Aku Menyerah , MAS !!

Aku Menyerah , MAS !!
Bab 12


__ADS_3

Di tempat lain . . .


Ara yang sedang menghubungi Caka sedari tadi kesal bukan main , karena ponsel sang pemilik tak menjawab panggilan darinya .


" Caka s***an , awas saja kamu jika sampai kutahu kamu lebih memilih j***ng itu daripada aku " desisnya yg tidak terima .


Ara yang tengah kesal memaki dan mengumpat " kita lihat saja caka , aku akan mengunjungimu dikediamanmu dengan j***ng itu , akan kubawa anak ini agar dia melihat seberapa mirip kalian berdua . agar dia merasa syok dan akan kubuat mentalnya jatuh sejatuh jatuhnya " dengan senyum smirknya .


sekali lagi ara mencoba menghubungi Caka , panggilannya tetap tersambung tapi belum ada jawaban .


***


Dikamar embun . . .


ponsel caka yang terus berdering memekikan telinga Ajeng , Ajeng berdiri dengan pelan untuk mengambil ponsel Caka dan menjawabnya , saat hendak menjawab , nama Ar lah yang tertera di ponsel itu .


" Akhirnya kamu menjawab juga Caka , darimana saja kamu hah ? Selama berapa hari ini tidak datang mengunjungiku dan juga Arka . Ingat Caka anakmu bukan hanya dari wanita j***ng itu . sialan kamu ya , ingat Caka kamu menikahi dia karna apa ? sampai kudengar kamu telah mencintainya akan kubongkar semuanya " geram Ara dari seberang sana .


Ajeng yang mendengar itu diam saja tak menjawab . Ajeng hanya ingin tau sampai dimana ara akan bicara .


" Ingat Caka , Arka lah yg lebih penting dibanding anak s****n itu , dia hanyalah anak dari wanita j***ng yang tak tau asal usulnya darimana , aku tunggu kamu besok datang menjengukku dan juga Arka " . Ara mematikan telfon yang telah tersambung .


Seketika darah Ajeng mendidih saat anak yang dia lahirkan dikatakan anak s****n , tak sadar Ajeng telah meremas ponsel Caka yang berada di tangannya .


dia tak masalah dikatakan apapun , asal jangan pernah mengatai anaknya . Dia sadar , dia tahu , bahwa dia hanyalah seorang anak yang dibuang di panti asuhan .


Caka yang sudah selesai mengeluarkan mobil dari garasi langsung menuju kamar Embun . Saat membuka pintu kamar dan masuk kedalam , Caka melihat gelagat wajah Ajeng yang seperti memendam amarah .


Dengan ponsel dia yang berada di tangan Ajeng , sudah Caka pastikan , bahwa Ara telah menghubungi dia . Entah apa yang dikatakan Ara pada Ajeng tentunya sekarang akan menjadi masalah baru untuknya .

__ADS_1


Ajeng maju melangkah kehadapan Caka , lalu memberikan ponsel Caka yang berada di genggamannya .


" dengar Mas , ajari Istri tercintamu itu untuk berbicara yang sopan kepadaku . Aku tak masalah dikatakan anak yang tak tau asal usulnya darimana , tetapi jangan sampai dia menghina anakku dan menyebutnya anak s****n ". Ajeng segera menarik Embun untuk membawanya keluar .


Tak perduli dengan kakinya , Ajeng melangkah menuruni anak tangga dengan cepat untuk segera sampai di dalam mobil . Moodnya benar benar sudah hancur , kalau dia tak melihat Embun , sudah Ajeng pastikan makan malam kali ini akan batal . Mengingat perkataan ara yang tadi membuat darahnya mendidih .


Nafas Ajeng naik turun tak beraturan , menandakan kemarahannya . Kakinya terasa berdenyut nyeri , pasalnya dia tadi berjalan dengan tergesa agar cepat masuk kedalam mobil.


Embun yang tengah melihat Ajeng meringis mengelus kakinyanya bertanya , " Are you okay bun ?"


" Enggak apa apa cantik " Ajeng menampilkan senyumnya , karena dia tak mau merusak momen penting ini .


Caka yang masih berada dikamar Embun , mengusap wajahnya dengan kasar , melihat isi pesan yang dikirim Ara sejak tadi . Caka lupa bahwa besok dirinya harus mengunjungi Arka beserta Ara .


