Aku Menyerah , MAS !!

Aku Menyerah , MAS !!
Bab 52


__ADS_3

Ajeng yang saat ini tengah menunggu Pak Leon di kafe terdekat pun mendadak gelisah tidak karuan.


"Tenang Ajeng semua akan baik-baik saja. Pasti Pak Leon bisa membantu kamu." Monolog Ajeng untuk menyemagati diri sendiri.


Lantas kalau bukan dirinya, siapa yang akan menyemangati Ajeng lagi? Caka? Bahkan Caka saja pergi ke bandung untuk menemui wanita itu.


"Selamat pagi, dengan Mbak Ajeng?." Ucap Pak Leon yang saat ini ada di hadapan Ajeng.


"Pagi Pak. Iya saya Ajeng." Jawab Ajeng berdiri dan menjabat tangan Pak Leon. "Silahkan duduk Pak, saya belum memesan apa apa, jadi saya hanya memesan satu buah kopi yang baru saja tiba." Ucap Ajeng seraya mempersilahkan Pak Leon untuk duduk.


"Tidak usah repot repot Mbak by the way terimakasih untuk kopinya." Jawab Pak Leon . "Lantas berkas berkas yang saya minta apakah sudah ada di tangan Mbak?." Tanya Pak Leon pada Ajeng .


"Ehm begini Pak, untuk masalah berkas, saya rasa sudah di amankan terlebih dahulu oleh Mas Caka. Saya tidak menemukan apapun di dalam brankas di ruang kerja miliknya." Jawab Ajeng terdengar pasrah.


Pak Leon menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Baiklah Mbak, saya bisa membantu Mbak walaupun tanpa berkas tersebut. Tapi apakah Mbak punya bukti jika Pak Caka benar benar selingkuh di belakang Mbak?."


"Ada Pak di dalam ponsel saya."


"Baik, simpan bukti itu sampai persidangan. Saya akan berusaha semampu dan sebisa saya untuk Mbak Ajeng."


"Lantas bisakah hak asuh anak jatuh ke tangan saya Pak?."


"Bisa Mbak, saya pastikan akan memenangkan hak asuh anak tersebut untuk Mbak Ajeng." Ucap Pak Leon dengan yakin.


"Terimakasih banyak Pak." Jawab Ajeng .


Hampir lima belas menit Pak Leon dan Ajeng membahas kembali masalah perceraian yang akan di lakukan Ajeng dengan Caka.


Angga yang saat ini ada di perusahaan milik keluarganya hanya bisa mondar mandir tak karuan memikirkan pertemuan tersebut.


"Kenapa mondar mandir seperti setrikaan belum panas begitu?." Tanya Sulhan saat berada di dalam ruangan anaknya.


"Eh Papi. Tidak Pi." Dusta Angga kepada Papinya.


"Halah, Kamu mau coba coba kibulin Papi? Tidak bisa Angga. Semua akan baik baik saja. Percaya sama Papi, Ajeng akan tetap pada pendiriannya." Jawab Sulhan yang mengerti akan kegelisahan sang anak.


Angga menatapa wajah Papinya, apakah Papinya ini cenayang? Bisa bisanya dia tahu isi pikiran yang ada di otaknya saat ini.


"Kenapa? Kamu heran Papi tau jika Ajeng akan bertemu dengan Pak Leon? Hem? Ingat Angga, Mata dan telinga Papi ada dimana mana jika Kamu lupa." Jawab Sulhan dengan sombongnya.


"Walaupun bukan dari mulut Kamu, Papi tahu Ajeng ada dimana dan dengan siapa saat ini. Sudah ya , jangan berfikiran yang tidak tidak. Lebih baik kita doakan saja agar Ajeng selalu mendapatkan kebahagian di luar sana."


"Terimakasih Pi." Dengan segera Angga memeluk Sulhan.

__ADS_1


"Sama sama boy. Jangan sungkan untuk bercerita kepada Papi. Ingat jangan diam seperti tadi. Papi bukan cenayang yang tiap kali tahu apa isi pemikiran kamu."


Angga mengangguk tanda mengerti.


"Mau pergi menemui Ajeng tidak?." Tanya Sulhan kepada Angga.


"Apakah boleh? Angga baru saja datang ke perusahaan."


Sulhan menautkan alisnya saat sang anak berbicara seperti itu. "Kamu sehat? Kenapa tiba tiba merasa jadi tidak enakan seperti ini? Hey Boy, ini perusahaan milik kamu. Kamu mau tidak ada di sini pun tidak masalah." Jawab Sulhan dengan cepat.


"Ck Papi, bukan seperti itu. Angga enggak enak saja pada yang lain selain Juna." Ucap Angga seperti itu.


