Aku Menyerah , MAS !!

Aku Menyerah , MAS !!
Bab 35


__ADS_3

Ajeng yang saat ini tengah menikmati kesunyiannya sendiri terusik mendengar Sang Anak yang terbangun . " Bun , Ayah dimana ? ". Ucapan pertama yang di tanya Embun adalah Sang Ayah .


" Ada sayang , Ayah lagi menerima telfon dari Om Dave , nanti Ayah balik lagi kesini ". Seraya mengelus kepala Embun dengan lembut .


" Embun mau pulang Bunda , Embun enggak betah disini . Kapansih Embun bisa pulang kerumah lagi ". Tanyanya dengan kesal , pasalnya Embun sudah mulai merasa bosan dengan keadaan suasana rumah sakit .


" Sabar Sayang , sebentar lagi ya , kalau kata Pak Dokter Embun baik baik saja , itu tandanya Embun sudah boleh pulang ". Kembali Ajeng menjelaskan dengan lembut kepada Sang Anak .


Embun memajukan bibirnya yang kecil , menambah kesan imut dan lucu pada dirinya .


Lihatlah Mas , bukan Aku yang dicari oleh Embun untuk pertama kali saat membuka mata . Tetapi kamu , kamu Mas yang Embun cari , sebegitu besar cinta Embun untukmu . Tetapi kenapa kamu malah menyia nyiakan kami berdua . Kenapa ? . Tanya Ajeng di dalam hati yang merasa miris dengan kondisinya yang saat ini .


" Embun mau makan lagi enggak sayang ? Bunda suapin ya , habis itu kita telfon Oma dan Opa , katanya Oma sama Opa mau datang lagi buat nengok Embun . Gimana ? ".


Embun yang sempat cemberut , kembali ceria saat Sang Opa dan Omanya akan datang untuk menjenguk dirinya .


" Iya Bunda , Embun mau makan " . Dengan cepat Embun menjawab .


Dan dengan segera Ajeng menyuapi Embun dengan telaten dan penuh kasih sayang .


*****


Caka yang hendak masuk kedalam kamar rawat Embun sambil membawa paper bag yang ditangannya melihat semuanya .


Bagaimana bisa dirinya selama ini tertutup pada Ajeng dan tidak melihat kebaikan yang Ajeng buat . Bahkan Ajeng masih bisa menutupi keburukan dirinya di depan Anak mereka .


Betapa bodohnya Caka selama ini telah menyia nyiakan Ajeng . Caka berjalan mendekat kepada mereka berdua , Embun yang masih fokus pada Sang Bunda , tidak menyadari keberadaan Ayahnya .


Caka dengan Cepat mencium kembali kening Ajeng , iya menjadi rutinitasnya saat ini , saat bertemu dan melihat Ajeng , Caka akan mencium kening Ajeng tanpa melihat tempatnya ada dimana . Lalu bergantian mencium kening Embun yang tengah lahap memakan makanan yang Ajeng suapi .


" Ayah , Ayah darimana saja . Kenapa lama sekali menelfon Om Davenya . Embun bosen Ayah ada dikamar terus " . Embun kembali menyuarakan kebosanannya kepada Sang Ayah .


" Maaf sayang , Ayah sambil membahas pekerjaan dengan Om Dave ". Ucap Caka penuh dusta , tidak mungkin kan dirinya bilang telah menghubuni Kakek Wira .


" Biar Mas yang suapi Embun , kamu ganti bajumu saja . Tadi Mas enggak sengaja bertemu Andi di depan membawa pakaian ganti untuk kamu ". Sambil menyerahkan paper bag yang berisi baju Ajeng .


Ajeng mengangguk tanpa menjawab , diambilnya paper bag yang berada di tangan Caka . Lalu membawanya masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


" Ayah yang suapin ya sayang , enggak apa apa kan ?". Tanya Caka dengan lembut kepada Embun .


" Enggak apa apa Ayah , Embun senang sekali " . Ucap Embun yang semangat saat Caka menyuapinya .


Caka tertegun , sudah berapa lama dia abai kepada Embun juga Ajeng . Melihat Embun yang lahap seperti ini membuka kembali kesalahannya yang dulu . Caka sadar dia sering kali abai terhadap Embun . Caka juga sadar bahwa dirinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Arka dibanding Embun . Caka kembali merasa bersalah pada Embun . Caka bertekad , setelah Embun keluar dari rumah sakit . Caka akan lebih mementingkan Embun daripada Arka .


" Ayah .. Are you okay ? ". Tanya Embun yang melihat Sang Ayah hanya diam saja dari tadi .


" Ayah baik sayang , Embun enggak usah khawatir . Ada apa sayang ? ". Tanya Caka kepada Embun .


