sedari tadi ada yang memperhatikan gerak gerik mereka dan mengirimkannya kepada yang bersangkutan .
" Kakak minta nomer ponselmu saat ini . Ingat jangan pernah mengganti nomernya lagi ". Ucap Angga penuh penekanan .
Ajeng memberikan nomer ponselnya kepada Angga . Lalu melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya . " jam setengah lima " Ucap Ajeng .
" Ajeng pamit mau balik ke kamar Embun lagi Kak . Maaf Ajeng belum sempat menjenguk Bang Aksha Kak ".
" It's oke . Kamu urus saja Embun , nanti kalau Embun sudah sehat , baru menjenguk Kak Aksha " dengan mengacak rambut depan Ajeng dengan pelan .
__ADS_1
Ajeng mendengus saat rambutnya di acak oleh Angga .
" Ajeng pamit duluan ya Kak " seraya berdiri meninggalkan Angga yang masih setia duduk sambil meminum minumannya .
" Kabari Kakak kalau terjadi sesuatu " Ucap Angga .
Ajeng mengangguk dan tersenyum kepada Angga . Senyuman itu , senyuman yang tidak bisa Angga hilangkan selama ini didalam hidupnya .
Sepeninggal Ajeng , Angga mengambil ponselnya untuk menghubungi Juna sang Asisten kepercayaannya .
" Jun , Cari tau tentang Arasheline Danuarta serta Anak yang bernama Arka . Mereka saat ini tinggal di bandung . Saya tidak tau alamat pastinya . Dan kamu pastikan mendapatkan informasinya dengan lengkap . Mengerti Jun "
" Di mengerti Tuan . Ada lagi tambahannya Tuan ? ". Ucap Juna sang Asissten .
" Tidak ada , pastikan kamu mendapatkannya malam ini juga Jun . Saya merasa ada yang janggal disini . Kalau begitu saya tutup panggilannya Jun . Terimakasih " seraya mematikan sambungan panggilannya denga Juna .
" Iya Tuan , sama sama " jawab Juna .
****
" Siapa lelaki yang berani mendekati Menantu kesayanganku Jhon " . Tanya Wira kepada Jhon yang saat ini berada di belakangnya .
Wira mengangkat alisnya satu . " Keluarga Muneer " . Ulang Wira saat mendengar nama Muneer .
" Iya Tuan . Penyumbang dana terbesar kedua untuk Panti Asuhan Ibu Hartati setelah Keluarga Adiguna " .
Wira menganggukan kepalanya tanda mengerti. " Hem , Keluarga Muneer rupanya " .
" Cari tau apa yang ingin Airlangga lakukan Jhon . ingat jangan sampai anak buah yang kita bayar diam diam ketahuan . Saya tidak ingin itu terjadi ". Dengan tegad Wira berkata .
" Baik Tuan . Akan saya lakukan . Saya pastikan tidak akan yang mengetahuinya selama ini . " . Jawab Jhon .
" Dimana Caka saat inu Jhon ? Apakah masih bersana Wanita Ular itu atau tidak ? " . Tanya Wira .
" Sekarang ada bersama dengan Non Embun Tuan . Sedang menunggu Non Embun , lebih tepatnya " .
" Awasi setiap gerak gerik Wanita ular itu Jhon . Cari tau informasi apa yang akan dia lakukan setelah ini . Saya tidak mau sampai kecolongan lagi " Ucap Wira dengan tegas .
" Baik Tuan , saya akan menghubungi Anak buah saya untuk memantau Non Ara Tuan . Tuan jangan khawatir ".
" Saya percayakan semuanya sama Kamu Jhon . Jangan sampai kamu mengecewakan saya . Jangan sampai kamu membawa informasi yang tidak penting Jhon " . Sambil terus memperhatikan foto Ajeng dengan Angga .
__ADS_1
" Baik Tuan , kalau begitu saya pamit undur diri ".
" Hemm " hanya deheman yang keluar dari mulut Wira .
Wira yang masih memegang ponselnya sedari peninggalan Jhon , memperhatikan Angga melalui foto foto yang anak buahnya kirimkan untuk dirinya . Wira yakin bahwa Angga memiliki perasaan khusus untuk Menantu Kesayangannya itu . Terlihat jelas dari sorot mata Angga kepada Ajeng .
Wira semakin meremas ponselnya manakala melihat Ajeng yang bersimbah air mata dipeluk oleh Angga .
" Cucu Engga tau di untung , Kamu Caka . Bisa bisanya kamu membuat Ajeng menangis lagi seperti ini " desis Wira .
Ini tidak bisa di biarkan , Ara harus segera Wira singkirkan sebelum semuanya terlambat dan makin berantakan untuk rumah tangga cucunya .
Wira tidak ingin Caka salah mengambil keputusan . Tidak , wira tidak ingin seperti itu . Bukan karena wira takut hartanya habis , tidak. Hartanya tidak akan habis walaupun sampai tujuh turunan .
Tetapi yang Wira takutkan adalah , takutnya Caka salah mengambil langkah dan keputusan . Caka masih bisa di perdaya oleh Wanita ular itu , Ara sangat pandai memanipulasi orang orang termasuk Caka .
Wira memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri memikirkan nasib rumah tangga Cucunya . Wira tidak ingin ada perceraian di antara Caka dengan Ajeng . Wira sangat menyayangi Ajeng seperti Cucu kandungnya sendiri .
Wira memperhatikan lebih detail foto foto Arka saat ini . " Senyum ini " . Ada yang berbeda dari foto Arka jika dilihat dengan seksama .
" Jhon , dapatkan DNA Arka secepat mungkin , saya merasakan ada kejanggalan " .
" Baik tuan akan saya lakukan segera " .
" Chandra .. Satu kata terucap dari mulut Wira . Ini bukan Anak Caka , senyumannya beda . Ini Anak Chandra kembaran Caka " .
Iya Caka memiliki saudara kembar identik bernama Chandra Wijaya Adiguna . Banyak yang tidak mengetahui bahwa Caka memiliki kembaran , termasuk Ajengpun tidak tau .
Wira yakin ini bukan Anak Caka melainkan Anak Chandra Cucu pertama Wira yang sekarang berada di Italy .
" Wanita s****an . Berani beraninya kamu menjebak Caka sampai selama ini . Akan saya bongkar semuanya Ara di depan Caka dan seluruh keluarga Adiguna " .
" Dapatkan informasi keberadaan Chandra dimana saat ini Jhon . Saya mau informasinya tidak lebih dari dua jam ". Kembali Wira menghubungi Jhon .
" Laksanakan Tuan " .
Mari kita lihat Ara , sampai dimana sandiwaramu akan bertahan . Kita lihat saja , Caka akan murka saat mengetahui bahwa Anak yang selama ini dia sayangi ternyata bukan Anaknya .
Kita buktikan semuanya Ara , permainan segera dimulai .. Dengan senyum menringainya wira berkata . .
Bersambung . . .
__ADS_1