
Ajeng yang saat ini sudah berada di dalam mobil pun hanya bisa diam sambil menatap keluar jendela. Dirinya ragu untuk mengatakan kepada sang Ibu jika akan segera berpisah dengan Caka. Walaupun sang Ibu tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Tapi, Ajeng tidak ingin terjadi hal hal yang tidak di inginkan.
"Kita akan kemana hari ini, Bu?." Tanya Andi yang saat ini tengah membawa mobil mewah tersebut.
"Pulang saja kerumah utama, Ndi. Saya ingin menjemput Embun yang ada di rumah Mama dan Papa." Jawab Ajeng kepada Andi.
Andi menganggukan kepalanya saat mengetahui tujuan tersebut.
Mobil mewah yang di kemudikan Andi berjalan dengan sedang tanpa kecepatan yang berlebihan. Sesekali Andi melirik spion guna melihat sang Majikan yang sedari tadi diam saja tanpa berbicara. Dia tahu apa yang tengah Majikannya fikirkan, tapi dia tidak ingin terlibat lebih jauh. Dirinya hanya prihatin dan iba akan kondisi rumah tangga sang Majikannya.
Bagaimana tidak, berada di posisi Ajeng memang sangatlah sulit, bertahan tapi menyakitkan untuk melepaskan pun sungguh tidak rela. Andi hanya bisa berharap bahwa Bu Ajeng segera mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama dengan Embun.
"Kita mampir ke toko biasa dulu ya, Ndi. Saya mau beli sesuatu untuk Mama, Papa dan juga Embun."
"Baik Bu." Jawab Andi yang masih setia dengan setir kemudinya.
****
Ara tengah gelisah saat ini, pasalnya baru saja Chandra menghubungi dirinya jika Chandra baru bertemu dengan Caka dan mengungkapkan semuanya. Dia saat ini tengah gelisah, bagaiamana reaksi Caka jika telah mengetahui semuanya? Dan apakah Kakek Wira sudah mengetahui semuanya? Jika memang iya, bisa bisa dia saat ini tinggal nama saja.
"Gawat, jangan sampai si tua bangka itu datang ke indonesia. Bisa bahaya jika dia datang ke sini." Gumam Ara yang saat ini tengah mondar mandir di dalam kamarnya. "Chandra sialan, ngapain juga dia harus cerita sama Caka segala sih. Semuanya jadi kacau begini kan." Kembali Ara mengumpati Chandra yang bisa bisa membongkar semuanya.
"Mengapa Caka belum menghubungiku ya? Apa dia sekarang berada di rumah sakit untuk menemani Arka?." Kembali Ara berfikir keras sesaat. Pasalnya Caka belum menghubungi dirinya sejak tadi. Ara takut jika Caka akan berbuat nekat saat ini, Ara jelas mengenal siapa Caka.
Ara menggigiti kuku tanganya saat ini, jarinya gemetaran hebat tidak karuan. "Aku harus mengamankan beberapa barang dan aset aset penting saat ini. Aku tidak ingin jatuh miskin. Tidak, jangan sampai itu terjadi." Ucap Ara yang sudah berjalan menuju salah satau lemari miliknya yang menyimpan brankas miliknya.
Dengan cekatan Ara mengamankan semuanya, termasuk beberapa perhiasan yang dia beli. Dirinya dikejar waktu sebelum Kakek tua itu datang bersamaan dengan Caka.
__ADS_1
Tring. . .
Tring. . .
Ara mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Apalagi Chandra? Kamu gila, hah? Bisa bisa aku di bunuh jika kita bertemu dengan Kakekmu." Ucap Ara yang saat ini tengah menerima telfon dari Chandra.
"Ada aku, Ara. Kamu tidak akan mati secepat itu. Kita harus jujur kepada Kakek, Kamu mau jadi santapan hewan kesayangan Kakek? Iya? Maka dari itu, terima tawaranku Ara." Chandra yang di ujung sana memcoba membujuk Ara supaya mau bertemu dengan Kakeknya.
"Apa Kakek Kamu ada di indonesia saat ini?." Tanya Ara baik baik.
"Sepertinya Kakek masih di luar negeri, maka dari itu kita hubungi Kakek terlebih dahulu. Daripada Kakek mencari tahu sendiri, kita berdua bisa bahaya, Ra." Jawab Chandra.