Dia merutuki kebodohannya sendiri , pasalnya besok dia sudah berjanji pada Embun , untuk datang di acara pentas sekolahnya .


Caka berjalan keluar dari kamar embun menuju mobil , dilihatnya muka sang Istri yang udah tak bersahabat . Caka menarik nafas pelan pelan sambil menggunakan seatbeltnya .


Embun mengangguk dengan patuh , senyumnya terpancar dari wajahnya yang cantik .


Caka melirik Ajeng yang sedari tadi hanya melihat keluar jendela , tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya .


Mobil sedan Mercedes Benz hitam yang di bawa caka melaju dengan pelan keluar dari garasi rumahnya , tepat pukul setengah enam mereka semua pergi untuk makan malam diluar sambil jalan jalan .


Caka mencoba menggenggam jemari Ajeng , tak ada penolakan mau respon apapun darinya .


****


Mobil masih melaju dijalanan ibukota yang mulai padat , Caka memutuskan untuk kesalah satu mall terbesar dipusat kota ini , Caka ingin mengajak Embun dan Ajeng menghabiskan waktunya disini terlebih dahulu . Supaya Ajeng lupa akan kata kata Ara .

__ADS_1


Caka memarkirkan mobilnya , lalu mematikan mesin mobil dan mengajak sang anak untuk segera turun .


" kita main kesini dulu ya , sehabis itu kita makan ditempat biasa ok cantik " sambil membawa Embun dalam gendongan ya .


" ok Ayah , Embun udah engga sabar untuk masuk kedalam " ucapnya yang penuh antusias .


Ajeng mengikuti mereka berdua dari belakang dengan jalan yang gontai .


Caka melihat kesamping sebelahnya tetapi dia tidak melihat Ajeng , Caka pun mencari keberadaannya. Melihat sekeliling , ternyata Ajeng masih berada di belakang .


Dengan langkah cepat sambil membawa Embun di gendongannya , Caka berjalan menghampiri Ajeng .


" jangan marah , enggak enak keliatan sama Embun , untuk kali ini Mas mohon , jangan rusak kebahagiaan Embun ya sayang , nanti Mas jelasin semuanya " ucap Caka sambil mengelus pipi ajeng .


Ajeng hanya mendengus , moodnya benar benar hilang . Tetapi dia tak boleh egois , melihat Embun bahagia , Ajeng pun tak tega untuk merusak kebahagiaannya . Karna bagaimana pun Embunlah segalanya untuk dia .


Ajeng mengangguk dengan patuh . Lalu mereka jalan beriringan menuju tempat bermain anak , tujuan pertama Embun .


Caka yang melihat Embun tertawa bahagia , seketika terbesit rasa bersalah dihatinya . Bagaimana tidak , dia lebih memperioritaskan Arka dibandingkan Embun .


Setiap pulang kerja tak henti hentinya Caka mengunjungi Arka dan juga Ara . Alasan dia sibuk dan selalu pulang malam bukanlah alasan yang sebenarnya , karna Arkalah dia beralasan seperti itu pada Ajeng dan juga Embun .


Embun yang selalu mengerti dan tak pernah mengeluh akan kesibukan dirinya pun tak banyak bertanya . Demikian dengan Ajeng yang selalu pengertian .


Iya , Ara memang tidak tinggal di Jakarta bersama Caka , Ara dan Arka tinggal di Bandung , Caka membelikan Ara rumah untuknya disana . Caka tidak mau mengambil resiko dengan Ara yang bisa saja tiba tiba datang menemui Ajeng dan membuat masalah .


Sejenak Caka mengusap wajahnya dengan kasar . permasalahan ini tidak akan pernag selesai kalau dia tidak mengambil keputusan , tetapi dia juga tidak mau Ajeng kenapa napa.


Caka takut , saat dia akan menjelaskan semua pada Ajeng , Aeng akan pergi dengan membawa Embun entah kemana , Caka tak bisa kehilangan mereka , bagaimanapun mereka adalah hidupnya .

__ADS_1


Caka menghembuskan nafasnya pelan pelan . Dia harus berbicara dengan sang ibunda untuk permasalahan ini .


Bersambung . . .


__ADS_2