"Pergilah Nak, jika fikiran dan perasaan kamu tidak enak. Disini Papi yang akan handle dengan Juna, Asisten sekaligus sekretaris pribadi kamu." Ucap Sulhan seraya menepuk pundak sang Anak.


"Terimakasih Pi, Papi memang yang terbaik." Ucap Angga seraya berjalan untuk segera menemui Ajeng.


Sulhan hany bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Angga bahagia sepert itu.


Angga dengan senang saat sang Papi tahu apa yang tengah di alami dirinya.


Dengan perasaan senang Angga yang saat ini tengah berada di dalam mobil pun ingin menghubungi Ajeng tetapi tidak jadi. Dia akan memberikan kejutan pada Ajeng untuk menyusul ke tempat bertemu.


****


"Sama sama Mbak Ajeng. Lagi pula memang saya tidak ada acara apapun untuk hari ini." Jawab Pak Leon dengan cepat.


"Kalau begitu saya pamit undur diri duluan tidak apa kan Mbak?."


"Boleh Pak, saya masih ingin di sini. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih Pak."


"Saya pamit undur diri ya Mbak. Sama sama Mbak Ajeng." Ucap Pak Leon yang saat ini tengah berjalan untuk pergi dari kafe tersebut.


Angga yang saat ini masih di jalan pun mencoba untuk menghubungi Ajeng.


Tut...


Tut...


Tut...


"Halo Kak?." Jawab Ajeng .


"Kamu masih bertemu Pak Leon?." Tanya Angga kepada Ajeng.


"Pak Leon baru saja pulang Kak, Ajeng masih di kafe masih ingin menikmati suasana di sini dulu."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Embun."


"Embun sama Mama dan Papa Kak, tadi Mama dan Papa yang bawa Embun untuk di bawa pulang kerumah utama dulu."


"Kakak dimana? Engga ke kantor?."


"Kakak di jalan, nanti Kakak hubungin ya kalo sudah sampai, Kakak lagi bawa mobil dulu engga apa apa kan Jeng?." Tanya Angga, dia tidak ingin Ajeng tahu bahwa dia akan menemui Ajeng. Biarkan menjadi kejutan saat sudah sampai sana.


"Hati hati Kak di jalannya."


"By The Way kamu masih lama kan di sana?."


"Ehm masih Kak. Kakak hati hati , Ajeng tutup telfonnya ya." Ucap Ajeng seraya menutup panggilan dari Angga.


Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak lagi menjadi risau saat mendengar Ajeng akan lama berada di kafe tersebut.


Ajeng masih setia menikmati pemandangan pagi ini. Sambil mengingat ucapan Pak Leon yang akan terus memperjuangkan hak asuh anak untuknya.


Tidak terasa sudah sepuluh menit Ajeng duduk sambil menikmati pemandangan di luar sana. Dan tanpa Ajeng sadari, dari kejauhan Angga sudah sampai di dalam kafe. Dengan segera dia berjalan mendekat ke arah Ajeng.


Ajeng mematung manakala ada sebuah tangan yang menutupi matanya. "Kak Angga?." Jawab Ajeng.


Angga melepaskan tangannya yang berada di mata Ajeng tadi. "Kok kamu tahu kalau yang tadi Kaka?."


"Parfum dan aroma Kakak sangatlah Ajeng kenal. Walaupun Kakak baru tiba tapi Ajeng sangat ingat Ka." Ucap Ajeng .


Angga tersenyum tipis saat mendengarkan ucapan Ajeng. Senyuman itu sangat tipis sekali, bahkan Ajeng saja tidak bisa melihatnya.


"Kaka sedang apa di sini? Bukankah Kaka seharusnya ada di perusahaan?." Ucap Ajeng yang melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya.


"Sudah ada Papi di sana, jadinya Kakak kesini saja. By The Way bagaimana dengan pembahasan kasus kamu dengan Pak Leon?."


"Semua baik baik saja Kak. Pa Leon yang akan mengatur segalanya untuk Ajeng."


Hembusan nafas Ajeng terdengar oleh Angga.


"Ajeng tidak pernah mempermasalahkan soal harta gono gini dengan Mas Caka, Kak. Yang Ajeng inginkan adalah Hak asuh anak tetap berada pada Ajeng. Hanya itu yang Ajeng ingini. Persetan dengan Harta gono gini."


"Kaka yakin, pasti Pak Leon akan memenangkan kasusnya."


"Terimakasih Kak. Semoga saja semuanya berjalan dengan seharusnya ya Kak." .


Ajeng lelah , ya dia sudah lelah menghadapi semuanya. Ingin rasanya membawa Embun pergi jauh dari sini dan memulai awal baru di tempat yang baru juga..


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2