" Embun dari tadi manggil Ayah tetapi Ayah diam saja , Embun mau nelfon Oma sama Opa Ayah ". Ucap Embun kepada Caka .


" Kita tunggu Bunda ya , kalau Embun pengen nelfon Oma sama Opa ". Jawab Caka seraya mengelus kepala Embun .


Tidak berselang lama , Ajeng keluar dari dalam kamar mandi . Caka yang mleihat Ajeng terlihat begitu sudah segar saat keluar , tidak mengedipkan matanya sama sekali .


" Bun , Embun mau telfon Oma sama Opa dong ". Dengan nada manjanya Embun berucap .


Ajeng mendekat untuk mengambil ponselnya yang sedang di charger . " Sebentar bunda nyalakan dulu ponselnya ya , soalnya tadi ponsel bunda lowbet ".


" Baik Bunda ".


Ajeng segera menghubungi Mama dan Papa Mertuanya . Karena Embun sedari tadi ribut ingin berbicara kepada mereka berdua .


" Assalamualaikum Ma , sapa Ajeng saat panggilannya terhubung ".


" Waalikumsalam sayangnya Mama , ada apa Ajeng sayang ? Ada yang urgent kah ? Maaf Mama lagi siap siap sebentar lagi mau berangkat kerumah sakit , mau jenguk Cucu Mama ".


" Oh enggak , enggak ada yang urgent kok Ma . Embun dari tadi nanya , Mama sama Papa kapan datangnya ".


" Mana Cucu Oma , Mama mau bicara sama Embun , Ajeng ". Tanya Anastasya kepada Ajeng .


" Sebentar Ma ". Jawab Ajeng kepada Anastasya .


" Sayang , Oma mau ngomong sama Embun " . Ucap Ajeng kepada Embun sambil menyerahkan ponselnya kepada Embun .


" Assalamualaikum Oma , Oma kapan datang kesini , Embun bosen Oma Embun pengen pulang Oma . Embung engga betah ada disini lama lama " . Embun mengadu kepada Omanya sendiri .

__ADS_1


Anastasya yang mendengar itu tersenyum dari seberang sana . " Sabar sayangnya Oma , mungkin besok Embun sudah boleh pulang kalau memang sudah sembuh ". Jawab Anastasya dengan santai .


" Oma hati hati kalau mau kesini ya , salam buat Opa ya Oma . Embun tunggu disini " .


" Iya sayang , Embun mau dibawain apa sayang ? ".


" Enggak usah Oma , Oma sama Opa dateng kesini juga Embun sudah senang kok ". Iya , memang Embun tidak pernah meminta apapun dari sang Oma maupun Opanya .


Caka yang mendengar ucapan Embun , kembali tertampar oleh kenyataan yang ada , Embun anak perempuan satu satunya tidak pernah meminta dibelikan apapun oleh kedua Orang Tuanya .


Padahal setiap dia menemui Arka , selalu saja ada barang yang selalu diminta Arka untuk dibelikan oleh Caka . Tetapi , mengapa Embun berbeda ? Mengapa Embun tidak meminta apapun kepada Orang Tuanya .


Ya Tuhan , maafkan Aku yang telah berdosa kepada Anak dan Istriku . Ucap Caka dalam hati .


" Ini Bunda , Embun udah selesai ngomong sama Oma ". Embun mengembalikan ponsel Ajeng yang masih terhubung dengan Sang Oma .


" Ma , Mama hati hati dijalannya nanti sama Papa ya , engga usah buru buru bawa mobilnya Ma tolong bilangin ke Papa ".


" Iya sayang , nanti Mama sampaikan pesan kamu sama Papa , kalau begitu Mama tutup telfonnya ya Ajeng , Assalamualaikum ". Sambil mematikan panggilannya dengan Sang Menantu , Anastasya mencari sosok keberadaan Suaminya .


Ajeng segera menaruh kembali ponselnya di samping meja dekat ranjang Embun .


" Sudah makan Mas ? Ajeng mau pesan makan . Mas Mau ? ". Sebisa mungkin Ajeng bersikap ramah kepada Caka yang notabennya masih menjadi Suami Ajeng .


" Boleh sayang , Mas mau ganti baju dulu engga apa apa kan ? ".


Ajeng mengangguk dan langsung memesan makanan kesukaan dirinya dan juga Caka serta makanan sehat tak lupa untuk Embun .


" Happy , yang udah nelfon Oma ? ". Tanya Ajeng kepada Embun .


" Hum , makasih Bunda ".


" Sama sama sayang ". Mencium kening Embun dengan sayang .


Ponsel Ajeng tiba tiba saja berdering bunyi didalam kamar rumah sakit , dengan segera Ajeng mengambil dan melihat siapa yang menghubungi dirinya .


" Kakek Wira "....

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2