Ara menarik nafasnya dalam dalam, pasalnya dirinya saat ini belum siap jika harus bertemu dengan Kakek tua menyebalkan itu.
"Jika Kamu takut mati, maka dari itu kita harus jujur, Ra. Jika Kamu jujur, mungkin Kakek akan berfikir dua kali untuk membunuh atau menyakiti Kamu. Berikan alasan yang jelas kepada Kakek dan ingat, jangan sesekalinya Kamu berbohong padanya jika Kamu masih menyayangi nyawamu, Ara." Gertak Chandra saat ini.
Ara gamang saat mendengar ucapan Chandra, bagaimana bisa di mempercayai Chandra saat ini? Apa katanya tadi, berkata jujur? Oh ****, tidak semudah itu. Apa lagi jika harus jujur dengan si tua bangka tersebut, bisa bisa Ara langsung jadi santapan mewah untuk hewan peliharaannya.
"Aku enggak bisa Chandra, Jika Kamu ingin berkata jujur, silahkan saja. Tetapi aku tidak akan pernah siap sampai kapanpun." Jawab Ara sambil mematikan sambungan telfonya dengan Chandra.
Ara menghembuskan nafasnya dengan kasar saat ini. Kebohongab yang ia simpan rapih nyatanya terbongkar juga hari ini. Memang benar kata pepatah sepandai pandainya kamu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Dan inilah yang Ara rasakan.
Dan sampai detik ini pun Ara tidak tahu dimana keberadaan Caka. Laki laki itu menghilang bagaikan di telan bumi. Seharusnya jika Caka sudah mengetahui semuanya, pastilah dia akan datang untuk menemui Ara.
Nyatanya? Tidak sama sekali. Bahkan Ara sempat menghubungi Caka tapi ponsel laki laki tersebut tidak dalam keadaan hidup. Hanya suara operator saja yang selalu terdengar setiap saat.
__ADS_1
"Dimana Kamu, Caka? Aku khawatir Kamu akan berbuat nekat." Ucap Ara yang masih setia memasukan kembali barang barangnya ke dalam koper.
Dirinya akan pergi jauh sejauh mungkin untuk menghindari amukan si tua bangka tersebut.
Tanpa Ara dan lainnya sadari, Saat ini Wira tengah transit di singapura terlebih dahulu. Karena jam sudah menunjukan pukul siang hari.
"Kita akan menginap di sini, Tuan?." Tanya Jhon dengan hati hati.
"Tidak Jhon, kita hanya transit saja sebentar. Saya ingin membelikan sesuatu untuk Cicit tersayang saya."
"Baik Tuan di mengerti." Jawab Jhon dengan tegas sambil memutar balikan badannya.
Dia terus menghubungi anak buahnya yang saat ini masih memantau dimana keberadaan Ajeng. Jhon tidak ingin terjadi kesalahan sekecil apapun. Bisa bisa anak buahnya menjadi sasaran amukan oleh Majikannya.
Jhon tahu bagaimana jika Wira sudah mengamuk. Bukan hanya memukul, membunuh orang pun akan dia lakukan jika pekerjaannta tidak benar.
Iya, Wira sebenarnya saja kejam pada siapapun yang lalai akan tugas yang dia berikan. Berhadapan dengan Wira, sama saja seperti berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Tidak ada bedanya sama sekali.
Wira yang saat ini sudah berada di dalam hotel mewah tersebut hanya bisa duduk sambil menyesap minuman yang berada di atas mejanya. Saat ini dirinya tengah menunggu beberapa orang suruhannya untuk membawakan oleh oleh untuk Cicit kesayangannya.
Wira sudah lelah jika harus berputar mencari oleh oleh untuk Embun. Maka dari itu, dirinya segera mungkin menghubungi orang orangnya dengan segera.
Sebelum matahari terbenam, Wira ingin segera sampai di Bandung dan ingin langsung mengeksekusikan wanita ular tersebut sebelum menemui Embun.
Dirinya harus benar benar menyelesaikan urusannya dengan wanita ****** tersebut dan membuat Ara menderita. Dada Wira seketika sesak jika mengingat Air mata Ajeng yang selalu turun akibat ulah ular tersebut.
Akan Wira pastikan Ara tidak akan mudah lepas dalam genggamannya.
__ADS_1
Bersambung. . .